Celoteh ringan Ramadhan 11

Muhammad Roil Bilad
Muhammad Roil Bilad

Banyak pesona lembut/halus (subtle) dari Al-quran. Mendiang kakek saya adalah seorang pecinta ilmu. Dia bukan tuan guru, ustadz atau kyai; hanya petani biasa, paling mentok cuman guru ngaji di surau. Meski made in kampoeng, dia juga mengglobal. Dia penganut sejati moto UNESCO, lifelong learning, yang senada dengan kata mutiara arab utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi, berguru seumur hidup. Di usia lewat paruh baya, dia masih rajin membaca Al-qur’an dan rutin mengaji ilmu agama ke rumah koleganya yang lebih tahu. Dia seorang pecinta Al-qur’an. Tidak pernah saya melihat kebahagian terpancar diwajahnya melebihi ketika saya sampaikan saya sudah lancar mengaji. Saya tidak ingat persisnya bagaimana, yang saya tahu tiba-tiba lancar.
Suatu malam di bulan Ramadhan saya berkunjung ke rumah kakek selepas tarawih. Saya lari ke pangkuannya karena saya tahu dia pasti minta untuk mengulang hafalan quran saya meskipun hanya surat-surat pendek di halaman-halaman terakhir Al-qur’an. Lalu dia mengajak saya mendengar suara lirih tadarus dari pengeras suara masjid. Beberapa saat kemudian dia menoreksi “ada bacaan yang salah”. “Ini kurang panjang,” atau “itu harokatnya salah” sambil menyebutkan masing-masing versi yang benar. Sejenak kemudian, pembaca tersebut berhenti, mengulang bacaan dan membetulkan bacaannya sesuai dengan koreksiannya. Dia terus-terusan, lagi dan lagi mengoreksi bacaan orang yang entah dimana. Karena penasaran saya bertanya, “Apakah kakek menghafal bagian yang dibaca?” Dia bilang tidak. Hanya karena sering membaca Al-quran, dia otomatis bisa. Dia tidak bisa menjelaskan. Ada pesona lembut dari Al-quran.
Suatu hari saya shalat jum’at di Masjid Jami’ Kediri Lombok Barat. Lantunan Al-qur’an imamnya merdu sekali. Sampai saya bergumam, dengan mendengar lantunan ini, ayat-nya panjang-panjang juga tidak mengapa, ada rasa damai mendengarnya. Sepulang jum’atan, istri saya bertanya, “Siapa imam shalatnya? Saya jawab “Tidak tahu saya tidak kenal, yang jelas bacaan Al-qur’annya merdu.” Dia seperti sedang menguji dan tahu pesona Al-qur’an satu ini. “Itu kan kak A,” katanya? Anggota keluarga yang sehari-hari saya kenal baik, saya hampir tidak percaya. Dia seorang hafid (penghafal Al-qur’an). Seandainya dia berceramah, mungkin saya tidak sulit mengenalinya dari warna suara. Namun ketika mengaji, seperti mendengar orang lain. Bacaannya terdengar syahdu seperti imam-imam masjid haramain. Ada pesona lembut dari Al-quran.
Pengalaman yang hampir sama, saya alami ketika saya mencoba merasakan bagaimana menjadi ‘santri elit’ di pondok. Sesekali saya ikut kelompok tarawih yang paling panjang (satu juz, satu malam). Biar tidak perlu basa-basi dengan jamaah lainnya, saya sengaja datang agak terlambat. Karena di shaf belakang saya tidak bisa melihat siapa yang menjadi imam. Saya yakin pastilah dia seorang hafidz, karena setiap malam, ayat yang dibaca untuk tarawih satu juz penuh, berganti-ganti setiap malam sampai khatam dalam satu bulan. Ketika sempat melihat wajahnya pada jeda diantara dua shalat, saya hampir tidak percaya. Sang hafid sering jualan keliling ke kamar-kamar asrama, jika bercakap biasa saya tentunya kenal dari warna suaranya.
