By   October 4, 2011

[Sasak.org] Menurut beberapa catatan sejarah, desa tertua di Pulau Lombok bernama Desa Perigi. Desa ini terletak (saat ini) di Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur. Catatan lainnya yang menyebutkan bahwa desa pertama dan tertua di Pulau Lombok adalah sebuah desa yang dikenal dengan sebutan Desa Laek (desa lama) yang diperkirakan terletak di sekitar Kecamatan Sambelia sekarang.

Pada suatu masa Desa Perigi ini dilanda musibah yang sangat mengenaskan, yaitu banjir bandang yang disebabkan oleh meluapnya air Danau Segara Anak sehingga menyebabkan hanyut dan tenggelamnya Desa Perigi tersebut. Sebagian masyarakat pergi mengungsi ke daerah pegunungan untuk menyelamatkan diri. Setelah banjir reda seluruh masyarakat Desa Perigi yang selamat (raja beserta rakyatnya) pergi meninggalkan desanya dan mencari tempat baru untuk dijadikan sebagai tempat tinggal, tempat baru ini dikenal dengan Labuan Lombok yang terletak di Kabupaten Lombok Timur. Di tempat inilah, kehidupan baru dimulai.

Setelah berjalan beberapa generasi, maka pada suatu saat raja memerintahkan kepada sebagian rakyatnya untuk meninggalkan Desa Labuan Lombok dengan tujuan untuk mencari tempat yang masih kosong untuk dijadikan tempat tinggal yang baru. Diantara kelompok-kelompok masyarakat itu, ada yang singgah kemudian menetap diantara desa-desa yang sekarang ini bernama : Desa Borok Dadap, Desa Sukatain, Desa Langko, dan Desa Sukamulia. Penduduk Desa Sukamulia inilah yang kemudian menjadi cikal bakal penduduk Desa Lenek sekarang ini.

Desa Lenek, dahulu bernama Desa Sukamulia, penduduknya saat itu hanya berjumlah 140 orang. Jumlah 140 ini tidak bisa berkembang biak, entah karena apa, ada yang mengatakan  kalau masalah ini akibat pengaruh desanya. Pada masa itu yang menjadi Penoak Desa (Pimpinan Desa) bernama BALOQ DASA. Baloq Dasa hanyalah pimpinan desa (bukan seorang raja), tetapi dalam menjalankan tugas keseharian memimpin desa, beliau dibantu oleh Patih yang berjumlah empat orang. Adapun keempat patih tersebut adalah : Patih Tembeng Bagia, Patih Si Nyiur, Patih Demung Papak, dan Patih Ramban Biaq.

Pada suatu hari Patih Ramban Biaq beserta ketiga patih lainnya diutus oleh Baloq Dasa pergi ke Kerajaan Selaparang untuk melaporkan kepada raja disana tentang kondisi masyarakat desa Sukamulia yang tidak bisa berkembang. Singkat cerita, Raja Selaparang mengutus ke-empat patih tersebut untuk pergi menemui salah seorang keluarga raja di Desa Benoa (Kerajaan Benoa) di Lombok Tengah,  untuk menjemput orang yang bernama Wirangbaya (Raden Wirangbaya).

Setelah rombongan sampai di Desa Benoa, mereka semua kemudian menyampaikan kepada Raja Benoa, bahwa Raja Selaparang telah mengangkat orang yang bernama Raden Wirangbaya untuk menjadi pimpinan di Desa Sukamulia. Dan untuk membantu tugas-tugas Raden Wirangbaya, maka Raja Selaparang berkenan memberikan pengiring/pengikut sebanyak 160 orang, serta dibekali dengan beberapa buah pusaka oleh raja antara lain : 1 buah Boneka Patung Kucing Mas (Meong Mas), boneka kucing yang di saput atau dilapisi emas murni, Keris Pusaka yang juga di lapisi emas, yang diberi nama Si Papak/Bung Papak, Sabuk Belo dan beberapa buah tombak serta beberapa pusaka lainnya

