Category Archives: Seni dan Budaya

Mengajarkan dan mengenalkan budaya sejak usia dini

Lombok Timur [Sasak.Org] Mengenalkan budaya daerah secara dini kepada anak didik merupakan proses pembelajaran penting agar anak didik mulai menyukai dan mencintai budaya mereka sendiri.

Atas dasar keinginan untuk memperkenalkan dan menanamkan kecintaan inilah, murid murid di TK-SD-SMP SATAP Pringgasela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, mulai diperkenalkan dengan budaya asli daerahnya. Dalam bentuk Ekstrakulikuler, murid murid diberikan wadah untuk belajar menari sekaligus memainkan alat musik kesenian khas Sasak. Salah seorang guru, Ahsan Ahsani dengan semangat menjadi pembimbing tari Presean. Sebagai orang yang pernah terlibat Komunitas Sasak Regional Jogjakarta dan sekrang kembali mengabdi ke tanah kelahiran Lombok. Ahsan Ahsani mencoba menanamkan pentingnya memperkenalkan kesenian dan budaya pada anak usia dini. Berikut adalah gambar saat latihan para murid di luar waktu belajar mereka

Gambar 01: Latihan Tarian Presean

Presean adalah permainan tradisional khas Lombok, Nusa Tenggara Barat yang mempertemukan dua orang lelaki petarung yang masing-masing menggunakan sebilah batang rotan dan sebuah perisai (id.wikipedia.org/wiki/Perisean).Tarian ini melambangkan kejantanan seorang lelaki sasak yang hendak meminang calon pendampingnya.

Tentu tidak aneh lagi, jikajenis tarian satu ini sangat melekat erat dengan budaya yang ada di Lombok. Acara pagelaran seni tari ini umumnya banyak terlihat di bulan agustus menjelang peringatan 17 agustus, hampir di setiap penjuru Pulau Lombok atau di event tertentu seperti pemilihan jawara Pepadu (sebutan orang yang ahli Presean).

Dalam latihan disini anak didik akan diuji dan dilatih bagaimana meletakan emosi dan taktik menyerang lawan tanding,  baik ketika dalam latihan ataupun saat pentas agar mampu menghayati dan mengerti arti setiap resiko luka dan sakit yang dialami. Sehingga mampu tampil dengan performa optimal.

Di ruangan yang berbeda beberapa anak didik yang sudah memilih menekuni alat musik, juga sibuk dengan memukulkan dan menyesuiakan nada irama yang dikeluarkan oleh masing alat musik yang dimainkan. Dengan bantuan panduan alat musik yang diputar, anak didik bisa mendengar jenis musik yang akan ditiru dan dikembangkan jenis nada dan ritme yang di inginkan.

Dengan bantuan pembimbing, yang sudah mahir dalam memainkan musik ini mereka di arahkan dan dituntun untuk bisa menyesuaikan jenis musik yang akan di mainkan, kerja sama dan kebersamaan di tuntut lebih dalam memainkan alat musik ini. Sehinga menghasilkan suara musik dan paduan tarian yang sesuai dengan tema tarian yang dimainkan.

Gambar 02: Latihan memainkan alat musik

Gambar 03: Latihan memainkan alat musik

Berikut ialah gambar adik-adik ini memainkan alat musik kesenian tradisonal sasak, dengan mahir dan telaten mereka memukulkan alat musik yang masing-masing mereka mainkan.

Gambar 04: Pentas memainkan alat musik

Di sela acara peringatan isro’ mi’raj dan pelepasan TK-SD dan SMP SATAP 2 Pringgasela di Desa Baru,  anak didik ini diberikan kesempatan menampikan kebolehannya dari hasil kerja keras latihan selama ini.

Gambar 05: Pentas seni tari

Gambar 06: Pentas seni Presean

Pada saat seremoni pelantikan Kepada Desa Pringgasela yang dihadiri oleh Pak Bupati, anak-anak ini dengan gagah menampilkan tarian presean dan memainkan musik tradisional sasak. Pertunjukan perdana saat acara Gelar senja di Masbagik membuka semangat adik-adik ini untuk terus latihan dari jadwal yang ditentukan oleh pembimbing.

Dengan pengalaman tiga (3) kali pentas anak-anak ini merupakan modal semangat yang akan lebih serius untuk diarahkan dan dibimbing agar kelak benar-benar mengenal dan mencintai budaya yang mereka miliki. Tidak hanyak sekejar ucapan manis bibir saja para guru, pembimbing dan orang tua diikut sertakan dalam memberikan motivasi dan semangat kepada anak-anak ini agar mereka menjadi tulang punggung bangsa ini dalam memajukan dan memasarkan harta budaya yang kita miliki.

