Category Archives: Sosial

Puteran Maut ‘made in’ Warga Bypass telan korban lagi

Lombok Tengah [Sasak.Org] Berhati-hatilah bila melintasi jalan Bypass BIL. Namanya saja bypass tapi tidak menjamin kecepatan kendaraan aman dari kecelakaan. Terutama diakibatkan oleh kelakuan warga yang membuka sendiri jalur putaran kecil di luar dari putaran yang dibuat pemerintah.

Seperti yang terjadi pada Sabtu (19/4), terjadi kecelakaan di jalur Bypass BIL km 4. Korbannya adalah seorang pengendara sepeda ontel yang bermuatan panci dan alat-alat servic panci. Korban yang bernama Fauzan (53 th) berasal dari Desa Jagaraga tersebut di serempet oleh pengendara yang membanting mobilnya ke kiri akibat pengendara motor yang nyelonong dari putaran buatan warga setempat.

Salah satu putaran yang dibuat warga di bypass BIL

Salah satu putaran yang dibuat warga di bypass BIL

“Paman saya mau pergi ke pekenan (pasar) jumat (Kediri). Tapi takdirnya ditabrak. Penabrak membiayai semua biaya perawatan dan juga memberi uang ke paman saya. Semua barangnya diganti” jelas keponakan korban. “Katanya, penabrak tersebut buru-buru mau ke BIL menjemput bosnya, makanya dia ngebut. Tapi, ini sudah akibat putaran ilegal” tambahnya.

Korban dari putaran made in warga tersebut terus bertambah. Sebelumnya,beberapa bulan sebelumnya korban meninggal di bypass BIL km 15. “Yang paling sering, pengendara mengerem mendadak dan hampir terpleset karena pengendara tiba-tiba muncul” ujar salah seorang warga di bilangan bypass BIL. [WKS/Zkp]

TKW Lombok kembali tertipu

Jakarta [Sasak.Org] Untuk kesekian kalinya, calo tiket Bandara Soetta berhasil menipu beberapa TKW asal Lombok. Salah satunya Sumiati dari Gondang Lombok Utara dan rekannya Nurhasanah dari Mantang Lombok Tengah. TKW yang menjadi bekerja di Arab Saudi ini ditipu dengan membeli tiket pesawat Lion Jakarta – Praya seharga 3 juta rupiah (21/4).

“Mereka menipu saya, saya tidak tahu harga tiket. Dia makan uang haram” kata Sumi berapi-api. Menurutnya, temannya yang mudah sekali tertipu. “Dia itu (nurhasanah) yang cepat sekali mau. Padahal saya kan tidak mau” ujarnya menyalahkan.

tkwlombokDitemui di ruang tunggu Bandara Soetta. Mereka mengaku kalau keluarga mereka telah menginap di Bandara. “Saya kan tidak tau bandara lombok sekarang” tambah perempuan sasak yang sebelumnya terus berbahasa Indonesia dengan dialek sasak walaupun sudah dilayani dengan pertanyaan bahasa Sasak.

Menurut aktifis YKS Ibnu Anhar, pemerintah seharusnya menempatkan petugas di terminal kedatangan Internasional “BNPTKI sudah sewajarnya menugaskan aparatnya untuk membuka stand di sana, sehingga buruh migran tersebut bisa difasilitasi” komentarnya [WKS/Zkp]

Sandi Amaq Rinjani: the future Steven Spielberg from chili island

Oleh M. Roil Bilad *)

sANDI aMAQ rINJANI

Sandi Amaq Rinjani saat menerima penghargaan atas film dokumenter tentang Gunung Rnjadi dari presiden Susilo Bambang Yudhoyono

[Sasak.Org] Baru jari, Rinjani dan Samalas adalah serumpun gunung tertinggi yang menjadi pasak kokoh pulau lombok ke dasar bumi. Pulau yang dinamakan berdasarkan falsafah dasar penghuninya suku sasak,  lombok (dibaca dengan kedua huruf “o” seperti pada kata “low”) yang dalam bahasa sasak berarti lurus. Masyarakat yang memuliakan kelurusan budi pekerti, kata dan perbuatannya. Falsafah ini merupakan pusaka yang terkunci rapat dan hanya terhunus dalam kalimat perpisahan terakhir, ketika tetua melepas yang muda merantau (dulu) di hiruk-pikuk pelabuhan atau (kini) di riuk pikuk bandar udara. Jadilah manusia yang lurus hati, pikiran dan perbuatan. Falsafah itu lahir, tumbuh, besar dan bersemayam secara alami di masyarakat yang hidup dipunggung gunung rinjani ini. Muara dari didikan alam dan muasal dari adab perilaku dan tata krama kehidupan.

