By   April 15, 2011

Drink-pee-drinkOleh.  M. Roil Bilad

Biourin merupakan istilah yang populer dikalangan para pengembang pertanian organik. Biourin merupakan urin yang diambil dari ternak, terutama rumansia yang terlebih dahulu di fermentasi sebelum digunakan. Ketika dicari lebih lanjut, informasi tentang biourin ini telah banyak ditulis di blog-blog pribadi bahkan diliput oleh media cetak seperti di The Jakarta Post. Meskipun penulis telah lama mendengar tentang konsep ini, namun baru-baru ini sempat mendalami lebih lanjut.


Kritik tentang proses produksiMembaca tentang proses produksi biourine yang dipublikasikan melalui blog-blog menggelitik penulis untuk mengkritisinya. Secara umum, proses pembuatan biourine dari sumber berikut (dengan sedikit modifikasi) dirinci sebagai berikut:

Bahan-bahan:

  • Air Kencing/Urine Sapi yang ditampung dalam Bak Penampungan
  • Fermentor RB (Rummino Bacillus) dan AZBA (Azotobacter)
  • Pompa
  • Nutrisi tambahan (Tetes Tebu/Molasses 750 ml, dan empon-empon seperti temulawak, Temuireng, Kunyit dll) 5kg.
  • Aerator Bio Urine

Teknik Produksinya :

  • Tampung Urine (Air Kencing) ternak sapi di dalam Bak Penampungan.
  • Masukkan nutrisi tambahan.
  • Masukkan Fermentor (RB dan AZBA) kedalam bak penampungan Urine, dengan takaran Untuk 800 Liter urine di fermentasi dengan RB : 1 Liter dan AZBA : 1 Liter
  • Diaduk dengan Aerator selama 3 sampai dengan 4 Jam
  • Setelah proses pengadukan selesai, Bak ditutup dengan penutup seperti plastik atau triplek, untuk proses Fermentasi, diamkan hingga 7 hari.
  • Aduk selama 15 menit setiap hari sampai hari ke-7.
  • Pada hari ke-8, urine diputar dengan pompa menuju tangga aerasi selama 6 sampai dengan 7 jam dengan tujuan untuk penipisan, untuk mengurangi kandungan gas ammonia yang berbahaya bagi tanaman.
  • Urine bisa diambil dan dikemas dalam wadah untuk selanjutnya digunakan atau disimpan.

Setelah mencari-cari lebih jauh sumber yang lebih kuat mengenai biourin penulis dapatkan di Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol.  30, Np. 6 tahun 2008. Makalah ini menjelaskan secara lebih rinci mengenai proses pembuatan dengan hasil pengujian lapangan. Lebih lanjut jika urin dicampur dengan kotoran ternak dapat dibuat biokultur. Pencampuran ini sepertinya ditujukan untuk menyediakan/menggantikan/menambahkan nutrisi seperti pada proses yang disebutkan sebelumnya. Analisis unsur N menunjukkan bahwa proses fermentasi dapat meningkatkan ketersediaan unsur N pada biourin dibandingkan dengan urine. Hal ini dijelaskan sebagai akibat dari pengikatan nitrogen dari udara oleh RB dan AZBA. AZBA merupakan mikroba diazotrop yang berfungsi mengikat gas nitrogen dari udara sedangkan BR merupakan campuran dari 2 bakteri, yaitu Rummino Coccus yang memiliki fungsi sebagai dekomposer dan Bacillus thuringiensis yang berfungsi sebagai dekomposer, serta merupakan biofestisida, yang membantu memproteksi tanaman dari gangguan bakteri-bakteri pathogen (sumber).

Lebih lanjut, hasil percobaan lapangan menujukkan peningkatan produktifitas pertanian yang cukup mencengangkan. Too good to be true. Percobaan pada tanaman jagung, bawang merah, kopi dan kakau menujukkan peningkatan produktifitas sekurang-kurangnya 25% jika dibandingkan dengan kontrol. Berdasarkan proses dan hasil tersebut, dapat disimpulkan (sementara) bahwa biourin diperoleh dari fermentasi anaerobik dari urine dengan nutrisi tambahan menggunakan mikroba pengikat nitrogen dan mikroba dekomposer lainnya. Dengan demikian kandungan unsur nitrogen dalam biourin akan lebih tinggi dibandingkan dengan pada urine.

