Category Archives: Sejarah

Asal Usul Nama Gunung Samalas

Oleh Lalu Muhamad Jaelani *)

[Sasak.Org] Sudah lebih dari 4 bulan berlalu, sejak berita besar mengenai sebuah gunung di Lombok yang diperkirakan pernah mengguncang dunia dengan kedahsyatan letusannya. Berita yang dimuat besar besaran oleh berbagai media asing, kemudian diikuti oleh beberapa media nasional telah mengangkat nama Gunung Samalas, nama gunung yang pasti asing bagi sebagian besar masyarakat yang tinggal di Lombok.

Asal Usul Nama Samalas

Nama Samalas telah diperkenalkan kembali oleh seorang peneliti bernama Franck Lavigne dari Universitas Paris 1 melalui publikasi hasil penelitiannya di Proceeding of National Academy of Science of the United Stated of America. Tulisan ilmiah yang dimuat 4 september 2013 ini berjudul `Source of the great A.D. 1257 mystery eruption unveiled, Samalas volcano, Rinjani Volcanic Complex, Indonesia`.

Selama ini, Letusan Gunung Krakatau (1883) dan Gunung Tambora (1815) dianggap sebagai letusan terhebat yang pernah terjadi. Namun, hasil penelitian Franck Lavigne membuktikan bahwa  gunung api Samalas di Lombok telah menghasilkan letusan yang lebih dahsyat. Gunung ini menghasilkan erupsi delapan kali lebih dahsyat dari Krakatau dan dua kali lebih besar dari Tambora. Letusan yang diperkirakan terjadi pada bulan Mei hingga Oktober 1257 menyebabkan abu tersebar hingga ke dua kutub Bumi.

Pada kesempatan ini, saya berusaha untuk menyajikan informasi mengenai keberadaan Gunung Samalas, dimulai dari nama dan lokasinya. Untuk itu, Oktober lalu, saya menghubungi Prof Franck Lavigne untuk menanyakan asal usul nama SAMALAS. Jujur saja, walau lahir dan besar di kaki selatan Gunung Rinjani, saya sama sekali belum pernah mendengar dongeng seputar Gunung Samalas.

Dari informasi yang saya peroleh dari beliau, nama Gunung Samalas didapatkan dari Babad Lombok yang ditulis kembali oleh Lalu Wacana (1979). Buku ini diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dalam Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah.

Buku Babad Lombok (Lalu Wacana, 1979)

Buku Babad Lombok (Lalu Wacana, 1979)

Dalam Babad Lombok tersebut, tertulis kata SAMALAS sebagai berikut:

  • 274. Gunung Renjani kularat, miwah gunung samalas rakrat, balabur watu gumuruh, tibeng desa Pamatan, yata kanyut bale haling parubuh, kurambangning sagara, wong ngipun halong kang mati.
  • 276. Hing jaringo hasingidan, saminya ngungsi salon darak sangaji, hakupul hana hing riku, weneh ngunsi samuliya, boroh Bandar papunba lawan pasalun, sarowok pili lan ranggiya, sambalun pajang lan sapit.
  • 277. Yek nango lan pelameran, batu banda jejangkah tanah neki, duri hanare menyan batu, saher kalawan balas, batu lawang batu rentang batu cangku, samalih tiba hing tengah, brang bantun gennira ngungsi.
  • 278. Hana ring pundung buwak bakang, tana’ gadang lembak babidas hiki, saweneh hana halarut, hing bumi kembang kekrang, pangadangan lawan puka hatin lungguh, saweneh kalah kang tiba, mara hing langko pajanggih.
  • 279. Warnanen kang munggeng palowan, sami larut lawan ratu hing nguni, hasangidan ya riku, hingLombok goku medah, genep pitung dina punang gentuh, nulih hangumah desa, hing preneha siji-siji.

Terjemah dalam Bahasa Indonesianya :

  • 274. Gunung Rinjani Longsor, dan Gunung Samalas runtuh, banjir batu gemuruh, menghancurkan Desa Pamatan, rumah-rumah rubuh dan hanyut terbawa lumpur, terapung-apung di lautan, penduduknya banyak yang mati.
  • 275. Tujuh hari lamanya, gempa dahsyat meruyak bumi, terdampar di Leneng (lenek), diseret oleh batu gunung yang hanyut, manusia berlari semua, sebahagian lagi naik ke bukit.
  • 276. Bersembunyi di Jeringo, semua mengungsi sisa kerabat raja, berkumpul mereka di situ, ada yang mengungsi ke Samulia, Borok, Bandar, Pepumba, dan Pasalun, Serowok, Piling, dan Ranggi, Sembalun, Pajang, dan Sapit.
  • 277. DiNangan dan Palemoran, batu besar dan gelundungan tanah, duri, dan batu menyan, batu apung dan pasir, batu sedimen granit, dan batu cangku, jatuh di tengah daratan, mereka mengungsi ke Brang batun.
  • 278. Ada ke Pundung, Buak, Bakang, Tana’ Bea, Lembuak, Bebidas, sebagian ada mengungsi, ke bumi Kembang, Kekrang, Pengadangan dan Puka hate-hate lungguh, sebagian ada yang sampai, datang ke Langko, Pejanggik.
  • 279. Semua mengungsi dengan ratunya, berlindung mereka di situ, di Lombok tempatnya diam, genap tujuh hari gempa itu, lalu membangun desa, di tempatnya masing-masing.

