Category Archives: Sosial

Ibu di Lombok Jual Bayinya Rp 300 Ribu

Lombok Tengah [Sasak.org] Kesulitan ekonomi yang cukup berat mungkin yang menjadi alasan bagi Baiq Suryani (38) tega menjual bayi yang baru dilahirkannya dua hari lalu. Warga Desa Jenggik, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah NTB ini menjual bayi perempuannya dengan harga Rp 300 ribu.

Suryani menjual bayi itu kepada Kajep, warga Desa Beleka, Janapria, Lombok Tengah. Bayi itu dijual dengan perantara Kahar, warga Semparu, Kecamatan Kopang. Polisi kemudian menangkap Suryani dini hari tadi selepas sahur.

Ia ditangkap di kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat. Suryani bekerja serabutan sebagai pembantu rumah tangga. Kepada polisi, Suryani mengaku kepepet. Ia memiliki anak lima orang. Sementara suaminya meninggalkannya sejak hamil anak kelima. Sehabis melahirkan di seorang dukun di Senggigi, Suryani tak tahu lagi harus berbuat apalagi selain menjual anaknya.

”Sementara kami sudah mengamankan tiga orang. Selain Suryani kami mengamankan dua orang yang membeli bayinya. Kami masih periksa intensif,” kata Ajun Komisaris Musa, Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah pada detikcom melalui sambungan telepon, Sabtu (14/8/2010) pagi.

Suryani kini mendekam di tahanan Polres Lombok Tengah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sementara polisi menitipkan bayinya di Rumah Sakit Umum Praya, Lombok Tengah.

Kasus ini ditangani polisi, setelah Jumat  kemarin, warga Desa Beleka melaporkan Istri Kajep, yang tiba – tiba menggendong anak kecil. Warga curiga bayi itu hasil hubungan gelap.

Menikah lebih dari 10 tahun, Kajep memang belum dikaruniai keturunan. Karena itu Kajep girang bukan kepalang ketika ditawari membeli bayi seharga Rp 300 ribu. Tanpa pikir panjang, ia lalu merogoh kocek. Namun kegembiraan Kajep berakhir di tahanan polisi.

Polisi kini masih memburu Kahar, yang menjadi perantara penjualan bayi ini. Polisi sudah menggeledah kampung Kahar di Semparu, namun laki – laki itu keburu kabur. (gus/gus/detiknews)

Sopir Diancam Petani Tembakau Hadang Mobil Tangki Pengangkut Mitan

Lombok Timur [Sasak.Org] Ratusan petani tembakau yang ada di Lombok Timur (Lotim), Senin (9/8) sekitar pukul 10.00 WITA melakukan aksi penghadangan terhadap tujuh unit mobil tangki pengangkut minyak tanah (mitan) jatah rumah tangga. Mereka berkumpul di daerah perbatasan Lotim-Loteng, di pintu gerbang masuk ke daerah Lotim, tepatnya di Gapura Jenggik Desa Jenggik, Kecamatan Terara.

Angkutan mitan yang sedianya akan didistribusikan untuk beberapa wilayah di Lotim tersebut, oleh ratusan warga langsung menghentikan kendaraan tangki pengangkut. Tujuh armada angkutan mitan yang berhasil distop secara paksa tersebut kemudian ‘’dibajak’’ dan dibawa ke beberapa lokasi untuk didistribusikan kepada petani tembakau. Beberapa dari armada angkutan itu juga ada yang dibawa ke beberapa sentra penanaman tembakau di Lombok Tengah (Loteng).

Para sopir tangki pengangkut mitan milik beberapa perusahaan agen penyalur mitan ke wilayah Lotim ini tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka hanya pasrah saat warga melakukan penghadangan, pasalnya mereka mendapat ancaman dari warga. “Kami tidak bisa berbuat banyak, selain dihadang kami juga diancam,” ungkap Mahar salah seorang sopir kepada wartawan di tempat kejadian perkara (TKP) kemarin.

Setelah mobil berhenti, beberapa di antaranya yang diperintah koordinator lapangan, langsung mengambil alih menjadi sopir, sedangkan sopir armada angkutan ditinggal begitu saja. Mereka langsung membawa mobil tangki mitan ke beberapa lokasi yang ada di Loteng maupun Lotim, untuk dijual kepara petani yang membutuhkan mitan untuk omprongan. Hasil penjualannyapun diserahkan kepada para sopir armada dengan harga sesuai mitan bersubsidi.

