By   March 30, 2011

 

Hazairin R. Junep

Yogyakarta [sasak.org] Setiap hari semakin banyak pertanyaan yang muncul di semua FB yang dibikin oleh anak bangsa Sasak. Ada yang bertanya lalu dijawab sendiri oleh kloningannya pada saat yang sama. Satu kloningan bercanda, satu yang serius dan satu lagi melompat sana lompat sini. Yang lompat lompat itu yang paling banyak. Kita dapat dengan mudah mengenali kloning siapa yang menulis dan berpendapat. Kata orang Sasak, mudax mudax paso belax artinya semudah pecahnya tempayan.

Kegelisahan generasi muda yang mulai mencari identitas diri bagaikan orang hilang dikeramaian. Bahasa Sasak tidak bisa karena ribet mau meniru teater keliling seperti tooneel yang pakai bahasa Kawi campur Jawa, Bali yang digecok urap dengan bahasa Arab, Belanda dll. Jadi tidak hafal semua istilah aneh aneh. Mau bicara pakai bahasa Sasak sehari hari, kelimpungan juga karena sejak kecil dicekoki Bahasa Indonesia dan bahkan Inggris saking modernnya.

No problemlah, kita adalah bangsa yang beragam warna, boleh pakai bahasa manapun asal taat azas. Setelah perkara bahasa ini masih ada ribuan pertanyaan dan yang terakhir adalah masalah kerajaan yang diklaim pernah ada. Tiap orang punya versi, menurut mamixnya begini, menurut mamix yang satu lagi begono. Yang lumayan bijak bilang, terserah kalian mau omong apa. Jadi di Lombok itu orang boleh bicara tentang sejarah masing masing. Kalau tidak ada yang digali dari kuburan, ya dibuat atau copy paste dari mana saja, sampai manipulasi datapun boleh.

Sederhananya kerajaan di Lombok zaman baheula, boleh saja dibesarkan sehingga melebihi Majapahit dan rajanya punya keturunan sampai detik ini. Tapi kalau diminta tes DNA mungkin akan berkelit seperti lelaki yang menghamili tetangganya dan tidak mau menikah!. Tapi kalau dibesarkan kita akan jadi tukang omog besar. Kita diam saja nanti generasi muda akan terus mengorek korek apa saja agar mengerti. Semakin kita banyak mempelajari semakin sedikit kita tahu. Semakin banyak kita melepas semakin bijaksanalah kita. Bagaimana kalau kita melepaskan saja klaim klaim lucu yang terus membuat kita bimbang dan tidak maju maju.

Salah satu pertanyaan adalah dimana dan seperti apa keraton sisa sisa kerajaan yang pernah berdiri di Lombok itu. Ada yang merasa minder bahwa orang Jawa meningalkan Borobudur sedangkan papux balox tidak meninggalkan apa apa. Bisakah kita berputar sejenak dan melihat dari sisi lain sembari melepaskan baju baju kebesaran imaginer kita?.

Ketika seorang raja berkuasa ditempat yang makmur dan luas, ambisinya akan berkembang besar seiring dengan luasnya kekuasaan. Ada yang gila hormat dan ambisi pamer. Semua dibuat ekstraordiner, luar biasa dalam wujub benda materi. Tetapi ada banyak lagi yang tidak membangun benda materi namun memilih membangun manusia dan kemanusian. Apakah papux balox tidak bisa membangun seperti Borobudur?. Bisa, bukankah mereka adalah orang yang sama, mereka sama sama Budis dan memiliki ilmu yang setara?. Jangan lupa genius lokal berpran penting dalam suatu peradaban. Kita punya batu andesit, pasir, tanah liat dst persis seperti di Borobudur. Tapi kita tidak memiliki alam yang seperti lingkungan dibangunnya candi itu. Kita punya pantai yang serba dekat, gunung yang juga dalam jangkauan. Inspirasi orang yang tinggal di dataran rendah dengan orang seperti bangsa Sasak, mematerialisasikan harapan dan impiannya dengan cara berbeda.

