Ditulis oleh Administrator Kamis, 21 Januari 2010 07:27
[Sasak.Org] Waktu kecil saya suka membaca dongeng dari Timur Jauh tentang seorang putri yang ditemukan di dalam bilah bambu oleh seorang petani miskin yang sedang menebangi bambu di tepian hutan. Putri itu diangkatnya menjadi anak dan kelak menjadi penyelamat baginya karena anak angkatnya itu tumbuh menjadi putri yang cantik, berakhlak dan berilmu tinggi. Setiap dongeng atau tembang kuno menyembunyikan sebuah ajaran moral penting tanpa mementingkan nama pujangga atau penggubahnya. Karena itu setiap orang dapat mengambil hikmah dan bebas menginterpretsikannya. Bambu adalah tanaman yang sangat berguna dan penuh dengan ajaran rahasia tentang hidup. Ketika kita menanam biji bambu maka ia akan tertidur dalam pertapaan 7 tahun dan pada saat yan tepat ia akan tumbuh dengan sangat cepat sehingga mencapai 11 cm perhari. Bambu adalah putri yang jelita, berilmu dan berguna. Karenanya kita wajib memeilahara dan menjaganya sebagai warisan untuk anak cucu kelak.
Berkelana di hutan bersalju sampai minus 32 derajat membuat kaki jadi kelu, lebih baik pergi mencari matahari agar badan lebih sehat. Setelah terkurung 9 minggu dalam suhu minus untuk pertama kalinya matahari menyentuh klulitku di sebuah pantai kecil bernama Pattaya. Cahaya yang menyelimuti badanku terasa perlahan merasuk dengan kenikmatan tak terperi, sedap, asyik dan melayang. Aku baru mengerti mengapa bangsa bule itu suka sekali berjemur. Kenikmatan matahari menyentuh kulit yang lama membeku adalah kenikamtan yang setingkat dengan bertemunya sang pengantin, tak dapat digambarkan.
Kembali ke berugax kecilku di Pakem aku tak dapat menuliskan apa apa kecuali tafakkur atas sebuah pengalaman demi pengalaman dari yang mencekam sampai yang menggelikan, saking kacaunya oleh tertawa dan kesenduan tanganku tak dapat memulai untuk menuangkan semua yang berkecamuk. Baru sekaranglah aku dapat menekan huruf huruf untuk kurangkai agar kita dapat mengingat dan mengambil hikmah seperti kisah putri bambu itu.
Aku menunggu dua orang tamu Rusia di bandara Jogjakarta, mungkin satu satunya orang yang tidak suka mengangkat angkat papan nama adalah aku. Sebab aku dapat menemukan tamuku dengan mengandalkan perasaan. Jarang sekali meleset sampai tamu lolos sendirian. Kali ini aku mengamati tiap orang yang lewat, sampai ku tengok seorang ibu bule dan seroang perempuan kecil berwajah dasan. Aku bertegur sapa dengan memakai bahasa Rusia, gadis dasan itu bicara bahasa Inggris tentu agar bule sebelahnya mengerti. Aku lalu menerangkan dengan bahasa Inggris lalu bertanya apakah dia dapat berbahasa Indonesia atau tidak, dia menjawab pakai bahasa Jawa.
Aku tawarkan sarapan pagi, mereka tidak mau, maka aku mengajaknya bertamasya keliling kota dan desa sambil bercerita tentang apa saja. Wanita mungil itu bernama Usfi. Dalam setiap wisataku aku tak mau bercerita tentang hal takhyul dan cerita yang dibuat buat untuk menarik wisatwan, semacam roro jonggrang dll. Tetapi kali ini aku bertemu dengan tokoh salah satu dari cerita kuno yang kerap aku baca saat kecil itu.
Kami melewati jalur khusus keluar dari taman wisata agar tidak capek berputar di jalur labirin yang sengaja dibuat untuk memaksa pengunjung melihat barang cindera mata yang dipajang oleh puluhan ribu pedagang yang sepenuhnya bergantung pada pariwisata. Tiba tiba muncul pengasong menerobos dan menawarkan tas batik dan suvenir kecil lainnnya. Rasanya lelah sekali mendengar mereka menawarkan barang yang sebenarnya tidak bermutu itu. Mereka dapat membanting harga sampai pembeli terkejut. Dari 100 ribu bisa jadi 10 ribu. Barang macam apa yang dapat diperoleh dengan cara berniaga seperti itu.
