By   October 3, 2009

Mataram [Sasak.Org] Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Ristek) menjalin kerja sama pengembangan bumi sejuta sapi (BSS) di wilayah NTB. 

Juru bicara Pemprov NTB Andy Hadianto, di Mataram, Sabtu (3/10), mengatakan kerja sama Pemprov NTB dan Kementerian Negara Ristek untuk pengembangan bumi sejuta sapi itu sudah diawali dengan pertemuan terpadu di Jakarta, 29 September lalu. 

Tim dari NTB yang menghadiri pertemuan tersebut adalah Wakil Gubernur NTB Badrul Munir didampingi sejumlah staf ahli Gubernur NTB dan pimpinan dinas teknis terkait. Sedangkan dari Kementerian Negara Ristek diwakili Deputi Bidang Program Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Riptek) Dr Teguh dan pejabat lainnya. 

“Banyak yang disepakati dalam pertemuan koordinasi untuk menyukseskan program tersebut, karena sasaran yang ingin dicapai dalam pertemuan tersebut adalah upaya menunjang program swasembada daging sapi yang telah dicanangkan oleh Presiden RI,” katanya. 

Hadianto mengatakan, dalam pertemuan itu Wakil Gubernur NTB Badrul Munir mempresentasikan strategi program NTB-BSS. Kepala Dinas Peternakan NTB Drh Abdul Samad mempresentasikan Implementasi Program NTB-BSS, dan Staf Ahli Gubernur NTB Bidang SDA, LH, dan Ketahanan Pangan, Dr Ir Syamsul Hidayat Dilaga mempresentasikan NTB-BSS dan pakan pendukung. 

“Dalam pemaparannya, Wakil Gubernur NTB sempat mengutarakan keinginan Pemprov NTB mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan semua lembaga pemerintahan nondepartemen di bawah koordinasi Kantor meneg Ristek untuk menyukseskan program NTB-BSS,” katanya. 

Wakil Gubernur NTB juga berharap Kementerian Negara Ristek-BPPT mendukung penyediaan pakan, air baku, energi listrik, pengolahan hasil dan limbah peternakan, serta pembinaan sumber daya manusia dalam pelaksanaan program NTB-BSS. 

Menurut dia, masyarakat NTB antusias dalam program NTB-BSS apalagi setiap 10 orang calon haji NTB, delapan orang di antaranya petani-peternak. “Dari delapan orang tersebut, enam orang di antaranya adalah peternak sapi, sehingga hasil penjualan sapi dapat dijadikan sumber biaya perjalanan ibadah haji.” 

“Menanggapi keinginan Pemprov NTB itu, para pejabat Kementerian Negara Ristek meyakinkan bahwa teknologi peternakan terpadu telah dikuasai LPND Ristek sehingga perlu dibentuk tim terpadu untuk menyukseskan program NTB-BSS,” katanya. 

Selain itu, kata Hadianto, perlu dijalin kerja sama penelitian antara Universitas Mataram (Unram) dan ACIAR (Australian Center for International Agricultural Research) serta JICA (Japan International Cooperation Agency). “Diharapkan juga ada kerja sama antara Dinas Peternakan NTB dan LIPI,” tambahnya. 

Ia mengatakan, peneliti LIPI menghendaki pembinaan kelompok peternak terpadu di Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, dalam bentuk reproduksi pedet, kegiatan brangusisasi, induksi lahir kembar dan pengembangan pakan ternak di Amor. 

“LIPI juga menginginkan kerja sama bidang fermentasi dan suplementasi pakan untuk meningkatkan reproduksi sapi, ketahanan pakan, serta penyeragaman birahi ternak yang melibatkan Pusat Teknologi Produksi Pertanian BPPT,” kata Hadianto saat menjelaskan hasil rapat koordinasi terpadu pengembangan NTB-BSS itu. 

Ia menambahkan, langkah selanjutnya dalam mengimplementasikan kerja sama Pemprov NTB dan Kementerian Negara Ristek adalah membentuk tim bersama disertai sekretariat bersama untuk mempercepat pelaksanaan program NTB-BSS. (Ant/OL-06/MI)