Secara kuantitas, anak didik usia dini sangatlah besar. Di seluruh Indonesia, terdapat hampir 12,6 juta usia 4 sampai 6 tahun belum mendapat pelayanan pendidikan secara baik.  Hal ini menjadi PR panjang kita dan bangsa ini, tentu kita yang mau melihat masa depan yang lebih baik tidak bisa tinggal diam dengan berjuta-juta teori yang kita miliki tanpa ada aplikasi. Mengenal dan memberikan pembelajaran mengenai budaya kita sendiri butuh kemauan dan optimisme terutama di tempat kita (lombok), masih banyak kita jumpai orang hanya mau bekerja dengan nilai project yang sesuai yang mereka inginkan, jiwa pesimis yang bertebaran (bergelayat) di gang-gang.

Mengajar dan belajar ialah proses dimana komponen Hati Nurani harus di kedepankan.

Ditulis oleh Ahsan Ahsani,
Komunitas Sasak Regional Jogjakarta, kini telah menetap di Lombok Timur

Komunitas Sasak Kenalkan Presean di Dahsyat RCTI

Jakarta [Sasak.Org] Akhirnya, penantian panjang Komunitas Sasak untuk bisa menjalankan salah satu misi promosi budaya bisa terlaksana. Mufida, salah seorang tim creative RCTI menghubungi Komunitas Sasak pada 12 Juli 2012. Mufida meminta Komunitas Sasak untuk menampilkan pertunjukan tari khas sasak dalam rangkaian acara Dahsyat RCTI episode Sabtu, 28 Juli 2012.

Gayung bersambut, Komunitas Sasak Regional Lombok melalui Lalu Nofian Saputra meminta kesediaan Komunitas Sasak Regional Jakarta untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Dengan dibantu Ikatan Mahasiswa Sasak Lombok (IMSAK) dan Sanggar Sasambo (Anjungan NTB, TMII) akhirnya, pertunjukan ini dapat digelar.

Due Pepadu Sasak Doel Jaistone deit Abie Znal

Pepadu Sasak, sebelum tampil

Pepadu Sasak, menggunakan pakain lengkap. Jojix, manager tim KS terlihat menggunakan kaos Komunitas Sasak

Sebelum Komunitas Sasak tampil, Girlband JKT48 lebih dulu tampil. Sebuah kejutan terjadi ketika 峯岸 みなみ Minegishi Minami, personel AKB48 (dari jepang) muncul dalam acara ini.

Sebuah kehormatan bagi Komunitas Sasak, ketika 峯岸 みなみ Minegishi Minami ikut tampil berjejer team tari Presean. Tak lupa, Minami ikut memainkan Presean dengan wasit Doel Jaistone

Personel Girlband AKB48 dari Jepang (dua dari kiri)

峯岸 みなみ Minegishi Minami memainkan Presean. Stik dipegang dengan tangan kiri, Ende dengan tangan kanan

Di akhir kesempatan, Pak Sufrin ketika diberi kesempatan berbicara oleh host Dahsyat RCTI mengajak masyarakat Indonesia untuk mengunjungi Lombok dan Sumbawa [WKS/lmj]

Bahasa, Adat dan Pakaian Sasak.

Hazairin R. Junep

Bagan – Luang Prabang- Angkor Wat (www.sasak.org) Sudah lima tahun saya secara khusus menuliskan catatan catatan kecil di KS dan sasak org. mengenai masalah kesasakan, yakni bahasa, budaya, adat dan pakaian Sasak. Sejak tulisan pertama sampai saat ini masih terus bermunculan pertanyaan yang sama maupun yang baru tentang perkara itu. Dalam usaha dan kerja keras para budayawan dan agamawan Sasak, merekonstruksi kembali karakter kesasakan atau jati diri Sasak itu, banyaklah mendapat kendala baik dari kubu sendiri maupun dari kubu yang berseberangan. Kelompok budaywan fanatik merasa terhalangi oleh kelompok agamawan fanatik. Kedua fanatik itu bersitegang sampai lupa objektifitas dan mengabaikan maksud hati mereka dalam memberi sumbang pemikiran dan suri tauladan bagi perkembangan kesasakan kita.

Sejak dihapusnya pelajaran bahasa Sasak dari SD sampai SMA entah zaman kapan, yang terakhir adalah pada saat proyek muatan lokal digencarkan lalu lenyap setelah bagi bagi hasil pelaksanaan proyek. Dahulu ada buku teks berjudul GALANG BOELAN yang ditulis oleh Laloe Mesir dari Selong. Saya tidak pernah melihat buku itu tetapi salah seorang tetua menceritakan bahwa teks itu ia pakai saat SR dan ia sempat mengulang kalimat yang masih dihafal. Bahasa Sasak yang digunakan adalah bahasa sehari hari dan itulah sebabnya generasi terdahulu mahir berbahasa Sasak dan mahir pula berbahasa Melayu (Indonesia).

