By   November 29, 2010

Hasan Basri Marwah

Jogjakarta [Sasak.Org] Pertanyaan penting yang harus dijawab saat ini berkaitan dengan para Tuan Guru di Lombok, kenapa politik praktis (kekuasaan) menjadi minat utama para Tuan Guru di Lombok saat ini? Apakah ini gejala baru atau ada sebab-sebab lain yang menyebabkan para Tuang Guru bersukaria memasuki ranah kekuasaan? Apakah naiknya Bajang menjadi Gubernur NTB merupakan persoalan sejarah insidental semata tanpa basis historis?

Sekilas Sejarah Tuan Guru di Gumi Sasak

Kalau kita kembali ke masa lalu, istilah Tuan Guru bisa ditelusuri pada abad 18 ketika tiga orang alim yang pertamakali memakai istilah Tuan Guru. Yakni Tuan Guru Umar Kelayu, Tuan Abdul Hamid Presak Pagutan, dan Tuang Guru Sekar Bela. Konon ketiga Tuan Guru ini sangat hangat persahabatannya satu dengan yang lain, terutama pada tingkat toleransi tinggi dalam perbedaan pendapat. Ketiga beliau ini memang cukup lama mukim di tanah Hijaz untuk menunaikan ibadah Haji sekaligus menuntut Ilmu.

Kalau kita mengamini pendapat Azyumardi Azra, tanah Suci Mekkah (dan Madinah) pada masa itu memang menjadi pusat keilmuwan karena menjadi tempat berkumpulnya para alim-ulama dari berbagai penjuru dunia. Keberagaman itu dikelola dengan sangat apik oleh penguasa Mekkah dan Madinah sehingga dinamika keilmuwan berkembang demikian maju pada saat itu. Para ulama yang datang dari Nusantara pada saat itu disebut sebagai ashab al-jawiyin atau orang-orang Jawah. Sebutan Jawah merupakan pemberian seorang peneliti Barat bernama Ludivico Vanathema pada tahun 1502 untuk ulama-ulama mumpuni dari seantero Nusantara.

Ikatan-ikatan keguruan ini tentu saja melahirkan imajinasi kebangsaan yang lebih tua dan lebih solid daripada yang dibayangkan oleh tokoh pergerakan nasional satu abad setelahnya. Ashab al-Jawiyin sangat menjunjung tinggi tali sosial di antara mereka. Oleh karena ikatan keilmuwan yang demikian kuat, konon Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari menolak (mengharamkan) bentuk organisasi apapun karena beliau takut akan memecah belah ikatan kebangsaan. Dan ulama-ulama ”jawah” pada saat itu bukanlah penerima pasif ilmu-ilmu Islam Arab seperti banyak didugakan orang, justru para ulama-ulama Jawah menjadi produsen pengetahuan yang sangat dihormati, dan beliau-beliau membawa tipologi keislaman yang kuat sekali bentuknya.

Sebelum tiga Tuan Guru pertama tersebut, konon ada banyak sebutan untuk orang-orang alim di gumi Sasak. Seperti istilah Lebe (modin, mbah kaum dalam konteks Jawa). Dan besar sekali kemungkinan bahwa banyak sekali alim ulama yang menetap di Lombok sebelum masa Tiga Tuan Guru Pertama Sasak tersebut. Ulama ”ampuh” bernama Syeikh Abdul Muhyi Pemijahan (Jawa Barat) misalnya, lahir di Lombok pada paruh awal abad 17. Ayahnya bernama Lebe Wireatmakusuma, seorang bangsawan keturunan Pajajaran (memang perlu diteliti lebih jauh pengaruh Pajajaran dalam konteks Sasak). Setelah berumur 19 tahun beliau meninggalkan gumi Sasak menuju Ampel (surabaya) untuk memperdalam pengetahuan keagaamaan beliau. Syeikh Abdul Muhyi dikenal sebagai Wali kesepuluh Tanah Jawa karena tingkat kealiman, terutama pencapaian keruhanian beliau. Diperkirakan beliau adalah kakak seperguruan dari ulama Legendaris dari Makassar, yakni Syeikh Yusuf Khalwati al-Makassari, dan sama-sama pengembang ajaran Martabat Tujuh dari Tarekat Syatariah. Seperti diketahui bahwa martabat tujuh bukan saja doktrin tasawuf saat itu tetapi sudah dijadikan dasar-dasar untuk melahirkan sistem politik yang sangat demokratis (bandingkan misalnya dengan penelitian Tony Rudiansyah mengenai Buton).

