By   December 30, 2012

Alif..Ba..Ta..Tsa..Jim..Ha..Kha…

[Sasak.Org] Begitulah koor yang kerap terdengar saban awal malam ketika kita masih kecil-kecil dulu. Merdu sekali, bak symponi mengiringi akhir senja yang dilantunkan anak-anak kecil nan lugu, bercahayakan kilauan lampu petromaks di atas sebuah panggung permanen bernama berugaq sekenam. Ah sial..Indah sekali masa-masa itu!

Siapa nyana, huruf-huruf hija’iyah yang pernah menjadi lyric symponi kita tempoe doeloe ternyata memilik makna yang begitu besar terhadap khazanah kekayaan agama kita. Bayangkan, hanya karena huruf BA sebuah buku bisa terkarya, sebuah pemikiran bisa tercipta dan sebuah amalan menjadi berbeda. Luar biasa!!

Hari itu, ketika matahari segaris dengan kepala, saya dan beberapa orang yang lainnya berjalan menuju tempat wudhu di sebuah masjid untuk menunaikan shalat Jumat. Ketika sedang asik menikmati segarnya bagian-bagian tubuh yang tersiram air wudhu, tiba-tiba terdengar suara kegaduhan di sebelah sana. Saya mendekat lalu coba menyimak, ternyata ada perdebatan kecil. Temanya sangat sederhana, MENGUSAP KEPALA. Lho..kok mengusap kepala? Iya, temanya mengusap kepala ketika wudhu. Kedua fulan ini ternyata berdebat tentang batas dan cara mengusap kepala ketika berwudhu. Yang satu mengatakan minimal mengusap sehelai rambut, yang satu lagi kekueh dengan pendapat harus mengusap sebagian besar kepala dan telinga. Terus…Apa hubungannya dengan huruf BA?? Nah ini yang ingin saya cerita.

Perdebatan mengenai cara dan batas mengusap kepala ketika berwudhu ternyata disebabkan oleh huruf BA yang terletak pada perintah wudhu dalam surah al-Maidah ayat ke-6. Di sana ada kalimat “wamsahu Bi ru’usikum” (dan usaplah sebagian kepala kamu). Perkataan Bi yang merupakan huruf Ba berbaris bawah pada ayat itu ternyata menimbulkan interpretasi yang beragam. Ada yang mengatakan harus mengusap seperempat kepala (Hanafiah), ada yang mengatakan harus mengusap seluruh kepala (Malikiah dan Hanbaliah) dan ada yang mengatakan minimal sehelai rambut yang ada di kepala (Shafiiah). Jadi yang benar yang mana? All are right tergantung mana yang anda rasakan paling benar. Tapi ingat, jangan pernah merasa orang lain membuat pilihan salah!!

Keragaman penafsiran karena huruf Ba ini hanyalah sebagian kecil dari ragam-ragam pemikiran dalam Islam. Sebagian orang mengatakan keragaman itu adalah suatu PERBEDAAN. Tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai KEKAYAAN. Istilah perbedaan hanya menimbulkan persepsi benar atau salah, tapi istilah kekayaan mengindikasikan suatu khazanah yang harus dipelihara. Jadi keragaman dalam Islam bukan suatu perbedaan…. tapi sebuah kekayaan.

I am right..you are wrong!! Adalah suatu pernyataan yang lahir dari sikap merasa berbeda. Ketika seseorang merasa fahamannya berbeda dengan sahabat karibnya tentang perkara agama, dia menjadi hilang rasa toleran. Lalu dengan kejam dia mengatakan kepada sahabatnya “Kamu salah… Kamu syirik.. Kamu kafir.. Kamu bla..bla..bla”. Setelah itu, anda bisa membayangkan seperti apa ending dari hubungan persahabatan yang telah terbina sejak bersama-sama mendendangkan Alif…Ba..Ta.. tempoe doeleo. Tragis!!

Inilah fenomena yang lahir dari sikap merasa berbeda. Tapi mari kita coba lihat keragaman dalam Islam dari sisi kekayaan. Islam adalah sebuah agama universal. Oleh itu, setiap orang bebas memandangnya dari sudut manapun selagi tidak menafikan hal-hal prinsip. Keuniversalan Islam inilah yang membuat agama ini menjadi kaya raya.

Ketika Islam dipandang dari sudut politik, terbentuklah kekayaan Islam yang bernama politik Islam, ketika Islam dipandang dari sudut liberalisme, wujudlah kekayaan Islam yang bernama Islam liberal, ketika Islam dipandang dari sudut ekonomi, muncullah kekayaan Islam yang bernama ekonomi Islam, ketika Islam dipandang dari sudut sosialisme, lahirlah sosialisme Islam. Jadi Islam ibarat bola bening yang bisa dipandang dari sudut manapun yang anda inginkan. Hanya saja, ketika anda memandang Islam dari sudut yang menurut anda paling tepat, jangan sekali-kali merasa orang lain itu salah karena memandangnya dari sudut yang berbeda dari anda selagi orang itu tidak menidakkan hal-hal prinsip dalam Islam.

Adalah suatu HIL YANG MUSTAHAL (hal yang mustahil kaleee..) untuk menyamakan sepenuhnya sudut pandang kelompok rasionalis, tabligh, sufi dan Salafiah. Sama mustahilnya dengan menyatukan sudut pandang NU dan Muhammadiah atau menyatukan sudut pandang Nasr Hamid Abu Zayd dengan Syekh Bin Baz, Ulil Absar Abdala dengan Adian Husaini. Ini karena setiap orang atau kelompok memandang Islam itu dari sudut yang berbeda-beda, sepertimana ulama-ulama fiqh memandang huruf Ba itu tadi. Jadi apapun fahaman, mazhab atau disiplin ilmu kita. Kita tidak pernah berbeda dengan yang lain. Kita adalah satu karena kita merupakan bagian dari kekayaan dan khazanah Islam.

Zaki Abdillah –KLU-

One Comment on “Intip Kekayaan Islam Dengan Huruf BA Yk!!!

Leave a Reply