By   March 13, 2013

Janji politik Zainul Majdi
Argumen utama yang digunakan oleh pasangan calon gubernur dan wakil gubernur NTB Zainul Majdi dan Badrul Munir (pasangan BARU) pada pemilihan kepala daerah tahun 2008 adalah kegagalan pemerintah sebelumnya dalam mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Karena IPM memberikan ukuran mengenai perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup; maka tak ayal lagi posisi buncit IPM NTB (pada tahun 2008 data sensus tahun 2004 belum dipublikasikan, dan sebelum tahun 2004 IPM NTB masih nomor buncit) menjadi barang jualan BARU dalam setiap pamflet, brosur, spanduk dan baligo kampanye mereka. Taglinenya sederhana: “Para kepala daerah terdahulu telah gagal, dan saatnya pimpinan BARU diberikan kesempatan.”

Kampanye mengenai posisi buncit IPM NTB, sebelumnya tidak banyak didengung-dengungkan. Fakta bahwa rata-rata manusia NTB justru lebih terbelakang dari NTT atau Papua kontan membuat masyarakat terbelalak. Hal Ini membuat isu ini menyeruak menjadi isu utama, bahkan terus-menerus dielu-elukan pasca pemilukada. Bagi sebagain besar masyarakat, mustahil manusia NTB lebih terbelakang dibandingkan dengan Papua yang sebagian (kecil) masyarakatnya masih ber-koteka dan hidup berpindah-pindah seperti manusia purba. Isu tentang IPM  jeblok yang dihembuskan BARU berhasil meyakinkan pemilih bahwa pergantian kepemimpinan merupakan sebuah keniscayaan, dan mereka adalah solusinya.

Serangan bertubi-tubi mengenai kegagalan mendongkrak IPM, sepertinya membuat para pejabat pemerintah sebelumnya jengah. Ini terbukti dengan release yang dilakukan secara pribadi oleh Nanang Samudra melalui akun facebook-nya. Dia menginformasikan kepada publik mengenai berita gembira kenaikan IPM NTB ke posisi 32 pada tahun 2005, ketika dia menjabat sebagai Sekretaris Daerah. Paling tidak, prestasi ini merupakan bukti jerih-payah dan kontribusi yang dia dan pejabat-pejabat saat itu (masa kepemimpinan Lalu Serinate) dalam membangun manusia NTB.

Tidak hanya mengungkap tentang bokroknya IPM NTB, BARU juga maju membawa ancang-ancang solusi. Program-program mereka didesain penuh perhitungan, ambisi mereka tidak tanggung-tanggung, peningkatan IPM NTB naik ke Papan Tengah Nasional. Tiga program strategis pendongkrak IPM sekaligus digaungkan: ABSANO, AKINO dan ADONO yang bertujuan untuk menihilkan angka kematian ibu dan bayi, buta huruf dan drop-out. Pencapaian ini, diproyeksikan bakal mampu mendongkrang IPM NTB dan menghapuskan stigma mengenai manusia NTB yang terbelakang. Tiga program tersebut, hanya sebagain kecil dari sederetan program-program bombastis lainnya yang sejujurnya lebih besar gaung dan gegap-gempitanya dibandingkan dengan realisasinya.

Target ini, sontak membuat orang-orang yang tahu betul mengenai betapa susahnya mendongkrak IPM kaget. Bagi yang pesimis, target besar ini mereka anggap sebagai bualan dan jualan kampanye saja. Bagi yang realistis dan menjaga prasangkanya, ini pasti salah rencana, terlalu naif dan hiper optimis sehingga melahirkan ekspektasi yang berlebihan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Mangkaukang Raba (1). Namun sayangnya tidak banyak masyarakat yang tahu tingkat kesulitan dalam membangun manusia. Masyarakat lebih terpesona oleh figur Zainul Madji yang dicitrakan sebagai pemimpin muda yang cerdas, alim, tampan dan berpengaruh, dibandingkan dengan fisibilitas program-programnya. Pada diri Zainul Majdi berpadu trah Selaparang dan Nahdatul Wathan. Sebuah kombinasi ciamik profil ulama yang sekaligus umara. Dia adalah cucu dari Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Majid, guru dari para tuan guru NW. Sedangkan pasangannya Barul Munir dicitrakan sebagai “ahli” pembangunan manusia. Mereka adalah pemimpin yang memperpadukan Lombok dan Sumbawa, dua pulau terbesar di NTB dan etnis utama yang menempatinya.