“Warga yang melakukan penghadangan ini yang melakukan penjualan kepada beberapa petani yang membutuhkan mitan untuk omprongan,” jelasnya, seraya mengaku dirinya diserahi uang Rp 16,1 juta untuk pembayaran satu tangki oleh warga tersebut, “Katanya mereka menjual mitan tersebut, seharga Rp 700 ribu per drumnya,” kata sopir tangki lainnya.

Aksi warga ini berhasil diredam petugas keamanan yang datang ke TKP, dan dilakukan negosiasi agar tidak melakukan tindakan penghadangan terhadap tangki mitan yang akan didistribusikan  untuk kebutuhan rumah tangga tersebut. Salah seorang warga, Iswadi kepada wartawan mengaku, apa yang dilakukan tersebut, untuk memberikan pelajaran kepada Pemkab dan Pemprov NTB yang dinilainya selama ini tidak pernah merespon keinginanan petani tembakau khususnya dalam permasalahan mitan tersebut.

‘’Kalau tidak ada respon dari pemerintah, terkait tuntutan petani tembakau ini, maka aksi serupa tidak menutup kemungkinan akan kami lakukan kembali,’’ katanya, seraya mengatakan, petani saat ini sangat membutuhkan minyak tanah. ‘’Kami belum siap melakukan konversi bahan bakar dengan mengganti mitan ke batubara,’’ kata Iswadi diamini kolega petani lainnya.

Kapolres Lotim, AKBP.Erwin Zadma, S.IK yang dikonfirmasi tidak menampik, aksi penghadangan dan pencegatan mobil pengangkut mitan di perbatasan Loteng-Lotim yang dilakukan petani tembakau tersebut. “Kita akan terus antisipasi agar tidak terulang kembali,” katanya, seraya mengatakan, pihaknya akan mengambil tindakan tegas kepada warga yang melakukan perbuatan melawan hukum.

Buntut Perkelahian Pemuda Dua Lingkungan di Kota Mataram Nyaris Bentrok

Mataram [Sasak.Org] Bentrok antarlinkungan nyaris pecah, Senin (9/8) petang kemarin. Kejadian dipicu perkelahian antarpemuda dari lingkungan bertetangga, Gontoran dan Bertais, Kelurahan Bertais Kecamatan Cakranegara. Seorang pemuda terluka dalam kejadian itu.

Pantauan Suara NTB di TKP, sekitar pukul 20.00 WITA terjadi konsentrasi massa di jalan raya yang menghubungkan dua lingkungan tersebut. Di tangan warga, ada yang membawa senjata tajam dan kayu. Beberapa diantaranya berteriak menantang. Sementara aparat Polsek Cakra yang dibantu personel Polres Mataram berusaha menenangkan warga. Sekitar satu jam situasi memanas. Aparat pun membuat blokade berusaha memisahkan dua kubu warga. Aparat mendorong massa yang berasal dari Lingkungan Bertais mundur hingga ke dalam kampung.

Informasi saksi mata yang enggan namanya dikorankan, kejadian berawal ketika Dedi (20), melintas di Lingkungan Gontoran sekitar pukul 18.00 WITA. Diduga sejumlah pemuda tak dikenal yang tengah nongkrong di pinggir jalan tersinggung, lantaran suara kendaraan korban bising. Korban sempat distop dan dihajar dengan botol air minum di bagian pipi kiri hingga lebam. Kejadian itu diketahui keluarga korban, lantas mendatangi TKP. Namun apes, salah seorang diantaranya malah menjadi korban penganiayaan susulan.

Kejadian berusaha didamaikan dua kepala lingkungan dengan menggelar pertemuan di Kantor Lurah Bertais sekitar pukul 19.00 WITA. Namun belum tuntas pertemuan tersebut, warga berhamburan keluar rumah dan bersiap-siap saling serang. Beruntung aparat cepat tiba di TKP dan berhasil membatasi kedua kubu massa.

Sekitar pukul 21.00 WITA kemarin, suasana sudah reda. Jumlah personel aparat ditambah. Kapolres Mataram AKBP I Nyoman Sukena yang berada di TKP menjelaskan, kejadian tersebut dipicu kesalahpahaman antarkelompok pemuda yang berbuntut penganiayaan. “Korban sudah kami bawa ke Puskesmas untuk dirawat,” tandasnya. Agar tidak berbuntut panjang, malam itu juga pihaknya akan mendamaikan kedua kubu warga. Pengamanan di lokasi juga akan disiapkan patroli dan buser. Kapolres mengimbau masyarakat tidak lagi memprovokasi keadaan, apalagi menjelang Ramadhan.

