Ditulis oleh M. Roil Bilad Selasa, 23 Juni 2009 21:09
Kolom Komunitas - M Roil Bilad
Oleh: M. Roil Bilad
Setiap selesai ujian akhir nasional (UAN), lombok ditinggalkan pepadu-pepadu mudanya merantau menuntut ilmu ke luar daerah. Kecenderungan untuk memilih sekolah terutama perguruan tinggi di luar daerah ini sudah sangat umum. Hal ini disebabkan tidak adanya jurusan yang menampung minat calon mahasiswa tersebut di daerah atau karena memang kualitas kampus yang ada di lombok sangat rendah sehingga tidak dilirik oleh putra-putri lombok sendiri. Pelajar-pelajar tercerdas diantara mereka tekun mempersiapkan diri menembus ujian saringan masuk perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Sebagian yang lain meski tidak berhasil masuk ke perguruan tinggi vaporit mereka, tetap juga menempatkan universitas di luar daerah sebagai prioritas berikutnya. Hal ini memang lumrah melihat fasilitas dan kualitas yang dimiliki dan prospek alumni perguruan tinggi tersebut. Terang saja, ITS, ITB, UI, UGM, Unibraw, IPB menjadi deretan PT yang menjadi pilihan utama. Putra-putri terbaik lombok itu eksodus belajar keluar daerah meninggalkan sanak-saudara untuk menuntut ilmu. Jangan heran jika di malang, jokyakarta, surabaya, maupun jakarta kita akan menjumpai banyak bangse sasak yang kebetulan menuntut ilmu atau bekerja disana.
Sungguh kasihan bangse sasak,putra putri terbaiknya di brain drain tidak bisa turut membangun dasan mereka. Kasihan bangse sasak, di brain gain oleh outsider yang memanfaatkan kebodohan mereka. Sebagian rakyatnya di brain wash agar bermental buruh untuk jadi TKI, tetep jari kawule terus dengan duah sak jari raje. Maka akan kemanakah engkau pergi duhai anak sasak? To drain, being gain, or being wash? Sementara orang-orang disana bilang, "sudahlah, jangan kembali!"
Wallahu a'lam
Rahayu Bangse Sasak!!!

--mau pulang tidak terpakai--
--mau pergi dikira lupa diri--
Votes: +1
Geh . . . sependapat tiang nike . . .
bukan saja yang berpendidikan dan berintelek yang merasa di tanah kelahiran mereka kurang di di mamfaatkan.
rakyat jelata saja banyak memilih jadi TKI ke luar . .
semoga tulisan ini banyak memberikan value bagi pembaca khususnya para badut-badut berdasi . .
Votes: +0
--mau pergi dikira lupa diri--
Bagai telor dengan ayam. Siapa yang harus duluan menyelesaikan masalah ini.
Lebih mudah dan cepat prosesnya kalo datu2 kita mau mengalah dan memanggil para perantau sasak dan menyediakan tempat yang sesuai.
Kalo tidak harus menunggu kita kaya dan punya jabatan tinggi dulu, baru membentuk lembaga yang kuat dan berpengaruh, sehingga datu2 lombok ngempet elornya untuk merangkul kita. Tetapi jika saat itu tiba rasanya kita lebih baik jalan sendiri deh...tetapi programnya menyentuh masyarakat langsung.
Votes: +0
Votes: +0
Jangankan pepadu-pepadu Sasak yang ada dan hasil didikan yang berkualitas itu yang akan mendapatkan perhatian Pemerintah Daerah kita, Pepadu-pepadu Sasak berkualitas yang ada dalam jajaran Birokrasipun tidak ditengok Meton.... Hanya mereka yang pinter Carmuk dan selalu meng-IYA-kan segala titah patih Paduka sang Pemimpin saja yang mendapatkan perhatian dan tempat bergengsi, tanpa melihat kualitas dan kemampuan mereka....Aturan yang ada dinomor sejutakan...Tapi kalau meton dengar omongan dan kata-kata yang keluar, semua itu telah sesuai aturan dan telah melalui prosedur... Masya Allah.....Makanya, kalau diperbolehkan "TARUHAN" Gumi SASAK tidak akan maju-maju meton, selama Pemimpin kita tidak memperhatikan kualitas SDM yang ada dan dimiliki Bangse Sasak...(N asib T idak akan B erubah)
Votes: +1
Votes: +0

