Category Archives: Sosial

TGB minta masyarakat menjadi bagian dari pembangunan IC

Mataram [Sasak.Org] Gubernur NTB TGH. M. Zainul Majdi, MA, ingin memberikan pencerahan kepada masyarakat di daerah ini, jika pembangunan Islamic Center (IC) bukan proyek pemerintah daerah (pemda). Pembangunan IC merupakan proyek pembangunan yang melibatkan pemerintah dan masyarakat, khususnya dari segi pendanaan. Untuk itu, keterlibatan masyarakat dalam penggalangan dana IC ini sangat diharapkan.

‘’Seseorang tidak akan tertarik terhadap sesuatu, jika tidak menjadi bagian dari itu. Begitu juga dengan pembangunan Islamic Center. Masyarakat harus diajak memiliki Islamic Center. Karena proyek Islamic Center bukan proyek pemda,’’ ungkap gubernur saat memberikan sambutan pada Silaturahmi Panitia Penggalangan Dana dan Partisipasi Masyarakat untuk Pembangunan IC Provinsi NTB di Hotel Lombok Raya, Minggu (8/8) kemarin.

Hadir pada penggalangan dana tersebut, Wakil Gubernur NTB Ir. H. Badrul Munir, MM, anggota DPD RI Prof. Dr. Farouk Muhammad, Sekda NTB Drs. H. Abdul Malik, MM, Bupati Lombok Timur H. Sukiman Azmi, Pelaksana Bupati Lombok Tengah Drs. H. L. Supardan, tokoh agama, tokoh masyarakat, anggota DPRD NTB dan kepala dinas/badan lingkup Pemprov NTB. Bahkan, sejumlah pengusaha asal NTB yang sukses berkarir di Jakarta, seperti Hadi Bil’id, Farid dan lainnya hadir.

Bagi Ketua Panitia Penggalangan Dana dan Partisipasi Masyarakat untuk Pembangunan IC ini, katanya, keberadaan IC merupakan ladang menanam kebaikan. Dalam arti, keberadaan IC tidak hanya menjadi tempat shalat, tapi bisa dijadikan sebagai tempat melihat secara utuh makna Islam bagi masyarakat NTB.

Tidak hanya itu, lanjutnya, IC bisa dijadikan sebagai tempat silaturahmi antara personal, organisasi yang ada. Bahkan, keberadaan IC nanti tidak hanya bagi umat Muslim semata, tapi bagi seluruh masyarakat NTB bisa memanfaatkan IC. ‘’Harapan kita IC bisa menjadi bangunan yang teduh bagi siapapun yang masuk ke dalam IC,’’ katanya, seraya mengharapkan panitia pembangunan bisa mengembangkan eco green building – bangunan dengan lingkungan hijau. .

Gubernur juga menegaskan, pembangunan IC bukanlah rencana proyek besar yang mencuat di era kepemimpinannya. Menurutnya, pembangunan IC sudah diwacanakan puluhan tahun lalu, namun baru terealisasi sekarang ini. Bahkan, di era Drs. H. L. Serinata dan Drs. H. Bonyo Thamrin Rayes, panitia pembangunan IC sudah dibentuk.

Ada ‘’Trust’’

Hal lain yang harus dilakukan, harapnya, pembangunan IC harus ada trust atau kepercayaan dari masyarakat. Pada pembangunan IC ini, katanya, investasi atau dana yang berasal dari donatur harus melalui perbankan. Namun, bagi masyarakat yang memberikan bantuan secara langsung bagi pembangunan IC harus disetor dulu ke perbankan, setelah itu baru ke panitia pembangunan. Hal ini, katanya, merupakan salah satu upaya membangun kepercayaan dari masyarakat dalam membangun IC.

Khusus bagi anggota Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) yang dipotong gajinya untuk pembangunan IC bukan inisiatif dari Gubernur. Menurutnya, potongan gaji bagi anggota Korpri tersebut merupakan inisiatif dari Sekretaris Korpri. ‘’Potongan gaji ini tidak akan  memiskinkan kita,’’ ujarnya mengingatkan.

