Boekan Sekedar Guide (Tulisan 2)

Hazairin R Junep

Pada hari Natal 1980 aku naik angkot ke pantai Ampenan ternyata sepi maka kuputuskan balik ke kos. Di angkot aku bertemu dengan turis Inggris, Jerman, Belanda dan Swedia. Aku bercakap sampai terminal Cakranegara. Mereka heran bahwa aku bercakap dengan baik dalam 3 bahasa.

Salah satunya adalah Mr. Robert Apte dosen Berkley. Aku bilang bahwa nanti 6 bulan lagi kita jumpa di kampusmu ya. Mereka tertawa. Aku bilang ini serius. Entah bagaimana aku bisa seperti itu. Tapi Berkley terkenal di Indonesia dengan mafia Berkley toh.

Ayahku bilang bahwa jika orang lain bisa melakukan maka aku harus bisa juga. Jika tak ada orang yang bisa melakukan maka kamu yang harus melakukannya!. Macam mana ini, tanyaku. Kau baca semua buku itu. Kalau kau tak faham sesudah 10 atau 100 kali membacanya maka kau bacalah 1000 kali.

Buku ayah satu rak dan buku kakak Muhir Junep satu tumpuk; berbahasa Jepang, Belanda, Inggris, Jerman, Spanyol, Arab, Vietnam, Rusia dan entah apalagi aku lupa. Spanyol dan Rusia di tahun 70 an siapa peduli. Aku pilih yang 4 yang pertama.

National Geography, London Calling, Radio Japan News, berbagai bulletin asing, majalah Mekantronika ITB, Aktuil, Intisari. Echo d’ Allemagne, Hello Friend, Hallo Freund dsb. Dari umur 10 udah kulalap itu. Tapi cuma kusimpan di dapur harapan sebab tak ada orang berbahasa macam macam di kota terpencilku.

Bulan Agustus 1981 aku dipanggil ke Jakarta karena lulus terbaik untuk test pertukaran pemuda Indonesia – Kanada 8 bulan.

Aku terbang dari Rembiga ke Bali dengan Twin Otter yang meliak meliuk ditiup angin. Alamak pada saat yang sama aku dapat Beasiswa untuk belajar di Sekolah Tinggi Pariwisata Yogyakarta dari turis Swiss yang aku jumpa hanya 30 menit di pasar malam itu. Aku minta maaf kepadanya, sebab aku harus pergi ke Kanada sesuai janjiku waktu umur 10 tahun di depan masjid mBung Papak Selong yg berhiaskan patung pesawat terbang diatapnya, aku akan terbang jauh. . .

Sesampai di Ngurah Rai aku dan temanku disuruh nunggu tanpa tahu jam berapa bisa terbang. Aku belum faham bagaimana prosedurnya.

Tiba tiba ada pejabat Bali lewat dan mendekati aku. Aku terangkan kalau kami mau ke Jakarta untuk program pemuda. Rupanya dia mengawal Menteri P dan K, Prof. Daoed Joesoef. Langsung kami diurus dan aku duduk di depan pak menteri. Kelak aku berkunjung ke kantornya untuk kunjungan kehormatan. Beliau pidato dalam bahasa Inggris dan Prancis mulus sekali!.

Sesudah training yang diberikan oleh pelatih Paskibraka Nasional selama sebulan di Jakarta dan Lembang, kamipun Terbang lewat Singapura, Hong Kong, Hawai dan San Francisco menginap dan tur lalu meneruskan ke Calgary Kanada. Ternyata pada 18 September 1981 bukan dalam 6 bulan seperti janjiku pada si dosen Amerika, Natal tahun lalu, tapi 8 bulan lebih, aku masuk juga ke kampus Berkley itu.

Di gerbang tiba tiba aku ditsrik kasar oleh bule dan dia marah marah. Rupanya dia pendukung OPM. Maka aku panggil temanku yang dari Sentani mahasiswa tingkat akhir Uncen, asli papua, Philemon Arobaya maju untuk bicara dengannya. Bule itu langsung diam. Philemon sekarang jadi Dubes di Amerika Latin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here