Celoteh ringan Ramadhan 12

Muhammad Roil Bilad
Muhammad Roil Bilad

Setiap tahun, dimana-mana juga bertindak sebagai pelakunya, saya mengamati ada hubungan terbalik antara jumlah shaf tarawih di masjid dengan jumlah hari ramadhan. Semakin banyak jumlah hari ramadhan semakin sedikit jumlah shaf jamaah tarawih. Di setiap pengamatan, sayapun teringat dengan frase “survival of the fittest.”
Berikut adalah cerita yang cukup panjang tentang sejarah survival of the fittest. Kisah perjalanan sang naturalis cemerlang Alfred Russel Wallace berpetualang di nusantara mencari spesimen biologi. Dalam petualangannya, dia memformulasi mekanisme evolusi dan bertransformasi dari ateis menjadi spiritualis.
Bagi yang malas membaca dan tertarik ke kesimpulan, bisa langsung lompat ke bagian setelah tanda “***” yang kedua.


Di pertengahan abad ke-19 ilmu biologi tertantang menjawab pertanyaan besar tentang asal-usul mahluk hidup. Dari tantangan besar ini, mengemuka Charles Darwin yang oleh sebagian orang di daulat sebagai salah satu ilmuan terbesar dalam sejarah. Dia menjelaskan mekanisme evolusi dalam bukunya “Origin of Species by Means of Natural Selection, or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life.” Teori yang sebenarnya terkristalisasi dalam surat kepada Darwin dari si elegan ALFRED RUSSEL WALLACE pada tahun 1858. Seperti yang dikatakan sendiri oleh Darwin, Wallace menjabarkannya dengan kekuatan dan kejelasan yang mengagumkan.
Frasa natural selection (seleksi alam) yang diajukan Wallace kemudian diparafrase oleh Herbert Spencer enam tahun kemudian menjadi “survival of the fittest,” secara bebas berarti “keberlangsungan hidup untuk yang tercocok/terkuat.” Frase ini kini merambah multi-disiplin, dan saya gunakan sebentar lagi untuk menjelaskan fenomena shaf shalat tarawih di atas.
Tahun 2013 kontribusi Wallace terhadap teori evolusi diangkat kembali setelah 100 tahun kematiannya. Figur dan pengakuannya lama terkubur karena berbagai faktor, salah satunya adalah agenda kaum materialis yang anti agama. Pada akhirnya, waktulah yang mengungkap kebenaran, menyingkap rahasia dan menjawab semua pertanyaan.
Darwin telah berkontemplasi selama dua puluhan tahun sebelum menerbitkan buku “The Origin.” Yang mengagumkan, teori Wallace dipercaya lebih akurat dengan teori seleksi alam paling mutakhir. Kontemplasi panjang Darwin terkulminasi dalam surat yang ditulis Wallace kepadanya. Pandangan Wallace adalah momen eureka yang membantunya menjelaskan mekanisme evolusi melalui seleksi alam. Pandangan sekuler Darwin mendapatkan momentum besar diadopsi oleh materialis sebagai dasar untuk menihilkan peranan Tuhan sekaligus menyerang theis (penganut agama). Untuk tujuan ini, teori-teori turunan dijabarkan agar terlihat kohesif dan konvergen sehingga sampai sekarang, kurikulum biologi sekolah mencantumkan bab tentang teori evolusi dan mengesampingkan pandangan Wallace. Dia seolah-olah menjadi tokoh pinggiran dan abal-abal yang diabaikan lebih dari satu setengah abad lamanya.
Tidak seperti Darwin yang lahir dari keluarga berada, terdidik, bangsawan dan punya pengaruh kuat di kerajaan Inggris; Wallace lahir dari keluarga yang bangkrut. Dia dibesarkan kakaknya dan pendidikannya tidak sampai lulus sekolah menengah. Di sisi lain, dia adalah pecinta alam, pelajar mandiri (a self-taught man), ditempa alam diasah pengalaman. Untuk bertahan hidup Wallace bekerja sebagai tukang surveyor, lalu sebagai pengumpul spesimen biologi (serangga, burung, dll). Pekerjaan yang membawanya menjadi petualang selama 16 tahun (4 tahun di Amozon dan 12 tahun di nusantara), menjadikannya penulis ulung dan (yang tidak dinyana) kini membuatnya diakui sebagai ilmuan besar sejajar dengan Charles Darwin.
Kecintaan dan kekaguman Wallace kepada alam, budaya dan manusia dan ketelitiannya mengamati alam menelurkan berbagai karya fenomenal dan penemuan-penemuan besar. Seperti dalam memoir perjalanannya “The Malay Archipelago,” dia mengamati perbedaan mencolok antara jenis-jenis hewan pada dua rentang demografis nusantara. Terutama ketika hanya menyebrang 80 km antara pulau Bali dan pulau Lombok. Dia lalu mengajukan sebuah garis imajiner yang kita pelajari di sekolah dengan nama “garis Wallace (Wallace’s line).” Garis ini membagi nusantara menjadi dua bagian besar. Tidak banyak orang yang melintas selat lombok (antara pulau Bali dan pulau Lombok) yang mengetahui bahwa mereka melintasi garis Wallace, garis pembatas lempeng tektonik yang memisahkan lempeng Asia dan lempeng Australia. Jawa, sumatra, kalimantan, dulu menyatu dengan asia sebelum zaman es. Sedangkan kepulauan nusa tenggara, Sulawesi, kepulauan Maluku dan Irian menjadi satu dengan Australia.