Tolak Konversi ke Batu Bara Demonstran Ancam “Sweeping” Pedagang Minyak

Mataram [Sasak.Org] Tidak puas dengan aksi sebelumnya, massa dari Lombok Tengah dan Lombok Timur, Sabtu (7/8), berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur NTB. Mereka menolak kebijakan konversi minyak tanah ke batu bara. Demonstrasi sempat memanas. Aparat berhasil memukul mundur massa. Mereka pun mengancam menggelar aksi sweeping minyak tanah sebagai bentuk protes.

Jumlah massa yang mencapai ratusan orang, datang sekitar pukul 10.00 WITA, start dari GOR Turida Cakranegara menggunakan sejumlah truk, pick up, kendaraan pribadi dan sejumlah sepeda motor. Di depan kantor Gubernur, mereka langsung melakukan aksi duduk, sebagian berorasi bergiliran.

Korlap aksi, Syafrudin menegaskan, kebijakan pemerintah harus segera dicabut. “Konversi minyak tanah ke gas adalah kenyataan buruk bagi petani,” teriak Syafrudin saat berorasi.

Tidak hanya poster dan spanduk yang bertulis kecaman atas kebijakan itu, seorang peserta aksi juga membawa daun tembakau utuh dengan batangnya. Massa meminta Gubernur NTB,  TGH. Zainul Majdi, memperjuangkan tuntutan mereka agar kebijakan konversi itu segera dicabut pemerintah pusat. Massa  mendesak agar Gubernur keluar dan menemui mereka untuk menjawab tuntutan tersebut.

Sesaat kemudian, Kepala Biro (Karo) Ekonomi Sekretariat Daerah (Setda) NTB, H. Abdul Muis keluar, namun sempat ditolak. Massa tetap menginginkan agar Gubernur langsung yang menjawab tuntutan tersebut. Setelah ditengahi aparat, akirnya Abdul Muis berbicara. Poin disampaikannya, sesuai surat Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) tanggal 31 Maret 2010, NTB tidak lagi mendapat jatah minyak tanah. Namun surat itu kemudian dipertegas Gubernur.

“Gubernur mempertanyakan soal jatah untuk omprongan tembakau,” jelas Karo Ekonomi sembari menambahkan, dalam surat lanjutan BPH Migas, NTB tidak lagi mendapat jatah omprongan tembakau. Pernyataan tersebut disambut sinis massa. Melanjutkan penyampaiannya, “Atas dasar itu lah keluar kebijakan konversi minyak tanah ke batu bara, gas dan sebagainya,” sambung Abdul Muis.

Pernyataan itu semakin membuat suasana memanas. Mereka bahkan melontarkan ancaman akan melakukan sweeping agen minyak tanah di Lombok Tengah dan Lombok Timur. Aksi itu rencananya digelar, Senin (9/8).

Orasi bergiliran kembali menggelegar. Emosi aparat terpancing ketika salah seorang orator melontarkan kalimat yang dianggap menyinggung. Wakapolres Mataram, Kompol Ronny Azwawie langsung menunjuk ke arah orator dan memintanya turun. Kasat Intel, AKP Yunus Junaidi juga ikut terpancing. Dua Mobil Water Cannon yang tadinya diam, bergerak mendekati massa. Demikian juga puluhan pasukan Dalmas lengkap dengan pentungan dan tameng. Entah siapa yang mengkomando, barikade aparat pun merangsek ke arah massa. Menyadari itu, massa pun perlahan-lahan mundur. Sempat terjadi keributan. Sejumlah pendemo yang berusaha bertahan nyaris adu jotos dengan aparat. Massa pun secara teratur kembali ke Lapangan Umum Mataram.

Syafrudin menjawab wartawan menegaskan, mereka mengaku sudah “lelah” berunjukrasa. “Jalan terakhir yang kami tempuh adalah sweeping minyak tanah,” tegasnya.

TGB minta masyarakat menjadi bagian dari pembangunan IC

Mataram [Sasak.Org] Gubernur NTB TGH. M. Zainul Majdi, MA, ingin memberikan pencerahan kepada masyarakat di daerah ini, jika pembangunan Islamic Center (IC) bukan proyek pemerintah daerah (pemda). Pembangunan IC merupakan proyek pembangunan yang melibatkan pemerintah dan masyarakat, khususnya dari segi pendanaan. Untuk itu, keterlibatan masyarakat dalam penggalangan dana IC ini sangat diharapkan.