Saat ini kita mendengar diseluruh negeri bahwa pengajaran bahasa daerah mengalami stagnan, kemandegan, kemacetan, kegagalan. Termasuklah kegagalan dalam pengembangan dan pengajaran bahasa Sasak itu. Pengajaran gagal karena penyusun kurikulum dan apalagi yang mengajar tidak mengerti akan kaidah bahasa Sasak. Bagaimana mungkin seorang anak SD yang sedang belajar mengucapkan dan merangkai kata dalam bahasa Ibunya sehari hari langsung diajar bahasa sastera kuna yang disebut bahasa Kawi, yaitu bahasa neo Sasnskrit. Klaim bahwa bahasa sastera atau Kawi itu atau lebih dikenal sebagai bahasa Jawa Kuna itu adalah bahasa Sasak, apalagi ditambah degan istilah bahasa Halus adalah pemutar balikan fakta yang dilakukan selama ini. Bahasa Sasak yang sebenarnya adalah bahasa yang dipakai sehari hari oleh seluruh rakyat Goemi Paer sebanyak 3.5 juta itu. Gaya bicara yang membingungkan anak generasi baru yang dilakukan oleh sebahagian kecil para penyembah budaya yang menyusupkan he ne ce re ke de te se we le pe de je ye ne me ge be te nge didalam pelajaran sekolah dasar dan SMP hanya bermotif politis belaka.

Adat anak bangsa Sasak adalah perilaku sehari hari yang dapat dilihat, dirasakan dan dimengerti setiap berinteraksi dengan mereka. Mereka bicara dan bertingkah laku sopan dan halus budi pekertinya. Bahasa Sasak tidak ada yang halus, yanga ada adalah perilaku yang halus dan hormat. Bukan rangkaian kata yang menentukan halus tidaknya seseorang dalam berbahasa tetapi intonasi, ekspresi wajah, gesture (gerak gerik tubuh) pilihan kata dan kejelasan pelafalan. Orang USA berbicara dalam bahasa yang sama dengan orang Britania. Kita dapat melihat, mendengar dan merasakan bahwa orang USA lebih kasar bicaranya disbanding dengan orang Britania, karena orang Britania adalah orang yang lebih berpendidikan budaya daripada orang USA yang cowboy. Marilah kita bicara dengan sopan dan sesuaikan dengan keadaan serta kepada siapa kita berbicara. Itu lebih mendasar daripada mengganti bahasa yang akhirnya membuat anak kita gagal baik dalam memakai bahasa sehari hari (kolokial) maupun, apalagi bahasa sastera yang asing.

Pakaian adat sebagaimana arti kata adat yaitu yang merupakan kebiasaan sehari hari, maka pakain adat adalah pakaian yang kita kenakan setiap hari. Pakaian asli orang Sasak adalah sarung berwarna merah, atau kuning, dll yang masih ada di dasan dasan yang merupakan hasil tenunan sendiri dengan pewarnaan alami. Pakaian perempuan adalah lambung sedang pakaian pria tidak ada atasannya. Tetapi agar dapat menyesuaiakn nilai adatgame maka pria dapat mengenakan kemeja atau kaos. Dalam suatu keperluan tertentu seperti upacara, atau pawai dan pesta sebagimana layakanya manusia, maka sering diperlukana pakaian yang merupakan hasil olah seni fashion yaitu haute couture (pakaian dengan jahitan/potongan khusus berselera tinggi). Disitulah orang boleh memilih haute coutre Bali, Jawa, Italia atau Prancis. Hal itu merupakan kebebasan individu yang menyesuaikan dengan kemampuan daya beli dan daya dukung pribadi.

Selanjutnya perlu dikemukakan hal hal yang sangat berkaitan erat dengan berbagai permasalahan yang sering saling bergesek didalam masyarakat luas adalah karean perbedaan niali dan visi. Perbedaan itu terjadi antara kaum elit dan orang kebanyakan. Orang elit dimanapun didunia ini memiliki pengaruh besar. Salah satu kaum elit itu disebut sebagai bangsawan. Bangsawan dari kata Vangsa (Sanskrit) artinya dinasti, keturunan, trah yang akan meneruskan kekuasaan keluarga besar yang menurunkannya. Bangsawan pada umumnya tinggal di istana, kastel atau wilayah khusus dengan tembok tinggi disekelingnya. Di Goemi Paer ada suatu tempat yang disebut pedaleman. Pedaleman merupakan tempat tinggal serupa getto yang dikelingi pagar atau tembok. Pedaleman dari kata dalem yang artinya disanjung, dihormati adalah karena orang yang menghuni tempat itu merupakan orang yang dihormati baik karena pengaruh harta maupun silsilah keturunan (dinasti). Orang orang yang ada dipedaleman itu menjaga dan memlihara keluarganya dengan nilai nilai tertentu yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Mereka memiliki adat tertentu yang bisa saja berbeda dengan orang kebanyakan. Orang orang pedaleman itu memeilhara tradisi sastera mereka dengan baik sehigga banyaklah datang dari orang luar untuk belajar disana. Berapa banyakkah kita punya pedaleman?. Kalau mau jujur pedaleman dalam arti sebenernya telah punah oleh virus modernisasi yang memberangus tradisi sastera mereka yang merupakan inti dari sumber nilai yang dianut. Sekarang orang orang pedaleman sudah tidak lagi peduli bahkan banyak yang menjual pusaka untuk dapat menjadi pejabat atau bertahan hidup. Orang pedaleman sejati pada umumnya adalah kesatri kesatria. Banyak pahlawan yang berasal dari keluarga itu dicatat dalam sejarah dunia.

