By   November 2, 2012

Hazairin R. Junep

San Petersburg (sasak.org) Sebelum munculnya dalang modern Lalu Nasib AR, kita pernah punya wayang kulit tersohor dari Kembang Kuning- Teros dan Lenek di Lombok Timur. Tentu banyak lagi wayang kulit lain di Loteng dan Lobar.

Wayang adalah bayangan, kita menonton bayangan atau refleksi diri manusia. Wayang sebagai alat hiuburan mengambil cerita dari Ramayana sampai kisah perjuangan Islam. Khususnya di Lombok mereka mengadopsi cerita cerita Islam, sayang sekali belum ada yang memainkan cerita 1001 malam.

Dari segi bentuk fisik wayang, kita bisa melihat sosok sosok yang berbeda mewakili kultur asing sama sekali. Karakter dengan tubuh gembur tinggi besar, wajah seram dengan taring adalah raksasa atau denawa yang mewakili golongan kiri semisal; dedemit penggangu, hantu, vampir, penjahat, perampok, penculik, penghianat dll. Selanjutnya ada karakter yang lebih langsing dengan hidung mancung yang berada digolongan kanan dan terakhir ada karakter yang mewakili lokalitas kita dengan penggambaran rupa dan watak asli pribumi.

Baik Denawa yang tinggi besar dengan rambut pirang dan yang langsing dengan tangan dan kaki jenjang, semampai dengan hidung mancung menggunakan bahasa Kawi sedangkan karakter lokal menggunakan bahasa Sasak. Wayang yang ada di Jawa, Bali dan Lombok secara fisik bisa sama tetapi nama karakter yang dimainkan berbeda sesuai naskah cerita yang dipakai. Untuk mendapat bayangan yang hidup wayang diberi perforasi atau lobang lobang disekujurnya sehingga cahaya menembus dan ketika lampu atau wayang digerakkan akan menimbulkan efek hidup dari kejauhan.

Mengapa wayang Sasak memakai bahasa Kawi sedangkan wayang Jawa memakai bahasa Jawa,. siapa sebenarnya orang orang yang memakai bahasa Kawi itu, mengapa sampai dibawa ke Lombok?. Bahasa Kawi dipergunakan di Jawa sejaka zaman kerajaan Hindu- Buddha hingga berakhirnya Majapahit. Bahasa Kawi adalah bahasa Sanskerta baru (neo sanskrit) yang dipergunakan oleh para sasterawan dalam karya mereka yang disebut Kakawin. Kawi artinya penyair. Setelah runtuhnya Majapahit sebagian dari rakyatnya lari ke Bali dan meneruskan tradisi kakawin itu. Ketika Bali menginvasi dan menjajah Lombok, sebagaimana semua penjajah, mereka membawa bahasa dan budayanya ke koloni baru. Penguasa Hindu Bali memanfaatkan sekelompok oportunis lokal Sasak untuk menjadi agen agen mereka yang dikenal dengan perwangsa – parwa wangsa artinya setengah keturunan, indo, mestizo ala Lombok. atau hanya pengikut penjajah saja. Kaum perwangsa itu mengelompok elitkan diri dengan meniru habis cara dan gaya toean mereka yang Hindu, meskipun mereka menganut agama Islam. Mereka memelihara panjak atau budak dan menggunakan bahasa Kawi dilingkungan sendiri. Mereka direkrut menjadi pegawai kerajaan dan mendapat hak hak istimewa.

Untuk dapat mendominasi anak bangsa Sasak, penjajah melakukan berbagai taktik agar jajahannya tetap terpuruk dan tergantung sepenuhnya kepada si toean besar. Mereka memarginalkan Sasak dan mencabut dari akar budaya dan bahasanya. Pemakai bahasa Kawi lebih terhormat dan dianggap sebagai orang berbudi bahasa halus sedang anak bangsa Sasak menggunakan bahasa kasar dan tidak tahu adat. Bagaimana mau berbudi bahasa jika harta dirampas, padi diembat dan tenaga diperas. Pada akhirnya si penjajah mencabut hak hak para perwangsa itu dan jadilah mereka terbirit birit setelah si toean akhirnya hancur pada perang Lombok 1894.

Dari sisi wayang saja sudah jelas membawa misi rasisme, beruntung kisah kisah Islami mengambil alih namun demikian tetap saja karakter anak bangsa Sasak hanya sebagai badut yang kerjanya saling memberi stigma dan mentertawakan satu sama lain dengan mencari kekurangan atau cacat sesamanya. Para Pahlawan tetaplah orang asing sementara yang punya negeri adalah panakawan atau panjak. Betapa dahsyatnya pengaruh wayang itu bagi masayarakat Sasak, bahwa mereka tidak merasa sebagai bangsa jajahan malah seperti korban penculikan yang disekap bertahun tahun yang akhirnya jatuh cinta pada penculik jahat itu.