Ketertarikan Wallace kepada tradisi dan budaya masyarakat membuatnya mendedikasikan banyak bab tentang keunikan budaya bangsa melayu dalam “The Malay Archipelago.” Tiga bab diantaranya khusus membahas keindahan pulau lombok dan budaya unik masyarakatnya. Sebuah warisan mulia bagi bangsa sasak yang berevolusi dengan budaya lisan. Sampai kini, buku itu masih kekal otentisitas nya. Klasik, tidak usang, tidak lekang oleh masa.
Dari pengalaman panjangnya mengamati alam selama hampir 16 tahun jauh dari keluarga dan kampung halaman (Inggris, perjalanan kapal 6 minggu), ketika terasing di kepulauan Maluku, Wallace menyadari bagaimana mahluk hidup berubah (berevolusi) melalui seleksi alam. Mahluk hidup berubah populasi dan jenisnya secara demografis dan menurut waktu karena yang bertahan hidup hanya mereka yang cocok dan mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi alam. Yang bertahan kemudian beranak-pinak (reproduksi), menurunkan karakter unggulnya pada keturunannya. Karakterunggul tersebut membuat keturunannya juga bertahan pada kondisi alam yang baru. Penjelasan ini diterima luas (meskipun dengan berbagai modifikasi) oleh para ilmuan mutakhir hingga kini.
Meskipun seia sekata menjelaskan mekanisme evolusi, Darwin dan Wallace tidak setuju semua hal. Darwin yang tumbuh di lingkungan religius akhirnya menolak agama (meskipun menurut penulis biografinya) masih percaya tuhan di akhir hayatnya; Wallace menemukan spiritualitas dalam petualangannya.
Mekanisme seleksi alam bagi Wallace adalah bukti desain Ilahi. Sebagaimana diformulasikan pada publikasi ilmiah tahun 1855 yang berjudul “On the law which has regulated the introduction of new species.” Makalah ini dia tulis di Serawak (kalimantan, malaysia timur) dan dikenal dengan Hukum Serawak, ditulis ketika dia terkagum-kagum mengamati perilaku orang utan yang melompat riang diantara dahan-dahan kayu ulin. Wallace menyimpulkan dalam makalah ini, “Every species has come into existence coincident both in space and time with a pre–existing closely allied species.” Hukum yang menyandingkan penciptaan dan seleksi alam dalam harmoni.
Dalam pengantar bukunya yang berjudul “Miracle and Modern Spiritualism” diterbitkan tahun 1874, Wallace bercerita bagaimana perjalanannya menerima spiritualitas dengan kutipan langsung sebagai berikut. “Rasa ingin tahu membakar semangat saya. Semakin banyak fenomena yang tidak saya mengerti kecintaan saya kepada ilmu dan kebenaran sekamin mendalam dan memaksa saya untuk terus berpetualang, mencari dan mencari. Fenomena yang saya lihat semakin banyak, semakin jelas bahwa terang-benderang, semakin jauh dari apa yang dicapai sain modern dan spekulasi tak-berdasar para filosof. Bukti-bukti tersebut mengalahkan saya, saya menyerah. Fakta-fakta itu memaksa saya untuk menerima desain Ilahi, bukan semata-mata fenomena alam. Pernah suatu masa saya merasa tidak sedikitpun dari darah dan daging saya bisa menerima hal ini. Namun, sedikit-demi sedikit saya menemukan keyakinan. Spiritualitas yang mulai saya yakini tertanam bukan dari doktrin atau teori, namun dari akumulasi fakta demi fakta yang tidak terbantahkan. Kemudian menggiring saya menerima spiritualisme.”
Perjalanan panjang Wallace tidak mudah. Ketika kembali setelah 4 tahun dari Amazon, kapal yang ditumpangnya karam di samudra pasifik. Seluruh spesimen yang terkumpul musnah. Nyawanya terselamatkan karena kebetulan ada kapal lain yang lewat. Di pedalaman papua, dia sakit parah terserang malaria dan terlunta-lunta di tanah tak tak tentu tuan. Cobaan yang meneguhkan dan menguatkan jiwanya.
Mempelajari kisah petualangan ALFRED RUSSEL WALLACE dan keuletannya mengamati alam mengingatkan saya tentang golongan orang yang dalam Al-Qur’an disebut ulil-albab. Yaitu orang – orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (dan berdo’a), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia – sia, Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.
(QS Ali Imran[3]:190). Wallace bisa jadi hanya memenuhi kriteria kedua. Mudah-mudahan selain kualifikasi pertama meskipun tidak sempurna, kita bisa belajar dari Wallace untuk menyandang kriteria kedua sehingga menjadi ulil-albab yang paripurna.