Pertentangan nilai nilai lama dan baru pada dasarnya diekploitasi oleh orang orang yang mengkhususkan diri dalam bisnis itu. Suatu hari ada orang menikah dengan mencuri istri. Seharusnya keluarga lelaki langsung datang ke ke keluarga perempuan dan menyelesaikan dengan seksama masalah pernikahan kedua putra putri mereka itu. Apa yang sering terjadi adalah ikut campurnya para makelar yang sengaja memelihara nilai tertentu seperti memelihara fungus untuk membuat tempe!. Kalau diteliti lebih jauh para makelar itu banyak berasal dari sempalan orang pedaleman atau orang kebanyakan yang suka berlagak sebagai berdarah biru. Semua perkara didunia ini adalah sederhana sampai ikut campurnya makelar. Makelar sanggup membuat orang menjual sawahnya untuk mengikuti bualan ala kerajaan ghoib yang dikarang karang yang katanya berasal dari kitab mbahnya zaman lepang lolat. Orang kebanyakan adalah korban terbesar dari permainan makelar yang sering menghilangkan kehormatan keluarga besar bangsa Sasak. Lebih berbahaya lagi apabila ada orang yang dengan gagah berani menginjakkan satu kaki pada para penyembah budaya dan satu kaki pada penyembah agama.

Anak bangsa Sasak harus mulai membenahi diri dengan tidak gampang melupakan sejarahnya. Kalau sudah dikadali oleh makelar ala dinasti sampai menjual martabat diri untuk mengikuti tetek bengek ritual adat yang dipungut sana sini seperti tergambar dalam selera makan dan berpakaian mereka maka kita semua mesti, harus dan wajib mewaspadai makelar yang menunggangi agama. Banyaklah kita saksikan selain tokoh penyembah adat, para tokoh penyembah agama berduyun duyun mengacungkan tangan dengan jubbah kebesaranya sambil mengancam dengan neraka, sama saja, orang banyak hanya dieksploitasi sehingga ada pula yang memberikan harta bendanya untuk ikut acara mereka padahal rakyat tidak mengerti apa apa sebab memang ilmu tidak diberikan yang penting disihir lalu ikut ikutan. Janganlah kita terkena pepatah yang mengatakan bahwa anak Sasak lepas dari buaya masuk ke cengkram harimau!.

Pendidikan budi pekerti – budhi artinya ilmu dan pekerti artinya tingkah laku. How to behave?. Sudah sejak zaman dahulu kala nenek moyang kita mengajarkan dengan sangat baik yaitu, sax sax Lombox. Harus lempeng. Untuk dapat menjadi orang lempeng maka harus berilmu sebab terbukti tanpa ilmu anak bangsa ini hanya menjadi bahan eksploitasi makelar.
Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Rumah Adat Sasak

BAGIAN PERTAMA

Bentuk, Fungsi dan Makna Rumah Sasak

Bagi masyarakat Sasak tradisional, rumah bukan sekadar tempat hunian yang multifungsi, melainkan juga punya nilai estetika dan pesan-pesan filosofi bagi penghuninya, baik arsitektur maupun tata ruangnya.

Rumah adat Sasak pada bagian atapnya berbentuk seperti gunungan, menukik ke bawah dengan jarak sekitar 1,5-2 meter dari permukaan tanah. Atap dan bubungannya (bungus) terbuat dari alang-alang, dindingnya dari anyaman bambu, hanya mempunyai satu berukuran kecil dan tidak ada jendelanya. Ruangannya (rong) dibagi menjadi inan bale (ruang induk) yang meliputi bale luar (ruang tidur) dan bale dalem berupa tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan sekaligus ruang disemayamkannya jenazah sebelum dimakamkan.

Ruangan bale dalem dilengkapi amben, dapur, dan sempare (tempat menyimpan makanan dan peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi atau bisa empat persegi panjang. Selain itu ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem geser. Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga (tiga anak tangga) dan lantainya berupa campuran tanah dengan kotoran kerbau atau kuda, getah, dan abu jerami. Undak-undak (tangga), digunakan sebagai penghubung antara bale luar dan bale dalem.

Hal lain yang cukup menarik diperhatikan dari rumah adat Sasak adalah pola pembangunannya. Dalam membangun rumah, orang Sasak menyesuaikan dengan kebutuhan keluarga maupun kelompoknya. Artinya, pembangunan tidak semata-mata untuk mememenuhi kebutuhan keluarga tetapi juga kebutuhan kelompok. Karena konsep itulah, maka komplek perumahan adat Sasak tampak teratur seperti menggambarkan kehidupan harmoni penduduk setempat.