Pemikiran tersebut mengemuka ketika pertama kali penulis mendengar nama Sandi Amaq Rinjani (SAR). Cineas muda sasak yang bangga akan identitas dirinya yang menggebrak kancah perfileman nasional melalui buah karya film perdananya “Perempuan Sasak Terakhir”. Film yang berusaha mengikir nilai-nilai dasar kesasakan yang semakin pudar, terkorosi oleh terjangan nilai-nilai global yang bersebrangan, dalam bit-bit digital yang tak lekang zaman. Hilangnya karakter dasar tersebut menjadikan realitas dari masyarakat sasak kini jauh berbeda dari falsafah diatas. Hal inilah yang sepertinya mengilhami SAR untuk mengangkat tema tentang karakter dasar (sangat berat), dibandingkan dengan tema-tema ringan lainnya yang tentunya lebih mudah untuk dikemas dalam adegan perfileman.

Di tengah-tengah persaingan dunia perfileman yang semakin ketat, sepertinya sikap mental positif, dan kecenderungan untuk proaktif daripada reaktif menjadi kunci SAR dalam berkiprah. Sebagai contoh, berbeda dengan sebagian intelektual muda mencibir langkah Zainul Madji yang dalam membangun Pusat Kebudayaan Islam (islamic center) di mataram (baik karena pemilihan lokasi, proses pembangunan, atau karena penempatannya dalam skala prioritas pembangunan), SAR melihatnya sebagai sesuatu yang fait accompli (sesuatu yang sudah terlanjur terjadi dan harus kita terima sepenuhnya sebagai fakta). Dengan keahlian yang dimilikinya SAR justru membuat dokumentasi visual lengkap pembangunan Islamic Center. Dokumen digital yang kelak menjadi wahana bagi anak-cucu sasak untuk belajar tentang proses pembagunan bangunan monumental sebagai pusat peradaban islam di lombok. Ketika sebagian besar orang sasak mengeluh dengan ribetnya penominasian rinjani sebagai geopark dunia, SAR membuat dukumentasi ciamik yang diapreasi secara nasional dengan penghargaan yang langsung diterimanya dari presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sosok SAR, menyeruak ketika kiprah orang-orang sasak semakin tenggelam dalam kancah nasional. Selain Dr. Kurtubi yang kerap mengisi wawancara tentang energi di televisi, tidak ada lagi orang-orang sasak yang menjadi duta sasak di level nasional. Hal ini bersebrangan dengan gemerlapnya pesona Fahri Hamzah, Dien Samsudin, Hamdan Zoelva, Zulkieflimansyah dari pulau jiran sumbawa di kancah nasional, yang sebentar lagi akan memisahkan diri dari provinsi NTB. Fakta ini merupakan eufemisme (sindiran halus) yang dikuatkan oleh pidato sinis berapi-api Fahri Hamzah yang menekankan peran kunci masyarakat lombok dalam menurunkan IPM rata-rata NTB dan sempat mendidihkan darah orang-orang lombok. IPM NTB rendah karena rendahnya IPM orang lombok yang merupakan mayoritas populasi NTB.

Fenomena pudarnya tokoh-tokoh sasak ini lebih dipertegas dengan (kini) semakin banyaknya anggota legislatif non-sasak yang mewakili kita di senayan. Dan lebih menyesakkan lagi, semakin banyaknya calon anggota legislatif dan dewan perwakilan daerah pendatang yang siap berlaga di pemilu mendatang. Padahal, di era demokrasi ini, keterwakilan di senayan merupakan kunci agar kepentingan-kepentingan masyarakat lombok bisa disuarakan, menjadi Nusa Tenggara Barat, tidak lagi Nasib Tergantung Bali.

Sekitar bulan Mei-Oktober 1257, samalas menggemparkan dunia dengan letusan terdahsyat yang terekam dalam sejarah Babad Lombok. Karena momen itu nama lombok mengegerkan dunia, dan hingga kini, kejadian itu menjadi objek perdebatan para ahli geologi dunia. Namun falsafah lombok yang menjadi pedoman hidup manusia yang hidup disekelilingnya, belum mampu membentuk karakter unggulan pada diri kita untuk menghantarkan ke gerbang kejayaan secara kolektif. Setidaknya, secara individu dibidang perfileman Sandi Amaq Rinjani telah menunjukkan dengan contoh nyata, walaupun kini masih dalam skala nasional. Kita tinggal ikut dan belajar darinya.