Setelah beberapa tahun memimpin Desa Sukamulia yang berpusat di Presak Lenek (sekarang menjadi desa pemekaran yang bernama Desa Lenek Pesiraman), Raden Wirangbaya selanjutnya memindahkan pusat pemerintahannya kesebelah utara sejauh lebih kurang satu kilometer, perkampungan baru yang pertamakali dibuat itu di beri nama Gubuk Koloh Petung, akan tetapi oleh masyarakat dulu dikenal dengan sebutan LENDEK (bergeser, pergeseran, atau perpindahan sejauh 1 km), kemudian lama kelamaan oleh masyarakat dikenal dengan sebutan LENEK. Tidak ada catatan tertulis seputar waktu  perpidahan tersebut, hanya saja pada waktu itu diketahui bahwa agama Islam sudah masuk dan berkembang di Desa Sukamulia ini walaupun belum begitu pesat.

Dalam beberapa informasi tersebut bila dihubungkan dan ditilik data tentang sejarah masuknya agama Islam di Lombok yaitu sekitar abad ke 16 hingga pertengahan abad ke 18, maka bisa diperkirakan Raden Wirangbaya melaksanakan rencana pemerintahannya itu adalah sekitar antara akhir abad ke 16 atau awal abad ke 17.

Setelah berpindah tempat jumlah penduduknya pun sudah mulai berkembang dengan cukup pesat, ini terjadi karena telah “dimulainya” perkawinan antara penduduk Sukamulia yang berjumlah 140 orang dengan pengikut Raden Wirangbaya yang berjumlah 160 orang. Di masa inilah kemudian Raden Wirangbaya mengutus ke empat orang patih tersebut untuk pindah ketempat yang masih berada dibawah kekuasaannya untuk menjadi wakilnya didalam memerintah di tempat wilayahnya masing-masing.

Patih Demung Papak diperintahkan untuk menuju kesebelah barat desa yang dinamakan Dasan Paok Pondong, disini Patih Demung Papak ini berdomisili dan menjalankan tugasnya sebagai wakil dari Raden Wirangbaya. Patih Tembeng Bagia diperintahkan untuk menuju kesebelah selatan desa tepatnya di Dusun Dasan Tembeng, sementara itu Patih Si Nyiur juga menuju ke selatan, hanya saja kalau Patih Tembeng Bagia ke selatan barat, maka Patih Si Nyiur keselatan bagian timur, dan di tempat yang diperintah oleh Patih Si Nyiur inilah yang sekarang dikenal dengan nama Dasan Nyiur sesuai dengan nama Patihnya, sedangkan Patih Ramban Biak diperintahkan menuju kesebelah utara desa yang kemudian daerah itu dinamakan Dasan Ramban Biak.

Untuk memperdalam pengetahuan dan pemahaman agama pada masyarakat/rakyatnya maka Raden Wirangbaya memerintahkan untuk mendirikan sebuah bangunan sarana peribadatan sebagai tempat mengajar agama Islam yang dinamakan pesanteren, atau yang oleh masyarakat setempat biasanya disebut Santeren. Pada saat pertama kali didirikan santeren itu dinamakan Santeren Mulang, dinamakan demikian karena memang tempat itu digunakan untuk mengajarkan ajaran-ajaran agama (Mulang berasal dari bahasa jawa yang berarti Mengajar). Tetapi entah karena apa akhirnya lama kelamaan nama santeren Mulang berubah menjadi Santeren Malang. Dari hal ini dapat diketahui seberapa besar pengaruh jawa (Majapahit) terhadap kehidupan rakyat Desa Lenek waktu itu, dan juga sampai dengan hari ini.

Selain itu juga didirikan sebuah tempat pemandian yang tujuannya adalah disamping untuk tempat mandi, juga sebagai tempat rekreasi maupun istirahat, tempat ini dinamakan Pesirman. Kemudian seperti halnya pada banyak kejadian maka nama itupun saat ini lebih dikenal dengan nama Pesiraman.

Dari proses kesejarahan tersebut, maka walaupun secara geografis letak desa lenek demikian adanya, akan tetapi kultur atau budaya masyaraktnya tetap memiliki banyak kesamaan. Hal ini juga yang menyebabkan mereka tetap merasa satu, sebagai salah satu buktinya adalah bahwa tidak jarang terjadi sekelompok keluarga yang berdomisili di ujung utara desa masih bersaudara dengan yang di ujung selatan maupun lainnya, faktor pendukung lainnya adalah terdapatnya beberapa peninggalan sejarah, seperti bekas masjid tua ” Masjid Presak” (Presak = bekas pusat pemerintahan desa yang ditinggalkan) dan bekas tempat pakaian orang tua yang di sebut MIJO.