Bentuk rumah tradisional Lombok berkembang saat pemerintahan Kerajaan Karang Asem (abad 17), di mana arsitektur Lombok dikawinkan dengan arsitektur Bali. Selain tempat berlindung, rumah juga memiliki nilai estetika, filosofi, dan kehidupan sederhana para penduduk di masa lampau yang mengandalkan sumber daya alam sebagai tambang nafkah harian, sekaligus sebagai bahan pembangunan rumah. Lantai rumah itu adalah campuran dari tanah, getah pohon kayu banten dan bajur (istilah lokal), dicampur batu bara yang ada dalam batu bateri, abu jerami yang dibakar, kemudian diolesi dengan kotoran kerbau atau kuda di bagian permukaan lantai. Materi membuat lantai rumah itu berfungsi sebagai zat perekat, juga guna menghindari lantai tidak lembab. Bahan lantai itu digunakan, oleh warga di Dusun Sade, mengingat kotoran kerbau atau sapi tidak bisa bersenyawa dengan tanah liat yang merupakan jenis tanah di dusun itu.

Konstruksi rumah tradisional Sasak agaknya terkait pula dengan perspektif Islam. Anak tangga sebanyak tiga buah tadi adalah simbol daur hidup manusia: lahir, berkembang, dan mati. Juga sebagai keluarga batih (ayah, ibu, dan anak), atau berugak bertiang empat simbol syariat Islam: Al Quran, Hadis, Ijma’, Qiyas). Anak yang yunior dan senior dalam usia ditentukan lokasi rumahnya. Rumah orangtua berada di tingkat paling tinggi, disusul anak sulung dan anak bungsu berada di tingkat paling bawah. Ini sebuah ajaran budi pekerti bahwa kakak dalam bersikap dan berperilaku hendaknya menjadi panutan sang adik.

Rumah yang menghadap timur secara simbolis bermakna bahwa yang tua lebih dulu menerima/menikmati kehangatan matahari pagi ketimbang yang muda yang secara fisik lebih kuat. Juga bisa berarti, begitu keluar rumah untuk bekerja dan mencari nafkah, manusia berharap mendapat rida Allah di antaranya melalui shalat, dan hal itu sudah diingatkan bahwa pintu rumahnya menghadap timur atau berlawanan dengan arah matahari terbenam (barat/kiblat). Tamu pun harus merunduk bila memasuki pintu rumah yang relatif pendek. Mungkin posisi membungkuk itu secara tidak langsung mengisyaratkan sebuah etika atau wujud penghormatan kepada tuan rumah dari sang tamu.

Kemudian lumbung, kecuali mengajarkan warganya untuk hidup hemat dan tidak boros sebab stok logistik yang disimpan di dalamnya, hanya bisa diambil pada waktu tertentu, misalnya sekali sebulan. Bahan logistik (padi dan palawija) itu tidak boleh dikuras habis, melainkan disisakan untuk keperluan mendadak, seperti mengantisipasi gagal panen akibat cuaca dan serangan binatang yang merusak tanaman atau bahan untuk mengadakan syukuran jika ada salah satu anggota keluarga meninggal.

Berugak yang ada di depan rumah, di samping merupakan penghormatan terhadap rezeki yang diberikan Tuhan, juga berfungsi sebagai ruang keluarga, menerima tamu, juga menjadi alat kontrol bagi warga sekitar. Misalnya, kalau sampai pukul sembilan pagi masih ada yang duduk di berugak dan tidak keluar rumah untuk bekerja di sawah, ladang, dan kebun, mungkin dia sakit.

Sejak proses perencanaan rumah didirikan, peran perempuan atau istri diutamakan. Umpamanya, jarak usuk bambu rangka atap selebar kepala istri, tinggi penyimpanan alat dapur (sempare) harus bisa dicapai lengan istri, bahkan lebar pintu rumah seukuran tubuh istri. Membangun dan merehabilitasi rumah dilakukan secara gotong-royong meski makan-minum, berikut bahan bangunan, disediakan tuan rumah.

Dalam masyarakat Sasak, rumah berada dalam dimensi sakral (suci) dan profan duniawi) secara bersamaan. Artinya, rumah adat Sasak disamping sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya anggota keluarga juga menjadi tempat dilaksanakannya ritual-ritual sakral yang merupakan manifestasi dari keyakinan kepada Tuhan, arwah nenek moyang (papuk baluk) bale (penunggu rumah), dan sebaginya.

Perubahan pengetahuan masyarakat, bertambahnya jumlah penghuni dan berubahnya faktor-faktor eksternal lainya (seperti faktor keamanan, geografis, dan topografis) menyebabkan perubahan terhadap fungsi dan bentuk fisik rumah adat. Hanya saja, konsep pembangunannya seperti arsitektur, tata ruang, dan polanya tetap menampilkan karakteristik tradisionalnya yang dilandasi oleh nilai-nilai filosofis yang ditransmisikan secara turun temurun.

