AMIN

Yogyakarta (Sasak.org) Pewarisan sebuah nilai kepada generasi baru sangatlah baik bila dilakukan melalui contoh perbuatan yang terus menerus dipraktikkan dihadapan mereka. Pendeknya generasi muda harus diexpose kepada perbuatan nyata agar mereka dapat meresapi dan mempelajari dengan mendalam tentang apa yang dilihat dan dikerjakan. Menangkap koruptor dan memenjarakannya tidak cukup memberi pelajaran berharga tentang haramnya korupsi sebab akar dari korupsi adalah tidak jelasnya pendirian akan yang hak dan yang bathil.

Belakangan kita menyaksikan begitu ramainya protes atas lemahnya sikap pemerintah terhadap gejolak konflik antara Indonesia dan Malaysia. Rakyat bagai kehilangan pegangan sehingga mereka bertindak tidak tertib dan melabrak siapa saja. Disaat orang kebanyakan sudah menjadi individualis dan kurang peduli pada hal hal diluar kepentingan pribadinya masih ada terlihat sekelompok orang yang punya sifat patriotik. Nasionalisme yang sudah tenggelam bersama demokrasi yang hingar bingar dengan membeli dan memanipulasi suara demi memenangkan kelompok tertentu. Kini mulai tampak dipermukaan. Meskipun hanya sedikit terlihat namun kita berharap itu adalah puncak gunung es yang dahsyat besarnya dan segera akan muncul tenaga besar dari para patriot yang akan mengangkat harkat dan martabat bangsa ini.

Semua nilai itu mulai tumbuh dan berkembang dirumah rumah. Jangan sepelekan sebuah gubuk berdinding kardus dan beratap bahan dari sampah. Sepanjang ia punya ruang dan nyaman bagi penghuninya untuk melepaskan keletihannya, ia adalah tempat yang pantas disebut rumah. Rumah adalah tempat pertama bagi setiap anak untuk merasakan perlindungan dan rasa memiliki. Bahwa ada tempat berteduh dan merasakan nilai kekluargaan yang indah. Bahwa dibawah atap itu anak anak mulai merasakan teduhnya kasih sayang orangtua dan saudaranya. Nilai nilai awal ini menentukan berapa besar harkat martabat mereka. Sebaliknya rumah mewah dengan segala fasilitas yang hanya dihuni pembantu dan pegawai akan menghasilkan anak yang tidak mempunyai rasa memiliki sebab mereka berinteraksi dengan orang yang melakukan apasaja untuk mendapatkan upah bulanan. Nilai itu ada didalam jiwa dan ia bertransfer melalui wajah teduh orangtua. Nilai itu bertransformasi dalam wujud energi yang disebut cinta kasih tanpa pamrih. Dari hati melalui mata dan kontak badan antara anak dan orangtua adalah satu satunya jalan efektif membangun manusia berkarakter kuat.

Diluar rumah itu ada masjid dan ada jama’ah yang meneruskan rangkulan kedua orangtua itu. Anak seperti dimanja oleh orangtua yang banyak sekali. Tiap jama’ah merasa berkewajiban memberi contoh langsung tentang bagaimana sebuah nilai diejawantahkan dalam kamunitas yang makin besar dan makin besar. Ketika memasuki masjid orang bersama sama mengambil air wudlu dan shalat berjamaah. Satu bahu berhimpit satu dengan lainnya, kaki kaki bersentuh satu dengan lain, rapat dan menyatu, UNITED!. Mereka mendengar dengan hati, sang imam melafalkan surat wajib bernama Al Fatiha. Setelah itu merekapun melafalkan sendiri sendiri surat yang sama dengan perlahan dan dari lubuk hati yang dalam. Surat pembuka itu terdiri dari tiga bagian yang semua orang Islam yang berkomitmen maupun yang tidak peduli, hafal diluar kepala.