Anak bangsa Sasak senang sekali menggunakan simbul simbul luar dan bicara bak wayang golek dengan menggado pecelkan bahasa dan cara berpakaian. Bahasa Kawi dipakai sebagai bahasa sakral dalam ritual kelompok yang mengelitkan diri dan membuat banyak masalah dimasyarkat. Bahasa secara alamiah membawa kultur dan kebiasaan pemakainya. Mereka adalah penganut Hindu dan dari sana kita mendapat pengaruh luas termasuk soal Agama.

Telah banyak ulama yang berkata bahwa Islam bukanlah agama melainkan Dien. Dien ul Islam. Seorang perofesor ulama Hindu berkata bahwa sistem agama mereka tidak selengkap Islam yang memiliki rincian aturan yang menyentuh seluruh kehidupan. Agama dalah sebuah sitilah yang muncul pada abad IV -III sebelum Isa yang merupakan kompilasi mengenai pengaturan mantera dan nyanyian pujian sesuai dengan dewa masing masing. Agama Islam adalah suatu sistem hukum, ideology, cara hidup dan keyakinan. Jika berpegang pada definis awal agama yang kita ambil di zaman dahulu dari pendatang Hindu itu, maka kita tidak boleh mengatakan bahwa semua agama itu sama. Ibarat kita menyamakan rukun wudlu atau cara shalat dengan seluruh sendi Islam. Atau kita anggap cara memasak soto sama dengan kebudayaan. Banyak sekali mahasiswa yang dengan mudah ikut mengatakan hal hakl yang belum pernah dipelajari, langsung dianggap sama atau tidak sama atau sulit dsb, sebagai buah dari budaya ikut ikutan.

Budaya ikut ikutan itu merembet kepada tuduhan bahwa bahasa Sasak adalah bahasa Kasar dan lebih banyak lagi yang berkata bahwa bahsa Sasak itu sulit karean banyak perbedaan macam macam. Siapakah diantara anak bangsa Sasak yang berkata demikian, yang sudah pernah mengkaji dan mendalami filology (bahasa) Sasak , sastera Sasak dan Perigi Base Sasak (tata bahasa, Grammar) ?. Adakah anak bangsa Sasak yang pernah mempelajari bahasa ibunya ini seintensif mereka belajar bahasa Indonesia dan Inggeris disekolahan, sehingga dapat mengatakan bahwa bahasa Sasak itu susah, berbeda dimana mana dan tidak punya aturan baku?.

Bahasa Sasak telah mengalami stagnan karena pemakainya merasa kikuk dan tidak percaya diri. Sampai sering kita lihat ada yang memaksakan diri memakai bahasa Sasak dengan gaya kelegot, tidak nyaman dan tidak lancar karena tidak mengetahui cukup kosa kata dan tidak mengerti beda antara bahasa Kawi dan bahasa Sasak.

Apakah urgensinya mempelajari bahasa Sasak itu?. Tentu sangat mendesak karena bahasa ibu adalah identitas diri yang utama. Orang yang menguasai bahasa ibu akan mudah berkomunikasi tanpa hambatan psikologis atau rasa minder. Orang yang menguasai bahasa Ibu dapat lebih cepat belajar dan menyesuaikan diri dalam menjemput kemajuan zaman. Transfer iptek lebih cepat dan kebudayaan makin mudah berkembang. Pengetahuan akan bahasa sendiri akan berdampak pada pemahaman yang benar akan ajaran agama dan adat sitiadat. Jika kita sudah mengerti bahwa didalam praktik bahasa Kawi yang digunakan pada acara atau ritual adat ternyata mengandung ajaran rasisme dan kasta maka dapatlah kita pertanyakan akidah mereka yang dengan bangga melakukannya.

Salah satu saja yang masih dipraktikkanadalah Aji Tresna yang merupakan pengambilan keputusan untuk mengangkat seseorang dari status asing menjadi sederajat dengan fihak yanga mengadakan ritual. Pada acara nyongkolan dan sorong serahpun penuh dengan ritual ritual yang dibawa dari zaman laeek sehingga layaklah ada yang minum dan mabuk tuak karena memang tuak adalah sarana untuk itu. Pencampur adukan adat budaya itu berhasil karena identitas anak bansga Sasak yaitu bahasanya, telah mula mula dibikin tidak konsisten dan ditanamkan bahawa bahasa Sask itu terpecah menjadi sekian dan mereka tidak saling memahami.

