Bebai, Si Anak Tuselak

=LOMBOK era 1930an=

BEBAI, SI ANAK TUSELAK (LEAK LOMBOK)
Oleh Buyung Sutan Muhlis.

Di tahun 1934, Johan van Ravenzwaay, seorang penulis Belanda, mengembara di Pulau Lombok. Ia datang di Bulan Maret. Kapal yang ditumpanginya berlabuh di pantai Ampenan.

“Saya menemukan negeri dengan keindahan dan kesuburan yang tidak biasa, sehingga bisa menyaingi Bali yang terkenal sekalipun. Hamparan sawah kuning keemasan membentang di sepanjang broad military road yang berkilauan dan berwarna indah dengan latar belakang pegunungan biru yang tinggi. Desa-desa yang bagus dihuni oleh ras orang-orang cantik yang berbicara dalam bahasa merdu, dan udara dipenuhi dengan dering lonceng kuda-kuda pengiring dan peluit merdu gerombolan merpati yang telah dilepaskan dan dengan warna biru transparansi, berputar di langit. Dan jauh di atas pulau kesuburan dan keindahan ini melayang-layang di puncak Rinjani, gunung suci Lombok, yang menjulang hampir empat ribu meter, tempat duduk para dewa yang sejati, tenteram dan tak tersentuh,” tulisnya menuturkan kesan pertamanya saat menginjakkan kaki di Pulau Lombok.

Dia mengaku mencintai Lombok dan memutuskan tinggal beberapa lama, untuk lebih mengenali banyak hal tentang kehidupan masyarakat setempat, termasuk adat-istiadatnya. “Dan begitulah, saya secara intensif terlibat dalam kehidupan rakyat Lombok dan bahkan mendapat kesempatan untuk menembus di mana tidak ada orang Eropa yang sampai sekarang bisa masuk ke dalam pandangan magis-gaib masyarakat animis ini,” lanjut Johan.

Ia bahkan berhasil menembus dan berinteraksi di sebuah wilayah yang ia sebut lingkungan penyihir. “Pada pandangan pertama mereka adalah orang-orang biasa, tetapi ternyata memiliki pengetahuan warisan tentang ritual dan rahasia dunia kuno, yang sebagian besar bagi kita sekarang hanya legenda,” ujarnya.

Pengalaman okultisme selama pengembaraannya di Pulau Lombok itu ia rangkum dalam beberapa cerita pendek berjudul Goden Menshen Heksen Geesten (Dewa, Manusia, Penyihir, Hantu), yang dibukukan pada 1937. “Banyak yang menggelengkan kepala ketika mereka membacanya, menyebutnya omong kosong dan fiksi. Jadi, begitulah. Mereka yang telah menulis lebih banyak subyek magis-gaib untuk orang-orang yang belum merasakan sisi tersembunyi dari banyak hal, harus menerimanya, sama seperti saya. Bagi mereka yang tahu lebih banyak, cerita pendek ini mungkin memberikan sedikit minat pada keajaiban masyarakat primitif, seperti orang Sasak dan Bali di Lombok. Seandainya bundel ini berhasil, akan menjadi insentif untuk kembali lagi ke kehidupan magis-gaib primitif bangsa-bangsa di Kepulauan Hindia,” ucap Johan menutup pengantarnya di buku itu.

Buku tipis itu telah selesai saya baca. Salah satu kisah yang cukup menarik bagi saya, tentang pertemuan penulis cerita dengan Haji Amin dari Seganteng, Cakranegara. Haji itu mengambil tabung bambu kecil yang tergantung di pinggangnya, dan meletakkannya di atas meja.

Tabung itu berisi bebai, makhluk kecil yang mengerikan. Makhluk hasil perselingkuhan tuselak atau leak Lombok. Setelah tuselak wanita hamil tiga bulan, ia melahirkan bebai yang berambut merah dengan kuku-kuku tajam, berkepala runcing, dan memiliki sepasang mata seperti tikus.

Gambaran tentang makhluk itu mengingatkan cerita seorang jurnalis senior di awal 1990an, saat saya baru menjadi wartawan. Konon, di salah satu kawasan hutan di Lombok Utara (waktu itu masih bergabung dengan Lombok Barat), sering dijumpai makhluk sebangsa liliput. Hanya ia tak menyebut namanya bebai.

Orang-orang yang memelihara anak tuselak itu, sering menjadikan mereka penjaga rumah. “Biasanya mereka dilepaskan di kebun atau di halaman, dan merekalah yang membuat suara-suara aneh ketika orang asing masuk, sehingga pemiliknya segera tahu,” tulis Johan mengutip keterangan Haji Amin.

Bebai-bebai itu diberi makan beras setiap hari. Jika tidak, makhluk itu bisa mengganggu, misalnya masuk ke dapur dan mengencingi tempat penyimpanan beras. “Beras segera rusak dan berbau busuk,” lanjutnya.

Haji Amin menjanjikan akan memperlihatkan keajaiban lainnya, dengan syarat Johan membawa gigi duyung.

“Saya ingin melakukan sesuatu untuk Anda dan menunjukkan kepada Anda sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh orang kulit putih.”

“Untuk apa Tuan Haji gigi duyung? Dan saya tidak memilikinya. Tapi jika Tuan Haji bersabar, saya akan memesannya di Sumbawa.”

Di bagian akhir Johan menulis, lontar-lontar Sasak kuno mengandung harta kebijaksanaan yang luar biasa, yang tidak kalah dengan ajaran-ajaran teosofis, “Bahkan mungkin lebih orisinal dalam banyak hal. Namun, seperti biasanya, buku-buku suci ini disimpan dan dipuja di kuil-kuil, dan diatur dalam bahasa dan bentuk yang membuatnya tidak bisa dipahami atau tidak dapat diakses oleh orang banyak.”

Lombok yang saat itu masih diselimuti atmosfer ilmu-ilmu gaib dan rahasia magis, dipaparkan Johan tidak secara congkak, sinis, dan penuh cemooh.

“Karena Eropa juga memiliki Abad Pertengahan,” tulisnya. (Buyung Sutan Muhlis)

Sumber : https://www.facebook.com/100000824591789/posts/3369206216450165/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here