Votes: +0
semakin kita merasa bisa dan pintar, kita g sadar bahwa hal itulah yang membuat kita keterbelakang...
regards.
zammi
Votes: +0
Sesekali saya pulang ke Lombok dan merasakan bahwa suku saya memang jauh tertinggal dibanding suku lain. Sebagai contoh, saya mengunjungi sebuah
komplek tempat tinggal kemanakan saya di Mataram.
Di kompleks perumahan tsb jarang sekali ada orang
Sasak. Kebanyakan orang Bali atau Jawa.
Di tempat saya kerja, sebuah perusahaan oil and gas juga hanya ada 2 orang Sasak. Ini karena memang orang kita masih asing dengan bidang ini. Tapi saya jadi lebih sedih karena ternyata di Mataram juga lebih banyak orang luar yang memegang peranan di instansi-instansi penting.
Orang kita lebih percaya kepada orang lain ketimbang pada sesama Sasak. Ini merupakan kekurangan kita. Di daerah lain, orang bahu membahu memperjuangkan agar putra daerah berperan di daerah mereka. Nah bagaimana dengan TGB? Mudah-mudahan Anda juga membaca tulisan ini.
Inilah saatnya Anda punya kesempatan untuk memperbaiki nasib Suku Sasak. Kelak kita akan bangga bila Sasak tidak lagi identik dengan kebodohan, kemiskinan, tenaga kerja murah dan segala ketertinggalan.
Saya punya usul agar pemuda-pemuda Sasak yang cerdas dikirim kuliah ke luar negeri dan dibiayai
daerah atau perusahaan-perusahaan besar seperti Newmont.
Saya melihat KS ini punya potensi untuk melakukan
perubahan. Di sini berkumpul para pemikir-pemikir muda yang ingin memajukan Bumi Selaparang ini.
Silak
Votes: +0
Berembe bae iyak majune Bangse Sasak ...
Laguk......????????????????!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Votes: +0
yang di asrama NTB juga jangan boleh ada yang tidur2..an...Wake Up....
kalau yang dapat BOT(beasiswa Orang Tua).. tentu masih punya tolerasi... bukan begitu . .kah
Votes: +0
Banyak sekali orang Sasak yang keluar daerah dan di daerah lain finansialnya membaik. Banyak yang berasimilasi dengan suku-suku lain misalnya suku Jawa, Bugis, Banjar dll. Wawasan mereka jadi lebih luas dan lebih mengutamakan pendidikan. Anak-anak mereka banyak yang tamatan S2 di universitas-universitas favorit.
Banyak juga orang sasak yang GAGAL di perantauan, yaitu mereka yang tidak punya pendidikan, malas dan manja. Mereka ikut program pemerintah bertransmigrasi, tapi setelah bantuan pemerintah habis mereka pulang lagi ke Lombok. Sebahagian besar memang etos kerja kita lebih rendah dibanding suku-suku lain tapi bagi yang tahan banting dan tidak mudah menyerah sekarang anak-anak mereka hidup enak.
Semeton jari batur sasak, ndak takut merantau. Lek desan dengan sino molah ite. Si aran perobahan sino
ndekne langsung, perbaikan adeng-adeng. Pulau lein sino kan gumin Allah endah. Tanak guar-guar.
Sekedar gambaran, tiang laek tene lek Lombok msikin gati tiang. Mangan bae susah, marak lagu dangdut: sepiring berdua, pagi makan sore tiada, haha........
mangan jangan lembain dit sambel, ngumbe gin angkunte cerdas? Pokokne cerite susah doang.
Kane jak berubah, si ndek tiang bayangkan laek jeri
kenyataan misalne lalo-lalo ngedu pesawat, seminar
lek gedung-gedung bertingkat lek jakarta. Menikmati masakan di resto-resto mewah.
Jari ndak takut merantau / hijrah. Bai, bijande ndekne bakal keleleran. Lek perantoan leun ye jeri pinter-pinter, ndekne gin bengak-bengak.
Kasihan kan, masak bain Datu Selaparang kumel. Mune mesi idup pasti ase' geti ye nyeriuang ite keturunanne sine.
Ardi
Votes: +0
Salam
Votes: +0
JANGAN PERNAH IRI HATI DAN DENGKI...JUST ITU...
TALON ATEANG ADALAH SUMBER PERMUSUSHAN...
Votes: +0
yg penting ada anak muda yg menkritisi dengan halus dan baik agar tercipta lembaga yg bersih dri KKN
Votes: +0
Votes: +0
Votes: +0
Votes: +0
tinggal dipikir aja, skill enough or not. Pekerjaan kadang yang dipilih sesuai kesempatan.
kalau ada lowongan yang kira- kira sesuai dengan bidang ya daftar... urusan penempatan atau deskjob yang diberikan menyusul.
Gaji? Ah sama aja. di Lombok buat jadi tukang ketik di kantor di gaji berapa? Pressure nya gimana ? pulang pergi juga nyante 5 menit sampe kantor
Bandingkan dengan
di Jakarta jadi tukang ketik. Pressure tinggi, gaji 2 juta (termasuk tunjangan). Rumah ngekos. berangkat jam 6 pulang sampe rumah jam 10
Tinggal dipikir.
Ujung2nya seh cuma gengsi doank
Votes: +0
Sungguh kasihan bangse sasak,putra putri terbaiknya di brain drain tidak bisa turut membangun dasan mereka. Kasihan bangse sasak, di brain gain oleh outsider yang memanfaatkan kebodohan mereka. Sebagian rakyatnya di brain wash agar bermental buruh untuk jadi TKI, tetep jari kawule terus dengan duah sak jari raje. Maka akan kemanakah engkau pergi duhai anak sasak? To drain, being gain, or being wash? Sementara orang-orang disana bilang, "sudahlah, jangan kembali!"
yah, sama aja ... dimanfaatkan oleh outsider. bedanya yang diatas cuma punya skill aja dalam bidang tertentu. sedangkan para TKI adalah tenaga non skill. (tapi ada juga seh TKI punya skill - seperti di Jepang )
Votes: +0
Votes: +0
Votes: +0

Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org