Tenunan, jalinan anyaman, bahasa, filsafat, tembang dan kuliner adalah monumen besar yang ditinggalkan oleh papux balox kita. Politik dan kekuasaan boleh berganti beribu kali tapi pemeliharaan tradisi dan pembangunan manusia dan kemanusian tiada kata henti. Maka kita secara turun temurun menjadi bangsa yang punya kerajinan, filsafat dan tradisi serta bahasa yang tak rusak oleh waktu. Apa yang kita punya mungkin saja lebih lengkap daripada basrelief atau stupa candi. Bangsa hebat tidak selalu mengandalkan peninggalan kuno mereka sebab setiap 1000 tahun sebuah peradaban dimungkin menghilang sama sekali oleh sebab apapun. Seorang raja Korea menciptakan huruf hanggul yang merupakan cara penulisan paling genius di duniua. Orang Islandia tidak punya monumen tapi mereka adalah salah satu bangsa termodern dan makmur. Mereka punya karya Sasatra bernama Saga. Bahasa mereka sama dengan seribu tahun lalu dan mampu mengungkapkan istilah modern seperti faxsimilie dll. Bangsa Sasak tidak usah menggali kubur hanya untuk mengerti apa itu Sela Parang. Cukup pergi ke Obel Obel dan tampaklah apa yang namanya Selaparang. Kalau mau ribut lagi soal raja sampai Banjar Getas, lihat saja orang di dasan dasan yang jauh dari pengaruh kota, mereka itulah para raja. Mereka tetap pakai sarung setengah badan bukan?.

Selaparang artinya batu besar, mengapa mencari istana, kalau tahu apa artinya batu besar, Big Stones!. Mau berapa saja bisa, ambil sendiri dan gratis, sebab itu adalah warisan yang tiada henti dimuntahkan oleh Rinjani bagi putra putri maharaja batu besar. Berbagai bagai bangsa di dunia ini tidak pernah meributkan sampai mencungkil cungkil halaman tetangga saking getolnya dapat sebongkah batu sekedar legitimasi diri. Orang Singapura atau Australia tidak pusing mencari cari, mereka justru melakukan hal seperti yang dilakukan papux balox kita, yaitu membangun manusia dan kemanusiaan dan lihat hasilnya, hanya 50 tahun saja mereka membangun lebih dahsyat dari sekedar stupa dan baslerief bahkan dalam bidang sastra, filsafat, kuliner mereka maju pesat. Jadi kita harus memutuskan sekarang mau jadi jangkrik atau yang beken lagi adalah jadi tuntel sekalian, lalu menggali tanah dan cari tempurung kelapa, setelah seribu tahun kelak anak cucu masih mencari istana Tengkulak Gero!

Bagi yang muda dan bersemangat berhentilah menunggu, carilah pekerjaan yang engkau cintai agar seumur hidupmu kau tak perlu bekerja. Generasi momot meco saat ini penuh di boug boug karena mereka mencari pekerjaan yang tiada dicintai. Semua berbondong bondong jadi PNS padahal tak semuanya cinta profesi tersebut. Lihatlah dikantor kantor, apa saja yang dilakukan para PNS tanpa cinta itu, adalah meneruskan kebiasaan di boug boug itu. Mereka tidak merasa bertanggung jawab atas ancaman kesehatan anak dari jajanan beracun, kotor dan tidak layak. Mereka tidak peduli murid jadi apa yang penting lulus UN dengan cara apapun. Mereka tidak tergugah melihat derita akar rumput sampai mengkorup Raskin dan BLT. Kalau gagal jadi PNS maka konfresni tiada henti akan terus berlanjut, syukur sekali kalau ada yang cinta Malaysia, mereka akan berjuang sampai mati agar dapat kesana untuk melakukan tugas yang tiada dicintai. Derita tiada akhir adalah keputusan diri untuk mau menderita. Bukankah rasa sedih, rasa jengkel, iri dengki dan malas pun juga cinta dan bahagia, semangat dan tekad baja hanya bisa terjadi jika kita sendiri yang mengizinkannya terjadi?. Kalau demikian apalagi yang kalian tunggu?. Maju dan jayalah bangse Sasak!

Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

  • http://sasak.org Batu lilih(deslander)

    bagaimana bangsa sasak tidak cinta malaysia,cinta arab,cinta brunei,walau hakekatnya tidak cinta,semua cinta karna keterpaksaan.bahkan untuk mengejar cinta yg dibenci tidak sedikit dari kami harus ngutang pada para rentenir,,tapi karena propesi yg tidak di cintai itu desa dasan di gumi paer sasax jadi putih.mudah2an kedepannya terune bajang bangse sasax lebih maju biar tidak ter jajah oleh china terus seperti kami..

  • HRJ

    Sanak Batu Lilih, luar biase side. Sax marax side sine sax te paran Sasak Kelet. Laun lamun side pade tulak insyaallah berubah keadaan masyarakat Sasak,ndex sekedar bale sax putex lagux cinte dait idupte seken bersi. Insayaallah berkat usahe side pade sax bekorban perasaan dait awak jaxn tiwox jari amal sax majuang bangse Sasak jari merdeke lex gumine mesax. Rahayu Sanak Batu Pilih, mudahan teicanin kesehatan dait kekuatan lex perjuangan side. Amin

  • HRJ

    Ya Allah dengarkanlah doa saudaraku yang baik ini, Amin Ya Rabbal Alamin!