Ditulis oleh Administrator Kamis, 21 Januari 2010 15:43
[Sasak.Org] Matahari menyorot tajam di ladang berpasir yang membentang dari batas Tanjung sampai Korleko. Para pejalan kaki di pagi hari, siang sampai malam akan menengok ke satu satunya sumur diantara puluhan pohon yang menghijau kemilau meskipun kemarau sangat panjang dan tak tersisa air setetespun. Sumur itu dalamnya 35 meter sehingga timba seng tak kelihatan didasarnya, hanya perasaan dan pendengaran yang harus diandalkan. Air bening itu dapat diminum langsung. Rasanya manis dan menembus pori pori tuubuh kemudian keringat membasahi sekujur badan. Sumur itu milik Mamix Ratna dan pohon yang dihadiahkan Allah pada bangsa Sasak yang hijaunya sepanjang tahun adalah pohon ijo balit. Pohon ini adalah ever green yang menyejukkan hati para pejalan kaki di ladang berpasir itu entah berapa ratus tahun.
Kerap kali aku dan kakak atau amaxku menembus ladang panas itu untuk bersilaturahmi dengan saudara kami yang ada di ujung lainnya. Sekali aku pernah naik kuda milik Haji Sakir sehinga aku dapat melihat ladang dibalik pagar pagar hidup sepanjang jalan. Tanaman yang subur adalah ubi kayu, jagung, kacang, ubi jalar dan yang utama adalah kapas dan jarak. Dimasa itu perempuan kita banyak yang memintal benang dan menenun kain kain katun dengan kualitas tinggi. Aku melihat kain semacam itu diborong oleh agen agen perancang mode top dunia yang ada di Paris, New York atau Tokyo. Sayang sekali perempuan kita yang berjari indah dengan tenunan halus itu sudah hilang bersama alat tenun yang pernah menggerakkan dan memerdekakan bangsa India itu. Kini kain katun istimewa itu hanya ada di Bangladesh dan India. Perusahaan garmen sekelas Guess dan Benetton memesan pakaian di kedua negara itu. Kita tidak tahu bahwa roda roda yang pernah berputar memintal benang "katax setakilan" itu tidak pernah diangap ketinggalan oleh bangsa lain. Sementara kita dengan bangga menguburnya bersama martabat perempuan kita yang sekarang berbaris jadi babu di rumah bekas murid inax amax kita.
Para pejalan kaki tak ada lagi tampak menembus ladang berpasir itu. Bukan karena tidak ada yang bersilaturahmi ke ujung yang lain tapi bahkan ladang itupun sudah lenyap entah kemana. Kendaraan cidomo sesekali melintas dan angkutan desa berupa mobil kecil dapat ditunggu di pertigaan Tanjung dekat masjid. Pada hari sabtu atau minggu tempat dimana matahari dengan kejam menimpa rambutku sampai rasa terbakar menembus jakunku itu kini terbentang telaga biru dengan air yang "nyempuar" penuh dengan ikan besar, sidat atau tune dan udang galah. Anak anak muda Sasak yang dituntun oleh sepeda motornya yang kinclong beradu cepat memasuki lahan parkir agar secepatnya masuk di taman firdaus yang penuh dengan bunga dan berugax. Sekelompok anak sekolah menyerbu masuk dengan tas penuh bekal. Tiap anak mengeluarkan nasi bungkus yang cukup untuk makan 3 orang karena ibunya takut sekali jangan sampai anaknya kekurangan makan.
Maka dapat dibayangkan sampah yang menggunung dari sisa nasi dan lauknya. Sang penjaga senyum senyum mengenang anak bangsanya yang lucu seraya mengumpulkan sekarung nasi untuk diberikan pada ikan di kolam.
Orang Sasak yang ramai berkunjung ke taman firdaus yang disebut Lembah Hijau itu menyangka pastilah pemiliknya punya ilmu simpanan sehingga tempat jin buang anak itu telah diubahnya jadi tempat yang indah dan menyejukkan bagi semua makhluk. Sering ada yang penasaran sampai menerobos masuk ke dalam menanyakan siapa yang punya taman. Ditengah sawah seorang lelaki separuh baya memacul dengan dengan wajah yang lurus ke tanah. Tak ada yang percaya bahwa lelaki itulah si tukang sulap yang mengubah ladang pasir yang mataharinya membakarku itu menjadi apa saja yang diinginkan oleh para bajang momot meco dalam khayalan tanpa batasnya. Lelaki itu tidak pernah momot sejak kecil tangannya selalu bergerak melakukan sesuatu.
Di dasan kami anak anak yang ribut bergerombol membikin bising itu punya pentolan dan dia merekrut kakakku untuk menjadi centengnya. Kelompok anak anak itu sangat solid. Main karet gelang, ampas rokok yang dibuat piramid lalu dilempar batu gepeng, adu biji asam, kelereng dsb.
