By   December 11, 2009

Lombok Timur [Sasak.Org] Kabar kunjungan kerja DPRRI ke lokasi transmigrasi lokal (translok) Jeringo di Kecamatan Swela kabupaten Lombok Temur, terbukti. Kemarin, kamis (10/12) 15 orang anggota Komisi IX DPRRI didampingi empat orang staf sekretariat komisi, Kadisnaker Propinsi diterima Kadis Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (STT) Lombok Timur di halaman kantor Desa Sikur. Ikut dalam rombongan itu, seorang artis cantik Rieke Diyah Pitaloka, selaku anggota Dewan.

Menurut Kadis STT, H. Sirman, para wakil rakyat yang berkedudukan di Senayan itu, diterima di desa Sikur untuk bertemu dan berdialog langsung dengan sekitar 30 orang mantan tanaga kerja Indonesia (TKI) Luar Negeri. Kecamatan Sikur, merupakan kantong TKI terbesar ketiga di Lombok Timur, setelah Aikmel dan Suralaga.

Disebutnya lima kecamatan kantong TKI terbesar, yakni Aikmel, Suralaga, Sikur, Masbagik dan Wanasaba. Penentuan peringkat kecamatan kantong TKI ini, berdasarkan besaran jumlah TKI asal kecamatan bersangkutan, yang telah dikirim bekerja di Luar Negeri. Dari Kecamatan Aikmel, terangnya tahun ini berjumlah 1508 orang, Suralaga 1018 orang, Sikur 974 orang, Masbagik 926 orang dan Wanasaba 914 orang.

Sebenarnya, Dinas STT telah menyiapkan dua lokasi kantong TKI bagi anggota komisi IX untuk menggali aspirasi mantan TKI, namun karena keterbatasan waktu, hanya sampai di Desa Sikur. Pertanyaan Dewan, seputar perlakuan yang dialami selama penempatan di Luar Negeri, pelayanan Pemerintah Kabupaten, dan apa yang diperlukan setelah kembali di tanah air seusai menjalani masa bekerja di Luar negeri.

Menurut H. Sirman, saat para mantan TKI menjawab pertanyaan Dewan, rata-rata mengharapkan adanya perhatian pemerintah untuk memberikan bantuan modal usaha bagi mereka untuk menunjang kehidupan keluarga. Harapan mantan TKI itu, telah menjadi catatan H. Sirman, untuk dikoordinasikan di tingkat Kabupaten, karena ini menyangkut kebijakan.

Usai berdialog dengan mantan TKI, rombongan langsung meluncur menuju lokasi Translok Jeringo. Rombongan komisi XI berangkat dengan kendaraan Bus, dan tiba di lokasi sekitar Pukul. 15.30 Wita. Perjalanan sempat terhambat, karena anggota Dewan harus turun dari Bus dan pindah kendaraan kecil yang disediakan pemkab untuk menempuh sekitar 1,4 Kilometer jalan berbatu yang mengubungkan pemukiman transmigran.

Di Jeringo, tutur H. Sirman, masyarakat transmigran nampak sangat antusias berdialog dengan wakil rakyat. Masalah yang disampaikan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan keterbatasan pasokan air. Masyarakat sangat mengharapkan bantuan untuk membangun instalasi perpipaan. Melihat kondisi masyarakat, anggota Dewan tidak hanya berdialog, tetapi juga secara spontan merogoh kantongnya masing-masing untuk menyumbang, sehingga terkumpul uang sebanyak Rp. 10.000.000, untuk fasilitas Mesjid setempat. Selain uang, anggota komis IX memberikan cineramata bagi masyarakat.

Salah satu masalah yang diungkapkan oleh masyarakat translok, juga menyangkut pendidikan bagi anak-anak mereka. Dalam hal ini, pihak STT, akan melakukan koordinasi dengan Dinas pendidikan, agar harapan masyarakat untuk pendidikan anak-anak mereka dapat dipenuhi. Demikian pula dengan permintaan untuk pembangunan infrastuktur kesehatan, akan dikomunikasikan dengan Dinas Kesehatan, agar di tempat itu segera dapat dibangun Puskesmas Pembantu (Pustu).

Melihat kondisi tranmigran yang baru 22 hari ditempatkan, anggota komisi IX menurut Kadis STT sudah cukup barus. Menurutnya, pengelolaan Tranmigrasi Lokal di Lombok Timur dinilai sebagai yang terbaik dari aspek geografis, ketepatan waktu penempatan, proses pembangunan dan yang lainnya. Itulah sebabnya Komisi IX DPRRI melakukan kunjungan ke derah ini. (Hubkominfo/Lombok Timur)

Leave a Reply