Category Archives: Sejarah

Sesajen untuk Masjid Kuno 9 Wali di Lombok

Liputan6.com, Mataram – Di Desa Songak, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), terdapat sebuah peninggalan bersejarah yang tidak diketahui asal muasal dan sejarahnya yaitu Masjid Al-Falah.

Masjid yang juga disebut Masjid Sangak Pati itu terletak tepat di pinggir jalan utama, yang menghubungkan antara desa Songak dan desa lainnya. Masjid tersebut dinamakan Sangak Pati karena konon dibangun oleh Sembilan Pati (wali).

Bentuk masjid itu mirip seperti masjid tua lainnya yaitu atapnya tinggi dan terbuat dari ilalang. Temboknya terbuat dari tanah yang membatu.

Di dalam masjid terdapat mimbar kecil yang terletak tepat di bagian depan masjid. Sementara pada bagian tengah terdapat 4 pilar yang menancap horizontal dari lantai masjid ke bagian atap. Ke-4 tiang tersebut disatukan dengan silangan kayu yang penuh ukiran.

Ada yang menyebut, Masjid Sangak Pati dibangun oleh 9 Wali atau Sangak Pati. Ada juga yang mengatakan masjid ini dibawa oleh angin. Bahkan ada anggapan Masjid Sangak Pati dibangun secara gaib.

“Sampai sekarang kami belum tahu bagaimana sejarah yang sebenarnya, ada yang bilang masjid ini ditemukan oleh Raja Selaparang pada tahun 1300. Bahkan ada yang lebih tidak masuk akal, yaitu masjid ini dibilang tumbuh sendiri,” ujar Imam Masjid, Murdiyah, saat ditemui Liputan6.com di Lombok.

Kendati tidak jelas sejarah dan asal muasalnya, namun masyarakat setempat lebih mempercayai bahwa masjid tersebut dibuat oleh Sangak Pati. Keyakinan ini mengacu pada kisah yang menyebut masjid diapit oleh 9 rumah, ukuran masjid tepat 9×9 meter dan konon masjid ini dibangun pada 1309.

“Banyaknya angka 9 di sejarah dan bangunan masjid itu bisa dipercaya bahwa Sangak Pati lah yang membangunnya. Namun semuanya tetap masih belum jelas karena belum ada sejarah yang pasti tentang ini,” imbuh Murdiyah.

Gula Merah dan 5 Batang Rokok

Bagi masyarakat setempat, sambung Murdiyah, keberadaan Masjid Sangak Pati sangat sakral. Contohnya saja, setiap Kamis dan Senin masyarakat berbondong-bondong mendatangi masjid ini dengan membawa sesajen.

Sesajen yang dibawa antara lain gula merah yang dicampur kelapa, 5 biji rokok yang dilinting dengan menggunakan kulit jagung, gabah atau padi yang digoreng, beras kuning (beras yang ducampur kunyit), dan air lingsar.

“Seluruh sesajen tersebut memiliki arti tersendiri. Seperti halnya 5 batang rokok, posisi rokok yang tegak, persis seperti orang yang berdiri dalam salat. Sedangkan jumlah 5 adalah waktu salat,” terang Murdiyah.

Selain ritual sesajen tersebut, setiap tanggal 21 Ramadan dan malam-malam ganjil setelahnya, masyarakat setempat mengadakan ritual Maleman. Yakni mendatangi masjid pada malam hari sambil membawa lampu yang terbuat dari buah jarak seperti lampu pada zaman dahulu.

Bagi masyarakat setempat, ritual Maleman ini memiliki arti tersendiri yaitu sebagai pengingat akan sejarah kedatangan Islam pertama kali ke Indonesia yaitu melalui para pedagang Gujarat.

“Lampu dari buah jarak itu sebagai simbol penerangan sekaligus mengingatkan kita ke masa di saat Islam pertama kali datang ke Indonesia yaitu dibawa oleh para pedagang asal Gujarat. Gujarat dan jarak itu hampir sama pengucapannya,” tandas Murdiyah. (Sun/Nrm)