Sekilas, penambahan nitrogen dengan strategi diatas memang tampak sangat memungkinkan, namun demikian jika melihat sifat-sifat dari AZBA, fiksasi nitrogen hanya dimungkinkan jika tidak terdapat sumber N pada media pertumbuhannya. Jika terdapat sumber N lain seperti amonium, nitrat atau nitrit maka proses fiksasi tidak dimungkinkan. AZBA akan menggunakan sumber N tersebut sebagai nutrisi (sumber). Dengan demikian fermentasi lanjut urine, bukannya meningkatkan ketersediaan unsur N terlarut malah sebaliknya, N akan dikonsumsi oleh inokulan yang ada. Selain itu, pertumbuhan inokulan juga akan terhambat oleh keberadaan amonium yang terbentuk dari hasil penguraian urea oleh enzim urease. Jadi penambahan BR juga sebenarnya tidak akan efektif karena pertumbuhannya akan terhambat akibat meningkatnya pH larutan. Lebih lanjut pada pH tinggi amonium yang terbentuk dari dekomposisi urea akan semakin mudah menguap. Akibatnya kandungan N akan semakin berkurang tidak hanya melalui penguapan amonium tetapi juga melalui pengambilan sumber N oleh inokulum.

Pemakaian biourine/urin di negara-negara maju (Telaah Literatur)
Jika menelusuri literatur di jurnal ilmiah, biourine yang diperoleh menurut proses diatas justru tidak ditemukan. Di sebagian besar negara-negara Eropa, terutama di skandinavia, urine manusia justru digunakan secara langsung (tanpa fermentasi) setelah dilarutkan dengan air sebagai pupuk pertanian. Pemakaian urin ini, diproyeksikan menggantikan kebutuhan pupuk urea sebesar 10-20%.

Idea penggunaan urine sebagai pupuk sudah lazim dan justru populer dalam jurnal-jurnal ilmiah diawal abad ke-19. Aplikasinya justru dilakukan beberapa dekade terakhir ini dengan alasan untuk mengurangi keberadaan N pada limbah cair. Keberadaan N dalam jumlah besar memerlukan teknik pengolahan limbah yang jauh lebih kompleks dan lebih mahal (Nitrifikasi, denitrifikasi). Oleh karena itu, pemisahan urine yang berkontribusi besar terhadap keberadaan N pada limbah cair dipisahkan sejak awal. Biasanya dilakukan dengan memisah saluran urine dan feaces pada toilet.

Urine sangat baik digunakan sebagai pupuk organik cair karena memiliki kandungan hara yang lengkap. meskipun fluktuatif bergantung pada lokasi dan sumbernya (manusia), Kandungan N sekitar 1.5-2% serta P dan Snya 0.15-0.2%. Unsur N nya 75-90% berada sebagai urea asedangkan sisanya dalam bentuk amonium atau kreatinin. Sedangnkan P dan S hampir 90-100% berbentuk inorganik terlarut serta secara langsung dapat dikonsumsi oleh tumbuhan. Adanya aktifitas urease menyebabkan terjadinya dekomposisi secara cepat menjadi air dan amonium. Reaksi ini memicu meningkatnya pH sampai 9 dan meningkatkan penguapan amonium serta menurunkan populasi bakteri.

Dalam pemakaiannya urine disarankan tidak ditebarkan secara langsung tetapi dilarutkan 10-20 kali. Pemakaian urin tidak terlebih dahulu melalui fermentasi menjadi biourin sebagaimana yang populer di Indonesia. Hasil uji coba penanaman menunjukkan bahwa produktifitas lahan biasanya setara dengan pupuk kimia. pemakaian urin sebagai pupuk diformulasikan ekivalen dengan jumlah N yang diberikan di pupuk inorganik. Pemakaian urin memiliki kelebihan dengan meningkatkan resistensi tanaman terhadap hama dan mengurangi populasi hama pengganggu. Hal ini diakibatkan karena Urine juga mengandung nutrisi mikro lainnya yang secara kumulatif memberikan dampak merugikan bagi hama tanaman.

