Celoteh ringan Ramadhan 7

Muhammad Roil Bilad
Muhammad Roil Bilad

Kecepatan kita gunakan untuk mengukur laju perubahan suatu kondisi dalam tempo tertentu. Jika perubahan kondisi-nya pasti (misalkan perjalanan dari rumah ke masjid), cepat berarti lebih singkat. Jika temponya tertentu, dan kecepatannya konstan maka semakin cepat berarti perubahan yang semakin besar.
Untuk hal-hal tertentu, kecepatan merupakan tolak ukur utama, misalkan pada lomba atletik, adu cepat berlari. Kecepatan banyak digunakan sebagai (parameter) pembanding, dengan mereduksi (mengurangi) dampak faktor-faktor lain. Misalkan motor x lebih bagus dari y karena x lebih cepat. Sayangnya dalam hal ini tidak selalu tepat. Misalkan ketika pesta demokrasi yang lewat, lebih cepat lebih baik, kalah telak oleh motto, “lanjutlan!!” Apapun mottonya, pemenang ditentukan oleh pilihan rakyat. Rakyat berdaulat, rakyat berkuasa.
Saya kesulitan mengerti beberapa penggunaan kecepatan sebagai tolak ukur kualitas sebuah kegiatan. Misalkan, meskipun saya selalu juara kelas di SD, saya sering kalah telak membaca. Akibatnya harus pulang lebih akhir. Kadang-kadang ketika guru sudah capek mengajar sedari pagi, pak/bu guru membuat lomba berhadiah pulang. Dua atau lebih siswa dipanggil ke depan kelas lalu disuruh membaca wacana. Siapa yang tercepat boleh pulang. Lomba adu cepat membaca ini diteruskan sampai lonceng tanda usai sekolah berdentang. Sebagai siswa yang lambat membaca, saya jadi jamaah penunggu lonceng.
Laiknya sang buya, Adore-pun lambat membaca. Membacanya juga unik, lebih ke interpretasi gambar. “Ini cess (princess),” katanya. Lalu menunjuk gambar lain. “Ini cinse (prince), ya, ini fog (frog).” Begitulah dia menginterpretasi buku bergambar “The Frog Prince,” Setiap objek pada gambar berusaha disebut. Lama baginya berpindah ke halaman baru karena setiap benda pada gambar itu mengguh gairahnya. Saya membayangkan sekian banyak sekenario yang menghubungkan semua objek yang dilihatnya, namun belum siap diungkapkannya dengan bahasa yang dimengerti buya dan bundanya. Saya lambat membaca karena saya berusaha mengerti apa yang saya baca.
Kecepatan juga sering disalah-gunakan untuk mengukur kualitas tarawih. Makmum bertanya dulu siapa imamnya sebelum memutuskan tarawih di masjid atau tidak. Jika bapak x yang super-letoy alamat jamaahnya sedikit. Yang ikutpun seperti ingin berteriak agar imamnya lebih cepat dengan, setelah alfatihah, mengatakan amin (“a” dan “i”dilafalkan cepat, seperti ketika memanggil pak amin) bukan seperti biasanya “aamiiin.” JIka kondisinya seperti ini, tidak sedikit jamaah yang mencukupkan tarawihnya hanya sampai 8 rakaat, bukan ala khalifah umar yang 20 rakaat.
Sesuai dengan tujuan dasarnya untuk mendaulatkan rakyat, demokrasi sangat tepat diterapkan untuk sholat tarawih. Semua orang senang. Pesantren saya dulu full spektrum: mulai dari yang super kilat, menengah (attakatsur sampai annas) dan yang lambat (satu juz semalam). Saya biasanya ikut yang menengah saja, tidak cepat tidak juga lambat. Saya beberapa kali ingin ikutan yang cepat namun selalu kecele, tertinggal. Baru sampai aula, tarawihnya sudah selesai. Padahal jarak dari asrama juga tidak begitu jauh. Konon di beberapa asrama, saking cepatnya, alfatihah selesai hanya dalam satu tarikan nafas dilanjutkan dengan bacaan surat yaasiin, tapi hanya ayat pertama saja. Rakaat kedua membaca surat al-waqiah sebagai alfatihah, namun hanya ayat pertama saja. Alif laam miim, allahu akbar. Too Haa, allahu akbar.
Sesekali saya coba ikutan tarawih yang satu jus per malam. Sebenarnya cukup sederhana. Karena satu jus ada 10 lembar (20 halaman), setiap rakaat ayat yang dibaca stu halaman sehingga tepat pada rakaat ke-20, tarawih selesai. Tarawih ini biasanya diikuti para santri elit. Terlihat alim dan memang rajin mengaji dan diimami oleh hafidz alquran. Sebagai santri yang jauh dari level itu, saya cukup gentar untuk ikutan. Namun, kapan lagi saya bisa sempat merasakan tarawih full spektrum jika tidak ikut. Akhirnya dengan daya upaya yang kuat saya pun menguatkan hati untuk berani.
Ada nuansa lain pada tarawih ini yang akan saya bagi pada celoteh ramadhan berikutnya.
Edisi ngabuburit di kampung Jurong East, Singapura
8 Ramadhan, 1436 Hijriah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here