Category Archives: Seni dan Budaya

Goresan Makna: Pondong

Pondong - Gupran Muhsan

Pondong - Gupran Muhsan

Diantara kita mungkin ada yang pernah atau mengetahui tentang permainan masa-masa kecil yaitu pondong sie (sie mengambil akhiran dari kata Manusie). Teringat dengan permainan ini membuat saya mencoba menggerakkan ujung kuas saya untuk mencoba melukis bagaimana cara pondong manusie dimainkan, hasilnya seperti yang ada di atas.

Untuk memaknai permainan ini saya yakin anda mempunyai penilaian tersendiri, saya hanya bisa mencoba menulis kata PONDONG dgn huruf FA, NUN, DAL, NGA, dan lombok pula LAM, MIM, BA, KAF (entah penulisannya betul atau tidak hanya Allah  Yang Maha Mengetahui).

Jika kita bandingkan seperti di http://sasak.org/goresan-makna-ngeson-saiq-brengkon-empat yang terinspirasi dari dongeng godek dan tuntel, maka lukisan ini mempunyai  perberbedaan  yang kentara sekali, ada tiga titik pada PEMONDONG  dan yang di PONDONG  hanya dua titik itupun ada di atas dan tengah, saya terlalu mentah untuk memaknai itu semua apa yang saya ketahui hanya merasakan bagaimana

Rasanya ketika bermain permainan pondong manusia ini ketika kecil dulu, bila saya dapat giliran MEMONDONG dua teman apa yang saya pikir adalah bagaimana agar kedua teman tidak jatuh, memikirkan bagaimana agar saya bisa menahan berat dari kedua teman,bagaimana cara saya agar dapat jalan di dalam air. Tapi ketika saya yang di PONDONG saya hanya akan memperkuat pegangan tangan saya pada kaki teman sebelah, demikian juga dengan teman saya sehingga apabila peMONDONG bergerak saya tidak terjatuh, jadi ingat masa-masa kecil.

Yang sudah bergelar pemimpin rumah tangga gambar ini mungkin jawaban  dari pertanggungjawaban yang besar dari pemimpin rumah tangga, Mungkin juga pemimpin yang lainnya

Diasuh oleh Gupran Muhsan

Ritual Adat Rebo Buntung

Ritual Ada Rebo Buntung

Lombok Timur [Sasak.Org] Ribuan warga masyarakat membanjiri pantai Tanjung Menangis di Kecamatan Pringgabaya, mereka datang dari berbagai pelosok desa. Kehadiran warga masyarakat ini adalah untuk menyaksikan secara langsung acara ritual adat “Rebo Buntung” yang biasa digelar setiap tahun pada hari Rabu terakhir di bulan Safar/dalam bahasa Sasak disebut Rebo Buntung.

Tradisi Rebo Buntung ini sekaligus untuk menyambut tibanya bulan Rabiul Awal (bulan Maulid Nabi Muhammad SAW). Budaya ini telah lama dikenal oleh masyarakat setempat dan hingga saat ini terus dilestarikan sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu event budaya daerah.

Ritual adat Rebo Buntung di pantai Tanjung Menangis ini ditandai dengan penyerahan sesaji berupa kepala kambing, hasil-hasil pertanian, buah-buahan serta aneka macam makanan tradisional yang diusung oleh puluhan pemuda-pemudi, selanjutnya diterima oleh tokoh adat setempat. Dalam upacara ini, tokoh adat membacakan doa sekaligus memohon kepada Tuhan agar masyarakat diberikan keselamatan, keberkahan dan dijauhkan dari segala macam bencana. Upacara adat ini juga dihadiri Pimpinan SKPD dan undangan lainnya.

Bupati Lombok Timur diwakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Kabupaten Lombok Timur Drs. H. Gufranuddin, Dipl. TESOL, M.M. dalam sambutannya mengungkapkan bahwa ritual adat Rebo Buntung ini sangat strategis ditengah derasnya arus budaya barat. Oleh karena itu diperlukan upaya serius dari semua pihak agar budaya ini tidak punah akibat pengaruh budaya dari luar tersebut.