Sampai saat ini masyarakat Desa Lenek adalah merupakan salah satu masyarakat yang masih mampu melestarikan budaya daerah setempat dalam lingkaran hidupnya, baik yang berupa upacara yang bersifat ritual maupun upacara lainnya. Beberapa upacara daur hidup yang masih dilestarikan oleh masyarakat desa lenek diantaranya adalah Upacara Khitanan, Kelahiran, Perkawinan, juga Kematian.

Selain itu ada juga beberapa upacara yang berkaitan nilai agama yaitu, Upacara Bubur Putek (tanggal 10 Muharam), Upacara pembuatan Bubur Abang (tanggal 10 Syapar), Upacara Mulut Adat (tanggal 12 Rabiulawal), serta ada pula upacara yang berkaitan dengan alam misalnya, Begawe Belauq, Upacara Ngalu Ujan, Upacara Betetulak, Upacara Ngayu-ayu

Upacara Adat Mulut Bleq merupakan salah satu bentuk upacara ritual pada masyarakat Lombok Timur, khususnya yang berada di desa Lenek yang berlangsung secara turun temurun dari dulu sampai saat ini, upacara ini dimaksudkan untuk memperingati kelahiran nabi besar Muhammad SAW dengan secara adat, dimana pelaksanaan upacara ini dimulai dari tanggal 10 sampai dengan 15 Rabiulawal pada setiap tahunnya. Upacara Mulut Bleq diawali dengan pengeluaran Sabuk Belo kemudian dilanjutkan dengan acara Pepaosan, Pembuatan Minyak Obat dan acara puncaknya ialah Praja Mulud. Pada siang harinya acara dilanjutkan dengan pengajian, penyantunan Anak Yatim Piatu dan pemberian makan kepada semua mahluk. Sedangkan pada malam harinya diramaikan dengan berbagai macam kesenian sasak.

Sabuk Belo disini merupakann simbol yang melambangkan ikatan persaudaraan, Kekeluargaan, Persatuan dan Kestuan antara sesama mahluk, sebagaimana yang tertulis dalam sastra sasak ” Belo tetandan ta entiq, Pait pria ta kaken, Teguq tegeng maraq batu, Kekah datan keneng obah, Tulus karang jari apur”, atau dalam Al’Quran di sebutkan ” Wa’tasimu- bihabblillahijami’an wala tafarraqu”

Berkaitan dengan pemberian makan kepada semua mahluk hidup, hal ini merupakan tujuan Nabi Muhammad yang diutus oleh Allah SWT sebagai penyelamat alam semesta (Rahmatan Lil Alamin) atau dalam sastra sasak disebutkan “mel bao mel bawaq, maraq aiq dalem selao (Memayu Hayuning Bwana)”, yang dilandasi dengan sifat kasih sayangnya terhadap segala sesuatu (hanngelampahkan agung dana nira)

Pada dasarnya seluruh rangkaian upacara adat “Mulut Bleq” adalah merupakan penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi masyarakat adat. Tentunya memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW mempunyai makna khusus dan dalam karena sebagai masyarakat adat unsur menembah, Pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah faktor yang dominan di dalam hidup dan kehidupan.

Di dalam menembah dan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa tersebut perlu diingat bahwa unsur kebersihan jasmani dan rohani sangat dominan. Mengingat bahwa sang pencipta bersifat Maha Suci, maka hanya dengan kesucian jasmani dan kesucian jiwalah kita dapat sampai kepadanya. Oleh karena itulah bagi para masyarakat penghayat, momen Mulut Bleq merupakan titik tolak untuk merenung, menilai, dan mengintrofeksi diri sendiri sekaligus untuk meneladani segala prilaku dan perjalanan hidup Rasulullah

Wassalam

Oleh : Budi Darma

Narasumber :
Maspakel Dane Rahil
ORGANISASI ADAT SABUK BELO
Alamat: Pesenggrahan Dane Rahil – Desa Lenek Daya Kec. Aikmel – Kab. Lombok Timur – NTB, Indonesia
Email    : sabukbelo@yahoo.co.id; budidarma.wirangbaya@sasak.org