‘’Seseorang tidak akan tertarik terhadap sesuatu, jika tidak menjadi bagian dari itu. Begitu juga dengan pembangunan Islamic Center. Masyarakat harus diajak memiliki Islamic Center. Karena proyek Islamic Center bukan proyek pemda,’’ ungkap gubernur saat memberikan sambutan pada Silaturahmi Panitia Penggalangan Dana dan Partisipasi Masyarakat untuk Pembangunan IC Provinsi NTB di Hotel Lombok Raya, Minggu (8/8) kemarin.

Hadir pada penggalangan dana tersebut, Wakil Gubernur NTB Ir. H. Badrul Munir, MM, anggota DPD RI Prof. Dr. Farouk Muhammad, Sekda NTB Drs. H. Abdul Malik, MM, Bupati Lombok Timur H. Sukiman Azmi, Pelaksana Bupati Lombok Tengah Drs. H. L. Supardan, tokoh agama, tokoh masyarakat, anggota DPRD NTB dan kepala dinas/badan lingkup Pemprov NTB. Bahkan, sejumlah pengusaha asal NTB yang sukses berkarir di Jakarta, seperti Hadi Bil’id, Farid dan lainnya hadir.

Bagi Ketua Panitia Penggalangan Dana dan Partisipasi Masyarakat untuk Pembangunan IC ini, katanya, keberadaan IC merupakan ladang menanam kebaikan. Dalam arti, keberadaan IC tidak hanya menjadi tempat shalat, tapi bisa dijadikan sebagai tempat melihat secara utuh makna Islam bagi masyarakat NTB.

Tidak hanya itu, lanjutnya, IC bisa dijadikan sebagai tempat silaturahmi antara personal, organisasi yang ada. Bahkan, keberadaan IC nanti tidak hanya bagi umat Muslim semata, tapi bagi seluruh masyarakat NTB bisa memanfaatkan IC. ‘’Harapan kita IC bisa menjadi bangunan yang teduh bagi siapapun yang masuk ke dalam IC,’’ katanya, seraya mengharapkan panitia pembangunan bisa mengembangkan eco green building – bangunan dengan lingkungan hijau. .

Gubernur juga menegaskan, pembangunan IC bukanlah rencana proyek besar yang mencuat di era kepemimpinannya. Menurutnya, pembangunan IC sudah diwacanakan puluhan tahun lalu, namun baru terealisasi sekarang ini. Bahkan, di era Drs. H. L. Serinata dan Drs. H. Bonyo Thamrin Rayes, panitia pembangunan IC sudah dibentuk.

Ada ‘’Trust’’

Hal lain yang harus dilakukan, harapnya, pembangunan IC harus ada trust atau kepercayaan dari masyarakat. Pada pembangunan IC ini, katanya, investasi atau dana yang berasal dari donatur harus melalui perbankan. Namun, bagi masyarakat yang memberikan bantuan secara langsung bagi pembangunan IC harus disetor dulu ke perbankan, setelah itu baru ke panitia pembangunan. Hal ini, katanya, merupakan salah satu upaya membangun kepercayaan dari masyarakat dalam membangun IC.

Khusus bagi anggota Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) yang dipotong gajinya untuk pembangunan IC bukan inisiatif dari Gubernur. Menurutnya, potongan gaji bagi anggota Korpri tersebut merupakan inisiatif dari Sekretaris Korpri. ‘’Potongan gaji ini tidak akan  memiskinkan kita,’’ ujarnya mengingatkan.

Sementara dari hasil penggalangan dana di Hotel Lombok Raya, Minggu kemarin, pihak panitia berhasil menggumpulkan dana sebesar Rp 1.361.550.000. Jumlah tersebut belum termasuk bantuan dana yang sifatnya secara spontan dari donatur pada panitia penggalangan dana.

Kabag Humas dan Protokol Biro Umum Setda NTB L. Moh. Faozal, S.Sos, MSi, memberikan apresiasi pada donatur yang telah memberikan sumbangan bagi pembangunan IC. Tentunya, apa yang dilakukan tersebut bisa dicontoh pihak lain, sehingga pembangunan IC berjalan seperti yang sudah direncanakan.