Category Archives: Budaya

Rumah Sasak: Murah dan Adem

Lombok Tengah [Sasak.Org] Bila berkunjung ke desa-desa seputaran Lombok Tengah bagian selatan, atau Lombok Timur bagian selatan. Masih banyak ditemukan rumah sederhana yang modelnya hampir sama. Tidak terlalu tinggi, terbuat dari pager (bedek bambu), pintu roler dari bambu, mayoritas bahan bangunannya dari pohon bambu, dan minim ventilasi.

Bangunan rumah tersebut berbiaya murah dan cepat waktu pembuatannya. Tidak lebih dari 3 (tiga) minggu. “Untuk saat ini, biasanya memakai batu bata dulu setinggi 2 atau 1,5 meter, baru dilanjutkan dengan pager. Kalau punya banyak, mau kita buat yang bagus seperti orang-orang kaya” ujar Muzakir, salah seorang warga Lombok Tengah Selatan ketika ditemui Sasak.Org saat membuat rumah dengan model sederhana khas sasak.

rumah  sasak

rumah sasak

Salah satu yang wajib ditemui pada rumah-rumah khas sasak seperti itu adalah penyampek (tempat jemuran kain/londong/bendang/kereng  shalat), biasanya akan terlihat sajadah, mukena, dan sarung shalat. Biasanya pakain sholat mereka khususkan. Sepulang dari sawah atau menyabit rumput, mereka selalu tidak ketinggalan untuk pulang sholat. [WKS/Zkp]

Tajen dan Berm : Bukan Tradisi Lombok

Lombok Barat [Sasak.Org] Pulau Lombok terkenal dengan sebutan Pulau seribu masjid. 1 kampung bisa memiliki 2 masjid dan beberapa mushalla. Kadang Masjid di gilir untuk dipakai shalat jum’atan seperti yang terjadi di Karang Baru, Dasan Cermen mataram. Kesan lombok yang islami sedikit ternoda karena terpengaruh oleh tradisi ‘impor’ tajen dan minum berm.

“Bila ada tanggepan (pertunjukan) joget, anak-anak muda mulai belajar mabuk. Orang-orang tua yang sudah kecanduan juga memberi contoh yang tidak baik. Ini yang merusak ” ujar haji mudahar, tokoh agama di Enjak, sebuah dusun di bawah gunung Sasak. “Karena itu, saya buat awig-awig disini agar bila mengadakan tanggepan jogat, drama, tidak boleh ada penjual berm. Minum berm itu tradisi orang Bali” tambah pegawai Kesbang KLU ini.

Berm, minuman keras khas Bali yang marak dijual di kampung-kampung Bali di Lombok telah menjadi perusak generasi muda Lombok. Para pengepul minuman haram ini biasanya membeli berm dengan jerigen besar memakai sepeda motor, persis seperti membeli bensin di SPBU.

tajen

Lukisan Penajen yang sedang minum berm. Lukisan tersebut dipampang di Lobi hotel Gran Legi Mataram

Bila melintas malam hari di seputaran Karang Medaen Mataram, akan terlihat motor-motor berplat Lombok Tengah, Lombok Timur ramai di rumah-rumah orang Hindu yang menjual minuman berm ini. “Bila tidak serius diperhatikan oleh orang tua, bisa jadi, anak-anak kita bisa saja adalah salah satu dari mereka” jelas Haji Mudahar.

Disamping Berm, tajen juga menjadi tradisi buruk yang didatangkan dari Bali. “Walaupun tidak separah pengaruh minuman berm, tetapi tajen dijadikan sebagai ajang judi yang banyak juga ditiru ummat Islam di Lombok” ujar Ustadz Ibnu Anhar.Tajen adalah tradisi sabung ayam yang biasa dilakukan oleh masyarakat Bali. Tajen marak di Lombok terutama di kampung-kampung Bali seperti di Jagaraga Kuripan Lombok Barat. [WKS/Zkp]

Kopi, suguhan silaturrahim khas Sasak

Lombok [Sasak.Org] Bila kita berkunjung ke rumah tetangga atau kerabat di Lombok, biasanya akan langsung disuguhkan kopi. Tradisi turun temurun ini sangat melekat di Pulau Lombok. “Itu sudah jadi kebiasaan kita dari dulu” kata Joher, guru SMAN 1 Brang Rea Sumbawa Barat ketika ditemui di Taliwang.

Pria asal Poh Gading Lombok Timur ini membandingkannya dengan tradisi suku lain “kalau yang lain, sampai pulang kadang tidak ada keluar apa-apa, tapi, tidak semua begitu” tambahnya.

Di Perumahan Pemda Lobar Dasan Geres, tradisi menyuguhkan kopi saat bertamu terlihat jelas. “Sejak saya tinggal disini, istri saya selalu menyediakan kopi dan the di rumah, bila tetangga berkunjung, selalu kita suguhin kopi atau teh” kata Bapak Muhammad As’ad, Guru MTsN Kuripan yang asli suku Mbojo ini. “Awalnya, saya kurang memperhatikan hal itu, mungkin karena beda tradisi, tetapi setiap saya silaturrahim ke tetangga disini, selalu disuguhi kopi atau teh” jelas alumni IAIN Mataram ini.