Senada dengan itu, Wakil Ketua DPRD Lombok Timur TGH. M. Ruba’i mengatakan tradisi Rebo Buntung merupakan asset budaya yang perlu dipelihara sehingga dapat menjadi daya tarik bagi para wisatawan. [HumasLotim]

Nyirih: Tradisi Leluhur Kaya Makna dan Fungsi

[Sasak.Org] Nyirih atau mengunyah sirih dan pinang memang bukan hanya kebiasaan milik masyarakat di NTB. Tidak ada yang tahu persis darimana tradisi nyirih bermula, atau bagaimana tradisi ini dapat merata tersebar di seluruh negri. Ketika mengunjungi Suku Bayan di Lombok Utara (10 Oktober 2010) saya berbincang dengan pemangku adat setempat Raden Wira Anom, yang panggilan hormatnya Mamiq (Mami’).

Di tengah perbincangan, Mamiq mulai melinting daun sirih. Mengisi lintingannya dengan kapur dan pinang, kemudian dikunyah perlahan. Seperti makan permen karet. Mamiq mengatakan bahwa kegiatan nyirih bisa juga bermakna keakraban. Saya pun memberanikan diri mencobanya.

Saya menggigit ujung potongan buah pinang. Terasa pahit dan kesat. Lalu saya mengunyah lintingan sirih dan kapur. Rasanya berubah sedikit pedas aeperti peppermint. Produksi air liur meningkat, dan air liur menjadi berwarna orens semu merah. Mungkin karena ini pengalaman pertama kali dan saya tidak terbiasa, saya tak tahan mengunyah sirih lama-lama. Padahal Mamiq dan orang tua yang saya lihat sedang nyirih dapat dengan santai nyirih sambil ngobrol. Setelah mengeluarkan sisa daun sirih dan pinang, rasa yang ditimbulkan di mulut seperti sehabis menggosok gigi. Segar, kesat dan terasa bersih. Ini timbul dari daun sirih yang memiliki sifat alami sebagai antiseptik atau membunuh kuman. Mungkin pada zaman dahulu, nyirih memang digunakan untuk membersihkan mulut sebelum mengenal sikat dan pasta gigi.

Mamiq pun menjelaskan filosofi nyirih kepada saya. Daun sirih diibaratkan kulit manusia, membungkus tulang yang putih yaitu kapur, dan daging yang diwakili oleh buah pinang. Lalu jadi air yang merah, yang berarti darah. Tatanan hidup Suku Bayan memang syarat makna dan filosofi. Mereka memegang teguh ajaran leluhur yang disebut “metu telu”. Yaitu sumber kehidupan di dunia berasal dari yang tiga, yang melahirkan (seperti manusia), yang bertelur (seperti unggas), dan yang tumbuh (seperti tanaman). [dtk)

Oleh : Hanindita Ratna Asti

Mengantar Eka "Ngurisang" di Bukit Kiangan

[Sasak.org] Capek juga, ya,” kata seorang rekan wartawan setelah mendaki dua bukit, yaitu Bukit Batu Dendeng di Desa Pengembur dan Bukit Kiangan di Desa Rambitan, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Pada Sabtu (20/3) itu beberapa wartawan mendaki bukit tersebut bersama 40-an warga Dusun Sade Dalam, Desa Rambita, mengikuti ritual ngurisang (potong rambut bayi) bernama Eka Ratna Habibunnurman (9 bulan), anak dari pasangan Sukiman Edi Yunus (25)-Nurulwahdah (24). Suami-istri ini tinggal di Sumbawa Besar, Pulau Sumbawa.

Sukiman sengaja pulang kampung mengacarakan itu. ”Tradisi seperti ini panggilan batin,” ujarnya.

Dua bukit tersebut berketinggian 300-400 meter. Namun, karena jalannya menanjak dan relatif curam, hal itu cukup membuat napas tersengal-sengal, engkel kaki pegal-pegal, dan badan bermandi keringat.

