Boekan Sekedar Guide (Tulisan 1)

Hazairin R Junep

Tahun 1977 aku kelas satu SMA I Selong. Pada suatu petang guru bahasa Inggris kami di SMP I Selong bapak Drs. Syamsuddin datang naik dokar mengantar seorang bule yang terdampar di terminal Pancor. Pancor adalah kota Santri tertua dan terbesar di NTB. Guru kami ini tahu betul bahwa kami adalah pelajar otodidak berbagai bahasa lewat radio internasional.
Bule itu diserahkan kepada kami entah untuk apa. Bapak guru pergi, rumah jadi hiruk pikuk. Maklum ini adalah orang asing ketiga yg nongol di Selong, sependek pengetahuanku.

Pertama perempuan Amerika dari UCLA meneliti beberapa tahun di Selong. Dia jalan kaki pergi pulang ke Gunung Kembar 2 km dari pusat kota kecilku. Kadang dia naik trail dibonceng bapak kosnya yang merupakan anak dari dokter pertama di Lombok, dr. R.Soedjono, yang punya hotel di Tété Batu.
Bule kedua seorang pemuda Jerman, suka ku lihat dia main basket sendirian di depan rumah Bupati.
Dan yang ketiga Bule tersesat ini. Rupanya dia kemalaman dan tak ada kendaraan balik ke Mataram.

Kami beri minum teh dengan gelas jumbo, dia minum sampai habis. Semua orang tertawa riuh rendah. Kami kasi lagi, minum habis lagi. Baru gelas ketiga dia normal.

Kami bercakap dalam bahasa Inggris. Aku gatal praktik bahasa Jerman dia tidak bisa. Aku tanya tanya bahasa Prancis karena belum belajar waktu itu.Dia dari kota kecil di Selatan.
Kami hubungi tetangga sebelah yg rumahnya biasa dipakai menginap artis artis ibu kota untuk dapat menampungnya barang semalam.
Setelah itu, akubtunggu tunggu, tidak ada lagi bule yang tersesat.

Tahun berikutnya aku pindah ke SMA I Mataram agar bisa belajar bahasa Jerman, Belanda dan Prancis tapi yang terakhir tidak ada. Aku terlambat dua Smestet tapi mengejar dan dapat nilai tertinggi sampai akhir.

Suatu ketika aku pergi ke pasar malam di Mataram tak jauh dari kos. Pas lihat lihat ada bule, langsung tancap tanya pakai bahasa Inggris, pucuk dicinta ulam tiba ternyata mereka orang Swiss berbahasa Prancis tapi bisa Jerman dan Italia plus Inggris. Akupun cas cis cus Inggris dan Jerman. Mereka gembira sekali sebab tak ada yg bicara dengan mereka selain dengan guide pertama Lombok bernama Alex!.

Malam kedua aku jumpa dengan perintis Study Indonesia di Universitas Hamburg, Günther Spitzing. Dia kelak adalah penulis
Percakapan Bali – Inggris – Indonesia.

Setelah pertemuan dengan turis Swiss itu dia minta alamatku dan sebulan kemudian aku dikirimkan buku Deutsch 2000 padahal itu tahun 1978!. Aku lahap buku itu dalam sehari.

Di halaman terakhir ada kartu berisi pertanyaan tentang isi buku dan bagaimana kesan sesudah belajar. Aku jawab dengan cermat, singkat, padat dan jelas. Pokoknya yang terbaik, aku cek ulang ejaan dan kalimatnya. Aku kirim ke Jerman dengan perangko dari uang laukku sebab aku masak nasi sendiri dengan keponakanku Abdul Hanan BA yang sangat ingin menguasai bahasa Inggris yang akhirnya berhasil juga.

Bulan Juni tanggal 13, 1979. Penerbit Max Hueber lewat Goethe Institut München mengirim balasan berupa hadiah buku komplit 4 koli. Hari itu pak pos datang 5 kali dengan sepeda hanya untuk mengantar kirimanku satu persatu sebab ada kiriman lain yg menumpuk dari barbagai penjuru dunia.
Materi itu sama dengan bahan kuliah S1 bahasa Jerman IKIP.

Aku menjadi relawan untuk menolong turis yg tersesat di seputar Ampenan, Meninting, Mataram sampai terminal Cakranegara. Waktu itu mereka naik angkot atau yang lebih bagus tapi sedikit, pakai rental.

Tiap minggu aku lari pagi sampai Meninting di Hotel kecil Sasaka Beach. Main di pantai sambil cas cis cus dengan bule yang berjemur.
Sampai Juli 1981 aku terus jadi relawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here