Lokasi Gunung Samalas

Gunung Samalas diperkirakan berada di komplek Gunung Rinjani saat ini, dengan ketinggian 4200 m.

Lokasi Gunung Samalas (Lavigne, 2013)

Lokasi Gunung Samalas (Lavigne, 2013)

Jika merujuk gambar rekonstruksi sebelum letusan ini, Lokasi Samalas berada di bagian barat segara anak.[]

bersambung…

 *) Sasak Diaspora, Tinggal di Jepang

Biografi TGH Saleh Hambali Bengkel

TGH Saleh Hambali

TGH Saleh Hambali

A. Asal-Usul Keluarga

Nama kecilnya adalah Muhammad Shaleh, sedangkan Hambali dibelakang nama tersebut adalah dinisbatkan kepada nama ayahnya yang bernama Hambali. Beliau adalah putra bungsu dari delapan bersaudara, yaitu Abu, Fatimah, Amsiah, Rukiyah, Selamin, Syamsiyah, Khadijah, dan Muhammad Shaleh. Beliau adalah putra dari pasangan Hambali dan Halimah (alias Inaq Fatimah). Muhammad Shaleh dilahirkan pada hari Jum’at tanggal 7 Ramadhan 1313 Hijriyah bertepatan dengan tahun 1893 Masehi. Beliau dilahirkan hampir mirip dengan kelahiran Rasulullah S.A.W., artinya ketika beliau masih dalam kandungan berumur 6 bulan ayahnya dipanggil menghadap oleh Yang Maha Kuasa (meninggal dunia), dan ketika beliau telah lahir dan telah berumur 6 bulan, beliau ditinggal oleh ibundanya tercinta menyusul ayahnya (meninggal dunia). Maka ketika itu jadilah beliau anak yatim piatu yang tidak mempunyai ayah dan ibu. Kemudian beliau diambil dan diasuh oleh pamannya yang bernama H. Abdullah (alias Bapak Rajab).

Muhammad Shaleh dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang religius dan taat menjalankan agama. Orang tua beliau adalah warga biasa yang memiliki dedikasi dan loyalitas yang tinggi pada syi’ar Islam dikampungnya, sekalipun bapaknya bukan seorang Kyai (Tuan Guru), tetapi ia dikenal sebagai orang yang memiliki ghirah keislaman yang tinggi dan dikenal sebagai khadam kyai. Lebih lanjut Asmak dalam tulisannya menceritakan :

B. Latar Belakang Pendidikan

Tuan Guru Haji Muhammad Shaleh Hambali mulai belajar mengaji pada usia 7 tahun, beliau belajar agama secara teratur kepada seorang guru Al-Qur’an yang ahli tajwid bernama Ramli alias Guru Sumbawa di Desa kelahirannya Bengkel. Langkah ini merupakan langkah awal dari pola umum dari pendidikan Islam tradisional. Anak-anak seusia beliau kala itu mulai diajarkan membaca alphabet arab. Ini adalah langkah awal yang harus dilewati untuk dapat membaca Al-Qur’an dengan tajwid secara benar.

Seusai belajar pada Ramli, 5 tahun lamanya, beliau melanjutkan pendidikan ke Makkah Al-Mukarramah selama ± 9 tahun, yakni pada tahun 1912 sampai dengan 1921. dan menuntut ilmu agama pada beberapa orang ulama, baik fiqih, tafsir, tasawwuf dan ilmu – ilmu agama yang lain. Keberangkatan beliau ke tanah suci Makkah juga bersama ibu angkatnya (Inaq Rajab – istri H. Abdullah) sampai ibu angkatnya meninggal dunia di Makkah pada bulan haji. Selama menuntut ilmu di Makkah beliau banyak belajar kepada sejumlah ulama terkemuka, diantaranya adalah:

  1. Syeich Said al-Yamani
  2. Syeich Hasan bin Syeich Said al-Yamani
  3. Syeich Alawi Maliki al-Makki
  4. Syeich Hamdan al-Maghrabi
  5. Syeich Abdusstar Hindi
  6. Syeich Said al-Hadrawi Makki
  7. Syeich Muhammad Arsyad
  8. Syeich Shaleh Bafadhol
  9. Syeich Ali Umairah al-Fayumi al-Mishra

Selain kepada ulama-ulama diatas, beliau juga belajar kepada ulama-ulama Indonesia yang bermukim di tanah suci, antara lain :

  1. T.G.H. Umar (Sumbawa)
  2. T.G.H. Muhammad Irsyad (Sumbawa)
  3. T.G.H. Haji Utsman (Serawak)
  4. KH. Muchtar (Bogor)
  5. KH. Misbah (Banten)
  6. T.G.H. Abdul Ghani (Jemberana-Bali)
  7. T.G.H. Abdurrahman (Jemberana-Bali)
  8.  T.G.H. Utsman (Pontianak)
  9.  T.G.H. Umar (Kelayu-Lombok)
  10.  T.G.H. Abdul Hamid (Pagutan-Lombok)
  11.  T.G.H.Asy’ari (Sekarbela-Lombok)
  12.  T.G.H. Yahya (Jerowaru-Lombok)

