Tag Archives: Kebiasaan Jepang

Kebiasaan Sebagian Orang Jepang Menyambut Tahun Baru

Lalu Muhd. Jaelani

Lalu Muhd. Jaelani

[Sasak.Org] Telah lama saya tidak mengisi kolom komunitas di website ini. Mungkin sudah lebih dari 2 tahun. Di kesempatan pagi ini, saya ingin sedikit bercerita seputar kebiasaan (sebagian) orang jepang dalam merayakan pergantian tahun. Kenapa saya perlu menyelipkan kata `sebagian`? tak lain karena saya tidak ingin melakukan generalisasi. Mungkin ada sebagian dari pembaca yang pernah mendengar atau membaca dari media, bahwa anak-anak muda jepang punya kebiasaan unik dalam menyambut tahun baru, bahkan dimulai pada malam natal. Mereka (tentu tidak semuanya), memilih memenuhi hotel hotel dan merayakan malam natal dan juga malam tahun baru bersama pasangannya. Ini untuk anak muda.

Kebiasaan di atas berbeda dari kebiasaan para orang tua atau anak anak kecil yang ikut aktivitas orang tuanya, pergantian tahun diisi dengan kegiatan yang lebih `agamis` dan jauh dari kesan hura-hura. Ya, dikesempatan ini, saya ingin menceritakan kembali sebuah pengalaman teman saya karim-san (orang indonesia yang fasih berbahasa jepang) dengan Akbar-san ( orang jepang, yang baru masuk islam 2009 lalu).

Di penghujung senja 31 desember 2012, saya dan Karim-san bersama dengan beberapa teman Indonesia sedang bermain badminton di kantor JICA Tsukuba. Saat itu, Akbar-san menelpon Karim-san dan mengajaknya untuk berkeliling. Akbar-san ingin menunjukkan kepada Karim-san, bagaimana tradisi sebagian orang jepang dalam menyambut tahun baru. Selepas makan malam di kantin JICA, Karim-san pamit dan berangkat bersama Akbar-san. Tak lupa, saya titip agar ia berbagi cerita tentang pengalaman barunya itu.

Satu hari lalu, saya dikirimi cerita ini. Cerita seputar kebiasaan orang jepang di tahun baru. Kebiasan pertama adalah sebagian orang jepang melakukan kunjungan dan sembahyang di jinjya (kuil)

Sensouji (kuil) di AsakusaSumber: dgc.ms

Sensouji (kuil) di Asakusa
Sumber: dgc.ms

Jinjya (kuil) adalah tempat ibadah orang Budha yang hanya setiap tahun baru seperti ini banyak dikunjungi oleh orang jepang. Orang Jepang yang tidak beragama sekalipun, melakukan sembahyang setahun sekali  di jinjya, walaupun itu tempat ibadah orang budha.

Pergi ke jinjya sudah merupakan tradisi masyarakat pada tahun baru, yang bertujuan untuk menolak kesialan di tahun yang lalu, dan meminta keberuntungan di tahun baru ini.

Di sensouji jinjya di Asakusa malam kemarin, sembahyang dibuka pada pukul 00:00 hingga kurang lebih pukul 03:00 dini hari. Orang datang berbondong-bondong bersama keluarga, membentuk barisan di depan jinjya menunggu giliran masuk. Menurut situs berita 30min.jp, setiap tahunnya rata-rata terdapat 3 juta orang melakukan kunjungan ke sensouji ini.

Kebiasaan kedua adalah orang jepang terbiasa melihat terbitnya terbitnya matahari (hinode) tahun baru. Jepang sangat beruntung berada di Asia Timur dan berhadapan langsung dengan samudra pasifik, yang menjadikannya negara pertama yang bisa melihat matahari `baru` ditahun baru.

Hinode pada tahun baruSumber: homepage2.nifty.com

Hinode pada tahun baru
Sumber: homepage2.nifty.com

Setelah melakukan sembahyang di jinjya pada dini hari, orang Jepang memiliki tradisi untuk melihat terbitnya matahari. Hal ini mereka lakukan dengan maksud menyambut datangnya hari pertama di tahun baru.

Terlihat banyak penduduk yang standby menunggu terbitnya matahari di gunung, pantai, atau dataran tinggi. Ritual ini masih mereka lakukan dengan keluarga.

Demikian sekilas cerita bagaimana sebagian orang jepang menyambut datangnya tahun baru. Bagaimana dengan Anda?

@lmjaelani