By   December 31, 2012

[Sasak.Org] Andai kita bertanya pada anak-anak kita, “Nak mau duit 1000 rupiah gak?” Kira-kira apa ya jawab mereka? Mungkin mereka akan bilang “yeee amaq… emang 1000 rupiah cukup buat main PS2 dua jam? Cape deh!….. ” (sambil sik anak pegang dahi….)

Kira-kira begitulah gambaran nilai duit 1000 rupiah sekarang. Sama sekali tidak bernilai. Jangankan untuk beli pelecing, untuk beli seikat kangkung saja masih kurang. Tapi walau begitu, jangan pernah anggap enteng duit 1000 rupiah kendati nilainya sangat kecil. Justru dengan value yang rendah, yang bisa menyebabkan seseorang hampir tidak peduli dengan duit yang kerap lusuh ini, bisa membuka kesempatan untuk kita mengumpulkannya melalui sebuah system yang bernama WAQAF. Apa sih waqaf itu?

Sementara orang memahami waqaf ini hanyalah sebidang tanah yang harus dibangun di atasnya masjid, mushallah atau madrasah. Sehingga jarang kita mendengar ada istilah rumah waqaf, baju waqaf, computer waqaf, apalagi iPad waqaf. Hatta duit sekalipun jarang dikaitkan dengan waqaf, selalunya dihubungkan dengan sedekah atau infaq. Waqaf produktif juga ibarat barang langka bagi sebagaian orang di kalangan kita. Entah karena orang malas mengkajinya, atau karena memang bukan subjek yang keren untuk dikaji.

Saya tidak akan menguraikan definisi waqaf secara detail dalam coretan ini. Cukup hanya mengatakan bahwa waqaf tidak hanya sebatas tanah. Manfaat tanah waqaf juga tidak hanya terbatas pada membangun bangunan-bangunan tertentu di atasnya (tapi tergantung niat yang memberi waqaf). Membangun tower Telekomsel di atas tanah waqaf juga tidak ada masalah. Asalkan biaya sewanya untuk kepentingan umat. Nah uang sewa bangun tower ini juga bisa dijadikan modal untuk memperbanyak lagi produk-produk waqaf, misalnya membeli Ruko, tanah atau apa saja asal jangan untuk biaya facebookan…

Sistem waqaf yang unik ini membuat saya terpaksa menghitung-hitung angka dalam otak saya. Jumlah umat Islam di NTB sekitar 3.699.018 orang (Sumber, NTB dalam Angka 2010). Katakanlah ada satu juta umat Islam di NTB. Dari satu juta ini kita collect 1000 rupiah per orang tiap-tiap bulan. Maka kita akan memperoleh 1 miliyar perbulan! Kalau satu tahun?! Nah, dengan dana waqaf 1 miliyar perbulan ini kita bisa investasi apa saja untuk menciptakan produk-produk waqaf yang kelak bisa dimanfaatkan oleh seluruh umat Islam di NTB.

Cara mengumpulkannya bagaimana?

Kita buat tabung-tabung waqaf di setiap masjid yang bertebaran di seluruh NTB dengan harapan agar bisa diisi setiap hari Jumaat. Sambil melakukan sosialisasi tentang dahsyatnya waqaf melalui khutbah-khutbah Jumaat.

Kedahsyatan waqaf ini membuat saya tidak heran tentang gambaran kehebatan umat Islam pada zaman Khilafah Utsmaniah. Pada waktu itu setiap orang dilahirkan di rumah waqaf, tidur dengan ajon waqaf, membaca buku-buku waqaf, sekolah gratis di sekolah-sekolah waqaf, mengajar di sekolah-sekolah waqaf, menerima gaji dari pekerjaan mengurus waqaf, ketika mati segala urusannya jenazahnya dibiayai dengan dana waqaf bahkan kuburannya pun berada di atas tanah waqaf. Huh..dahsyat!!

Skim waqaf ini juga telah lama menjadi sumber pembiayaan alternatif beberapa perguruan tinggi ternama di dunia. Al-Azhar misalnya. Hampir sebagian besar dana operasionalnya adalah produk waqaf. Pada tahun 1986 universitas tertua di dunia ini (berdiri tahun 969M) menganggarkan 147.324.300 pound untuk biaya seluruh aktifitas pembangunan dan pendidikan termasuk biaya operasional 55 fakultas dengan 6154 pegawai dan pendidik. Semuanya itu berasal dari produk waqaf.Hebatnya lagi, system waqaf ini ternyata tidak hanya popular di negara-negara Islam. Di Barat pun produk waqaf ini telah lama menjadi sumber alternative. Merton collage, London yang didirikan oleh Walter de Merton, ternyata system pendanaannya menggunakan skim waqaf atau endowment!!

Pada tahun 2003 The Sutton Trust dalam hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa 10 perguruan tinggi ternama di Amerika telah berhasil mengumpulkan dana sebanyak Rp. 915 triliyun melalui sistem waqaf. Dan pada tahun 2008 Times Higher Education merilis bahwa TOP TWENYY atau 20 perguruan tinggi papan atas di dunia memiliki sumber dana dari produk waqaf.

Lalu bagaimana dengan kita? Ahh..Kita telah jauh tertinggal di belakang, padahal nyaris tidak ada seorangpun di antara kita yang tidak mengenal apa itu waqaf. Mandulnya system waqaf bukan karena kita tidak tahu, atau bukan karena kita ogah mengeluarkan duit 1000 perak yang tidak berharga itu. Persoalan kita hanyalah pada trust (amanah). Orang-orang yang memiliki sifat trust ibarat barang antik, susah ditemukan. Tapi bukan bermakna di kalangan orang-orang Sasak atau Sumbawa tidak ada. Banyak! Hanya mungkin mereka belum terlihat.

Selain krisis trust atau amanah, ada satu lagi kendala paling dahsyat yang sering kali menjadi biang kerok dalam setiap kegagalan kita yaitu penyakit jiwa yang bernama Warm Warm Tie Chicken (silakan terjemahin sendiri ha..ha..ha.. )

Zaki Abdillah –KLU-

3 Comments on “Membangun NTB Dengan Waqaf 1000 Rupiah, Mungkinkah?

Leave a Reply