Di Batu Dendeng terdapat dua makam berdampingan. Makam yang satu dilengkapi batu nisan mirip menhir dan satu lainnya diberi nisan berbentuk kubah masjid.

Di tempat itu Murdi, sang pemangku, berdoa bergantian meletakkan sesaji, seperti sirih, pinang, dan menabur moto siong (beras yang disangrai dan dicampur kelapa serta gula merah). Setelah itu, mereka meletakkan sembek (sirih-pinang yang sudah dikunyah) di kening bayi Eka dan warga lainnya.

Seusai acara itu, perjalanan dilanjutkan ke Bukit Kiangan yang terletak di pinggir jalan raya yang menghubungkan kawasan obyek wisata Kute, Lombok Tengah, dan kota Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat.

Di suatu gundukan batu di bawah pohon rindang dedaunan, Mardi duduk berdoa. Sejenak kemudian ia mengajak wartawan mendaki lagi.

Kembali napas kembang- kempis menghadapi jalan setapak yang dipenuhi semak belukar dan ranting-ranting pohon bergelantungan, yang seakan menghalangi kami melenggang. Di puncak bukit ini, pada makam yang diberi tanda susunan batu, Mardi berdoa lagi. Setelah itu pemangku tersebut mencukur rambut Eka, disaksikan warga lainnya.

Seusai cukur rambut, rombongan mengunjungi sumur tua, Bun Tune, di kaki Bukit Kiangan. Di tempat ini umumnya pengunjung mencuci muka dengan air sumur yang katanya tak pernah kering saat kemarau.

”Setiap ada acara tertentu, kami mesti ziarah ke leluhur kami di dua makam ini,” ujar Kurdap Selake, Kepala Dusun Sade Dalem.

Konon di Batu Dendeng dan Kiangan terbaring jasad kakak-adik yang menjadi datu (raja) saat Lombok dalam masa pemerintahan Kedatuan.

Buang perilaku lama

Ngurisang atau mencukur rambut bayi bagi masyarakat Dusun Sade dan sekitarnya adalah bagian daur hidup manusia: lahir, tumbuh, dan mati. Secara simbolis, ngurisang dapat diartikan membuang perilaku bawaan lama si anak dalam memasuki tahapan baru. Dengan cara ini, anak diharapkan memiliki fungsi kontrol, arah, dan tujuan hidup yang jelas, yang berguna baginya dan lingkungannya.

Makna simbolis itu juga terungkap dari peranti ritual, seperti pencampuran beras, gula merah, dan kelapa. Beras dan gula merah melambangkan bekal menjalani kehidupan, sedangkan kelapa yang menghasilkan minyak diartikan sebagai penerangan mengarungi hidup.

Ritual ini juga dimaksudkan agar anak memiliki mental dan moral terpuji dan menjadi panutan bagi keturunannya, seperti air yang mengalir dari dataran yang tinggi ke dataran rendah. Itulah sebabnya acara dilakukan di atas bukit.

Dalam pandangan tradisional, gunung atau bukit punya fungsi hidrologis dan sumber kekayaan alam yang menopang kehidupan manusia. Secara spiritual, gunung atau ketinggian sebagai sarana penghubung ”terdekat” dengan Tuhan. Agar niat baik itu tersampaikan dan mendapat restu, dilakukanlah mandi atau mengusap muka dengan air. Air dipercaya sebagai alat menyucikan diri dan sarana memberi restu.

”Kesannya mitis-magis, ya,” demikian komentar rekan wartawan seusai mengantar Eka ngurisang di puncak bukit itu.

Warga Dusun Sade dan sekitarnya adalah masyarakat petani yang sikap religiusitasnya mengacu pada manusia dan sumber daya alam di sekitarnya, seperti gunung, laut, dan makhluk lainnya. Mereka meyakini, seisi jagat raya ini punya keterkaitan saling memberi dan menerima. (KHAERUL ANWAR/KOMPAS)