Jika saya katakan bahwa tidak ada perbedaan fisik selama Ramadhan dibandingkan dengan bulan lainnya, tentunya ada elemen ketidak-jujuran disana. Puasa selama sebulan penuh selain merubah jadwal makan, juga mengubah siklus biologis. Jadwal dan jumlah jam tidur berubah. Metabolisme tubuh berubah. Tubuh dipaksa beradaptasi serta-merta (khususnya untuk yang tidak persiapan puasa sunnah sebelum Ramadhan). Ibadah juga lebih banyak dari biasanya untuk penuhi resolusi ibadah yang ditargetkan menjelang Ramadhan. Akibatnya, kondisi fisik semakin hari kian melemah. Butuh waktu lebih dari sebulan agar bisa beradaptasi dengan sempurna dan mencapai kesetimbangan baru.
Di atas segalanya, apasih yang akan dicapai dengan puasa? Kualitas unggul pada aspek spiritual diukur hanya dengan taqwa. Sebaik-baik hamba Allah adalah hamba-Nya yang paling bertaqwa. Ibarat seleksi alam, yang tidak mampu bertahan satu demi satu berguguran. Bagi yang mengalah, Ibadah-ibadah berubah menjadi beban. Momentum besar yang bergulir di awal kini melemah, tenaga terkuras daya meredup sedang di kiri dan kanan teman-teman juga mulai berguguran. Inilah ujian yang menentukan siapa yang berhak menyandang sifat unggul Taqwa untuk dibawa pascapuasa. Survival of the fittest!
Suatu hari saya menunjukkan foto Adore dan buya-nya ke seorang teman. Sembari bercanda dia bertanya, “yang bener Il ini anakmu, kok kayak anak Cina, Jepang atau Korea? Kok bisa putih begini, ngangkat dimana?” Lalu saya berseloroh, “menurun dari bundanya. Kamu tahu kan efek rumah kaca. Bumi makin panas. Warna gelap menyerap panas, di masa depan orang hitam bisa mati kepanasan. Hitam menyerap panas, sedang putih memantulkannya. Lebih cocok untuk beradaptasi kelak dengan naiknya temperatur bumi.” Suatu hari di bandara antar-bangsa Qatar, ketika antri ruang tunggu masih pesawat, muda-mudi dari negeri Samsung menyapa Adore, “annyeonghaseyo, hellllo, annyeonghaseyo.” Ini membuat saya tersenyum dan bertanya retoris, “Man hiyal waliidah?”
Mendiang KH Zainuddin MZ (salah satu idola saya) menjelaskan fenomena shaf tarawih seperti turnamen sepak bola. Tidak sama persis dengan survival of the fittest namun menganut prinsip yang sama. Pada putaran awal seluruh peserta ikut bertanding. Namun karena sistem gugur, hanya pemenang pada putaran ini yang maju ke putaran kedua. Demikian juga untuk putaran kedua, sebagian lagi berguguran. Demikian seterusnya, hingga hanya yang terkuat yang bertahan menjadi juara.
Logika bisa sintesa seribu satu teorema. Namun, ini bukan dialektika tentang apa yang valid dari kumpulan aksioma. Ini tentang seberapa besar kita inginkan predikat taqwa.
Edisi ngabuburit di kampung Jurong East Singapura
17 Ramadhan, 1436 Hijriah.
Makalah tentang Hukum Sarawak:http://www.esp.org/books/wallace/law.pdf
Buku The Malay Archipelago:https://archive.org/details/miraclesmodernsp00walliala

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here