Soal sebutan atau istilah Tuan Guru, apakah ini pengaruh dari Banjarmasin, Sumatera atau dari Makassar? Di tanah Banjar istilah Tuan Guru memang dikenal luas. Kemungkinan pengaruhnya sampai ke Lombok, terbukti dengan diajarkannnya sejumlah karya ulama Banjar, seperti Bidayatul Muthadin karya Syeikh Arsyad al-Banjari dalam bidang Fikih dan Darrun Nafis karya Syeikh Nafis al-Banjari dalam bidang Tasawuf (Kitab ini juga menguraikan martabat tujuh).

Sebab di tanah Makassar dan Bugis, istilah Tuang Guru memiliki konotasi negatif, yakni dikaitkan dengan ulama-ulama yang modernis, tidak tradisionalis. Para pembaharu yang terlalu banyak kutipan ayat-ayat Suci Al-Qur’an dan Hadist daripada uraian-uraiannya sendiri terhadap kedua sumber keilmuwan Islam tersebut.

Kalau dilihat ukuran waktunya, maka Tiga Tuan Guru Pertama di Bumi Sasak tersebut sezaman dengan masa Syaikhona Khalil Bangkalan, dan menurut sebagian orang Sasak bahwa Syaikhona Kholil memiliki hubungan dekat dengan Tiga Tuan Guru Pertama di Bumi Sasak, terutama dengan Tuan Guru Umar Kelayu (tidak sedikit yang mengatakan bahwa kedua beliau ini memiliki hubungan keluarga yang nantinya melahirkan seorang Tuan Guru legendaris bernama Tuan Gura Akhmad Tretetet: seorang Tuan Guru yang dikenal karena karomah-karomahnya).

Kebetulan ketiga Tuan Guru Pertama di Gumi Sasak karena lamanya berada di Tanah Suci menikahi sejumlah keturunan Kiai-Kiai Jawa dan Sunda yang ternama. Tuan Guru Umar Kelayu menikah dengan putri Kiai Jawa dari Banyuwangi yang diduga kerabat dekat Syaikhona Kholil Bangkalan. Tuan Guru Abdul Hamid menikahi seorang putri Kiai dari Banten. Demikian juga denganTuan Guru Sekarbela.

Geneologi Hasrta Politik (Kuasa) Tuan Guru di Gumi Sasak

Kalau mengikuti tulisan-tulisan al-magfurlahu Gus Dur mengenai sejarah Kiai dan Pesantren, jelas sekali beliau ingin menulis sejarah ”dari dalam” untuk mengkritik sejarah buatan Barat mengenai tema yang sama. Gus Dur tidak mau serta merta mengamini sejarah Islam yang ditulis para peneliti Asing.

Gus Dur meyakini bahwa pada mulanya Kiai-Kiai dari pesantren-pesantren tua, terutama di Jawa Timur, pada asalnya adalah bagian integral dari pusat-pusat kekuasaan di Jawa, Kraton-kraton Jawa Tengah dan Cirebon. Seiring dengan dinamika kekuasaan, Kiai-Kiai tersebut menempati daerah peripheral dari sentral kekuasaan. Artinya, Kiai-Kiai juga adalah integral sebagai keluarga bangsawan Jawa dan Cirebon.

Tesis kedua Gus Dur yang sangat menarik bahwa sebagian besar Kiai-Kiai Besar Jawa yang mendirikan pesantren-pesantren utama (seperti Tebuireng misalnya) adalah keluarga-keluarga kaya sehingga mampu mengirim putra-putranya ke Tanah Suci untuk mendalami pengetahuan keagamaan, seperti pada kasus Syeikh Ikhsan Jampes ataupun pada sosok Mbah Hasyim Asy’ari dan Mbah Wahab Hasbullah. Menurut Gus Dur, kekayaan tidak saja berupa tawah sawah yang luas, tetapi juga didukung oleh bisnis pertanian yang cukup maju.

