Ditulis oleh M. Roil Bilad Selasa, 26 Januari 2010 05:11
Kolom Komunitas - M Roil Bilad
Oleh: M Roil Bilad
Sebelum penulis mulai melanjutkan serial ini, terlebih dahulu penulis ingin membuat klarifikasi mengenai motivasi membuat serial tulisan ini. Jika melihat dari judulnya, tulisan ini terkesan provokatif. Padahal sebenarnya tulisan ini ditujukan sebagai rasa peduli dan perasaan hormat penulis kepada Gubernur Kepala Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, TGH Zainul Majdi MA. Yang lebih populer disebut sebagai tuan guru bajang (TGB), yang juga merupakan cucu alm. almagfurullah TGH Zainudin Abdul Majid (Maulana Syeikh), pendiri dan yang membesarkan yayasan Nahdatul Wathan (NW).
Keputusannya untuk maju sebagai pemimpin NTB setahun yang lalu menurut penulis merupakan keputusan yang beresiko besar. Selain menyandang reputasi sebagai penerus kepemimpinan NW, bergelar tuan guru seagai representasi tingginya ilmu agama yang dimilikinya, beliau adalah sosok muda yang belum memiliki pengalaman birokratis memimpin lembaga pemerintah. Meskipun pernah berpengalaman menjadi anggota DPR-RI. Kiprahnya sebagai pemegang rekor gubernur termuda di Indonesia di provinsi dengan IPM diantara yang terrendah di indonesia tentu sja menjadi sorotan. Dalam bahasa ringkas, beliau adalah ulama yang umara, ulama yang memiliki kemapanan pemahaman agama yang kini diberi amanah untuk menjadi pemimpin masyarakat.
Konsekuensi dari status tersebut, dalam memegang tampuk kepemimpinan di NTBsangat besar. TGB tidak hanya maju atas nama pribadinya, namun merepresentasikan kalangan ulama, NW dan tentu saja nama besar kakeknya Maulana Syeikh serta tentu saja membawa nama islam. Dalam proses pemilihannya sebagai kepala daerah, beliau sudah mampu memberi warna lain, membuktikan bahwa visi, misi, program yang jelas dan terukur dan itikad baik, sebenarnya mampu memberikan daya tarik lebih kepada pemilih dibandingkan tawaran harta benda dan uang.
Serial tulisan ini, yang terangkai dalam tema “TGB Watch” bertujuan untuk meng(k)awal, mengkritisi, meng(k)ritik, memberi saran serta gagasan dalam perjalanan beliau memimpin NTB. Semoga penulis diberi objektifitas dan kemandirian dalam menilai berdasarkan hati nurani dan motivasi yang lurus dengan mengharap keridhaan Allah.

Kita diskusikan, kritisi dan kasih saran membangun untuk pemimpin NTB jangan sampai program hanya terbatas wacana tanpa kelanjutan.
Votes: +0
Votes: +0

Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org