Sementara dari hasil penggalangan dana di Hotel Lombok Raya, Minggu kemarin, pihak panitia berhasil menggumpulkan dana sebesar Rp 1.361.550.000. Jumlah tersebut belum termasuk bantuan dana yang sifatnya secara spontan dari donatur pada panitia penggalangan dana.

Kabag Humas dan Protokol Biro Umum Setda NTB L. Moh. Faozal, S.Sos, MSi, memberikan apresiasi pada donatur yang telah memberikan sumbangan bagi pembangunan IC. Tentunya, apa yang dilakukan tersebut bisa dicontoh pihak lain, sehingga pembangunan IC berjalan seperti yang sudah direncanakan.

Seorang Bapak Terlantarkan 3 Putrinya

Lombok Barat [Sasak.Org] Tiga orang anak satu diantaranya masih balita, di Gerung, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, ditelantarkan orang tuanya yang pergi bekerja keluar pulau selama satu bulan lebih. Ketiga anak ini hanya dibekali uang 50 ribu oleh ayahnya dan mereka sanggup bertahan hidup hingga sebulan lebih karena menggunakan uang itu untuk berjualan pentol bakso. Beginilah kondisi Nadia, Nila dan Yoga. Tiga orang anak dibawah umur yang tega ditelantarkan orang tuanya untuk bekerja menjadi penambang emas tradisional di luar pulau.

Nadia, Nila dan Yoga ditinggalkan ayah mereka di sebuah perumahan kosong milik warga yang dipakai menumpang selama ini di Desa Gerung Selatan, Kecamatan Gerung, Lombok Barat. Selain tak memiliki listrik rumah yang mereka tempati ini juga jauh dari tetangga.

Nadia, Nila dan Yoga adalah anak dari pasangan Tukino dengan Nurmin, namun pasangan ini telah lama bercerai dan ketiga anak mereka ikut dengan bapaknya, sedangkan Nurmin telah dua tahun menjadi TKW di Arab Saudi.

Sebelum ditinggalkan ayah mereka, Nadia dibekali uang lima puluh ribu rupiah untuk menghidupi kedua adiknya. Namun oleh Nadia uang lima puluh ribu itu dijadikan modal untuk membuat pentol bakso yang dijual di sekitar perumahan agar mereka bisa bertahan hidup lebih lama.

Kondisi memprihatinkan ini baru diketahui warga setelah Nadia, Nila dan Yoga hampir sebulan ini hidup tanpa bantuan orang lain.

Tanggung jawab terberat harus ditanggung Nadia sebagai anak sulung. Nadia yang masih berumur sebelas tahun harus mampu menjaga kedua adik-adiknya, selain itu ia juga harus memasak dan memikirkan bagaimana ia menjaga kelangsungan hidup kedua adik-adiknya yang berumur tak jauh beda dengannya.

Nadia berharap ayahnya segera pulang agar ia dan adik-adiknya tak kesepian dan dapat menjalani hidup sebagaimana layaknya anak-anak seusia mereka. Selain hidup tanpa bantuan orang lain, Nadia dan Nila juga telah lama meninggalkan bangku sekolahnya. (Indosiar)

DPR: Penjara di Mataram Tak Manusiawi

Mataram [Sasak.Org] Rombongan Komisi III DPR yang membidangi masalah hukum, perundang-undangan dan HAM menemukan kejanggalan di Lembaga Pemasyarakatan Mataram, sore ini, Kamis 5 Agustus 2010.

Anggota dewan itu menilai, daya tampung untuk narapidana dan tahanan tidak sesuai kapasitas. “Seharusnya hanya menampung 235 napi, tapi ini sudah melebih batas sekitar 546 tahanan. Tentu sangat tidak manusiawi,” kata Fahri Hamzah dari Fraksi PKS di Mataram.

Fahri Hamzah memahami masalah itu terjadi akibat keterbatasan anggaran untuk perbaikan Lapas. Sebab hingga saat ini anggaran perbaikan Lapas masih tergantung pada APBN.

