Category Archives: Budaya

Promosi Pariwisata Lombok Melalui “Sasak Food”

Oleh : Lalu Pangkat Ali, S.IP

Lalu Pangkat Ali

Lalu Pangkat Ali

[Sasak.Org] Banyak kalangan menilai, promosi pariwisata Lombok, selama ini belumlah maksimal. Faktanya adalah, informasi wisata kuliner berupa pengenalan Sasak Food yang memiliki potensi besar untuk dibangkitkan dan dikembangkan dengan melakukan revitalisasi makanan tradisional Sasak.

Kendati wisata kuliner berupa makanan Sasak belum banyak dikelola, namun bukannya tidak mendatangkan usaha baru. Apalagi tempat-tempat poptensi wisata di daerah ini cukup menjanjikan. Sarana hotel dan restoran dari yang kelas bintang sampai melati sudah lebih dari cukup, sehingga ke depan secara konsumtif, makanan Sasak bisa dinikmati oleh lidah internasional.

Namun terlepas dari itu, tentu saja beberapa hal yang perlu direvitalisasi dengan sentuhan teknologi makanan. Food Technology ini perlu mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata, Dinas Kesehatan, Dinas Perindag serta lembaga terkait lainnya. Maksudnya untuk memperoleh pembinaan yang kontinyu.

Maksudnya adalah, agar makanan tradisional Sasak mampu bersaing dan aman untuk dikonsumsi, baik oleh masyarakat Sasak sendiri, wisatawan domistik maupun mancanegara. Sebenarnya, keistimewaan dari makanan tradisional Sasak adalah, memiliki kandungan gizi yang kompleks, mulai dari protein, lemak, karbohidrat, air, vitamin dan mineral secara seimbang, sehingga secara makro dan mikro, nutrisi yang dikandung boleh dikatakan sempurna.

Ada beberapa sentuhan tehnologi sederhana dapat diterapkan pada makanan tradisional Sasak ini. Diantaranya, pemilihan bahan baku dilakukan secara ketat dan berkesinambungan. Sehingga dengan demikian, akan dapat diperoleh mutu produk akhir yang konsisten dari waktu ke waktu.

Pemilihan bahan baku yang baik dan akurat sangat diperlukan, sehingga dimungkinkan untuk ditempatkan karyawan yang mengerti dan memiliki kualifikasi yang sesuai. Bahan baku untuk hewan darat antara lain, daging sapi, kambing, ayam, (telur), itik, (telur). Bahan baku untuk hewani seperti berbagai jenis ikan laut dan darat, kepiting, udang dan lain-lain. Beberapa tumbuhan seperti, sayuran dan rempah-rempah. Buah-buahan berbagai jenis, spesifik, lokasi dan lainnya.

Untuk memperoleh mutu bahan baku yang baik atau memenuhi kriteria dan standarisasi, ada beberapa citeria visual yang dapat dipakai sebagai acuan, kondisi fisik seperti temperatur dan kekentalan harus sesuai dengan spesifikasi bahan baku, kondisi kimia seperti adanya reaksi-reaksi kimia yang telah terjadi pada bahan baku, mulai dari tempat petani selama transportasi, distribusi dan penyimpanan telah terjadi penyimpangan seperti bau busuk yang berbeda dengan aslinya.

Kondisi biologis seperti adanya cacat atau luka akibat benturan fisik atau dimakan oleh binatang kotor dan kondisi organoleptik dengan melihat, meraba, membau dan mencicip menggunakan panca indera, dapat diamati kondisi bahan baku seperti, kenampakan warna, testur, bau dan rasa yang menyimpang dari aslinya.

Selanjutnya, bahan tambahan makanan seperti bahan pengawet dan pewarna, harus dihindari. Karena dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Kalaupun terpaksa, penggunaannya harus sesuai dengan aturan Dinas Kesehatan atau Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM). Dapat menggunakan bahan pengawet alami seperti garam, asap, gula untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu produk.

Selain itu sanitasi yang higienis, mulai dari pemilihan bahan baku sampai di outlet tempat penjualan produk perlu diperhatikan. Sanitasi ini mulai dari pekerja harus bersih dan sehat, peralatan produksi dan penyajian, lingkungan produksi dan outlet harus bersih pula, terhindar dari binatang peliharaan harus bersih dan sehat, peralatan produksi dan penyajian, lingkungan produksi dan outlet harus bersih pula, terhindar dari binatang peliharaan dan binatang kotor lainnya. Saluran pembuangan limbah harus lancar dan terhindar dari kesan jorok. Harus menggunakan air bersih sesuai persyaratan dan tersedia dalam jumlah yang cukup.

Yang tak kurang pentingnya adalah pengemasan. Pengemasan ini perlu dilakukan agar produk terlihat bersih, praktis untuk mengurangi kontaminasi oleh debu, serangan serangga lalat pembawa penyakit. Bahan pengemas sudah tersedia dengan berbagai ukuran dan bentuk seperti plastic polietelin (PE), aluminium foil, kartun, kotak stereform, botol, gelas dan sebagainya, sehingga mampu menambah nilai estetika produk dan praktis dibawa untuk oleh-oleh.

Yang terakhir adalah kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Kualitas produk sangat perlu dijaga bahkan ditingkatkan. Hal ini bisa diajukan sebagai bahan untuk memperoleh sertifikasi mutu nasional maupun internasional. Sehingga makanan ini bisa dipercaya oleh masyarakat internasional.

Kuantitas perlu juga dijaga. Apabila masyarakat menyukai dan membutuhkan Sasak Food dalam jumlah yang besar dapat terpenuhi, sehingga konsumen tidak merasa kecewa. Demikian pula dengan kontinuitas, perlu setiap saat dan sepanjang tahun. Semoga!

*) Pegiat budaya Sasak, Pranata Humas Pelaksana Lombok Barat, tinggal di Kopang-Lombok Tengah