Referensi bisa diunduh disini.

 

  • roilbilad130

    Pertanyaan lewat email:

    Assalamualaikum Miq,
    Sebelumnya tiang menyampaikan salam kenal dan banyak terimakasih atas tulisan & pengetahuan tentang biourine di SO. Selanjutnya tiang berminat untuk memperaktikan hal tsb dilombok timur berhubung ditempat tiang ada ternak kambing yg bisa dimanfaatkan.
    Yang menjadi pertanyaan tiang adalah dimana tempat yg ada dilombok yg sdh memprekatikan hal tsb sehingga tiang bisa lihat lansung cara permentasi dsbnya.
    Jika tidak mengganggu tiang minta no tlp pelungguh yng bisa dihubungi sehingga tiang bisa tanya lansung.
    Terimakasih & wassalamualaikum,
    Az Zuddin

    ================

    Jawaban:
    Wassalam,

    Alhamdulillah kalau artikel tersebut bermanfaat.

    Pak Azzudin, saya sedang tidak di Indonesia. Kebetulan sedang studi di Belgia. Mungkin pak Izzudin salah mengerti mengenai tulisan saya yang di SO. Kesimpulan tulisan itu, untuk jadi pupuk, urin ternak tidak perlu di fermentasi. Urin bisa dipakai langsung untuk pupuk daun atau pupuk tanah dengan perbandingan 1 berbanding 10. Artinya, satu liter urin ditambahkan 9 liter air untuk digunakan langsung sebagai pupuk.

    Urin yang digunakan langsung tanpa penambahan air dapat menyebabkan tanah/daun yang terkena langsung terlalu panas.

    Demikian, terima kasih.

    Roil

  • Agus

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Bang…
    Sangat menarik mmg ketika barbicara ttg teknologi apalgi berkaitan dgn dunia peternakan. Ini mmbuat saya ingin lbh banyak belajar melalui KS ttg teknologi percepatan peningkatan populasi,pengolahan limbah peternakan dll krn mmg potensi untuk melaksanakannya sdh tersedia di NTB khususnya lombok tengah.
    Sy sering mendengar cerita tentang pergerakan kwn2 KS untuk membantu masyarakat dalam hal pemberdayaan terutama bidang peternakan
    Sekarang di loteng ckp banyak program2 yang berkaitan dengan peternakan diantaranya ACIAR,SMD. Klp2 ini mempunyai potensi utk dilakukannya pengembangan. Apakah KS selanjutnya tdk ada rencana utk menyentuh klp2 trsbt?
    Demikian dan terima kasih.

  • http://juhadi_kp.wap.sh/ Juhadi

    Berapa hari skalg pemberian pupuk urin itu jika tanpa fermentasi

  • musgalih

    Assalamualaikum,
    Saya sangat tertarik dengan artikel ini, mohon izin mengkopi.
    dimana saya bisa mendapatkan Fermentor RB (Rummino Bacillus) dan AZBA (Azotobacter)
    kira-kira harga berapa?
    terima kasih atas infonya semoga bermanfaat dan barokah. AMin.
    Wassalam
    muslih

  • Bambang wibowo

    Sangat membantu sekali tulisannya pak.
    Di mana saya bisa mendapatkan rummino Bacillus dan azotobacter.
    Terima kasih pak atas infonya

  • ariesta

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Trimakasih ulasannya, sangat menarik sekali, saat ini saya lagi mengumpulkan artikel biourine dan pupuk organik lainnya. yang ingin saya tanyakan bisakah membuat Rummino Bacillus dan azotobacter sendiri, jika bisa tolong jelaskan bahan dan cara membuatnya.. email bisa dikirim ke masyarakatcintamerapi@gmail.com

    Wassalam.
    ariesta – magelang