Lombok Traditional House with Ann Dunhan (Hawaii University)

Kosmologi: Ruang dan Waktu

Untuk memulai membangun rumah, dicari waktu yang tepat, berpedoman pada papan warige yang berasal dari Primbon Tapel Adam dan Tajul Muluq. Tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk menentukan hari baik, biasanya orang yang hendak membangun rumah bertanya kepada pemimpin adat. Orang Sasak di Lombok meyakini bahwa waktu yang baik untuk memulai membangun rumah adalah pada bulan ketiga dan bulan kedua belas penanggalan Sasak, yaitu bulan Rabiul Awal dan Zulhijjah pada kalender Islam. Ada juga yang menentukan hari baik berdasarkan nama orang yang akan membangun rumah. Sedangkan bulan yang paling dihindari (pantangan) untuk membangun rumah adalah pada bulan Muharram dan Ramadlan. Pada kedua bulan ini, menurut kepercayaan masyarakat setempat, rumah yang dibangun cenderung mengundang malapetaka, seperti penyakit, kebakaran, sulit rizqi, dan sebagainya.

Selain persoalan waktu baik untuk memulai pembangunan, orang Sasak juga selektif dalam menentukan lokasi tempat pendirian rumah. Mereka meyakini bahwa lokasi yang tidak tepat dapat berakibat kurang baik kepada yang menempatinya. Misalnya, mereka tidak akan membangun tumah di atas bekas perapian, bekas tempat pembuangan sampah, bekas sumur, dan pada posisi jalan tusuk sate atau susur gubug. Selain itu, orang Sasak tidak akan membangun rumah berlawanan arah dan ukurannya berbeda dengan rumah yang lebih dahulu ada. Menurut mereka, melanggar konsep tersebut merupakan perbuatan melawan tabu (maliq-lenget).

Sementara material yang dibutuhkan untuk membangun rumah antara lain: kayu-kayu penyangga, bambu, anyaman dari bambu untuk dinding, jerami dan alang-alang digunakan untuk membuat atap, kotaran kerbau atau kuda sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai, getah pohon kayu banten dan bajur, abu jerami, digunakan sebagai bahan campuran untuk mengeraskan lantai.(*)

BAGIAN KEDUA

Pranata dan Ragam Rumah Suku Sasak

Bangunan rumah dalam komplek perumahan Sasak terdiri dari beberapa macam, diantaranya adalah: Bale Tani, Bale Jajar, Berugaq/Sekepat, Sekenam, Bale Bonter, Bale Beleq Bencingah, dan Bale Tajuk.

Nama bangunan tersebut disesuaikan dengan fungsi dari masing-masing tempat.

a. Bale Tani

Bale Tani adalah bangunan rumah untuk tempat tinggal masyarakat Sasak yang berprofesi sebagai petani. Bale Tani berlantaikan tanah dan terdiri dari satu ruang untuk serambi (sesangkok) dan satu ruang untuk kamar (dalem bale). Walaupun dalem bale merupakan ruangan untuk tempat tidur, tetapi kamar tersebut tidak digunakan sebagai tempat tidur. Dalem bale digunakan sebagai tempat menyimpan barang (harta benda) yang dimilikinya atau tempat tidur anak perempuannya, sedangkan anggota keluarga yang lain tidur di serambi. Untuk keperluan memasak (dapur), keluarga Sasak membuat tempat khusus yang disebut pawon.

Pondasi bale tani terbuat dari tanah, desain atapnya dengan sistem jurai yang terbuat dari alang-alang di mana ujung atap bagian serambi (sesangkok) sangat rendah, tingginya sekitar kening orang dewasa. Dinding rumah bale tani pada bagian dalem bale terbuat dari bedek, sedangkan pada sesangkok tidak menggunakan dinding. Posisi dalem bale lebih tinggi dari pada sesangkok oleh karena itu untuk masuk dalem bale dibuatkan tangga (undak-undak) yang biasanya dibuat tiga trap dengan pintu yang dinamakan lawang kuri.

b. Bale Jajar

Bale jajar merupakan bangunan rumah tinggal orang Sasak golongan ekonomi menengah ke atas. Bentuk bale jajar hampir sama dengan bale tani, yang membedakan adalah jumlah dalem balenya. Bale jajar mempunyai dua kamar (dalem bale) dan satu serambi (sesangkok), kedua kamar tersebut dipisah oleh lorong/koridor dari sesangkok menuju dapur di bagian belakang. Ukuran kedua dalem bale tersebut tidak sama, posisi tangga/pintu koridornya terletak pada sepertiga dari panjang bangunan bale jajar.