Suasana bertamu dengan suguhan kopi panas

Suasana bertamu dengan suguhan kopi panas

Silaturrahim atau ngayo sudah menjadi tradisi orang Sasak Lombok. Suguhan kopi atau teh seperti wajib. Saat ini sudah mulai ditanya, mau teh atau kopi atau air putih, sebelumnya tanpa ada tawaran, kopi wajib keluar 7-10 menit setelah bersilaturrahim. Dalam sebuah pantun sasak (sesenggak sasak), disebutkan:

Lain gubug (Beda Kampung)
Lain jaje (Beda Jajan)
Lain gubug (Beda Kampung)
Lain care (Beda Cara/kebiasaan)

Roah Turunan Sampi

Lombok Tengah [Sasak.Org] Sesuai Kalender yang diyakini sebagai peninggalan nenek moyang mereka, masyarakat Bun Mudrak Desa Sukarara Lombok Tengah, hari ahad 10 Nopember 2013 bertepatan dengan masuknya bulan pituq (bulan ke tujuh) dalam penanggalan sasak. Karena itu, masyarakat Bun Mudrak mengadakan roah bulan pituq atau disebut juga roah turunan sampi (tahlilan menurunkan sapi). Maksudnya adalah sapi-sapi peliharaan sudah siap-siap untuk turun membajak sawah-sawah yang bertepatan dengan masuknya musim penghujan.

Dalam sambutannya, Tetua Adat Bun Mudrak, Haji Mertah menjelaskan bahwa tradisi ini telah turun temurun sejak dia belum ada. “Saya masih kecil dulu, tradisi roah ini sudah berjalan, bahkan, menurut keterangan orang tua kami dulu, sapi-sapi mengeluarkan air mata ketika roah berlangsung, karena tiba saatnya sapi-sapi itu bekerja keras membajak sawah” jelas Kakek satu anak ini.

Suasana roah bulan pituq di Bun Mudrak

Suasana roah bulan pituq di Bun Mudrak

Setiap peternak, menyiapkan makanan-makanan seperti topat, tikel, ayam panggang yang nantinya dikalungkan di sapi-sapi mereka. Makanan yang terlebih dahulu didoakan ditengah-tengah acara roah kemudian disemburkan air yang telah dicampur dengan air rendaman tanduk anjing. Tandung anjing tersebut diyakini sebagai peninggalan nenek moyang masyarakat bun mudrak. [WKS/Zkp]

Komunitas Sasak adakan Pekan Permainan Sasak

Lombok Tengah [Sasak.Org] Komunitas Sasak Regional Lombok mengadakan acara Pekan Permainan Sasak (PPS) yang dilangsungkan di Pesantren Hidayatul Muhsinin di Jl Bypass BIL KM 15 Desa Labulia Kec. Jonggat Kab. Lombok Tengah. Kegiatan yang berlangsung sejak tanggal 7 Juni 2013 ini berlangsung meriah. Berbagai pertandingan khas sasak di gelar. Mulai dari pembuatan peledok, kendole, main cungklin, pembuatan gansing, pembuatan layangan, presean dan permainan lainnya.

pekanPS

Lomba Pidato dan Baca Puisi Sasak

Kegiatan ini disponsori penuh oleh Komunitas Sasak. Penanggung Jawab kegiatan, Amaq Nune menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan nanti direplikasi dengan cakupan wilayah yang lebih besar. “Jujur saja, berangkat dari keresahan kami, banyak anak-anak suku sasak yang tidak memahami atau bisa permainan sasak, yang membuat saya tambah miris, para peserta diajarkan dulu cara bermain cungkling, cara membuat peledokan” ¬†tambah aktifis KS regional Lombok ini.

Enjang

Enjang

Membuat Gasing

Membuat Gasing

Presean

Presean

Cungklik

Cungklik

Para peserta berasal dari berbagai dusun di Desa Labulia, Desa Batutulis, Desa Sukarara Lombok Tengah dan Desa Kuripan Lombok Barat. Mereka terlihat antusias mengikuti berbagai pertandingan. Khusus untuk Puisi dan Ceramah Bahasa Sasak telah disiapkan teksnya oleh Sesepuh KS Bapak Hazairin R Junep yang menyempatkan diri membuat puisi walaupun sedang berada di Thailand. Ada juga Al Ustadz Gufran Muhsan yang tulisan puisinya menjadi favorit para peserta.

PPS ini akan berakhir pada tanggal 12 Juni 2013 dan pemberian hadiah akan dilangsungkan pada hari Kamis Tanggal 13 Juni 2013 yang bertepatan dengan acara Perpisahan Kelas III MTs dan MA Hidayatul Muhsinin. Hadiah yang berupa uang tunai tersebut berasal dari Donasi Pemban Komunitas Sasak. [WKS]