Kemudian karena terjadinya pemberontakan keluarga Abdul Aziz bin Sa’ud terhadap Syarif Husain sehingga tidak memungkinkan beliau hidup dengan tenang, maka beliaupun pulang ke Indonesia. Sekembalinya dari tanah suci Makkah beliau langsung terjun ke tengah-tengah masyarakat dengan gerakan dakwah islamiyah melalui pendidikan agama. Kiprah T.G.H.M. Shaleh Hambali di dunia pendidikan berasal dari usaha dan upaya dalam merintis dan mendirikan sebuah lembaga pondok pesantren yang diberi nama Yayasan Perguruan Darul Qur’an di Desa Bengkel, dimana beliau yang menjadi Pembina atau pengasuh semenjak 1921 sampai akhir hayatnya pada tahun 1968. mereka yang belajar (nyantri) tidak saja berasal dari Lombok (NTB) tetapi juga dari Bali. Di tanah suci Makkah, beliau sempat juga mengajar dan muridnya yang di Makkah ini sebagiannya ada yang kembali ke Indonesia dan belajar kembali kepada beliau, misalnya yang berasal dari Bali. Mula-mula yang diajarkan adalah Al-Qur’an dan kitab-kitab agama yang berhaluan Ahlussunnah Wal-Jama’ah, baik yang berbahasa arab maupun yang berbahasa melayu.

Kitab-kitab tasawuf yang banyak dipelajari oleh beliau pada guru-gurunya adalah kitab-kitab yang ditulis oleh Imam Ghazali seperti ; Minhaj al-Abidin, Bidayat al-Hidayat, dan Ihya’ Ulumuddin, ditambah lagi denga kitab Kifayat al-Atqiya’, karangan Sayyid Abu Bakar Bin Muhammad Syata al-Dimyathi yang merupakan komentar dari Kifayat al-Atqiya’ ila Thariq al-Awliya’ karya Zain al-din al – Malibary, kemudian kitab Hidayat al-Salikin dan syair al-Salikin karya Syeich Abdul al-SHAMAD al-Falimbani yang memakai bahasa melayu.

Maka wajarlah kalau karya-karya beliau bahkan dalam hidup kesehariannya, beliau diwarnai oleh hidup sufi baik ilmu maupun amal. Melihat betapa banyak guru beliau dalam berbagai disiplin ilmu keislaman tersebut, tidak heranlah jika beliau menjadi orang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, bahkan beliau berupaya mengajarkan kepada para muridnya, yang pada gilirannya dapat menghantarkan beliau sebagai seorang ulama besar di pulau Lombok.

C. Karya-Karya T.G.H.M. Shaleh Hambali

Semasa hidupnya T.G.H.M. Shaleh Hambali tergolong ulama yang kreatif dan produktif menulis banyak belajar sendiri, menulis, menerjemahkan kitab – kitab yang berbahasa arab kedalam bahasa melayu agar mudah difahami dan diamalkan oleh kaum muslimin yang kebanyakan mereka tidak mengerti bahasa arab khususnya kalangan menengah ke bawah yang sampai saat ini menjadi refrensi masyarakat Desa Bengkel dan sekitarnya.

Tulisan-tulisan beliau sekitar sebelas buah dalam berbagai disiplin ilmu agama ; fiqih, tauhid, tasawuf, hadits, dan do’a-do’a atau wirid-wirid. Bahkan ada do’a yang ditulis oleh beliau dirumah sakit ketika opname menjelang wafatnya. Ketika itu beliau meminta kepada salah seorang anggota keluarga untuk mengambil ballpoint dan sebuah buku tulis. Setelah diantarkan lalu beliau menulis do’a.

Beberapa kitab karya beliau yang dapat diketemukan antara lain ;

  1. Ta’lim al-Shibyan Bi Ghayat al-Bayan ; berisi tauhid, fiqih, dan tasawuf, yang ditulis tahun 1354 Hijriyah, dicetak di Surabaya
  2. Bintang Perniagaan (fiqih), ditulis tahun 1376 Hijriyah, dicetak di Surabaya
  3. Cempaka Mulia Perhiasan Manusia, tulisan tangan, tanpa jelas tahun penulisannya, mengenai akhlaq (tasawuf) yang bersumber dari kitab Bidayat al-Hidayah, karya Imam Ghazali.
  4. Wasiat al-Musthafa, terjemahan dari Wasiat al-Musthafa Rasulullah kepada Sayyidina Ali, tulisan tangan
  5. Mawa’idh al-Shalihiyah, kitab hadits, terjemah dari kitab Mawaidh al-Usfuriyah Fi al-Ahadits al-Nabawiyah, karya Imam al-Ushfury, ditulis tahun 1364 Hijriyah, diterbitkan di Surabaya
  6. Intan Berlian Perhiasan Laki Perempuan, berisi fiqih keluarga, ditulis tahun 1371 Hijriyah, diterbitkan di Surabaya
  7. Manzalul al-Amrad, tentang puasa
  8. Hidayat al-Athfal, tentang tajwid terjemahan, atau nasehat untuk anak-anak
  9.  Al-Lu’lu’ al-mantsur, tentang hadits.