Pengaruh Zainul Majid yang begitu kuat dan mengakar terutama pada jamaah NW mempermulus jalannya meraih tampuk pimpinan NTB. Bagi jamaah fanatik NW, dia adalah titisan Maulana Syaikh, pemimpin baru yang kelak menjadi pemersatu dua NW yang kini masih terpisah. Sisi lain dari pengaruh kuat ini adalah kepatutan buta. Kritik membangun akhirnya jadi barang langka. Dialog jadi terputus, dan yang tersisa hanya monolog yang sepi dialektika. Padahal, jika kita sedikit menilik mengenai data IPM per provinsi di Indonesia sejak tahun 1996, apa yang dijanjikan merupakan hal yang sangat sulit, jika kita tidak boleh bilang tidak mungkin dicapai.

Apa yang dijanjikan Zainul Majdi ibarat arogansi Bandung Bandawasa dalam legenda Roro Jonggrang yang dengan bantuan kekuatan jin dan manusia berambisi membangun 1000 candi dalam semalam (kompleks candi Prambanan). Bandung Bandawasa dalam legenda tersebut hanya mampu membangun 999 candi, dan saking kesalnya mengutuk Roro Jonggarang menjadi patung sekaligus menjadi candi yang ke-seribu. Mudah-mudahan jika Zainul Majdi gagal membangunkan manusia NTB dari yang terbelakang menjadi yang bersaing, tidak akan dikutuk rakyatnya menjadi orang terbelakang.

Evaluasi peningkatan IPM
Perbandingan pencapaian pertumbuhan IPM antara pasangan BARU dan pimpinan NTB sebelumnya ditunjukkan pada Gambar 1. Gambar tersebut juga menunjukkan perbandingan antara proyeksi BARU (Papan Tengah Nasional) dengan realisasi yang dicapainya selama tiga tahun pertama. Data mentah IPM diperoleh dari website BPS (2), dan diolah kembali oleh penulis.

Gambar 1 : IPM NTB

Gambar 1 : IPM NTB

Gambar 1 menunjukkan bahwa pada masa kepemimpinan Wasito (Gubernur NTB periode 1994-1999), IPM NTB menurun. Hal ini kemungkinan sangat besar akibat terjadinya krisis moneter tahun 1998. Situasi menurun ini juga terjadi pemulihan ekonomi pasca krisis moneter terlihat jelas dengan penurunan IPM semua provinsi di Indonesia. Pemulihan ekonomi pasca krisis moneter juga terlihat jelas dengan melejitnya pertumbuhan IPM pada periode 1999-2004. Harun Al Rasyid mampu meningkatkan IPM NTB di masa pemulihan krisis ekonomi sebesar 1.28 point/tahun (1.28%/tahun) atau setara dengan peningkatan total sebesar 11.81% selama lima tahun. Akselerasi peningkatan IPM juga terjadi secara nasional dengan peningkatan point yang cukup signifikan, merepresentasikan pemulihan ekonomi indonesia pasca krisis.

Tantangan pembangunan utama justru dihadapi pasca di periode Gubernur Lalu Srinate (Tahun 2004-2008). Pertumbuhan ekonomi sudah diambang jenuh pasca pemulihan dan kondisi sosial-politik-ekonomi yang kurang stabil (pergantian presiden dan krisis ekonomi Amerika dan eropa tahun 2007/2008). Namun demikian jajaran pemprov tetap mampu meningkatkan IPM dengan rata-rata 0.7 point/tahun (1.16%/tahun) atau setara dengan peningkatan 5.81% selama lima tahun. Kinerja dua gubernur terdahulu yang dilakukan pada masa pemulihan krisis ekonomi dan ketidak-setabilan ekonomi global dan politik indonesia tetap mampu mengangkat IPM NTB dan mendongkrang posisi IPM NTB satu tingkat dari posisi buncit.