“Kondisi ini terjadi secara nasional, dimana Lapas itu daya tampungnya selalu tidak memadai, maka itu pemerintah harus memfasilitasinya sehingga mereka menjadi lebih baik bukan sebaliknya,” kata Fahri di Mataram.

Namun, hal ini tidak bisa didiamkan berlarut-larut, karena secara psikologis, akan berdampak buruk bagi penghuni lapas. Bahkan dikhawatirkan Lembaga Pemasyarakatan menjadi tempat bagi masyarakat untuk melatih diri melakukan kejahatan.

Sementara itu Kepala Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Irchamni Chabiburrahman mengatakan pihaknya akan merevitalisasi Lembaga Pemasyarakatan. Rencananya pemerintah daerah akan membangun Lapas terbuka diatas lahan seluas 3 hektar di Lombok Barat.

Pembangunan lapas terbuka itu nantinya diperuntukkan bagi narapidana yang menunggu waktu bebas. “Dengan demikian kita dapat mengurangi jumlah penghuni lapas Mataram,” ujarnya.(VivaNews)

Mitan langka, OP pun digelar

Mataram [Sasak.Org] Menyusul melambungnya harga minyak tanah (mitan), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB akan mengeglar operasi Pasar (OP). menurut rencana OP akan dilaksanakan Selasa (6/7) hari ini.

Demikian diungkapkan, Plh Kadisperindag NTB melalui Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag NTB, Ir. Hj. Ulayati Ali, MM., Selasa (5/7) kemarin. ‘’OP kita laksanakan mulai besok tanggal 6 ini (hari ini—red),’’ terangnya. OP memang sudah dilakukan sebelumnya. Namun karena kelangkaan masih terjadi, sehingga OP lakukan di seluruh kota dan kabupaten se-Pulau Lombok. “Mulai dari Lotim, Lombok Utara dan Lobar,’’ jelasnya.

Dengan OP diharapkan kelangkaan bisa dihindari. Soal dugaan kelangkaan mitan karena diborong oleh petani tembakau untuk kebutuhan omprongan, ia tidak berani memastikan. ‘’Ini kan perlu kita ke lapangan dulu,” imbuhnya. Namun ia tak menampik kemungkinan itu. Dia mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pertamina terkait hal itu. Namun untuk membuktikan kebenaran dari informasi itu, tentu pihaknya dan Pertamina akan segera ke lapangan.

Selain itu, informasi terkait kelangkaan dikarenakan ulah pihak pangkalan mitan, juga belum bisa dipastiakan kebenarannya. Namun jika itu terjadi pihak Pertamina akan memberikan sanksi berupa pengurangan kuota bagi pangkalan itu.

Klaim adanya indikasi kelangkaan mitan akibat diborong oleh petani tembakau juga diungkapkan, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) NTB, Eko Bambang Sutejo. Adanya petani tembaku yang masih menggunakan mitan bisa saja memborong mitan di pasaran. “Akibatnya mitan untuk kebutuhan rumah tangga jadi berkurang,”  duganya.

Meski Lampaui HET Ratusan Warga Sesela Serbu OP Mitan

Senin (5/7) kemarin, 950 warga Sesele Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat (Lobar) yang mendapatkan kupon pembelian minyak tanah menyerbu kegiatan Operasi Pasar (OP) yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB. Mobil tangki pertamina berisi 5 ribu liter kali disebut kali pertamanya datang ke depan kantor Unit Kerajinan Desa Sesele tersebut.

Disampaikan Kepala Desa (Kades) Sesele, H. Muhajirin, ia sangat mensyukuri warganya diberi kesempatan untuk membeli mitan yang menurutnya kerap langka itu. Disebutkan, sebanyak 5 ribu liter mitan tersebut merupakan jatah warganya. Sehingga beberapa hari sebelumnya, pihaknya sudah menyebar kupon bagi masyarakat yang akan membeli.

Disebutkan Muhajirin, 1 kupon diberikan jatah 5 liter mitan. Adapun harganya Rp 3.200 perliternya. Padahal harga ini konon jauh melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) ketika OP, Rp 2.800. Meski diberikan harga begitu, Kades ini mengaku masyarakatnya sangat antusias dan sangat bersyukur bisa membeli mitan meski berdesak-desakan.

