7 Keistimewaan di Lombok

Keanekaragaman adat dan budaya Indonesia sangat terkenal di dunia. Setiap provinsi di Indonesia pasti memiliki ciri khas budaya tersendiri, begitu juga adat dan budaya masyarakat di provinsi Nusa Tenggara Barat.

Inilah 7 fakta keistimewaan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

1. Pulau Seribu Masjid

Julukan Pulau Seribu Masjid bermula dari Effendi Zarkasih saat sedang melakukan kunjungan kerja Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama pada 1970 silam. Kunjungan kerja yang ia lakukan kala itu untuk meresmikan Masjid Jami’ Cakranegara.

Effendi merasa terkesan melihat banyaknya masjid yang berdiri di Pulau Lombok. Penduduk yang mayoritas beragama Islam, membuat banyak berdirinya masjid-masjid megah dan mewah akan dengan mudah dijumpai di setiap desa di sepanjang perjalanan di pulau Lombok ini.

2. Budaya Pernikahan yang Unik

Pernikahan adat di Lombok cukup aneh dan unik. Pernikahan adat Lombok ini dikenal dengan sebutan “merarik” yang berarti melakukan pelarian. Sesuai dengan namanya merarik dilakukan oleh seorang pria kepada pengantin wanita, tanpa pemberitahuan mertua terlebih dahulu.

Pengantin pria mencuri pengantin wanita dalam artian suka sama suka dan tidak memaksa antara kedua belah pihak. Si pengantin wanita dibawa pergi selama beberapa minggu. Jika telah siap, sang pria akan meminta restu kepada mertuanya.

3. Beragam Rumah Adat dan Suku Sasak Menjadi Ikon Kebudayaan Lombok

Banyaknya bangunan tradisional berupa rumah adat merupakan salah satu bukti dari keunikan ragam budaya Pulau Lombok.

Terdapat beberapa rumah adat di Provinsi Nusa Tenggara Barat, yaitu: rumah adat Dalam Loka, rumah adat Bale Bonder, rumah adat Berugaq Sekepat, rumah adat Bale Lumbung, dan rumah adat Bale Jajar. Seperti rumah adat di daerah lainnya, rumah adat di Nusa Tenggara Barat juga mengandung makna dan filosofi sendiri.

4. Plecing kangkung dan Ayam Taliwang

Kedua menu ini merupakan makanan khas dari Nusa Tenggara Barat. Plecing kangkung merupakan olahan khas NTB yang berupa olahan tanaman air. Menu ini hampir ada di setiap rumah makan di Lombok.

Meskipun tampilannya sederhana akan tetapi plecing kangkung memiliki rasa yang luar biasa. Makanan yang dibuat dari perpaduan cabai rawit, garam ini mampu menggoyang lidah siapa saja yang menikmatinya.

Penyajian plecing kangkung ini cukup unik. Jika kebanyakan plecing kangkung disajikan dalam kondisi panas namun plecing kangkung khas NTB ini penyajiannya dalam keadaan dingin dengan tambahan tomat segar dan manis.

Menu ini juga biasanya disandingkan dengan Ayam Taliwang. Ayam Taliwang sangat terkenal terutama di Lombok. Ayam taliwang ini merupakan kuliner dengan bahan dasar ayam yang sudah diberi bumbu rempah-rempah khas.

Ayam yang dipilih merupakan jenis ayam yang masih muda sehingga akan menghasilkan daging yang sangat empuk dan tulangnya mudah untuk dilepaskan. Sensasi makan pedas akan sangat terasa

5. Tugu Giri Menang, Simbol Kerukunan Antar Umat Beragama di Lombok

Sejak tahun 2013 yang lalu Lombok memiliki landmark kota yang menjadi tujuan wisata yaitu Giri Menang Town Square. Tugu yang dibangun di tengah bundaran jalan raya yang menghubungkan antara Bandara Internasional Praya dengan Pelabuhan Penyeberangan Lembar.

Tugu ini menyimpan filosofis ditinjau dari bentuk bangunannya yang mencerminkan kerukunan antar umat beragama.

Dilihat dari bagian dasar tugu yang menyerupai pura, kemudian bagian pintunya seperti gereja dan bagian paling atas berbentuk kubah merupakan simbol dari masjid.

6. Mendakin atau Nyongkol

Pakaian adat lambung yaitu pakaian adat NTB yang dikenakan khusus bagi wanita pada waktu menyambut kedatangan tamu dan pada saat upacara adat yang dikenal dengan nama Mendakin atau Nyongkol. Sedangkan untuk laki-laki memakai pakaian adat pegon.

Pakaian adat ini dipercaya dari hasil adaptasi kebudayaan Eropa dan Jawa yang dibawa ke Nusa Tenggara Barat di masa lampau. Baju ini berbentuk jas hitam sebagaimana jas biasa. Sedangkan untuk bawahannya, dipakai Wiron atau Cute yaitu batik bermotif nangka berbahan kain pelung hitam.

7. Sembahyang Waktu Telu Suku Sasak

Sembahyang waktu telu merupakan suatu kebiasaan masyarakat Muslim Lombok yang hingga kini ada. Kebiasaan tersebut ialah melakukan sembahyang hanya tiga kali saja dalam satu hari; tidak seperti lazimnya orang Islam.

Mereka hanya menjalankan salat pada siang hari (zhuhur), sore hari (ashar), dan saat matahari terbenam (maghrib). Sampai saat ini populasi orang Sasak yang menganut Islam Wetu Telu masih banyak dijumpai. Sebagian besar dari mereka tinggal di Bayan, Lombok Utara. Lainnya tersebar di Mataram, Pujung, Sengkol, Rabitan, Sade, Tetebatu, Sembalun Bumbung, Senaru, Loyok, dan Pasugulan.

Suku Sasak telah mendiami pulau Lombok selama berabad-abad. Suku sasak di NTB sendiri menjadi ikon utama daerah Pulau Lombok. Berwisata ke Lombok pasti akan mengenal tradisi sasak, mulai dari bahasa, kerajinan hingga desanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here