Gerakan percepatan pembangunan yang digaungkan Zainul Majdi mendapatkan momen yang tepat, terutama karena stabilnya kondisi ekonomi dunia dan politik indonesia. Narasi besar yang dijanjikan pasangan BARU mendapatkan momen yang tepat untuk direalisasikan. Harapan besar masyarakat yang dibebankan kepada pundaknya terbukti dengan sukses besar pemilihan kepala daerah cukup dengan satu putaran. Pasangan barupun menggebrak, program-program terobosan dikemas dengan menarik, dibranding dengan tagline yang earcatching. Selain tiga NO atau tiga A diatas, ada juga Bumi Sejuta Sapi (BSS), sapi jagung dan rumput laut (PIJAR), Visit Lombok Sumbawa 2012 (VLS 2012), dan lain-lain. Yang patut diacungi jempol adalah lobi-lobi efektif di jakarta yang secara pesat meningkatkan jumlah kunjungan pejabat pusat ke daerah. Bahkan presiden SBY berkunjung dua kali selama periode kepemimpinan Zainul Majdi.

Sayang sekali, pencapaian Zainul Majdi (data IPM sampai tahun 2011) justru lebih buruk dibandingkan dengan dua gubernur sebelumnya. Rata-rata pertumbuhan IPM NTB di bawah kendali Zainul Majdi hanya 0.7 point/tahun (1.11%), sedikit lebih rendah dari Lalu Serinate, dan jauh lebih rendah dibandingkan Harun Al Rasyid. Penulis lebih cenderung menggunakan peningkatan point dibandingkan dengan persentase karena titik referensinya tidak seimbang. IPM tahun awal pemerintahan lebih rendah untuk periode yang lebih dulu jika menggunakan persentase. Mimpi besar merubah NTB dari tertinggal dan terbelakang menjadi tinggal landas dan bersaing ternyata hanya pepesan kosong saja.

Jauhnya melesetnya realisasi pencapaian Zainul Majdi dibandingkan dengan proyeksi awalnya juga dapat dilihat pada Gambar 1. Jika predikat “Papan Tengah Nasional” kita proyeksikan sebagai posisi 20 nasional (saat ini dipegang oleh provinsi Jawa Tengah), maka pasangan baru menargetkan IPM lebih besar dari 73.79 pada tahun 2013, supaya target tersebut bisa dipenuhi. Nilai proyeksi tersebut dihitung ulang dengan acuan data IPM peringkat 20 pada tahun 2011 adalah 72.94 dengan laju pertumbuhan per tahun sebesar 1.62 poin. Dari proyeksi ini, maka target pertumbuhan IPM NTB untuk mencapai target harus lebih besar dari 1.93 poin/tahun, jauh dari realisasi yang hanya 0.7 poin/tahun (36%).

Target bombastis (baca tidak realistis) peningkatan IPM NTB ini, baru disadari oleh Dr. Rosyadi Sayuti Kepala BAPEDA NTB (arsitek program-program pembangunan BARU), dua tahun setelah pemerintahan Zainul Majdi dalam opini yang ditulisnya di harian Suara NTB (Selasa 06/12/2011) (3). Opini ini ditulis tidak lama setelah dikeluarkannya data IPM tahun 2009, setahun sejak Zainul Madji menjadi gubernur NTB. Pada opini yang ditulisnya, Sayuti (ternyata baru) menyadari bahwa membangun manusia tidaklah semudah mengkotak-katik spread-sheet excel di meja kerja. Dia berapologi bahwa, NTB tidak akan mampu mencapai peningkatan IPM seperti yang diproyeksikan, karena belum pernah ada dalam sejarah, ada provinsi di Indonesia laju perubahan yang sedemikian baiknya. Membangun manusia butuh jangka waktu yang panjang. Sayuti berdalih bahwa, akselerasi peningkatan IPM dibelenggu oleh kondisi awal masyarakat NTB yang memang terbelakang pada poin-poin vital perhitungan IPM seperti tingginya angka buta aksara dan tingginya angka kematian ibu dan bayi. Dia berkilah bahwa perhitungan IPM yang sudah lama berlaku secara internasional ini kurang tepat, dan NTB adalah korban rumus. Nilai awal untuk poin-poin utama dalam rumus perhitungannya sudah terlalu rendah sehingga sangat sulit untuk berubah naik. Padahal, pada masa kampanyenya, sangat jelas bahwa tim kampanya yg kurang berpengalaman sudah berhitung. Tiga komponen krusial pada perhitungan IPM sudah diikutkan. Terbukti dengan dirancangnya program tiga No: Absano, Akino dan Adono. Lebih konyol lagi, proyeksi Papan Tengah Nasional tersebut di ketok dengan mengasumsikan provinsi lain tidak mengalami pertumbuhan sama sekali. Mungkin, dewan pakar arsitek perencananya kurang berpengalaman sehingga kesalahan konyol seperti ini bisa terjadi.