  • Le Mujitahid Amien

    Salam,
    Akhirnya muncul juga “petarung” titisan keluarga besar ” Bapak Dane Rahil ” yg kebetulan masih keponakan tyang niki, teruskan menulis Budi dharme ceritakan yang banyak tentang sejarah lombok ,selamat datang di komunitas sasak,saya jadi ingat almarhum kakekmu yang juga paman saya alm bapak dane rahil terakhir ketemu waktu tyang singgah dalam perjalanan pulang tahun 1992 stop over dari amrik -narita – biak – bali – jkt – padang,beliau adalah pejuang n sumber data dari para prof yang mempelajari sejarah sasak salah satunya adalah prof kusno unair..sekali lagi selamat datang budi dharme di komunitas sasak..teruskan menulis.

  • http://www.facebook.com/hsudirham.wiradjaja H.Sudirham

    Assalamu’alaikum w.w.
    * Sekitar tahun 1967 – ’68, beberapa kali kesempatan saya banyak bertemu dg Bapak Rahil ditempat Kediaman Beliau di Lenek. Saat-saat itu pada masa muda saya yang sangat ‘gandrung’ merekam salah satunya ‘Gamelan Lenek’ yang sangat terkenal itu. Dengan seizin beliau pula ‘rekaman gamelan Lenek’ di kasetkan oleh Toko Aiwa (di Cakranegara). Tujuannya untuk memperkenalkan dg masyarakat luar,.. dan saya masih ingat ketika naik mobil angkutan umum Cakra – Lombok Timur,.. gamelan Lenek diperdengarkan dari sound system/kaset player bersama kesenian lainnya, suling loang telu diikuti ngerambang tokoh dari jembatan kembar, bahkan pula lelawas & suara Cupak Gerantang dari Desa .. (maaf, lupa namanya, ditimur Kediri, LoBar). Sebenarnya masih banyak kesenian Gumi Sasak yang belum sempat ‘kami rekam’ masa itu sperti : Wayang Gerung Lalu Nasib, Gendang Beleq, Tawaq-Tawaq dan lain2nya.
    * Semoga para Pemuda-remaja masa kini Yang Cinta ‘Gumi Sasak’ada yg berminat merekam dan mempublikasikan semisal di You Tube !

  • http://www.ippkindo.org Budi Darma

    Waalaikumsalam wr..wb!

    Teriring salam dan doa semoga pelungguh pangeran tiang senamian yang tiang jumpai di sini selalu dalam kasih sayang Allah swt. Amin…

    Senang sekali tiang yang fakir lan becik niki bisa menjalin silaturrahim dengan pelungguh.
    Insyaallah Paman… kami sedang mengusahakan menyusun tentang BUDAYA dan ADAT GUMI SASAK, mudah-mudahan kelak berguna untuk kami khususnya dan masyarakat gumi selaparang umumnya nanti, termasuk kami juga berniat untuk mempatenkan/Hak Cipta Syair Lagu PEMBAN SELAPARANG yang diciptakan Oleh Ninikda Dane Rahil Alm. dengan Penata Tabuh/Gending/Gamelan Pengiring Oleh Amaq. Raya ada yang bisa bantu atau kasih saran untuk niki??

  • http://www.facebook.com/hsudirham.wiradjaja H.Sudirham

    Alhamdulillah,.. *Bahagia hati bersua dengan Budi Darma Dane Rahil -seperti ucapan Sahabatku Le Mujitahid Amien, tsb- “…muncul juga “petarung” titisan keluarga besar ” Bapak Dane Rahil ”…; memang kami ‘melihat & meyakini’ adanya ‘Semangat dan Cinta yg Tulus’ akan Kesenian, Budaya dan Adat leluhur kita pada GUMI SASAK dalam diri Budi Darma Dane Rahil. Alhamdulillah !
    *Lanjutkan !!! Galilah dan tuturkan pada kami -terutama kepada Generasi Muda Sasak & kepada dunia- BUDAYA, KESENIAN dan ADAT GUMI SASAK.
    *Kami sebagai Para Pecinta Gumi Sasak menanti dan berdoa Semoga Karya itu akan bermanfaat besar untuk masa kini dan masa depan bangsa Sasak. Amin !!!