Ketika bertemu dengan SAR di warung depan taman budaya di Mataram, dia bercerita tentang suka duka hingga berhasil mengepakkan Perempuan Sasak Terakhir ke layar lebar. Penulis hanya terpaku dan termangu, “for every success there is a price to pay.” Bukannya berkeluh kesah dan termangu gundah, dia justru berikrar “The Perempuan Sasak Terakhir was just the beginning, the  magnum opus and the master piece is yet to come”. Mendengar itu, perasaan bahagia membanjiri sanubari, dalam hati penulis bergumam “I am talking to the future Stefen Spilberg from chili island.” []

*) Diaspora sasak, bekerja sebagai TKI di abu dhabi, UEA. Ditulis eksklusif untuk www.sasak.org 

Aswian Editri, Menjadi Manusia Wajib

Lombok Timur [Sasak.Org] Bila kita bertemu dengan salah seorang alumni sasak diaspora ini, bisa jadi kita teringat dengan salah seorang peserta konvensi capres Partai Mersi, Anis Baswedan. Berwajah seperti orang jazirah arab. Beliau adalah Aswian Editri. Nama yang unik selangka orangnya.

Alumni Sarjana dan Pasca Sarjana ITB ini lebih memilih pulang ke kampungnya di teros Lombok Timur daripada bergelimang rupiah di Jakarta. “Saya ingat dengan tulisannya Cak Nun (Emha Ainun Najib). Apakah kita itu menjadi manusia wajib, sunnah, makruh, ataukah haram. Tingkat kebermanfaatan kita menjadi tolak ukur status tersebut” ujar alumni SMAN 1 Selong ini.

Aswian Editri

Aswian Editri

“Saya berpikir, banyak hal yang bisa dilakukan daripada menikmati macet-macet berjam-jam di Jakarta jika dibandingkan dengan di daerah. Sehingga keberadaan kita asal bisa menjadi bermanfaat akan sangat dirasakan didaerah” tambahnya dengan senyum khasnya.

Seorang yang meninggalkan profesi bergengsi dengan memilih bertani dan mengajar sangat langka. Merintis STTH Pancor dengan motivasi menjadikan mahasiswa-mahasiswinya siap tempur di dunia nyata adalah obsesinya. Belum setahun kampus yang dirintis bersama timnya tersebut sudah berhasil membimbing mahasiswanya membuat berbagai software seperti Hizib NW, Administrasi Kantor Desa, dan lainnya.

“Prinsip yang kami pegang, kami tidak melayani proyek. Kami berupaya menjaga niat kami untuk tidak memanfaatkan berbagai peluang yang terkesan profit oriented, bila kami perlu dana lebih baik kami lewat jalur yang sesuai dengan lembaga kami” ujar Ewin, sapaan akrab dari Sasak diaspora ini. [WKS/Zkp]

Khitanan Massal Yayasan Komunitas Sasak

Lombok Tengah [Sasak.Org] Bertempat di Mushalla Annaba’ Labulia Lombok Tengah, Rabo, 22 Januari 2014 dilaksanakan khitanan gratis yang dilaksanakan oleh YKS, Laznas BMH, dan BSMI. Jumlah peserta khitanan gratis awalnya adalah 19 anak kemudian di hari H menjadi 15 anak karena berbagai alasan.

Suasana Khitanan Massal Gratis YKS, BMH, dan BSMI

Suasana Khitanan Massal Gratis YKS, BMH, dan BSMI

Tim Medis dari  BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia)  Mataram yang di pimpin Saharuddin bekerja cekatan. Mereka adalah tenaga kesehatan yang berasal dari berbagai instansi seperti RSJ Mataram, RSUP NTB, dan instansi kesehatan lainnya.

Zulkipli dari YKS (Yayasan Komunitas Sasak) yang menginisiasi kegiatan tersebut dan disupport pendanaannya dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (LAZNAS BMH). “Mudahan kita bisa sinergi terus, tidak hanya di bidang khitanan gratis, tetapi juga diberbagai kegiatan medis gratis untuk ummat” ujar aktifis Komunitas Sasak Regional Lombok ini.

Kegiatan tersebut juga dimeriahkan hiburan jurakan yang merupakan sumbangan salah satu Calon Legislatif dari salah satu partai dakwah Dapil Jonggat – Pringgarata. Ratusan masyarakat hadir untuk memeriahkan kegiatan tersebut. [WKS/Zkp]