Siapa yang pembohong?
Bergemingnya posisi NTB dari nomor dua buncit membuat banyak pihak menjadi gerah. Terutama masyarakat NTB punya perhatian besar pada masalah ini yang bergabung pada salah satu group terbesar facebook dengan basis anggota utama masyarakat NTB. Mereka meragukan kredibilitas BPS dan kesahihan data yang dimilikinya, sehingga pada tahun 2012 melakukan kros-cek melalui audiensi dengan BPS Provinsi NTB. Hal ini cukup berdasar mengingat tidak jarang Zainul Majdi dan Badrul munir juga secara publik meragukan kredibilitas data BPS. Menurut investigasi mereka, ternyata IPM NTB yang diumumkan oleh BPS adalah data bohong/salah. Menurut hasil perhitungan yang sesungguhnya, IPM NTB ternyata berada pada papan atas nasional. Menurut mereka, pemerintah memang sengaja “mengatur” (baca berbohong) agar NTB selalu menjadi prioritas dana bantuan sosial tingkat nasional. Sngguh menyedihkan. Ibarat orang berpunya mengaku papa sebagai dasar meminta-minta.

Entah siapa yang berbohong dan siapa yang jujur, namun jika benar pemerintah NTB yang berbohong maka ini merupakan titik nadir duka rakyat NTB. Ternyata, mentalitas pejabat pemerintah NTB memang juga terpuruk dan justru mencerminkan data IPM dari BPS. Tidak hanya masyarakat secara umum, namun juga para pejabat). Pemerintah NTB telah “mengatur” sehingga selama ini kita (yang menurut pengakuan mereka) daerah yang mapan berpura-pura terpuruk agar mudah mengemis dan selalu dikasihani.

Bumerang IPM
Dalam kisah fiksi perang bharatayudha, Karna saudara ke 6 dari lima pandawa terpaksa berpihak kepada kurawa karena sumpah setianya kepada Duryudana. Gatot Kaca (anak Arjuna) harus rela mati sebagai tumbal senjata konta yang dimiliki pamannya Karna. Senjata Konta, adalah senjata yang diberikan dewa khusus pada Karna yang ketika dilepaskan pasti akan menemui mangsanya, meskipun mangsanya itu seorang dewa sekalipun. Di dunia nyata, bumerang adalah nama senjata yang diciptakan oleh bangsa aborigin. Senjata ini, ketika dilepas memiliki gerakan translasi dan rotasi secara bersamaan. Jika mangsanya tidak terkena, maka senjata tersebut akan kembali kepada pelepasnya.

IPM adalah senjata utama Zainul Majdi untuk menekuk lawan-lawan politiknya pada kampanye pemilu kepala daerah NTB tahun 2008. Posisi IPM NTB yang tidak kunjung merangkak didaulat sebagai bukti kegagalan pemimpin-pemimpin sebelumnya. Ternyata, hasil kerja Zainul Majdi sama saja, bahkan lebih buruk dari gubernur-gubernur sebelumnya. Akankah IPM tersebut kini berubah menjadi bumerang yang menyerang orang yang melepaskannya? Kita tunggu saja kawan. Mari kita songsong pemilu kada 2013 dengan pikiran jernih dan optimisme. Jangan mudah terbuai oleh janji-janji yang membuncahkan hati namun ternyata kelak jadi belati yang mencederai diri.

Wallahu A’lam,
10 Maret 2013
M Roil Bilad

Referensi
(1) http://www.suarantb.com/2011/12/09/Sosial/detil5%201.html
(2) http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=26&notab=2
(3) http://www.suarantb.com/2011/12/06/Sosial/detil5%201.html

  • http://timurlombok.blogspot.com/ Rusydi Hikmawan

    ini saya baca saat hultah nw di pancor. semoga mengingatkan semua

  • Indra

    NTB terus berjalan untuk mengejar ketertinggalannya ketika provinsi lain berlari..
    5 tahun adalah waktu untuk menanam tanaman yg bernama IPM. Tanamlah dengan baik agar penerus anda dapat memanen hasilnya.
    Pertanyaannya adalah, ikhlaskah anda untuk menanam dan membiarkan orang lain memetik buahnya..?