D. Kiprah dan Pengabdiannya di Tengah Ummat

Tuan Guru Haji Muhammad Shaleh Hambali adalah termasuk ulama kharismatik dan ahli ibadah, sesuai dengan keahlian yang beliau miliki yakni ahli dalam kitab-kitab klasik, yang lebih menekankan pada kitab-kitab yang berhaluan ahlussunnah wal-jama’ah, baik yang berbahasa arab maupun melayu (Indonesia), bekal yang beliau miliki ketika masih remaja dalam menuntut ilmu di Makkah al-Mukarramah, sangat mendukung serta menunjang keberhasilannya.
Bagi kaum Nahdliyyin, T.G.H.M. Shaleh Hambali sangat akrab di telinga mereka, beliau dikenal sebagai ulama yang bersahaja dan masih memiliki energi dan stamina intelektual yang prima. Bahkan boleh dikatakan beliau adalah ulama ahli ibadah yang sangat teguh pendiriannya terutama pada masalah fiqih yakni pada mazhab Syafi’i.

Dijajaran kepengurusan Nahdlatul Ulama (NU) beliau pernah tercatat sebagai Rois Suriyah Nahdlatul Ulama (NU) Nusa Tenggara Barat, sejak NU menjadi Partai Politik tahun 1952 sampai beliau wafat tahun 1968. Ini menunjukkan bahwa beliau memiliki kelebihan-kelebihan yang jarang dijumpai pada ulama lain yang sezaman dengan beliau khususnya di Nusa Tenggara Barat. Kehidupan beliau benar – benar sarat dengan berbagai aktivitas sosial keagamaan, bahkan juga politik. Yang menarik kesemuanya itu dilaluinya dengan sukses.

Menurut salah seorang putrinya Ustz. Hj. Fatimatuzzahrah, menuturkan sebagai berikut :
“Dirumah ini dan majelis ini, dahulu penuh dengan kegiatan-kegiatan, baik sosial kemasyarakatan seperti penyantunan anak yatim piatu yang tidak kurang dari 100 orang anak, orang-orang jompo, dan orang-orang miskin, baik yang berasal dari desa Bengkel maupun luarnya, yang diberi makan tiap hari, bahkan tamu-tamu penting, wali murid antri-santri dan jama’ah hampir setiap hari datang mengaji, berziarah dan berkonsultasi kepada datok baik mengenai agama maupun lainya. Kesemuanya dilayani oleh beliau dengan baik, sehingga tungku pun jarang padam, karena menghormati tamu-tamu tersebut. Diantara tamu-tamu penting yang pernah berkunjung ke rumah beliau dapat disebutkan ;

  1. Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno
  2. Menteri Agama, KH. Saifudin Zuhri
  3. Menteri Koordinator Keamanan, Jenderal AH. Nasution
  4. Rois ‘Am PBNU, KH. Wahab Hasbullah
  5. Ketua Umum NU, KH. Idham Khalid
  6. Ketua PBNU, H. Subhan ZE
  7. KH. Ma’shum, ayah KH. Ali Ma’shum
  8. KH. Hamid Wijaya, Ketua Anshor
  9. KH. Yusuf Hasyim, Putra KH. Hasyim Asy’ari
  10. Tokoh NU KH. Anwar Musaddat
  11. Gubernur Pertama NTB, R. Aria Ruslan Cakraningrat.

E. Kepergian dan Wasiat T.G.H.M. Shaleh Hambali

Tidak banyak orang mengira, ketika ummat sangat mengharapkan sentuhan sepiritualnya, beliau malah meninggalkan ummat untuk selama-lamanya.

Hampir semua orang terkejut dan hampir tak percaya dengan kepergian beliau, namun menusia hanya berusaha sedang Allah lah penentu segalanya.

T.G.H.M. Shaleh Hambali wafat pada hari Sabtu tanggal 15 Jumadil Akhir bertepatan dengan tanggal 7 September 1968 pada pukul 07.00 WITA.

Sebelum wafat beliau sempat berwasiat kepada keluarga dan segenap santrinya, wasiat itu berbunyi :

  • Peliharalah Persatuan dan Kesatuan Diantara Sesamamu
  • Belajarlah Pada Guru Yang Beraliran Ahlussunnah Wal – Jama’ah
  • Peliharalah Yayasan Perguruan Darul Qur’an dan Usahakanlah Agar Berkembang.

T.G.H.M. Shaleh Hambali tak pernah “Pergi”, karena ilmu dan amalnya terus mengalir dilestarikan oleh para generasi berikutnya

(disampaikan pada POSBA MA.Darul Qur’an TP. 2009/2010)

http://ponpesdarunnadwah.blogspot.jp/2010/12/biografi-tgh-saleh-hambali.html

Asal Muasal Desa Kopang

Oleh: Lalu Pangkat Ali

Lalu Pangkat Ali

Lalu Pangkat Ali

[Sasak.Org] Sangat saya sadari, betapa sedikitnya pengetahuan saya tentang asal muasal desa Kopang. Karena, selain umur yang masih ‘bau kencur’ tapi saya selalu ingin jujur, betapa besarnya keinginan saya untuk mengetahui asal muasal desa kelahiran saya ini. Akhirnya, rasa keingintahuan yang dibalut penasaran menjulang, saya temukan informasi, kendati mungkin informasi ini menyimpang dari sasaran sebenarnya. Namun inilah realitasnya.