Setelah Basmallah maka dapatlah kita lihat bagian pertama yang terdiri dari tiga hal yang merupakan deskripsi tentang Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. yaitu
1.Pencipta
2.Pemberi rezeki
3.Hakim dihari kemudian

Bagian kedua adalah deskripsi tentang kewajiban kita kepada Allah SWT
1.Beribadah kepadaNYA
2.Memohon perlindunganNYA
3.Memohon petunjukNYA

Bagian ketiga adalah deskripsi jalan lurus yaitu
1.Jalan yang dieberi nikmat
2.Bukan jalan orang yang terkutuk/dimurkai
3.Bukan jalan orang- orang yang sesat

Semua anak kecil, yang muda sampai yang sudah tua sekali berseru serentak dengan melodi yang menggetarkan setiap hati yang medengarnya. Seruan itu berkata , Amiiiiiiiin. Diucapkan dengan tegas dan jelas segera setelah sang imam menyelsaikan bacaan Al fatiha itu.

Kita semua tahu arti amin, yaitu membenarkan, menyetujui dan mengharapkan terpenuhinya semua deskripsi itu. Berpa ratus atau ribu kali masing masing dari kita mengamini/ membenarkan pernyataan tentang siapa Tuhan kita itu dan bagaimana kita mesti melaksanakan kewajiban kita kepadaNYA. Serta yang mana yang disebut jalan lurus itu. Kita tahu dan yakin hakkul yakin akan kebenaran atas semua itu, maka kitapun berseru amin. Pernyataan itu hendaknya kipegang erat erat dan dipatri didalam hati sanubari sehingga kita tak gampang dipermainkan oleh godaan godaan kecil sampai yang besar.

Dewasa ini ummat Islam telah terjerumus dalam hidup bergelimang hutang, kalau dosa sudah tak dapat dihitung tapi hutang yang terus menumpuk membuat telinga kita pekak dan mata kita silau oleh pikat uang dan harta sehingga jendela hati itu telah buram dan jalan lempang itupun tak lagi kita kenali. Kita bagaikan meraba raba dalam kegalauan pergulatan bathin dan akal yang menumpul didalam dunia yang makin buram.

Orang barat telah capai dipermainkan oleh gaya hidup yang jauh dari deskripsi yang kita baca 17 kali sehari itu. Sehingga mereka mencari jwaban ilmiah atas persoalan hidup yang makin runyam. Lahirlah kelompok kelompok, sekte sekte yang mencari jalan ketentraman. Mereka mulai merancang rekonstrukis diri dengan konsep membangun Body, Mind and Soul. Sekarang kita yang sudah 1500 tahun diajarkan untuk memulai dengan menjaga Iman agar terstrukturlah hidup kita. Mulai mengikuti cara berfikir dan gaya hidup orang barat dan dengan bangga menyuguhkan program yang aneh demi membangun tiga bagian dari sang manusia. Jasmani dan rohaninya kita telah terbangun sejak kecil tetepai hilang begitu saja bak hujan setahun hilang oleh kemarau sehari. Karena kepongahan kita mengabaikan nilai milik sendiri.

Kita mulai menjadi sekelompok meanusia yang rapuh, mudah marah, mengamuk dan mengacungkan senjata dengan menyebut Tuhan yang sudah tidak kita kenali dengan baik. Pada bulan Ramadhan ini saja berapa banyak yang mati berkelahi karena amuk massa dan pertengkaran atas nama kebangsawanan yang tak bernilai apapun ditukar nyawa orang. Hal buruk itu terus berlangsung seolah tiada kesanggupan kita untuk hijrah dari keterpurukan.

Mari kita renungkan tujuh ayat yang dihafal semua anak kecil itu, dan kita tegaskan ucapan kita dengan melodi indah dan merasuk lebih dalam kelubuk hati agar body kita bisa disiplinkan dan tidak main kaplok sembarangan. Agar jiwa kita dapat melihat dengan terang benderang tentang kebaikan dimana mana, agar kita membedakan kebathilan dan kebaikan dan agar kita saling mentransfer energi kasih sayang antar sesama jama’ah yang tergabung dalam paduan suara indah nan merdu itu. Heroisme, nasionalisme, kejujuran, kesatrian, kewibawaan sampai kepemimpinan dimulai dari pemahaman dini akan Sang Halik dan kewajiban kewajiaban kepadaNYA serta komitmen berada dijalan lempang. Amiiiin Ya Rabbal alamin!
Wallahualambissawab

Demikian dan maaf
Yang ikhlas

Hazairin R. JUNEP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here