Ada yang spesial dari para hafidz ini ketika mengimami sholat. Selain ma’mum terbawa oleh keindahan bacaannya, makmum juga tidak perlu khawatir ada kesalahan bacaan. Kalau misalnya tajwid imamnya tidak bagus kita secara otomatis menganalisa kesalahan bacaannya selama mendengarnya. Shallat menjadi terganggu kekhusu’annya. Misalnya: mad wajibnya kurang panjang, salah mahraj, qolqolahnya memantul kurang dalam, …… Sebaliknya, jika bacaannya bagus dan dimengerti oleh sang imam, ruh bacaannya terbawa ke ma’mum yang mendengarnya. Ketika dia membaca ayat-ayat tentang kasih sayang allah, berbunga-bunga rasanya; ketika dia melantunkan ayat-ayat tentang adzab, meruah rasa takut dari suaranya. Sesekali, ketika dia melantunkan ayat-ayat tentang siksa neraka, rasa takut-nya membuncah terisak-isak suara dan bercucuran air matanya. Makmum di belakangnya seolah-oleh beresonansi terbawa oleh kesyahduan sang imam berkomunikasi dengan sang Pencipta. Terbasuh rasanya kotoran-kotoran dunia yang melekat di badan oleh cucuran air mata (*). Sungguh indah; sungguh merindu. Mungkin itulah rasa iman yang bertambah ketika mendengar bacaan Al-quran bagi orang-orang yang beriman (**). Pengalaman sekilas (glimps) tersebut susah dikata, kabur tergambar, hanya bisa dirasa. Ada pesona lembut dari Al-qur’an.
Bapak saya berharap besar agar anak-anaknya menjadi pecinta al-qur’an. Jika tidak mampu menjaganya dalam bentuk hafalan, maka pelajari dengan baik. Paling tidak jadi teman setia, dengan rajin membacanya. Saya juga ingin mewariskan hal yang sama. Adore cukup gembira kalau kami sholat bareng di rumah, karena dia momen spesial tersendiri. Dia akan ikut sebisanya sepanjang surat Al-fatihah, tentunya dengan pelafalan bayinya. Sepanjang surat Al-Fatihah selalu beberapa saat mendahului saya. Mungkin dia ingin mengecek saja. Setelah dia lafalkan, saya akan ikut melafalkan dibelakangnya. Jadi dia tahu apakah benar atau salah. Sepanjang shalat, dia seperti punya kebebasan lebih, naik dari punggung, digendong dari depan atau ikut berakrobatik ria ketika rukuk dan sujud. Yang paling unik, dia selalu berhenti sebelum ayat terakhir, dan setelah saya sampai saya di kalimat “walad dooool” sebelum Mad Lazim Kilmi Mutsaqqal Kilminya selesai-inilah momennya Adore-, dengan lantang dia berucap “aaammmmmeeeennnnn.”
Kadang-kadang saya ulang-ulang langgam-langgam tilawah standard (Bayati, Shoba, Nahawan, dan seterusnya) yang diajarkan bapak agar tidak menguap dari ingatan. Sambil memangku Adore, saya baca beberapa ayat yang dulu saya pakai sebagai patokan untuk belajar. Kebanyakan dari kaset Muammar ZA, misalnya awal surat Arrahman, bagian tengah surat Al-Isra’. Beberapa kali dia di tengah-tengah bacaan, dia menangis terisak-isak, bukan seperti tangisan biasa. Saya tidak mengerti mengapa. Ada pesona lembut dari Al-qur’an.
Edisi ngabuburit di kampung Jurong East Singapura
17 Ramadhan, 1436 Hijriah. Selamat memperingati hari turunnya al-qur’an 1449 tahun hijriah yang lalu. Semoga jadi jalan menambahkan cinta kita padanya.


(*) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)
(**) “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia.” (QS Al-Anfal [8]: 2-4)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here