Realitas ini saya lakukan dengan melakukan perbincangan, dialog dengan seorang tokoh panutan asal Dusun Renggung, Desa Kopang kecamatan Kopang. Beliau adalah Lalu Syafii (sekarang, pembaos beliau terbata-bata karena faktor umur dan uzur). Perbincangan kami beberapa tahun lalu itu memakan waktu sekitar dua jam lamanya. Saat itu perbincangan kami berjalan lancar, ucapan beliau tidak terbata-bata, karena saya yakin beliau masih sehat bugar secara fisik, tidak seperti sekarang ini.

Dialog berlangsung dalam bentuk kupasan seperti di bawah ini. Sebagai kata pembuka dari perbincangan itu, saya awali dengan pertanyaan; ”dari mana sebenarnya asal desa Kopang?”

Menjawab pertanyaan itu, pada suatu ketika dan pada suatu acara, kata Lalu Syafii, pernah berlangsung percakapan tiga orang budayawan. Mereka masing-masing, Lalu Syafii dari Desa Kopang, Lalu Mungguh (Almarhum) dari Kota Mataram dan Gde Parman (Almarhum) dari Lombok Barat. Mereka bertiga terlibat percapakan, berselisih pendapat, apa dasarnya kok ada Kopang?

Dalam percakapan tersebut, mereka bertiga mengetengahkan argumentasi dan pendapat dengan versinya masing-masing. Almarhum Lalu Mungguh mengeluarkan pendapat bahwa, konon katanya, kopang itu berasal dari sebuah kampung di Sumatrea sana yang bernama kampung Kopang. Mungkin karena ada famili atau handai taulan, sehingga ada di antara mereka yang datang ke Kopang ini. Dengan begitu, mungkin ada pendapat dari mereka yang menamakannya Kopang. Begitu pendapat versi Lalu Mungguh.

Sementara Almarhum Gde Parman mengajukan versi yang berbeda lalu Mungguh. Kata beliau, pernah mendengar adanya satu pohon yang namanya pohon Kopang. Tapi pohon tersebut tak diketahui pasti, entah berada dimana.

Pada kesempatan pertemuan itulah, Lalu Syafii menimpali pendapat kedua orang budayawan dengan versi yang berbeda itu. “Baiklah,” kata Lalu Syafii. “Berarti kita semua berbeda pendapat,” lanjutnya. Versi Lalu Syafii sendirilah yang lebih dapat dibuktikan sekarang. Pengakuan itu lebih ditekankan pada pembuktian bersifat monumental. Sementara pendapat kedua almarhum budayawan tersebut, belum diketahui adanya pembuktian.

Dikatakan mantan anggota DPRD Lombok Tengah ini, Kopang itu berasal dari sebuah istilah, ‘kope’ yang berarti ‘unggul’. Cuma ditambah huruf ‘ang’ menjadi ‘Kopang’. Itu menurut kosa kata bahasa Sasak; sesutu yang ditekankan maknanya, lalu huruf ‘e’ yang ada di depannya berubah menjadi ‘a’ ditambah dengan huruf ‘ng’. Jadi, Kopang itu merupakan suatu jawaban pengakuan diri dalam berhadapan dengan orang lain.

Dalam sebuah percakapan, Lalu Syafii mengilustrasikan, “kok beraninya kamu berlaku sedemikian itu? Bagaimana kopenya”?

“O…, Kopang ko!”

Inilah suatu bukti monumentasi. Kalau itu yang dimaksud dengan sumber pembuktian adanya nama Kopang. Bukti lain lagi apa? Ke‘kope’an Kopang itu dibuktikan dengan adanya salah seorang ‘Pepadu Perisean’ (Kopang: Bladukan) yang dilarang oleh pemerintah zaman dulu, hanya berada di Kopang. Pepadu tersebut bernama Bepen Tijah dari Bakan (sekarang kecamatan Janapria).

Memang banyak pepadu kala itu. Tapi kenapa pepadu dari Kopang yang harus dilarang. Alasannya, karena di arena presean, suatu ketika perisean digelar, lawan Bepen Tijah langsung meninggal dunia akibat pukulan dan hantaman penyalin (Rotan) Bepen Tijah. Musuh Bepen Tijah langsung terkapar karena sabetan penyalin mengenai persis semanget (ubun-ubun) kepalanya. Jadi, pemerintah saat itu melarang, “Bepen Tijah tidak boleh lagi turun sebagai pepadu”, demikian kata Lalu Syafii yang saya amini seraya mengangguk-anggukkan kepala.

Bukti lain yang disebutkan Lalu Syafii, jauh sebelum itu, dalam soal peperangan misalnya. Raden Wirecendra dari Preye yang konon katanya begitu ‘kope’, sampai-sampai bisa mengangkat puluhan ton barang hanya menggunakan tangan kiri. Namun toh akhirnya bisa terbunuh oleh pepadu dari Kopang, yaitu Jero Wireseri. Raden Wirecendre terbunuh oleh Jero Wireseri dalam siap puputan (semacam sayembara) di Bodak. Saat itu bertindaklah Preye. Maka diadakan lagi puputan. Maksudnya untuk mencari siapa yang benar dan salah. Kedua pucuk pimpinan ini sudah menyatakan ikrar. Siapa yang salah, dia yang harus mati.

