By   November 5, 2012

Hazairin R. Junep

Seoul – Korea (www.sasak.org) Bahasa Sasak adalah bahasa Ibu dari anak bangsa Sasak yang mendiami Pualu Lombok, sebagian Sumbawa dan perantauan lainnya. Bahasa Ibu adalah bahasa yang pertama kali dipelajari sejak lahir dan atau bahasa yang bersifat dominan.

Bahasa Halus adalah bahasa yang diklaim oleh sekelompok masyarakat dan dipergunakan secara terbatas. Bahasa Halus itu adalah bahasa yang diperoleh dari bahasa Kawi dimasa lalu dan dimasa kini dicampur dengan bahasa Jawa,Bali, Arab dan Indonesia jika perlu.

Bahasa Kawi adalah bahasa yang dipergunakan oleh kelompok tertentu untuk menulis karya sastera yang dipergunakan pada zaman kerajaan Hindu -Buddha di Jawa hingga berakhirnya kerajaan Majapahit. Kawi artinya pujangga atau satrawan dan karya mereka disebut Kakawin. Huruf yang dipergunakan disebut Jejawi. Kelak ketika Islam mendominasi generasi berikutnya menggunakan huruf Arab Melayu yang disebut juga sebagai Jawi : جوي Jăwi.

Jika pada masa kerajaan, karya pujangga yang terkait erat dengan agama Hindu dan Buddha disebut Kakawin yang berbahasa Kawi maka generasi setelah itu pecah menjadi dua kelompok yaitu yang menghasilkan kitab meneruskan tradisi Hidu- Buddhanya yang disebut Kejawen dalam bahasa Jawa dan dari kelompok Islam menghasilkan kitab kuning baik dalam bahasa Jawa maupun bahasa Melayu, Arab,Sunda, Madura dll.

Beberapa waktu ini saya sering menerima pertanyaan pertanyaan mengenai arti suatu kata atau frase dari bahasa Kawi yang disalah fahami sebagai bahasa Sasak. Dari mana dan dimanakah bahasa Kawi berasal?. Sudah disebutkan diatas bahwa bahasa Kawi adalah bahasa kalangan khusus sastrawan dan elite. Bahasa Kawi adalah turunan langsung dari bahasa Sanskrta, yang pernah menjadi bahasa Pengantar (lingua Franca) selam 1000 tahun.

Bahasa Sanskrta menurut para akademisi mulai ada sekitar 6000 tahun sebelum Isa. Dipergunakan oleh penduduk disekitar pantai Laut Kaspia di Asia Tengah. Bahasa itu adalah proto bahasa Indo Eropah – induk bahasa Eropah, Iran dan India Utara.

Ketika penduduk berkembang maka mereka berkelana mencari padang rumput dan daerah pertanian yang subur di daerah selatan. Mereka memuja dewa hujan, dewa matahari dan dewi kesuburan. Mereka melakukan sesajian atau persembahan dengan menyiramkan mentega cair kedalam api dan meminum Soma atau arak sebagai cara berkomunikasi langsung dengan dewa. Cara cara doa dan mantra itu kemudian dikenal dengan VEDA. Veda artinya pengetahuan yang darinya kita kenal kata Budi- yang berarti pengetahuan pada Budi Pekerti – pengetahuan tentang tingkah laku. Bahasa Veda dsiebut Vedik dan diturunkan dari satu keluarga pendeta ke keluarga pendeta berikutnya secara ketat karena hanya orang khusus saja yang dapat melafalkannya dengan indah dan benar. Vedik itulah sebagai induk bahasa Sanskerta.

Veda masuk ke India sekitar 1000 tahun sebelum Isa. Pada sekitar 300 tahun sebelum Isa Akhli tersohor tata bahasa bernama PANINI membongkar habis dan menyusun bahasa Vedik yang rumit itu, lalu dari sana dia menuliskan hasil penyederhanaannya menjadi aturan yang mudah diingat sebanyak 4000 aturan!. Ia begitu gembira atas keberhasilannya menyusun versi baru itu dan ia namakan sebagai Samskrta.

Vedik tetap menjadi bahasa ritual agama sedangkan Sanskrta menjadi bahasa elite, cendekiawan dan kegiatan intelektual. Bahasa Sanskrta tidak pernah menjadi bahasa pasaran dan kemungkinan besar tidak pernah menjadi bahasa ibu siapapun. Ia digunakan dalam pengadilan, akademi, dan kependetaan/seminari.

Karya karya sastera besar seperti Mahabarata dengan 100.000 bait puisi. Ramayana yang menjadi bagian dari seni teater di Jawa dan Bali hingga kini. Purana adalah kumpulan mitologi dan legenda dewa dewa Hindu dan berbagai karya besar dalam bidang sastera dan filsafat, agama, tata bahasa dan puisi muncul pada periode yang sama.

