Berebut sekolah favorit

Zulkipli, SE, MMSistem pendidikan yang baik menjadi syarat untuk menghasilkan didikan yang baik. Bisa jadi hal tersebutlah yang diyakini mayoritas orang tua sehingga melakukan ikhtiar maksimal agar anaknya bisa melanjutkan sekolah di lembaga pendidikan favorit.
Sejak dua bulan sebelumnya, tepatnya setelah UN, sebagian para orang tua bergerilya mencara “tukang titip”, tentu saja orang tua yang tidak yakin akan kemampuan anaknya atau sudah yakin kalau anaknya tidak akan mungkin masuk dengan cara “biasa”.
Di salah satu pembicaraan, dengan bangga salah seorang “pejabat” bercerita tentang kemampuannya menitip anaknya dan anak temennya, sampai ceritanya, kepala Kakanwil kemenag yang langsung mengontaknya, untuk menjamin bahwa titipannya dijamin di terima di salah satu madrasah negeri kaporit di Mataram.
Di tingkat SMA di Mataram, tentunya saja SMAN 1, 2, 5 menjadi target utama, baru kemudian yang lainnya. Kenapa sekolah-sekolah itu saja yang dijadikan target? Kenapa bukan SMAN 8, 6, atau Madrasah Aliyah Sekarbela, Pagutan, atau lainnya?.
Menurut salah seorang teman, mengajar di sekolah kaporit sungguh tidak ada tantangan, mereka belajar tanpa di paksa, mereka kreatif tanpa diminta, mereka mengerjakan PR tanpa lambat. “Tantangan sesungguhnya adalah seperti kamu, mengajar dengan murid yang sudah kurang minat belajar, secara kecerdasan sekedarnya, secara materi pas-pasan menjurus miskin, dengan fasilitas madrasah yang super minim” kata temen ini ke saya.
Salah seorang ustadz di Makasar mengatakan, “anak yang dari sananya cerdas, pinter, dan kaya. Ibarat terigu, kita mau dijadikan kue apasaja enak dan pas. Kalau anak yang sebaliknya, ibarat singkong, dia hanya bisa dibuat menjadi singkong rebus, goreng, dan tigapo. Jadi wajar sekolah favorit terus mempertahankan kaproitnya, karena sumber anak didiknya dari anak cerdas, pinter, dan kaya”m
Tidak ada orang tua yang ingin memberikan pemberian buruk kepada anaknya, termasuk pendidikannya. Sangat wajar sekolah-sekolah mahal laris manis, sebuah sekolah dasar islam di Mataram harus melakukan tes IQ untuk menjaring para pendaftar yang mencapai ratusan, padahal kuotanya hanya puluhan. SDN 2 Cakranegara sampai rombelnya di tambah terus agar menampung anak-anak orang kaya.
Saya belum pernah mengajar di sekolah kaporit, belum pernah merasakannya, saya sangat menikmati mengajar mereka yang mohon maaf, lambat dan kurang mampu ekonomi dan “maaf” otaknya. Saya hanya berharap, ada perubahan “before-after” dari anak didik saya.
Selamat menikmati nikmatnya mengantar anak sekolah bagi yang anaknya sekolah tahun ini.
Wallahua’lam.

6  Juli 2013,

Zulkipli Amaq Nune

2 COMMENTS

  1. tugas guru adalah memberantas kebodohan tanpa memilih2 anak didiknya,
    dan semoga para guru yg mengajar di sekolah2 biasa, selalu di berikan rahmat, hidayah dan kesabaran oleh Allah SWT, karena merekalah guru yg sebenarnya(menurut saya) mendidik tanpa pandang bulu, dan mereka yg sekolah di sekolah favorit, bisa saja pintar secara akademis, tp belum tentu cerdas dalam hidup….
    terima kasih,

  2. didalam sma terbaik belum tentu siswanya juga baik,sma yang katanya RSBI di matarampun masih ada siswa merokok,menyontek massal dan sebagainya.Saya sendiri sebagai salah satu siswa di sma tersebut merasa kecewa melihat teman-teman saya yang kurang disiplin.Sekarang ini tidak ada gunanya lagi label RSBI,semua sekolah sama saja dan semua murid juga sama.tidak ada murid yang bodoh sekali atau pintar sekali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here