Bahan yang dibutuhkan untuk membuat bale jajar adalah tiang kayu, dinding bedek dan alang-alang untuk membuat atap. Penggunaan alang-alang saat ini, sudah mulai diganti dengan menggunakan genteng tetapi dengan tidak merubah tata ruang dan ornamennya. Bangunan bale jajar biasanya berada dikomplek pemukiman yang luas dan ditandai oleh keberadaan sambi yang menjulang tinggi sebagai tempat penyimpanan kebutuhan rumah tangga atau keluarga lainnya. Bagian depan bale jajar ini bertengger sebuah bangunan kecil (disebut berugaq atau sekepat) dan pada bagian belakangnya terdapat sebuah bangunan yang dinamakan sekenam, bangunan seperti berugaq dengan tiang berjumlah enam.

c. Berugaq / Sekepat

Berugaq/sekepat mempunyai bentuk bujur sangkar tanpa dinding, penyangganya terbuat dari kayu, bambu dan alang-alang sebagai atapnya. Berugaq atau sekepat biasanya terdapat di depan samping kiri atau kanan bale jajar atau bale tani. Berugaq/sekepat ini didirikan setelah dibuatkan pondasi terlebih dahulu kemudian didirikan tiangnya. Di antara keempat tiang tersebut, dibuat lantai dari papan kayu atau bilah bambu yang dianyam dengan tali pintal (Peppit) dengan ketinggian 40-50 cm di atas permukaan tanah.

 Fungsi dan kegunaan berugaq/sekepat adalah sebagai tempat menerima tamu, karena menurut kebiasaan orang Sasak, tidak semua orang boleh masuk rumah. Berugaq/sekepat juga digunakan pemilik rumah yang memiliki gadis untuk menerima pemuda yang datang midang (melamar).

d. Sekenam

Sekenam bentuknya sama dengan berugaq/sekepat, hanya saja sekenam mempunyai mempunyai tiang sebanyak enam buah dan berada di bagian belakang rumah. Sekenam biasanya digunakan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar tata krama, penanaman nilai-nilai budaya dan sebagai tempat pertemuan internal keluarga.

e. Bale Bonter

Bale bonter merupakan bangunan tradisional Sasak yang umumnya dimiliki oleh para perkanggo/pejabat desa, dusun/kampong. Bale bonter biasanya dibangun di tengah-tengah pemukiman dan atau di pusat pemerintahan desa/kampung. Bale bonter dipergunakan sebagai temopat pesangkepan/persidangan adat, seperti tempat penyelesaian masalah pelanggaran hukum adat dan sebagainya.

Bale bonter juga disebut gedeng pengukuhan dan tempat menyimpanan benda-benda bersejarah atau pusaka warisan keluarga. Bale bonter berbentuk segi empat bujur sangkar, memiliki tiang paling sedikit 9 buah dan paling banyak 18 buah. Bangunan ini dikelilingi dinding bedek sehingga jika masuk ke dalamnya seperti aula, atapnya tidak memakai nock/sun, hanya pada puncak atapnya menggunakan tutup berbentuk kopyah berwarna hitam.

f. Bale Beleq Bencingah

Bale beleq adalah salah satu sarana penting bagi sebuah Kerajaan. Bale beleq diperuntukkan sebagai tempat kegiatan besar Kerajaan sehingga sering juga disebut “Bencingah.” Adapun upacara kerajaan yang biasa dilakukan di bale beleq diantaranya adalah:

  • Pelantikan pejabat kerajaan
  • Penobatan Putra Mahkota Kerajaan
  • Pengukuhan/penobatan para Kiai Penghulu (Pendita) Kerajaan
  • Sebagai tempat penyimpanan benda-benda Pusaka Kerajaan seperti persenjataan dan benda pusaka lainnya seperti pustaka/dokumen-dokumen Kerajaan

g. Bale Tajuk

Bale tajuk merupakan salah satu sarana pendukung bagi bangunan rumah tinggal yang memiliki keluarga besar. Bale

tajuk berbentuk segi lima dengan tiang berjumlah lima buah dan biasanya berada di tengah lingkungan keluarga Santana. Tempat ini dipergunakan sebagai tempat pertemuan keluarga besar dan pelatihan macapat takepan, untuk menambah wawasan dan tata krama.

h. Bale Gunung Rate dan Bale Balaq

Selain jenis bangunan yang telah disebut di atas, jenis bangunan lain dibangun berdasarkan kondisi-kondisi khusus, seperti bale gunung rate dan bale balaq. Bale gunung rate biasanya dibangun oleh masyarakat yang tinggal di lereng pegunungan, sedangkan bale balaq dibangun dengan tujuan untuk menghindari bencana banjir, oleh karena itu biasanya berbentuk rumah panggung.

Bangunan Pendukung

Selain bangunan-bangunan yang telah disebut di atas, masyarakat Sasak membuat bangunan-bangunan pendukung lainnya seperti sambi, alang, dan lombung.

a. Sambi

Sambi merupakan tempat menyimpan hasil pertanian masyarakat. Ada beberapa macam bentuk sambi, antara lain sambi sejenis lumbung berbentuk rumah panggung. Bagian atas sambi ini dipergunakan sebagai tempat menyimpan hasil pertanian, sedangkan bagian bawahnya dipergunakan sebagai tempat tidur atau tempat menerima tamu. Ada juga sambi yang atapnya diperlebar sehingga pada bagian bawahnya dapat digunakan sebagai tempat menumbuk padi (lilih) dan juga tempat duduk-duduk, berupa bale-bale yang alas duduknya dibuat dari bilah bambu dan papan kayu.