Ketika Preye menyerang Kopang, ternyata yang menjadi korban kala itu, hanya orang-orang Praya. Jadi, Preye sudah merasa salah kaprah. Mereka menyesal untuk menebus korban yang begitu banyak. Akhirnya kedua pucuk pimpinan mengadakan lagi siap puputan. Namun Preye dibawah pimpinan Wirecendra berhasil terbunuh oleh Jero Wireseri.

Itulah suatu monumentasi besar yang membenarkan adanya ‘kope’ yang dimaksudkan adalah ‘Kopang’ itu. Cuma negatifnya komentar Lalu Syafii, karena kenapa tidak dinamakan ‘kope’ saja. “Ya, itu tadi, ‘kopang’nya itu sudah bernada pengakuan diri”, sebutnya. Semestinya orang yang harus mengakui keunggulan lawan, bukan dirinya sendiri. “Itu sedikit negatifnya,” papar lelaki separuh tua itu dengan suara sedikit serak.

Tapi itu wajar ada persoalan keras dan ada ujung-ujung emosi. Seperti yang pernah terjadi, “kita sedang enak-enak tidur, dibakar oleh Preye,” ceritanya sembari memaparkan, Kopang dianggap terlalu membeo ke peperintah Bali kala itu. Dianggap penghianat, sementara Preye saat itu sedang saling intip dan bersitegang dengan pemerintah Bali. “Ini ada riwayatnya,” cetusnya.

Bali setelah menyadari pertikaian wilayah kekuasaan antara suku Sasak saat itu sukar mereda. Dan dinilai bernuansa sara. Lalu pemerintah Bali melahirkan ide. Agar langgengnya roda pemerintahannya, maka, salah seorang putra raja Bali akan dikhitan lalu masuk Islam. Putra satu-satunya ini didapat dari Dende Loyangsari, putri seorang Dende dari Kalijaga yang bernama Datu Pangeran yang akan ditetapkan sebagai raja di Lombok.

Saat itu di Peresak (batas antara Kopang dengan Mantang) diadakan gawe besar. Dalam acara tersebut, sebagai inen gawe (tuan rumah, yang punya gawe) saat itu adalah Mantang dan Kopang. Nah, ketika itu dendamnya Raden Wirecendre terhadap pemerintah Bali masih berkecamuk. Akhirnya dia (Raden Wirecendre) membikin akal dan inisiatif. Pada tengah malam mereka datang kirim surat kepada dua pucuk pimpinan; Kopang dan Mantang. Isi suratnya bernada ancaman dan sudah tentu akan membias ke pemerintah Bali.

Rencana acara gawe untuk menyunat putra Bali akhirnya digagalkan. Karena Kopang dan Mantang saat itu dianggap bersekongkol dengan Praya. Anak Agung akhirnya berboyong ke Mataram dan dipanggil Jero Buru dari Mantang dan dibunuh di Cakra.

Seharusnya, cerita Lalu Syafii, Jero Wiresari dari Kopang juga harus dipanggil pemerintah Bali. Tapi entah karena pertimbangan lain, justru yang dipanggil adalah Raden Wirecendre yang mengakibatkan kemarahan yang luar biasa bagi Raden Wirecendre. “Kalau begitu, Jero Wireseri juga penghianat, harus ditangkap,” begitu kira-kira ungkapan kemurkaan Raden Wirecendre.

Akhirnya pihak Preye menggempur Kopang. Bukannya memenuhi panggilan pemerintah Bali, namun membakar Kopang. Tapi Kopang saat itu dapat mengalahkan Preye dan mundur sampai di Bodak dan membikin pondok di Gawah Gandor. Sampai mereka bertahan ditempat ini dan menghembuskan nafas terakhirnya. Bahkan Jero Wireseri, juga ikut mengantar jenazah Raden Wirecendre langsung ke Preye.

“Kisah ini saya tahu, karena Jero Wireseri, itu baloq saya”, kenang Lalu Syafii sambil menunjukkan makamnya sekarang berada di Pemenang, Lombok Utara, karena dibunuh oleh Anak Agung dalam sebuah pertempuran di Pememang.

Legenda dan Mitos Tradisi Masyarakat Sasak

Oleh: Lalu Pangkat Ali

Lalu Pangkat Ali

Lalu Pangkat Ali

Kedudukan legenda dan mitos dalam tradisi masyarakat Sasak, memang cukup diperhitungkan. Banyak terdapat legenda di kalangan ini. Tapi yang paling hidup di tengah-tengah masyarakat adalah, legenda Putri Mandalika, Cupak Gerantang, Dewi Anjani dan legenda Perjalanan Penyamaran Datu Pejanggik.

Sedikit dikisahkan, mitos atau legenda Putri Mandalika, berkisah tentang tragedi cinta segi tiga antara seorang putri yang diminati oleh tiga orang pangeran yang sama-sama mempertahankan nyawa untuk memperolehnya. Karena bimbang yang berkepanjangan dialami oleh kalangan istana dalam menetapkan pilihan, menyebabkan Sang Putri memilih bunuh diri dengan cara menceburkan diri ke laut Selatan, kemudian pada saat yang diinginkan, berjanji akan menjelma menjadi Nyale, biota laut yang mirip ’indomie’, beramai-ramai ditangkap penduduk di akhir bulan Februari tiap tahun.

