Celoteh ringan Ramadhan 10

Muhammad Roil Bilad
Muhammad Roil Bilad

Tidak ada perang dalam dongeng yang lebih dahsyat daripada bharatayudha. Selain bertempurnya manusia setengah dewa, perang berlangsung dengan ksatria, bermula dari bunyi terompet mula dan ditutup suara terompet senja. Pasukan infantri akan berlari di atas kawasetra menuju pasukan musuh dilindungi dilindungi anak-panah dari pasukan artileri di belakangnya. Terlebih lagi karena kisahnya dibumbui romantika Arjuna dan Subharda atau lima pandawa dan Druphadi. Seru sekali menyaksikannya di TV di masa itu. Terutama suara terompet perang yang mendayu-dayu, menjadi pembuka tontonan istimewa.
Suara terompet atau dentuman meriam seperti konvensi bersama menandai atau menyambut kejadian besar atau penting. Di Abu Dhabi, dentuman meriam dijadikan pertanda masuk dan keluar bulan Ramadhan. Di Kalimantan Barat dentuman meriam antako menandai mulainya musim tanam yang sangat penting bagi komunitas agraris. Masih banyak momen-momen lain yang ditandai dengan dentuman-dentuman suara meriam. Jangan lupakan kejadian besar yang tidak ada keraguan datangnya, dimulai dengan suara sangka yang menandai berakhirnya kala (sangkakala).
Bukan mercon bukan juga kembang api, tahun delapan puluhan mereka adalah barang langka. Sambutan datangnya Syawal sepanjang Ramadhan dihiasi dengan dentuman kelog. Meriam tradisional yang dibuat dari bambu, pupuler di seluruh masyarakat melayu. Kira-kira satu sampai dua meter panjangnya. Meriam bambu dibuat dengan cukup sederhana. Buku-buku bambu dikeruk sehingga membentuk seperti selongsong yang terbuka sebagai moncong di salah satu ujungnya. Bagian tengahnya dilubangi kecil sebagai lubang sulut. Bambu diletakkan miring dengan penguat pada isisi-sisinya dan moncongnya di bagian atas. Kemudian, batu karbit dimasukkan sebagai hulu ledak di dasar melalui lubang pada moncong. Bunyi dentuman diperoleh dengan menyulut api pada lubang sulut. Lalu permainan asik adu suarapun dimulai, dentum mendentum, susul-menyusul seolah sebagai rangkaian pendahulu bedug magrib. Kadang-kadang, jika ledakannya kuat sekali, api bisa tersembur dan menjulur dari moncong bambu, atau jika ledakannya terlalu kuat selonsong bambunya terpecah-belah. Prinsip kerjanya tidak jauh beda dengan senjata meriam. Bahkan jika ada benda yang diletakkan diselongsong kelog, benda tersebut akan terpental jauh seperti peluru pada meriam sungguhan.
Permaianan meriam bambu seolah jadi bagian tradisi global populer hampir di semua ras melayu, namun hadir dengan muatan lokal. Bersama teman sepermainan, meriam-meriam dipasang berjejer lalu satu per satu disulut menghadirkan dentuman bersahut-sahut. Suaranya membahana, terdengar hingga kampung tetangga. Adu suara meriam bambu antar kampungpun tidak terelakkan. Permainan anak melayu ini kini sudah hampir punah. Telinga homo sapien sapien modern sudah hipersensitif. Mendengar suara tarhim, mengaji bahkan azan yang bersahut-sahutan saja, mereka sudah mengeluh. Tidak ada lagi ruang melihat keindahan di dalamnya. Ramadhan dulu terasa penuh pesona dibandingkan kini yang semakin hampa.
Musim kelog hanya tersisa ketika saya masih sangat kecil (belum masuk SD). Saya masih takut bermain api, jadi seumur hidup hanya pernah jadi penonton permainan kelog. Tapi saya bermain peledog. Semacam pistol sederhana dari bambu. Bagian utamanya adalah tangkai bambu (diamater luar 1-2 cm) dipontong membentuk selongsong (silinder, diameter dalam 0.5-1.5 cm), kira-kira sepanjang 20-35 cm. Bagian keduanya adalah sumpit bambu pejal (tidak berlubang) dan bergagang. Sumpitnya harus masuk leluasa ke dalam selongsong, dan panjangnya setengah atau satu senti lebih pendek dari selongsong, tidak termasuk gagang. Persiapan penggunaannya cukup sederhana. Sumbatkan kertas basah (sebagai peluru) yang cukup memenuhi ukuran diameter dalam selongsong, lalu dorong ke ujung menggunakan sumpit sehingga menyumbat ujung selongsong. Kemudian dengan cara yang sama, masukkan peluru kedua dan dorong dengan sumpit. Kini, mendorongnya agak tertahan karena udara di dalam selongson menekan balik. Jika terus ditekan, peluru pertama akan melenting keluar disertai suara dorrr. Selain kertas basah, pelurunya bisa dari kelopak bunga pohon jambu, atau bunga dari beberapa jenis rumput yang saya lupa namanya. Peledog kemudian bisa dipakai sebagai senjata untuk permainan perang-perangan anak-anak kecil. Sedangkan kelog umumnya dipakai untuk yang sudah remaja.
Adalagi senjata rahasia yang bernama solup. Hanya berupa selongsong bambu. Pelurunya menggunakan biji kering buah randu. Dipakainya hanya dengan ditiup. Kalau terkena, perihnya lumayan; tapi tidak sampai terluka. Hanya perlu sedikit hati-hati karena berbahaya bila terkena mata.
Begitu banyak mainan-mainan tradisional yang dimainkan ramai menunggu berbuka sembari menyambut datangnya bulan Syawal. Kini, alat-alat ini sudah tergeser dengan mainan-mainan murah dari China atau mainan-mainan brandi dari Eropa dan Amerika.
Sedikit berbahaya namun cukup kreatif. Supaya tidak kalah dengan panah Arjuna (saudara tertampan pandawa lima), anak-anak sekolah membuat panah sederhana. Anatominya sederhana: ibu jari dan telunjuk sebagai busur, karet gelang sebagai peregang dan lidi sebagai anak-panah. Tidak jarang anak panahnya dibuatkan ekor yang merumbai agar bisa melesat sempurna dengan lurus. Namun, tidak seperti panah Arjuna yang dipakai menyabung nyawa. Panah ini sering dipakai ungkapkan cinta. Di kertas yang merumbai-rumbai dituliskan “Ae lop yu” tertuju pada siapapun yang terkena panah asmara.
Edisi ngabuburit di kampung Jurong East, Singapura
15 Ramadhan, 1436 Hijriah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here