Kalau sudah jam 17.00 semua bergerombol pergi ke PLN didekat makam Pahlawan untuk menarik tali generator diesel. Persis seperti tarik tambang hanya yang dilawan mesin generator listrik yang menyinari Selong dari jam 18.00 sampai 06.00. Pentolan anak anak itu bernama Selamet. Mungkin Ayahnya sangat bersyukur dia Selamat atau memang beliau ingin berterima kasih kepada Allah maka beliau mengucapkan dalam bahasa Sasak Selamet yang artinya terima kasih.
Ayahnya adalah HL Sahak seorang guru yang kemudian jadi kepala Penerangan dan ibunya adalah Guru Selamah. Kedua orang tuanya adalah sahabat dekat orangtua kami yang juga guru. Ketika SD rumahnya adalah tempat bermain kami di waktu pagi atau petang. Sebagai budayawan Sasak Lokax Ayahnya memberikan warisan berupa pesan agar Selamet dalam hidupnya berjuang untuk membangun tiga hal.
1. Membuat Reban atau Saluran air. 2. Membuka Rurung atau Jalan.
3. Membangun Masjid.
Selama 27tahun Selamet si pentolan geng anak dasan memacul ladang berpasir dan menggali saluran air sepanjang puluhan kilometer dengan menaikkan air sungai sedalam 14 meter. Dan dia berhasil menyatukan dua sungai sehingga dapat mengairi sawah hampir 600 hektar. Berap puluh kilometer jalan sudah dibuka dan entah berapa masjib berdiri di gumi Selaparang itu.
Minggu lalu KS Jogjakarta membawa seorang tamu ke Pakem. Dia berdiri didepan pintu mengucap salam dan bertanya : " Masih ingat?". Aku menjawab ingat tapi bukan dia yang saat itu berdiri disitu yang aku ingat melainkan ayahnya. Gaya bicara dan suaranya sama. Seharian kami berbicara dengan perasaan rindu, sebab kami berpisah lebih 35 tahun. Yang beruntung adalah anak anak yang mendapat kuliah humaniora langsung dari narasumber yang sangat langka. Kami berjanji untuk menyambung tali silaturrahmi yang dibangun orang tua kami dan meneruskan cita cita yang dititipkan pada kami yaitu membangun karakter bangsa Sasak agar jangan jadi orang aneh di tanah sendiri.
Di ladang berpasir dan panas itu kami punya ever green dan kini kami punya HL.Selamet yang menunggu dan memeliharanya. Diantara pepadu dan dedare yang dituntun oleh sepeda motornya itu akan muncul Selamet lainnya minimal mereka telah melihat bahwa Allah tidak mengubah nasib suatu kaum kalau mereka tidak mengubahnya sendiri. Teman bermain dan saudaraku HL. Selamet dengan tangannya sendiri telah mengubah nasib anak bangsanya. Mari kita bekerja untuk kejayaan bangsa Sasak. Rahayu!
Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

Akses Sasak.Org Melalui Perangkat Seluler Anda www.m.sasak.org
Tautan ke Situs Lain
Pengunjung
Login Form
Kosakata Hari Ini
Sasak Lebung
Multimedia Sasak
Shout Box
Komentar Terbaru
Kekeringan, Warga Lombok Krisi...
Semethon-semethon leq Lentek, daweg, rau'n bae gawah-gawah lauq siku adin sere sempurne gering. Upay...
By Arya
Sabotase Listrik saat Warga Ta...
umat Islam yang lain kok gak ada respon, orang macam ini nih yang seharusnya diganyang.
By Nietha
Maulid Adat di Desa Sesait, Ke...
Maaf mas dan mba yang berasal dari desa sesait, minta pertolongan yg ikhlas dari anda semua. saya se...
By arie mahendra
BUDIDAYA TEMBAKAU VIRGINIA DI ...
replied for #MRB Saya sedang menjalani project mengenai tembakau d kota Lombok, kalau boleh saya min...
By Ryan AP
Kekeringan, Warga Lombok Krisi...
sukuri yg sudah diberi, tidak mustahil pulau lombok akan kering bila tidak kita jaga
By hari
Pemkab Lotim Ajukan Harga Dasa...
Kami mohon kepada Pemerintah jangan siksa kami (petani tembakau) kami capek begini terus. Minyak ind...
By Ahmad Afandi
PEMBELI ADALAH RAJA, PENJUAL A...
Semeton, pade inget-inget cerite dengan toak laek,
By Aji Turmudzi
PEMBELI ADALAH RAJA, PENJUAL A...
Bgitu banyak kita bicara Semeton tentang kesasakan kita, tapi kita tidak pernah banyak berbuat, bahk...
By Aji Turmudzi
Teknologi Distilator Surya Unt...
perfect hbis penjelasan nya tapi klw bisa gambarnya di perjelas..... biar aq bisa belajar lebih bany...
By alan songge
Kiat Menghindari Penurunan Pro...
knp yah... itik sy g mau btelur ??? dari 125 itik telurnya kadang cuman 2 butir / hari. apa ada paka...
By one


Comments
RSS feed for comments to this post.