Selain berhasil menyekolahkan putra-putranya, para Kiai dari Pesantren-pesantren utama di Tanah Jawa menjadi basis material yang dimiliki sebagai tulang punggung ekonomi untuk mendukung pesantren.

Dua pendapat Gus Dur tersebut juga terjadi dengan sejumlah Tuan Guru Sasak. Kalau kita ambil contoh dari Maulana Syeikh Pancor, jelas sekali bahwa beliau memiliki basis material yang sangat luas, terutama sawah ladang yang sepengengat luasnya. Dan memiliki trah bangsawan dari jalur Ibu (kelayu). Dan dari semula kepulangan beliau dari Tanah Suci memiliki agenda kekuasaan yang sangat kental. Misalnya dengan mengawinkan putrinya dengan seorang menak berpengaruh di Bonjeruk bernama Lalu Gde Wirasentana untuk memperluas agenda kekuasaannya. Beliau bisa disebandingkan dengan kekayaan keluarga Mbah As’ad Syamsul Arifin Situbondo yang kebetulan saudara sepergurun Maulana Syeikh Pancor semasa di tanah Suci. Mbah As’ad juga keturunan bangsawan Madura di Sumenep yang menempati sebuah desa bernama Larangan, yang saat ini masuk ke wilayah Kabupaten Pamekasan, Madura. Oleh karenanya di depan nama beliau ada gelar Raden.

Salah seorang Tuan Guru yang juga menak sekaligus adalah Tuan Guru Hafidz Pedaleman, Kediri. Konon kalau beliau diundang oleh masyarakat, beliau akan mengenakan pakaian adat dan ketuanguruan secara berkala. Dan secara umum para Tuan Guru memang adalah integral dengan keluarga bangsawan.

Geneologi semacam itulah yang membuat para Tuan Guru tidak pernah lepas dari persoalan-persoalan kuasa di Gumi Sasak. Kedekatan para Tuan Guru dengan lingkaran kekuasaan tidak bisa dilepaskan dari posisi beliau-beliau dengan modal material, asal-usul, dan kuasa (pengetahuan) yang dimiliki.

Dari tesis kedua Gus Dur, jelas sekali bahwa keterlibatan para Tuan Guru dengan politik praktis saat ini disebabkan oleh upaya untuk mendapatkan sumber-sumber pendapatan bagi pesantrennya. Kalau dilihat tradisi pesantren di Lombok, jumlah Tuan Guru yang menjadi Tuan Guru Sorogan (pesantrenan) dengan Tuan Guru langgaran (beruga’an) jauh lebih besar Tuan Guru yang mendirikan pesantren tanpa didukung oleh basis Material secara pasti, seperti halnya Pancor misalnya. Dari satu Tuan Guru kharismatik akan melahirkan puluhan Tuan Guru dan pesantren-pesantren baru. Praktis sumber-sumber ekonomi pesantren lebih banyak datang dari la yahtasib (dari arah yang tidak diduga= politik). Tuan Guru yang menukar pesantrennya dengan proposal tidak terhindarkan lagi.

Keterlibatan atau kesenangan para Tuan Guru meneruskan syahwat politiknya membawa konsekwensi-konsekwensi baru, seperti terbengkalainya pesantren yang dikelolanya. Tidak sedikit pesantren yang bubar karena konflik keluarga lantaran rebutan tamu-tamu politik. Dan yang paling miris adalah menurunnya kualitas kealiman Tuan-Tuan Guru, yakni kesukarian Tuan Guru dengan politik melupakannya meningkatkan kemampuan intelektual sehingga pengajian maupun lailatul ijtimak penuh dengan isu politik dan repetisi tema pengajian yang sangat membosankan jamaah.