Bahasa Sanskrta diajarkan sejak usia 6 tahuan dan akan menguasainya setelah 12 tahun belajar. Di dalam masyarakat patriarkhal bahasa Sanskrta adalah bahasa kaum pria sedangkan anak anak berbicara dalam bahasa yang disebut Prakrit atau bahasa alamiah alias bahasa Daerah.

Kita sudah berkelana jauh ke ribuan tahun silam kini mari kita kembali berpijak di Gumi Sasak Darussalam. Bahasa Kawi sebagaimana bahasa Sanskrta adalah mempunyai fungsi yang sama yaitu bahasa sastera atau agama. Bahasa Kawi juga tidak pernah menjadi bahasa Ibu atau bahasa yang dominan dipakai masyarakat. Klaim sebagai bahasa halus adalah salah kaprah sebab bahasa orang itu halus atau tidak tergantung dari budi bahasa dan budi pekertinya. Bahasa yang diklaim sebagai bahasa halus dengan tingkat tingkat berbedapun juga tidak realistis karena bahasa bahasa itu hanya dipakai pada kondisi dan keperluan terbatas. Di Yogayakarta dan Solo yang masih memegang tradisi, bahasa yang dipergunakan oleh kalangan elite hanya dipakai pada waktu yang sangat sangat terbatas didalam lingkungan sendiri atau didalam pementasan teater rakyat. Saya jamin sultan tidak akan menggunakn bahasa Kromo Hinggil sepanjang hari. Bahasa yang dipakai mestinya bahasa Indonesia atau bahasa Jawa sehari hari. Bahasa Jawa sehari hari itu adalah bahasa Ibunya dan dominan. Bahasa kromo hinggil itu tidak pernah dominan. Bahasa bahasa yang punya strata itu dipergunakan untuk memudahkan diplomasi atau urusan tertentu sebagaimana bahasa Prancis yang digunakan pada abad IX sebagai bahasa diplomat internasional karena indah dan berkultur tinggi. Kini bahasa Prancis sudah tergantikan oleh bahasa Inggris yang berpengaruh luas akibat dominasi negara besar pemakainya.

Melihat kedudukan bahasa Kawi sebagai bahasa sastera dan agama bagaimanpun akan membawa pengaruh signifikan kepada pemakainya yang tanpa disadari meneguhkan ajaran dari sumbernya terdahulu yaitu Hindu- Buddha. Tidak hanya terbatas pada seni sastera tetapi pada praktik adat dan ritual, warna Hindu dan animisme sangat kental. Ambil suatu contoh adalah sorong serah aji krame. Sorong serah adalah frase bahasa Sasak yang berarti serah terima dan aji krame adalah bahasa Kawi – aji adalah Surat keputusan, dan krame – menikah. Sederhananya berarti serah terima AKTA NIKAH. Didalam prosesi Sorong serah aji krame itu ada berbagai pernik pernik yang wajib dihadirkan dan semua itu berakar pada ritual ritual kuno agama Hindu atau animis. Salah satunya adalah Aji tresna yang merupakan penetapan bagi seseorang yang dianggap asing untuk dapat menikah dengan keluarga yang dianggap sebagi berkasta tinggi. Kita tidak berkasta tetapi memperaktikkan hal hal yang bersifat rasis. Dari situlah muncul kritikan pedas oleh para ulama Islam yang menganggap perbuatan tertentu sebagai bid’ah dan yang lebih keras lagi adalah syirik.

Jika sesorang telah bersyahadat maka seharusnya ia tidak lagi memperaktikkan hal hal yang bertentangan dengan akidahnya karena dapat secara perlahan akan mengaburkan kemurnian dari keyakinan keagamaannya. Jika bahasa Inggris membawa perubahan perilaku akibat interaksi dengan budaya barat yang dibawanya maka bahasa Kawi atau Halus itupun memberi warna khas kepada pemakainya. Kini orang mulai berani mengadopsi kejawen dengan menyebut ritual mereka sebagai kesasakan!. Perilaku elit yang dahulu dihidupkan untuk lasan kepentingan ekonomis lebih dari sekedar untuk budaya dan agama. Tidak banyak orang mengerti bahasa halus sebab ia adalah bahasa asing atau khusus, dimana orang awan memiliki bahasanya sendiri yaitu Sasak.

Marilah kita menggunakan bahasa Sasak dengan gaya dan ragam masing masing karena disitulah kelebihan, kekayaan dan keindahannya. Bahasa Kawi atau bahasa halus silahkan dikembangkan dengan penyesuain diri agar tidak terjadi pertentangan yang tajam. Bahasa Sasak dapat digunkan dalam segala kondisi dan dapat pula menterjemahkan IPTEK sesuai kebutuhan oleh kerena itu marilah kita jaga dan kita kebangkan bahasa ibu kita ini dengan rasa hormat dan bangga.

Wallahulambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

2 Comments on “Bahasa Halus dan Bahasa Sasak

  1. Hazairin R. JUNEP

    Perlu saya lengkapi untuk paragraf 11, pada baris ke 2 kurang lengkap, seharusnya … sedangkan anak anak dan perempuan berbicara dst.

Leave a Reply