By   June 23, 2009

[sasak.Org] Sejak gerakan Reformasi tahun 1998, tapatnya 20 mei 1998 yang menyebabkan jatuhnya kekusaan orang nomer satu di tanah air yakni suharto. Dari sanalah gerakan mahasiswa berperan penting dalam membuka wacana dan tindakan protes terhadap berlansungnya kekuasaan nergeri yang korup di negeri ini. Hingga kini perjuangan mahasiswa masih berperan aktif dalam pengawasi dan memantau perjalanan negeri ini yang di jalakan oleh pemerintah yang kiranya sesuai dengan keinginan dan kemauan hati nurani rakyat Indonesia.

Namun, amat disanyangkan orde baru yang sudah lewat dan era reformasi masih terus berjalan hingga kini. Selalu ada kekuasaan yang memegang loyalitas refomasi yang mengatasnamankan rakyat, golongan atau kelompok terntentu dan mahasiswa. Hal ini di lakukan  agar bisa menyikut lawan pesaing yang lain dalam memperebutkan simpatis terhadap rakyat sendiri. Sekarangpun beragam golongan, kelompok dan berpuluh-puluh partai yang mengerti arti reformasi, konstitusi dan reformasi total berdasarkan pancasila. Meski perubahan mungkin banyak terjadi tapi tak banyak yang mampu memperbaiki kehidupan rakyat tanah air sendiri.

Dalam buletin Mahasiswa sebuah kampus swata di jogjakarta pada November tahun 1998. mengatakan, terkait dengan runtuhnya era suharto peran mahasiswa hanya 5% sedangkan sebagian besar di mainkan oleh (pialang binis) internasional sebanyak 50% dan sisanya ialah para penyandang dana (Funding) internasioanal 45%. Sungguh ironis memang mahasiswa yang turun kejalan, bersuarakan atas nama rakyat. Namun, selalu ada pihak baik dalam negeri maupun luar memafaatkan kesempatan dalam kesempitan. Untuk mengambil keuntungan peran politis nya.

Melihat kondisi  mahasiswa yang dulunya berperan penting dalam pergerakan reformasi. Kita dapat melihat dua hal yang menjadi kelemahan Mahasiswa. Pertama aksi reformasi mahasiswa yang turun kejalan ialah bentuk dari reakreasi politik atau trend demokrasi atas ketidak puasaan pemerintah kepada rakyatnya, dan tidak jarang sikap anarkis seolah-olah merupakan bentuk dari komunikasi demontrasi yang Gagal. Kedua, mahasiswa terpisah dari potensi kekuatan rakyat, dan inilah yang merupakan yang paling pokok yang di lupakan oleh mahasiswa.

Untuk memulai suatu pergerakan, tentunya Mahasiswa harus membentuk golongan mahasiswa yang benar-benar mengerti tentang peran mahasiswa dalam membangun Pemerintah yang demokratis. Kemudian memahami aspek-aspek penting dalam berinteraksi sosial dalam masyarakat dalam sudut padang ekonomi menyeluruh. Yang kemudian mencari nilai-nilai sejauh mana pemerintah memberikan pelayanan terhadap rakyatnya. Serta mengkrucutkan ragam bentuk keinginan suara hati rakyat suatu bangsa yang dalam bentuk  satu misi dan visi memperjuangkan rakyat dalam kaitan membangun pemerintah yang demokratis bagi rakyatnya. Mahasiswa  sebagai pemuda bangsa yang nantinya akan kembali ke masyarakat juga tentu harus mampu dan bisa memberikan pengaruh yang baik untuk setiap kelompok dan golongan masyarakt untuk tetap bersatu. Dan Bernaung dalam satu atap bangsa ini.

Posisi sosial Mahasiswa di Indonesia,   sejak tahun 1971 hingga sekarang. Berdasar dokumen yang diterbitkan oleh Program Pengelo­laan dan Pengembangan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Yang pertama kali meluncurkan program ini ialah UGM (Univesitas Gajah Mada). Hingga tahun kuliah 1973-1974 yang melibatkan 13 universitas di 13 propinsi yang ambil aktif dalam program ini.Hal ini adalah salah satu langkah peran mahasiswa untuk berkesempatan melihat lansung dan berinterkasi dengan kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Dengan manggalakan program yang dikiranya tepat untuk lokasi KKN, diharapakan mahasiswa mampu memberikan arahan dan bimbingan serta metode dalam menerapkan pikiran-pikiran sosialnya terhadap masyarakat.

Jika kita melihat kilas balik pendidikan bangsa ini, pendidikan hanya mampu dirasakan oleh keturunan belanda dan kalangan bangsawan. Dan kondisi yang sekarang tentu lebih baik, dimana semua element golongan apapun berhak mendapatkan pendidikan. Namun, tetap saja pendidikan di negeri ini masih berlum merata. Hingga  masih dirasakan pendidikan hanya mampu di rasakan oleh masyarakat yang relative mampu secara ekonomi.

Dengan menyadari hal demikian. Mahasiswa harus lebih memperkuat perjuangan organisasi dalam lingkup mahasiswa sendiri, mahasiswa harus mulai mengorganisasikan dan memperkuat organisasi-organsisi karena telah tebukti perjuangan dari organisasi mahaiswa yang teroganisir sudah mampu membuat perubahan bagi bangsa dan rakyat secara menyeluruh. Oleh karena itu mahasiswa harus menyusun kekuatan dan memperbanyak silaturhami antar organisasi sesama Universitas baik negeri dan swsta di tanah air ini. Kekalahan mahasiswa dan raktyat adalah kuranganya organisasi yang tangguh, padahal yang di hadapi ialah kekuatan luar biasa teroganisir.

Dengan demikian terbentuknya kekuatan dari mahasiswa yang mampu menyuarakan suara rakyat akan mampu memberikan peran mahasiswa sendiri dalam membangun pemerintahan yang benar-benar adil terhadap rakyatnya secara menyeluruh.

Abdullah Al Muzammi, sasak diaspora regional Jokyakarta