Selanjutnya ada legenda/cerita Cupak – Gerantang, merupakan legenda yang cukup berkembang dan diminati masyarakat Sasak. Dikisahkan, Cupak dan Gerantang adalah dua saudara yang memiliki perbedaan karakter dan perilaku. Cupak sang kakak, memiliki karakter dan perilaku yang kurang terpuji, rakus, pembohong, ingin selalu menang dan selalu menguasai. Dengan karakter yang dimiliki oleh Cupak ini, masyarakat Sasak biasanya enggan bila dikatakan memiliki karakter seperti Cupak ini. Semisal, “Pengelorande maraq Cupak” (Anda makan seperti Cupak). Bila ada orang Sasak yang menuduh demikian, maka tertuduh segera membuat perhitungan yang akhirnya Penuduh pun siap-siap mengklarifikasi tuduhannya.

Selain itu, ada legenda Putri Dewi Anjani, jelmaan ratu jin sakti yang menetap di Gunung Rinjani. Ratu Jin atau Putri Dewi Anjani inilah yang berupaya meratakan bagian bumi Lombok dengan mesin keruknya berupa burung ‘Beberi’. Setelah bumi Lombok dianggap layak untuk dihuni, maka sang ratu jin berubah rupa menjadi Perwangsa manusia.

Yang terakhir adalah, legenda Penyamaran datu Pejanggik sambil menyusuri pantai selatan. Karena tak dikenal sebagai raja, sepanjang perjalanannya menemukan ujian-ujian kesabaran ketika berhadapan dengan beberapa orang penduduk desa yang tak mempedulikannya. Ini mungkin menyakitkan bagi dirinya bila keinginannya tidak dikabulkan. Maka sang raja mengucapkan ‘kutuk’ dan berlaku hingga sekarang.

Dalam kisahnya, disebuah dusun bernama Serenting desa Kuta kecamatan Pujut, di dusun itu hingga kini tumbuh pohon Kelor yang tidak bisa berbuah. Kutukan ini terjadi ketika sang raja beristirahat dan ingin menyantap sayur buah kelor, tapi oleh empunya pohon kelor dibongongi dengan mengatakan, pohon kelornya sedang tidak berbuah. Faktanya, pohon kelor di Serenting, hingga kini tidak bisa berbuah.

Sang Datu melanjutkan perjalanan menuju dusun Tarung-arung dan beristirahat sejenak, untuk sekedar santap siang. Sebagai orang Sasak yang suka makan sambal cabai, sang datu tergiur juga untuk dibuatkan sambal cabai segar yang ada disekitar tempat istirahat. Tapi apa kata pemilik kebun cabai? “Cabai saya belum matang untuk dibuat sambal” padahal di situ tanmpak jelas buah cabai yang memerah. Sang Datu jadi kesal, tapi yang bisa dilakukan sebatas mengucap ’kutuk’, yaitu pohon cabai yang ditanam di dusun itu supaya tak pernah bisa berbuah merah. Hal ini sebagai balas atas kebohongan pemilik kebun cabai yang enggan berbagi beberapa buah cabai untuk orang lain.

Aneh memang, sampai kini di dusun Tarung-arung, buah cabai tidak akan berbuah merah. Meski buahnya telah cukup matang dan sudah terasa pedas, tapi tetap tidak bisa menjadi cabai merah.

Perjalanan spiritual sang Datu, agaknya berlangsung pada bulan Pituq, bulan ke tujuh dalam kalender Sasak. Serupa dengan kedua kutuk di atas, terjadi juga di Pantai Kute, sebuah desa nelayan dan pariwisata. Di pingghir pantai sang Datu mendirikan kemah. Ketika ingin sarapan pagi, sang datu ingin sekali makan ikan. Kebetulan saat itu nelayan yang baru turun melaut dengan hasil tangkapan yang cukup. Sang datu meminta seekor ikan kepada nelayan yang tangkapannya cukup banyak. Si nelayan memberikan dua ekor namun dengan nada agak ketus, ngedumel dan membalikkan badan. Pemberian itu sebagai tanda tak ikhlas. Melihat situasi yang tak mengenakkan itu, tentu sang datu menjadi kesal, kecewa dan sakit hati. “Kalau begitu, ikan ini jangan sampai dimakan, biar kukembalikan kehabitatnya ke laut luas”, demikian kata sang datu. Tapi sebelum ikan itu dilempar ke laut, lagi-lagi sang Datu sempat mengucap kutuk. Biarlah ikan ini menjadi ikan beracun yang tak dapat dimakan manusia.

Apa yang terjadi kemudian? Disetiap bulan Pituq, selalu terdapat korban penduduk di desa itu yang keracunan karena makan jenis ikan Tamban. Penduduk setempat menyebutnya ikanTamban Bulan Pituq.

Seringkali mitos-mitos dihubungkan pula dengan akibat yang menyeramkan, sehingga banyak anggota penganut suatu budaya yang tidak mau mengambil resiko, memilih menurut saja pada mitos yang berlaku. Selain itu, ada pula mitos yang terkait dengan basis etik dan tata nilai supranatural yang tidak boleh dilanggar atau dilakukan. Beberapa mitos ini (kendati tidak terkait dengan sejarah tertentu), namun dianggap memiliki efek mistik seperti kualat, mamaliq dan lainnya yang cukup kuat bila dilanggar. Maka masyarakat Sasak senantiasa menghindarinya.