  • http://www.ippkindo.org Budi Darma

    Terima kasih banyak miq tuan… setiap harapan adalah do’a, dan setiap kepercayaan adalah amanah, kepercayaan ini bagi tiang teramat berat miq, dalam kehidupan bermasyarakat mungkin tiang tidak selalu dapat melakukan hal yang besar seperti Alm. Ninikda, tiang niki hanya dapat melakukan beberapa hal kecil tetapi dengan cinta yang besar

    Semoga bangsa Sasak cepat maju bersama ADATGAMA-nya (Aadat dan Agama. Amin…

  • KUmbar Prihardy

    Alhamdulillah,, setelah sekian lama mencari bahan tentang sejarah desa Lenek akhirnya ketemu juga disini… tiang masih kesulitan juga menemukan tentang sejarah kawin lari, tiang harap bisa diposting juga,,,,

    terima kasih………

  • galuh putra agung satria dwi wahyu nendra

    Bapak ini tiang agung, tiang mau minta bantuan sama bapak,
    kalau bapak ada kempatan atau sedikit waktu tiang minta pabak untuk ngajarin tiang bisnis online

  • SYAMSUDIN M.

    saya baca “GUMI SASAK DARUSSALAM”.sebuah cita-cita luhur bangsa sasak,khususnya di desa Lenek.tapi kalo boleh tahu.bagaimana pergerakan dan perkembangan Islam di desa Lenek?utamanya di lokasi desa adat Sabuk Belo.
    juga saya merasa sangat surprice dapaty info tentang desa saya sendiri.semoga makin kaya ilmu

    • Budi Darma

      Assalamu’alaikum
      wr. wb! Semeton tiang Syamsudin M. Sebagaimana telah diuraikan di atas
      untuk memperdalam pengetahuan dan pemahaman agama pada
      masyarakat/rakyatnya Raden Wirangbaya pada masa itu memerintahkan untuk
      mendirikan sebuah bangunan sarana peribadatan sebagai tempat mengajar
      agama Islam yang dinamakan pesantren, atau yang oleh masyarakat setempat
      biasanya disebut Santren. Pada saat pertama kali didirikan santren itu
      dinamakan Santren Mulang, dinamakan demikian karena memang tempat itu
      digunakan untuk mengajarkan ajaran-ajaran agama (Mulang berasal dari
      bahasa jawa yang berarti Mengajar). Tetapi entah karena apa akhirnya
      lama kelamaan nama santren Mulang berubah menjadi Santeren Malang (saat
      ini nama pegubukan di desa Lenek Pesiraman) dan santren itu masih ada
      sampai dengan sekarang. Dari hal ini dapat diketahui seberapa besar
      pengaruh jawa (Majapahit) terhadap kehidupan rakyat Desa Lenek waktu
      itu, dan juga sampai dengan hari ini.

      Mengenai perkembangan Islam di lokasi Desa Adat Sabuk Belo yang
      kebetulan sekarang menjadi desa pemekaran Lenek Ramban Biaq, terlebih
      dahulu perlu kita pahami Ramban Biaq dulunya adalah merupakan suatu
      dusun yang jauh dari keramaian yang hanya dihuni oleh belasan KK, dimana
      mata pencaharian masyarakatnya mengandalkan hidup dari hasil ladang,
      karena daerahnya memang tanah tandus (mengharapkan air hujan saja),
      tentunya dengan kondisi yang demikian bisa dipastikan mereka akan dapat
      panen hasil pertanian Cuma 1 kali dlm setahun, bisa dibayangkan akan
      sulitnya prekonomian mereka jika hanya mengandalkan hasil panen tsbt,
      tentu akan sangat jauh dari harapan berkecukupan, maka secara turun
      temurun masyarakatnya terbentuk dan tertantang dengan kehidupan yang
      keras, dimana masyarakatnya saat itu hidup dari mensiat (adu kekuatan
      ilmu/kedigdayaan) dengan mempertaruhkan harta benda mereka yg berharga,
      menyikapi kondisi masyarakat ramban biak saat itu maka sejak tahun 1970
      didirikanlah Amal Saleh Dana Dharma oleh Alm. Dane Rahil dengan tujuan
      menghimpun fakir, miskin, yatim piatu, eks narapidana dan gelandangan
      yang ada di sekitar Desa Lenek pada saat itu, dan kemudian terus
      berkembang dengan mendirikan Bale seket (Rumah 50) unit sebagai sarana
      tempat tinggal mereka utk dibina/sekolahkan dengan ditanggung biaya
      hidupnya sekeluarga selama 6 bulan mengikuti pelatihan keterampilan
      diantaranya pembuatan genteng, kursi bambu, gerabah, pande besi, bata
      merah serta keterampilan lainnya, yang tenaga pengajarnya di datangkan
      khusus dari luar lombok antara lain : dari Pejaten, Bali, Yogyakarta dll
      sesuai kebutuhan, hingga saat ini terus berjalan dan diambil alih oleh
      Depsos pada lokasi yang bersebelahan dengan Yayasan.