“Masyarakat tidak keberatan dengan harga sekian,” ucapnya. Diakui Kades Sesele ini, sengaja ditingkatkan harganya dari Rp 3 ribu menjadi Rp 3.200. Kelebihan Rp 200 diperuntukkan bagi panitia OP. Yakni sekitar 20 orang yang telah bersusah payah menyebar kupon dan melayani pembelian masyarkat.

Pelaksanaan OP tersebut seperti biasa terlihat menjadi rebutan. Ratusan jerigen dijejer hingga puluhan meter panjangnya. Warga mengantre demi mendapatkan mitan yang  harganya kerap membuat pusing.

Antrean panjang ini tidak saja oleh ibu-ibu, namun juga anak-anak dan orang tua. Saking lamanya antre, seorang nenek sampai terkantuk-kantuk di sebelah jerigennya. Ketika diambil gambarnya oleh wartawan, sang nenek hanya bisa mengomel.

Inak Atun, menjawab Suara NTB mengaku senang dengan digelarnya OP tersebut. Pasalnya, dilihat dari harga dimasyarakat, mencapai Rp 4-6 ribu perliternya. Ditanya soal langkanya mitan di Sesele, Atun menuturkan selama ini tidak begitu sulit. Pasalnya, seminggu sekali selalu ada mobil yang membawa mitan ke desanya.

Bentrok Antarwarga di Dusun Kambeng, Tiga Warga Luka Parah

Lombok Barat [Sasak.Org] Bentrok antarwarga terjadi di Dusun Kambeng Desa Sekotong Timur, Kecamatan Lembar, Lombok Barat (Lobar) sekitar pukul 17.00 WITA, Senin (26/6) kemarin. Tiga korban diketahui mengalami luka parah dalam insiden bentrokan tersebut.

Informasi yang berhasil dihimpun Suara NTB kemarin menyebutkan, awal kejadiannya bermula ketika salah seorang warga bernama L. Zaelani sedang menonton orang begawe. Entah bagaimana ceritanya kaki L. Zaelani dilindas kendaraan seorang pemuda yang tidak diketahui namanya.

Atas kejadian itu, Zaelani memberitahu pelaku tersebut untuk pelan-pelan membawa kendaraannya, namun si pelaku marah dan mengeroyok Zaelani dengan beberapa orang teman-temannya. Dalam waktu yang bersamaan, H. Angkat (orang tua diduga pelaku pelaku pengeroyokan) keluar rumah karena mendengar keributan. Saat itu, H. Angkat langsung ditebas hingga luka parah oleh warga tak dikenal.

Akibat kejadian itu, L. Zaelani, H. Angkat dan satu orang warga yang tidak diketahui namanya dilarikan ke rumah sakit berbeda. L. Zaelani dilarikan ke RSUD Tripat Gerung dan H. Angkat dibawa ke RSU Propinsi NTB. ‘’Warga sengaja memisahkan korban agar tidak terjadi lagi bentrok susulan di rumah sakit,” demikian kata seorang warga yang tidak mau disebut namanya.

Sementara itu Kabag Ops Polres Lobar Kompol Decky Subagio SH.M.Si yang dihubungi Suara NTB via ponsel petang kemarin membenarkan kejadian itu. Menurut dia, insiden bentrok itu terjadi sesama warga kampung. “Korban sudah dibawa ke rumah sakir dan situasi sudah kondusif, ‘’ katanya singkat.

Sementara sebelumnya, Minggu (27/6) malam lalu juga terjadi kejadian serupa, dimana saat acara adat nyongkolan di Kecamatan Gerung. Diduga karena terpengaruh minuman keras, seorang warga melempari kerumuman peserta nyongkolan hingga seorang warga terluka. Tidak terima kejadian itu, sekelompok pemuda melempari rumah yang diduga tempat persembunyian pelaku. Polisi tengah melakukan penyidikan dan penyelesaian lewat jalur kekeluargaan.(Suara NTB)