Pada umumnya, sambi mempunyai empat, enam atau delapan tiang kayu. Sambi dengan enam tiang seringkali disebut ayung, karena pada bagian atasnya sering digunakan untuk tempat tidur. Bangunan sambi yang bertiang delapan terkadang disebut sambi jajar karena berbentuk memanjang. Semua sambi selalu dilengkapi dengan tangga untuk naik dan didalamnya juga memiliki tangga untuk turun ke dalam.

b. Alang

Alang sama dengan lumbung, berfungsi untuk menyimpan hasil pertanian. Hanya saja alang mempunyai bentuk yang khas, yaitu beratapkan alang-alang dengan lengkungan kira-kira ¾ lingkaran namun lonjong dan ujungnya tajam ke atas. Konstruksi bawahnya menggunakan empat tiang yang ujung tiang bagian atasnya dipadu dengan jelepeng (diikat menjadi satu). Bagian bawah bangunan alang biasanya digunakan sebagai tempat beristirahat baik siang atau malam hari. Alang biasanya diletakkan di halaman belakang rumah atau dekat dengan kandang hewan.

c. Lumbung

Lumbung adalah tempat untuk menyimpan segala kebutuhan. Lumbung tidak sama dengan sambi dan alang, karena lumbung biasanya diletakkan di dalam rumah/kamar atau di tempat khusus diluar bangunan rumah. Lumbung berbentuk bulat, dibuat dari gulungan bedek kulitan dengan diameter 1,5 meter untuk lumbung yang ditempatkan di dalam rumah dan berdiameter 3 meter jika diletakkan di luar rumah.

Bahan untuk membuat lumbung adalah bambu, bedek, dan papan kayu sebagai lantai. Di bawah papan lantainya dibuatkan pondasi dari tanah dan batu pada empat sudutnya. Atapnya disangga dengan tiang kayu atau bambu berbentuk seperti atap rumah tinggal.

Di samping adanya bangunan pendukung, orang Sasak sangat memperhatikan tanaman yang ada di sekitarnya, karena mereka meyakini bahwa ada beberapa tanaman yang jika ditanam dapat mengundang malapetaka. Tanaman yang tidak boleh ditanam di sekitar rumah adat, antara lain pohon nangka, pohon sawo, pohon jambu air, pohon kelor, pohon kedondong, pohon ceremai, pohon johar, dan pohon maja.

Tulisan ini dihimpun oleh SUGI LANUS dari berbagai sumber on-line dan off-line

Kumpulan Pantun Sasak : Mosot 13 Januari 2012

Logo Media KS

  1. Piaq gambar kadu potlot.. cemoh laloq jari lukisan.. Ndaq paran tyang mosot.. jodoh sino lengan Tuhan #PantunSasak
  2. Buaq bagek dalem kamar.. araq skecot ragin paku.. Ndaq lueq peta lamar.. lemaq mosot ndeq laku #pantunsasak
  3. Pendak te pete lukisan sik kadu potlot.. Ragi manuk kadu sebie.. Ndak mele jari tau mosot.. Rugi lalok jari manusia #pantunsasak
  4. Dokar barang jauq romot.. bkelampan leq atas oloh.. Do’e tyang joq saq mosot.. mudahan gamaq mauq jodoh #pantunsasak
  5. Mbe langan joq balen merbot.. peteng laloq ndeq tgitaq.. Brembe entan tyang ndeq mosot.. kepeng doang saq tpetaq.. #pantunsasak
  6. Kecial kuning benyanyi nyaring.. empak pepait awakne licin.. becat wah side paling.. ketimbang tebait batur saq lain #pantunsasak
  7. Saiq blimbing saiq buaq pace..buang kenyamen tjauq to ampenan.. saq tpaling masi ndeq mele.. tyang ndeqman mauq pgawean #pantunsasak
  8. Lebui stekot langan apitaik.. kesune odaq spesel tbeli Sai.. mosot jlapan merarik.. dunie toaq ndaq nyesel muri #pantunsasak
  9. Lolon jarak arak saik.. Ambon kotong lek atas sempare.. Satak kali ku tenyak kamu merarik.. Ndk nyesel lmun mosot jari dedare.. #PantunSasak
  10. Kenyamen lime jauq joq peken.. ndaq lupak kdondong saq tpesen.. Lamun side ndaraq angen.. ndaraq gune tyang panggong angen #pantunsasak
  11. Buaq birak bawon tanak.. berarak bawon kenyamen.. timak girangde betenak.. laguk tiang ndarak angen #PantunSasak
  12. Mun peteng te kerap bendang.. buaq pace sik buaq bile.. lamun ndek dateng midang.. tiang pete ojok balende #pantunsasak
  13. Buaq owah jari pesuke.. lek turide taok te puase.. lamun wah pade suke.. nunas rede jok sak kuase #pantunsasak
  14. Timun sbie leq gawah swele.. tukah kance lime rupie.. Lamun side wah suke.. aneh pire jari lamarte #pantunsasak

Dunie Maye, Twitter @komunitassasak FB : Komunitas Sasak, Kelem Saptu, Teloolas Janoari Due Iyu Due Olas