      Kemudian setelah kebutuhan hidup mereka tercukupi perlahan-lahan
      diarahkan agar mendekatkan diri kepada Allah swt dengan dibuatkan tempat
      sarana ibadah dan mengaji di dalam lingkungan Yayasan dengan mendirikan
      Masjid Mulia Amil Yatim, dan Alhamdulillah saat ini telah berdiri
      Madrasah NW Ramban Biaq sebagai institusi pendidikan agama secara formal
      di lingkungan tersebut, budaya yang baik dipertahankan dan kebiasaan
      yang kurang baik tersebut sudah hilang dengan sendirinya, kini
      masyarakat Desa Ramban Biaq hidup rukun berkecukupan dengan mata
      pencaharian utama penduduknya sebagai pengerajin genteng, bata merah,
      pande besi, seniman, petani dll, seiring dengan perkembangan wilayah
      desa Lenek Ramban Biaq tersebut (sekarang menjadi desa pemekaran), saat
      ini banyak penduduk Lenek Induk pindah berdomisili dan menetap di Desa
      Lenek Ramban Biaq, temasuk sebagian kelurga penulis niki. Demikian
      Tabek… Wassalam

  • http://www.ippkindo.org Budi Darma

    Assalamu’alaikum wr. wb! Semeton tiang Syamsudin M. Sebagaimana telah diuraikan di atas untuk memperdalam pengetahuan dan pemahaman agama pada masyarakat/rakyatnya Raden Wirangbaya pada masa itu memerintahkan untuk mendirikan sebuah bangunan sarana peribadatan sebagai tempat mengajar agama Islam yang dinamakan pesantren, atau yang oleh masyarakat setempat biasanya disebut Santren. Pada saat pertama kali didirikan santren itu dinamakan Santren Mulang, dinamakan demikian karena memang tempat itu digunakan untuk mengajarkan ajaran-ajaran agama (Mulang berasal dari bahasa jawa yang berarti Mengajar). Tetapi entah karena apa akhirnya lama kelamaan nama santren Mulang berubah menjadi Santeren Malang (saat ini nama pegubukan di desa Lenek Pesiraman) dan santren itu masih ada sampai dengan sekarang. Dari hal ini dapat diketahui seberapa besar pengaruh jawa (Majapahit) terhadap kehidupan rakyat Desa Lenek waktu itu, dan juga sampai dengan hari ini.

