Home Seni dan Budaya Mitos Jodoh di Jembatan Cinta Desa Pengadang, Lombok Tengah

Mitos Jodoh di Jembatan Cinta Desa Pengadang, Lombok Tengah

Jembatan Cinta di desa ini sangat indah.
Oleh : Lutfi Dwi Puji AstutiKusnandar (Mataram)
VIVA.co.id – “Jembatan Cinta” begitulah warga Desa Pengadang Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah menyebutnya. Jembatan dengan panjang kurang lebih 30 meter dan lebar 3 meter ini merupakan jembatan penghubung antara dua Dusun yakni Dusun Macan dan Dusun Tanjong.
Kedua dusun tersebut terletak di kawasan perbukitan, dengan sebuah sungai bertebing batu setinggi 20 meter yang memisahkan.
Terdapat kisah unik dibalik penyebutan nama jembatan tersebut hingga menjadi Jembatan Cinta. Konon dikisahkan, mayoritas kehidupan masyarakat dari kedua desa merupakan petani dan pemancing ikan.
Antara masyarakat dari Dusun Macan dengan Dusun Tanjong tak saling mengenal satu sama lain hanya sebatas tatap pandang. Di antara masyarakat dari kedua dusun saling melontar kata dari kejauhan dengan jarak pandang yang terhalang bentangan sungai besar nan deras.
Saat itu tidak ada jembatan penghubung antara kedua dusun tersebut. Adapun akses penghubung antara kedua dusun yakni dengan berputar menyusuri
beberapa desa lainnya dengan jarak tempuh kurang lebih 15 kilometer berjalan kaki.
Hingga suatu waktu, di tengah aktivitas masyarakat kedua dusun turun bukit menjalani keseharian untuk memancing dan bertani. Seorang pemuda
dari Dusun Macan jatuh hati dengan gadis dari Dusun Tanjong. Kedua pasangan itupun kerap saling melontar senyum juga kata dari kejauhan.
Keduanyapun saling jatuh hati meski berjauhan.
Menurut cerita yang dilansir dari tulisan legenda salah seorang tokoh masyarakat ditempat tersebut, dikisahkan kedua pasangan yang saling
jatuh cinta itu bersikeras untuk bisa bertemu dan saling bersentuhan.
Bongkahan batu dan batang-batang kayu dikumpulkan, ditumpuk untuk dibentangkan sebagai jembatan penghubung antar kedua dusun.
Usaha demi ingin bertemu itupun menuai perhatian dari warga sekitar yang kemudian membantu secara bergotong-royong.
“Mereka bangun sendiri jembatan setapak dari batu, batu-batu kecil, ditumpukkan dan kayu juga. Sampai kedua pasangan saling kasih ini bertemu lalu menikah dan bahagia. Anak cucunya yang sekarang-sekarang
ini menjadi tetua masyarakat di sini,” ujar Ansyori salah seorang tokoh masyarakat setempat.
Tak hanya cerita unik itu. Tepat di samping jembatan juga terdapat air terjun nan indah dengan jarak pandang yang cukup dekat dari sisi jembatan. Di balik air terjun terdapat gua yang cukup besar dan terlihat cukup seram karena banyak dihuni kelelawar.
Seiring perkembangan pembangunan, pemerintah melalui aparatur desa setempat membangun jembatan tersebut dengan permanen. Jembatan
setinggi 25 meter itu tepat terbentang di sisi air terjun.
Uniknya dari jembatan tersebut, muda-mudi  sering datang. Tidak hanya dari desa yang kini saling terhubung. Entah percaya atau tidak menurut mitos desa setempat, barang siapa yang memiliki perasaan saling mencintai antara pria dan wanita, kemudian bertemu pada jembatan tersebut maka akan berjodoh.
Namun mereka yang cintanya bertepuk sebelah tangan, kabarnya tidak akan pernah bertemu. Meski faktanya, cukup mudah menemukan orang yang kita
cari pada jembatan selebar lima meter tersebut.
Karenanya tak jarang mereka yang meyakini dan menjalankan mitos itu banyak yang telah menikah. Hingga kini dijuluki sebagai jembatan cinta. Seperti disampaikan Wati salah seorang warga yang pernah membuktikan mitos tersebut. Wati yang kini menjadi ibu rumah tangga dari keluarga yang bahagia dengan tiga orang anak dan suami yang sayang padanya.
“Saya salah satunya yang pernah membuktikannya. Jembatan ini dulu tempat kami ketemu, sampai akhirnya saya dilamar suami saya. Tidak cuma saya, banyak yang sudah menikah juga setelah ketemuan di jembatan ini,” ceritanya seakan bernostalgia mengingat kenangan pertemuannya di jembatan cinta.
Tidak sulit untuk sampai ke jembatan ini, akses menuju lokasi bisa ditempuh melalui salah satu dari dua dusun di desa pengadang tersebut. Keramahan warga setempat tentunya akan menuntun anda untuk sampai ke lokasi tanpa dipungut biaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Inaq Amaq dalam bahasa Arab

Saat membahas salah satu kitab fiqh, sampailah pada bab tentang kadar air untuk bersuci. Saya tertegun ketika sampai pada kata إناء (inaaun). Yang berarti...

Mengunjungi Desa Marong dan Sade di Lombok

Lombok, sebuah pulau yang secara geografis terletak di kepulauan Sunda Kecil atauNusa Tenggara bisa dicapai dengan melintasi Selat Lombok selama 4,5 jam dari Bali. Dengan...

Wayang Sasak Amaq Darwilis Menembus Amerika Serikat

LOMBOK BARAT, KOMPAS.com - Wayang Sasak merupakan satu dari beragam kesenian tradisional yang ada di Lombok. Selain dinikmati sebagai seni pertunjukan, wayang kulit kini...

Belajar Wisata ke Pulau Lombok

Pekan lalu, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Pulau Lombok. Kebetulan, 9 Februari lalu, Bontang Post mendapatkan penghargaan bergengsi Indonesia Print Media Award (IPMA). Koran...

Gili Nanggu, Pantai Paling Asyik di Lombok

LOMBOK.- Lombok tidak hanya Senggigi dan Gili Trawangan. Jika menginginkan pantai yang sepi dan asyik untuk berenang, Gili Nanggu wajib dikunjungi. Pulau yang terletak di...