Bangsa Sasak tidak boleh lupa bahwa mereka punya cara dan kebiasan tanpa bicara, diantara sesamanya mereka tidak selalu harus berkata kata, cukup dengan gestures (gerakan tubuh), Face (wajah) dan (hands) tangan, mereka sudah saling memahami apatah lagi jika berbicara dengan kata kata indah berlogat panjang, pendek, tinggi rendah, lucu serius atau jamax jamax.

Budi bahasa halus bukanlah kata kata atau bahasa apa yang kita pakai tetapi perilaku, intonasi dan tinggi rendahnya suara. Oleh sebab itu marilah kita bicara bahasa Sasak dengan sopan santun dan rasa hormat, sebab disitulah letak nilai bahwa seseorang itu berbudi pekerti atau tidak. Budi pekerti artinya pengetahuan tentang peri laku (Knowledge of behaviour).

Mari kita bangun identitas bangsa Sask yang kuat melalui ilmu pengetahuan dan teknology, adat estiadat ( esti – the real tradition) dan agama Islam. Membangun identitas adalah suatu usaha kearah pembentukan karakter yang kuat, mulia dan berdaya guna. Manusia dengan identitas kuat dapat mengikuti perkembangn zaman tanpa kehilangan kepribadian.

Inilah saatnya, bangsa Sasak muncul dan mengambil peran dalam membangun dunia yang lebih indah dan damai dimana semua manusia dihargai dan diberi kesempatan mengaktualisasikan diri dengan rasa hormat dan martabat yang terjaga.

Wallahualambissawab
demikian dan maaf
Yang Ikhlas
Hazairin R. JUNEP

  • Budi Darma Dane Rahil

    tetu gati niki sanak, mule turas tetes pelungguh jari dengan sasak senior tiang HRJ, lanjutang malik silak… tabek wale

    • Hazairin R. JUNEP

      Budi Darma Dane Rahil yang terkasih, saya bersyukur bahwa orang tua kita yang saling dukung dimasa lalu dalam membangun anak bangsa kita melalui -pendidikan dan kebudayaan telah membawa kita selangkah lebih maju. Kini kita meneruskan lagi perjuangan mereka agar anak bangsa kita lebih cepat tinggal landas. Kita harus malu dengan IPM di KO 32 kali. Mari kita perjuangkan kemajuan bangsa kita. Maju dan Jayalah Bangsa Sasak!. Aamiin.

  • Budi Darma Dane Rahil

    tetu gati niki sanak, mule turas tetes pelungguh jari dengan sasak senior tiang HRJ, lanjutang malik silak… tabek wale

    • Hazairin R. JUNEP

      Budi Darma Dane Rahil yang terkasih, saya bersyukur bahwa orang tua kita yang saling dukung dimasa lalu dalam membangun anak bangsa kita melalui -pendidikan dan kebudayaan telah membawa kita selangkah lebih maju. Kini kita meneruskan lagi perjuangan mereka agar anak bangsa kita lebih cepat tinggal landas. Kita harus malu dengan IPM di KO 32 kali. Mari kita perjuangkan kemajuan bangsa kita. Maju dan Jayalah Bangsa Sasak!. Aamiin.

  • naniaura

    niki tiang sampun ngumpulin cerite pewayangan sasak asli dait sampun tiang terjemahin jok base Jerman, Insya Allah thn depan beredar “Serat Menak Sasak”by naniaura. Niki salah satu andil tiang melestarikan budaya sasak adek arak tebace sik generasi mendatang, wassalam langan Berlin.

  • naniaura

    niki tiang sampun ngumpulin cerite pewayangan sasak asli dait sampun tiang terjemahin jok base Jerman, Insya Allah thn depan beredar “Serat Menak Sasak”by naniaura. Niki salah satu andil tiang melestarikan budaya sasak adek arak tebace sik generasi mendatang, wassalam langan Berlin.

  • Hazairin R. JUNEP

    Alahamdulillah Nani Aura, semoga sukses dan terimakasih atas usahamu melestarikan salah satu kekayaan budaya kita. Salam

  • Hazairin R. JUNEP

    Alahamdulillah Nani Aura, semoga sukses dan terimakasih atas usahamu melestarikan salah satu kekayaan budaya kita. Salam

  • Wahyudi Jeeg

    wayang Kembang kuning-teros.. dalang Papux Suwin…..

  • Wahyudi Jeeg

    wayang Kembang kuning-teros.. dalang Papux Suwin…..

  • Sahlan Nursina

    Saya ada rencana menulis buku tentang wayang sasak. Mohon izin jika ada kalimat atau paragraf yang saya ambil dari postingan Saudara ini.

  • mohammad akbar

    dominan kritiknya bang,solusi kita menghadapai situasi ini bagaimana ?