    Mengenai perkembangan Islam di lokasi Desa Adat Sabuk Belo yang kebetulan sekarang menjadi desa pemekaran Lenek Ramban Biaq, terlebih dahulu perlu kita pahami Ramban Biaq dulunya adalah merupakan suatu dusun yang jauh dari keramaian yang hanya dihuni oleh belasan KK, dimana mata pencaharian masyarakatnya mengandalkan hidup dari hasil ladang, karena daerahnya memang tanah tandus (mengharapkan air hujan saja), tentunya dengan kondisi yang demikian bisa dipastikan mereka akan dapat panen hasil pertanian Cuma 1 kali dlm setahun, bisa dibayangkan akan sulitnya prekonomian mereka jika hanya mengandalkan hasil panen tsbt, tentu akan sangat jauh dari harapan berkecukupan, maka secara turun temurun masyarakatnya terbentuk dan tertantang dengan kehidupan yang keras, dimana masyarakatnya saat itu hidup dari mensiat (adu kekuatan ilmu/kedigdayaan) dengan mempertaruhkan harta benda mereka yg berharga, menyikapi kondisi masyarakat ramban biak saat itu maka sejak tahun 1970 didirikanlah Amal Saleh Dana Dharma oleh Alm. Dane Rahil dengan tujuan menghimpun fakir, miskin, yatim piatu, eks narapidana dan gelandangan yang ada di sekitar Desa Lenek pada saat itu, dan kemudian terus berkembang dengan mendirikan Bale seket (Rumah 50) unit sebagai sarana tempat tinggal mereka utk dibina/sekolahkan dengan ditanggung biaya hidupnya sekeluarga selama 6 bulan mengikuti pelatihan keterampilan diantaranya pembuatan genteng, kursi bambu, gerabah, pande besi, bata merah serta keterampilan lainnya, yang tenaga pengajarnya di datangkan khusus dari luar lombok antara lain : dari Pejaten, Bali, Yogyakarta dll sesuai kebutuhan, hingga saat ini terus berjalan dan diambil alih oleh Depsos pada lokasi yang bersebelahan dengan Yayasan.

    Kemudian setelah kebutuhan hidup mereka tercukupi perlahan-lahan diarahkan agar mendekatkan diri kepada Allah swt dengan dibuatkan tempat sarana ibadah dan mengaji di dalam lingkungan Yayasan dengan mendirikan Masjid Mulia Amil Yatim, dan Alhamdulillah saat ini telah berdiri Madrasah NW Ramban Biaq sebagai institusi pendidikan agama secara formal di lingkungan tersebut, budaya yang baik dipertahankan dan kebiasaan yang kurang baik tersebut sudah hilang dengan sendirinya, kini masyarakat Desa Ramban Biaq hidup rukun berkecukupan dengan mata pencaharian utama penduduknya sebagai pengerajin genteng, bata merah, pande besi, seniman, petani dll, seiring dengan perkembangan wilayah desa Lenek Ramban Biaq tersebut (sekarang menjadi desa pemekaran), saat ini banyak penduduk Lenek Induk pindah berdomisili dan menetap di Desa Lenek Ramban Biaq, temasuk sebagian kelurga penulis niki. Demikian Tabek… Wassalam

  • andi

    Mohon di jelaskan sejarah lenek

  • http://www.facebook.com/idong.wahyu Idong Wahyu

    Terima kasih atas cerita yang tlah di tuliskan di atas, karna sebagai warga lenek terutama kami yang masih muda belum tau tentang sejarah desa kami sendiri.

    • Budi Darma Dane Rahil

      sama2 sanak, semoga dengan sejarah peradaban para leluhur kita dulu, menjadikan inspirasi kepada kita semua sebagai generasi muda penerus agar tidak kehilangan jati diri ke Lenek kan kita, yang diajarkan agar selalu dalam kebersamaan, saling mencintai dan mengasihi antar sesama dalam hidup, Sejarah itu tertoreh oleh para pemenang, maka berusahalah menjadi pemenang, agar bisa mengukir sejarah. salam & tabek BDA

  • Ummu Tasnim Al Lombokiyyah

    asssalamu’alaikum. siapakah kira2 yg bisa saya wawancarai secara langsung tentang sejarah desa lenek ini??? saya sedang mengangkat masalah ini dalam tugas akhir dan butuh dokumentasinya.

  • Budi Darma Dane Rahil

    Waalaikumsalam wr wb! Sdr Ummu, Silahkan saudara datang ke Yayasan Amal Saleh Dana Darma, desa Lenek Ramban Biaq, temui Mas Pakel Dane Rahil, & silahkan di teliti se detail mungkin, saran saya Jika ingin tau tentang sejarah Desa Lenek ini cari org yg Asli Lenek (bukan pendatang) & org yg paham akan sejarah peradaban Lenek, agar hasil penelitian sdr akurat/valid. Sekarang ini saatnya mumpung masih ada beberapa org sesepuh lenek yg paham ttg peradaban masa lalunya di Lenek. Salam semoga berhasil sanak

    • anjek

      hubungannya dgn kerajaan selaparang?

  • jenduck pratama

    Luar Biasa….

  • jenduck pratama

    (y)