Ada sejumlah mitos dan legenda yang berkembang di kalangan masyarakat Sasak. Semisal“Lewat di penjemuran”. Di tengah orang Sasak, tempat menjemur pakaian, diatur pada ruang tersendiri di bagian pojok yang tidak sebagai jalur lalu lintas orang. Pengaturan ini dilakukan berkaitan dengan fungsi penjemuran yang digunakan untuk menjemur pakaian dari jenis apa saja, bahkan hingga pakaian gombal atau celana dalam.

Fungsinya terlalu umum, menyebabkan orang Sasak berpantang lewat di penjemuran, karena dipercaya dapat menghilangkan ilmu kedigdayaan yang dimiliki. Orang Sasak menyebutnya ‘campah’.

Ada lagi mitos seperti “Transaksi Malam Hari”. Sampai kini mitos seperti ini, tidak ada yang berusaha menyingkap alasan tidak dibolehkannya transaksi mengeluarkan uang pada malam hari. Mitos ini banyak di anut di desa-desa, tapi sudah tidak lagi dianut oleh masyarakat kota. Begitu juga dengan jual beli dan pinjam meminjam peralatan yang terbuat dari bahan besi, banyak yang tidak melakukannya di malam hari.

Salah satu alasan yang masuk akal, mungkin berkaitan dengan keraguan, kalau-kalau terjadi salah hitung (untuk uang) atau dapat melukai kalau-kalau melakukan transaksi yang berhubungan dengan bahan besi.

Selain kedua mitos di atas, ada juga mitos lain seperti “Ketika Sandikale”. Sandikale adalah waktu antara matahari akan tenggelam, tapi belum tiba waktu magrib. Waktu ini, langit memancarkan sinar kemerahan saat pergantian dari siang menuju malam. Menurut orang Sasak, pada saat seperti ini, segala bentuk permainan kesenangan dilarang terus berlanjut. Alasan yang dikemukakan untuk mendukung mitos ini, bermain pada saat itu dapat mendatangkan penyakit. Padahal secara alami, saat itu memang cuaca dalam gelap, waktu sholat magrib akan tiba, kemudian akan dilanjutkan dengan waktu makan malam.

Sakralnya Masjid Al-Falah Songak di Lombok

Dibangun secara sakral oleh Sangak Pati pada tahun 1.300 Masehi.

songakVIVAnews – Masjid Al-Falah terletak di Desa Songak, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Masjid yang sebelumnya bernama Songak ini banyak menyimpan nilai sejarah.

Konon masjid ini dibangun menggunakan ilmu laduni oleh sembilan wali kembar atau biasa disebut Sangak Pati. Konon, Desa Songak juga menjadi tempat tinggal para leak, semacam makhluk halus, sehingga kesembilan wali kembar memilih tinggal di desa ini.

Menurut Murtadi, Imam masjid Al Falah, masjid ini merupakan bukti sejarah yang menunjukkan Desa Songak adalah desa pertama di Lombok yang memeluk Islam. Konon dari sinilah beberapa masjid tua di Lombok direncanakan dibangun.

Masjid dengan ukuran 9 x 9 meter persegi itu dibangun secara sakral oleh Sangak Pati pada tahun 1.300 Masehi. “Dibangun sekitar 700 tahun yang lalu,” kata Murtadi saat ditemuiVIVAnews.

Meski sudah beberapa kali direnovasi, namun unsur-unsur bangunan yang sudah ada sejak pertama kali dibangun tetap dijaga. Nampak jelas atap yang masih menggunakan ilalang, usuk yang terbuat dari bambu. Ukiran-ukiran abad ke-13 juga masih melekat pada empat pilar yang jadi tiang masjid tersebut.

Empat pilar diartikan sebagai perwujudan empat khulafa’urrasyidin atau empat sahabat Nabi, yakni Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Sementara di atas kubah, terdapat empat simpat berbentuk tanda plus lengkap dengan ukiran khasnya, dengan satu penunggak ke atas atap–yang berarti meskipun memiliki empat mazhab, namun satu tujuan.

Bagian mimbar masjid terbagi menjadi dua bagian yaitu tempat untuk salat dan ceramah. Di dalam mimbar terdapat sebuah kelokan yang digunakan untuk mencuci tongkat imam.

Menurut cerita, masjid ini dulunya sering dijadikan sebagai tempat mangkat atau doa bersama oleh para prajurit yang akan perang melawan Kerajaan Bali. Dengan berdoa di situ, siapapun yang berperang diyakini akan selamat dan bisa kembali pulang.

Hingga saat ini, sebagian warga masih yakin bahwa sosok Sangak Pati masih hidup meski tidak terlihat. Warga yakin Sangak Pati hadir ketika terdengar suara kuda dan ketukan tongkat yang mengitari masjid dan perumahan.

Selain ibadah, Masjid Al-Falah digunakan sebagai tempat berbagai ritual, seperti ngayu-ayusetiap Senin dan Kamis, perayaan bubur putik (bubur putih) pada bulan Muharam, dan buburbeak (bubur merah) pada bulan Safar. Kemudian juga pada ritual bejari atau pembuatan minyak Songak. (Laporan: Farhan Bahanan | NTB)

http://us.nasional.news.viva.co.id/news/read/428615-sakralnya-masjid-al-falah-songak-di-lombok