Maka jamaah yang semakin tidak terurus mencari saluran-saluran baru, tidak saja Wahabi menggerogoti pesantren-pesantren (karena rebutan dinar-dirham negara-negara petro-dollar) tetapi juga Islam Kompor berhasil menusuk ke wilayah-wilayah yang kental dengan tradisi keagamaan tradisionalis di Lombok. Padahal dulu, jangankan Wahabi atau Islam Kompor (dan segala variannya), Muhamadiyah saja sangat sulit diterima oleh masyarakat Sasak.

Hanya sedikit sekali figur Tuan Guru yang lebih memilih jalan asketis secara konsisten saat ini, yaitu Tuan Guru yang memiliki kharisma dan keluhuran-kelembutan ruhani yang jauh dari ”bau’” politik, misalnya datuk tuan Bremi, Tuan Guru Ridwanullah. Walaupun beliau tidak dikenal luas di Indonesia seperti Datuk Tuan Bagu, Tuan Guru Lalu Turmudzi (yang juga sangat terkenal dengan disiplin beliau mengajar dan ibadat sunnah yang sangat banyak).

Wallahu’alam….

Jogjakarta, 9 Mei 20010
Hasan Basri Marwah
  • jehan_lombok

    Mau tahu kenapa tulisan ini dimuat sekali lagi padahal seperti yg tertulis di atas ditulis dan diterbitkan bulan mei? Daur ulang tulisan lama oleh penulis atau memang kesengajaan dari pihak redaksi supaya orang pada berdebat lagi tentang masalah yg sama?

    • http://sasak.org lmjaelani

      Bukan, ini pindah engine dari joomla ke WP. Beberapa artikel hilang dan harus diposting ulang, seperti yang terjadi pada artikel di atas

  • http://sasak.org lmjaelani

    Testing YM Smiley :-) :(( :-) =))

  • Penthol

    Kalau yang ini (artikel ini) kayaknya perlu sedikit editing, di dalamnya mengandung beberapa kata yang agak stereotip dan juga agak sensitif seperti “Islam Kompor dan Wahabi” terasa ada nuansa sinisme dari penulis….Sehingga menimbulkan pertanyaan, “Apakah ada yang salah dengan Wahabi dan Islam kompor?”….

  • http://www.akarasu.com Lalu Ahmad Rifai

    Tulisan bagus, sanak. Memang saat ini yg kita harus ikuti adalah Tuan Guru yg tidak bermashab politik,untuk itu pandai pandailah mencari dan memilah yang mana yang harus diikuti. Tuan Guru yang Mursid itu sebenarnya yang tidak pernah mengecap pelajaran dunia,atau ilmu dunia. Tetapi ilmu seorang tuan guru Mursyid langsung dari Allah, tanpa perantara seperti Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Ali Bagiarta Siddik Assyamadi bin TGKH Abdussamad Habibullah, yang bertempat tinggal di Taman Daya Puyung.

  • Boer

    Pada dasarNya smua org boleh naik berpolitik,wlo dia petani,tuan guru,nelayan dll asal dia mampu akan ttpi bgitu jadi pemimpin harus igt dengan kampaye sebelumnya,,mensejahterakn rakyat..saya lebih respek klo yg maju jd pemimpin itu tahu agama,gerti agama karna org yg pertama msuk neraka itu nanti nya pemimpin yg tahu tp tetap melanggar..saya salut sama perjuangan almrhum TGKH pancor..dan klo org sperti dia 10 org d lombok ada..lombok akn damai..

  • Amaq kkise

    Yang mendamaikan hanya Allah,janganlah lupa dgn karna keagungan seseorang,sehingga lupa dgn Allah,atas nama kedamaian yg telah diperjuangkan telah berapa banyak perpepecahan antara organisasi,bahkan keluarga,lihatlah di desa” antara anak dan orang tua bepecah itukah namanya kedamaian,mengagungkan seseorang sbg pembawa kedamaian,,membuat kita menjauhkan diri dari Allah,

  • http://www.balijurnal.co.cc Datuk Bajang

    sangat menarik artikel dari kanda, hidup adalah pilihan, memang tidak semua TG akan berpolitik, tergantung dari komitmen pribadinya, tapi sesungguhnya siasah itu perlu untuk memperjuangkan ummat, mensiarkan dakwah islamiyah, saya merasa puas membaca artikelnya, sukses selalu