Usfi membeli tas dan beberapa kaos murah dengan harga borongan. Aku katakan padanya bahwa kami tidak membeli barang seperti itu sebab bisa membuat bersin atau gatal dibadan. Dia tertawa kecil dan berkata bahwa dia tahu semuanya. Bahwa dia sangat kasihan pada para pedagang itu sebab dia ingat bapaknya yang berjuang menjual cobek batu yang ditatahnya sendiri. Ketika cobek tidak laku mereka sekeluarga berpuasa. Aku katakan padanya bahwa dia sangat mulia karena masih tersisa hati yang bening meskipun telah dilewatinya berbagai kehidupan modern di barat, timur dan selatan.
Usfi lahir disebuah desa kecil di kaki gunung. Ayahnya seorang seniman dan menggantungkan hidup dari membuat cobek batu. Kelas 3 SD dia harus ikut membantu ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai penjaga toko. Sebagai murid yang baik dia rajin belajar dan dapat menyelesaikan sekolahnya sampai SMA. Dia bekerja sebagai sinden dan penyanyi dangdutpun dirambahnya. Semua tetangga merendahkan dia dan keluarganya. Tapi orang hanya pandai merendahkan tanpa melihat bahwa tidak semua orang yang bergelut dibidang seni itu lantas dengan gampang menjual harga diri dengan melacur atau lainnya.
Usfi bertekad mengubah hidupnya dengan merantau ke Bali. Siapa yang peduli dengan gadis mungil yang tampak tak punya skill itu?. Tidak ada!. Dia akhirnya menjadi pembantu rumah tangga selama 2 bulan. Dari situ dia pindah jadi pelayan restaurant, lalu kafe. Karena trampil dan bekerja keras dia mendapat pekerjaan pada perusahaan pengiriman kerajinan. Kerajinan tangan dari pelosok negeri itulah yang membawanya bekerja di negeri kanguru kemudia tinggal di Eropah. Dia berubah dalam waktu singkat menjadi pebisnis yang handal.
Mengenang orangtua serta saudaranya di dasan, maka uangpun dikirim dengan harapan kehidupan keluarganya berubah. Kakaknya dikuliahkan sampai sarjana. Adiknya dikrim kuliah dan kursus sampai menguasai bahasa Inggris serta membelikannya motor baru. Ketika ia tiba di dasannya dengan kerinduan yang membuncah, semua orang kampung terheran heran dan masih dengan prasangka macam macam. Dia sudah hafal watak tetangganya kata kata sindiran dan hinaan tak membuatnya tersinggung. Tetapi yang sangat dia herankan adalah bahwa bapaknya tidak mengubah apapun dari rumah mereka meskipun uang cukup untuk membangun gedung. Bayangannya bahwa rumahnya berkeramik tidak terjadi. Ayahnya bilang, hanya masjid yang pantas dikeramik. Jangan sampai orang tidak mau masuk rumah kita karena kita terlalu mewah. Kita seperti ini saja banyak yang tidak suka apalagi kalau kita menonjolkan diri.
Usfi kembali ke Bali dan meneruskan kuliahnya yang terhenti dengan menmgambil menajemen. Seorang laki laki bule gagah dan kaya melamarnya berkali kali. Setelah 3 tahun berhubungan dia membawa bule itu pulang ke dasan dan mengislamkannya. Mereka menikah dengan pesta meriah sehinga seluruh desa hiruk pikuk. Dari orang kecil sampai pejabat diundangnya. Kini mereka tinggal di Sanur dan sedang mengusahakan ijin tetap untuk suaminya. Dia tak berubah meskipun kehidupannya sama sekali berbeda.
Dia tergopoh gopoh mengangkut kardus dari toko makanan khas. Aku bertanya untuk siapa oleh oleh sebanyak itu?. Dia menyebut banyak nama, ternyata selain manusia dia juga punya banyak hewan di rumahnya yang akan dapat bingkisan.
Suaminya adalah sahabatku, seorang peminat theosofi yang terus menerus merekomendasikan namaku kepada setiap orang yang datang kepadanya. Padahal kami hanya kenal lewat pembicaraan telepon. Setelah bertemu dengan istrinya aku makin tahu sahabat macam apa yang aku punya.
Puteri cobek batu itu adalah wanita mungil dengan kemauan sekeras batu. Ayahnya telah membuatnya kebal atas cobaan dunia dan hatinyapun tetap sebening air yang mengalir disungai dasannya.
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas,
Hazairin R. JUNEP

udah lama ditunggu tulisannya mik.
satu hal yang saya dapat dari sini takdir milik yang kuasa kita hanya berbuat dan bertindak ikhtiar katanya tuan Guru lek bale' legux sayang msie leuk batur ndek ne beni sugul luar belajar, ngek beni ne jok malesie. salut buat batur-batur sek mele belajar
Votes: +0

Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org

