By   January 14, 2013

Metrotvnews.com, Mataram: Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK) melayangkan gugatan judicial review ke Mahkamah Agung (MA) terhadap Peraturan Pemerintah (PP) 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan.

“PP tersebut sangat mengenyampingkan dampak instabilitas. Pemerintah lebih memilih menekan industri nasional dan kehidupan petani tembakau,” kata Ketua APTI NTB Lalu Hatman di Kabupaten Lombok Timur, NTB, Minggu (13/1).

Gugatan petani tembakau ini akan melibatkan ahli tata negara Yusril Ihza Mahendra dan ahli budi daya Prof Kabul Santoso dari Universitas Jember serta didukung oleh 6 juta petani tembakau dan buruh tani, “Bayangkan saja ada sekitar 30,5 juta orang yang terkena dampak akibat diberlakukannya PP tersebut,” kata Zulvan.

Menurut mereka, uji materi diajukan dengan adanya beberapa pasal yang dianggap cacat hukum  seperti pasal 8, 12 dan 13, dan masuk dalam legal opinion, “Masih banyak lagi pasal lainnya yang menunjukkan betapa PP tersebut cacat hukum,” ujar anggota Tim Pembela Kretek A Zulvan Kurniawan.

Mereka mengatakan, regulasi yang dibuat pemerintah tidak mengurangi impor tembakau yang pada 2012 naik menjadi 100 ribu ton, meningkat 10% dari tahun sebelumnya. Jadi yang dimaksud mengenai Indonesia Bebas Rokok juga tidak menjadi tujuan utama. “Regulasi dibuat justru melapangkan masuknya dominasi impor,” kata Zulvan.

Dikatakannya, keresahan petani tembakau akan dijawab dengan dengan unjuk rasa di berbagai daerah seperti di Temanggung, Jawa Tengah, petani akan mengadakan aksi bakar keranjang tembakau yang akan dilakukan di 5 tititk sentra tembakau mulai dari lereng Gunung Prau sampai ke lereng Gunung Sumbing.

Di NTB juga akan mendeklarasikan pembangkangan sipil disamping juga akan melakukan berunjuk rasa. “Ini adalh bentuk resistensi kami terhadap pemerintah yang tidak memperhatikan nasib petani,” kata Hatman.

NTB merupakan daerah terbesar penghasil tembakau virginia yang sudah dibudi daya sejak lebih dari 40 tahun lalu dan sekarang tercatat sebanyak 12.714 kepala keluarga (KK) dengan luas lahan mencapai 34 ribu hektare tersebar dominan di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Barat, dan Lombok Tengah. (YR/OL-04)