Hobby dan Rezeki

Hazairin R. Junep

Hanoi, Vietname (sasak.org) Saya menyelusuri jalan orchard melintas di depan istana presiden Singapura menyelusuri taman kecil tapi asri penuh dengan pohon trembesi ditepian dan perdu yang dirapikan serta bunga di depannya. Pertama kali saya susuri jalan itu pada tahun akhir 1981 dan beberapa kali mengulang dan mengulang jalan jalan itu. Mungkin pohon pohon itu sudah berganti tetapi saya selalu menyempatkan untuk duduk dan bicara kepada mereka kadang kalau sempat saya memeluk pohon dan merasakan betapa hebatnya mereka itu. Saking hebatnya pohon sering dijadikan tempat bersemdi dan memohon, ya kita manusia memperalat pohon untuk menyampaikan hasrat dihati kita. Pohonlah yang kita pakai untuk bicara denganTuhan, mohon mohon dan mohon. saking sringnya mempohonkan diri, kita jadi lupa bahwa Tuhan Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Bahwa Dia mengetahui apa yang terselip dititik terdalam jantung hati kita, tanpa memperalat sebatang pohonpun untuk menutupi kelemahan kita yang selalu manja dan kolokan bila menghadapi cobaan. Kita tidak sperti pohon yang terus menjulang dan rajin menyimpan udara bersih, air dan myendiakan sayur, buah dan kayu untuk bahan bangunan.

Saya mengajak anak saya Hassan dalam perjalanan 4 negara kali ini. Saya ingin dia merasakan bagaimana saya mengabdikan diri dalam tugas agar tidak ada yang terlepas dari kewajiban. Bagaimana saya mengalami jet leg sampai hilang orientasi waktu dan arah, beberapa kali setelah mendarat di masing masing bandara dunia. Saya hanya ingin agar dia memiliki kesadaran bahwa manusia meskipun tidak sehebat pohon tetapi dapat melakukan hal kecil dengan cara besar. Saya langsung mengambil taksi sampai di Bugis junction untuk memburu perangko pesanan. Ya tugas saya kali ini hanya soal selembar perangko dan uang bekas. Saya berniaga dengan seorang babah dan nyonyah satu satunya pedagang perangko dan uang. Kali ini mereka tidak memberi diskon tapi meberi bonus untuk anak saya.

Waktu saya umur 5 tahun amax saya telah menggendong saya ke sawah agar saya tahu bagaimana anak bangsa saya berjuang untuk hidup dengan bertani. Setelah usia SD saya mampu menajaga tembakau dari ulat ulat dan dapat menanam jagung dan mengawasi panen padi. Kemudian saya dibawanya ke toko buku milik orang Arab, mungkin itulah satu satunya Arab tulen di Pancor saat itu. Setahu saya orang yang kita sebut Arab adalah orang hadramaut yang berkulit agak gelap dan badannya kecil. Tapi arab satu itu asli dengan hidung dan mata besar. Ketika SMA saya rajin membeli bukunya. Saya telah dibawa amax bertemu dengan para pahlawan pejuang 1945 dan para budayawan kita. Sayang saya tak dapat melakukan hal yang sama kepada anak saya ini.

Saya bertanya kepada anak saya tepat di depan Singapore Plaza disebelah Istana itu, akan usianya sekarang. Dia berkata bahwa umurnya 20 tahun 3 bulan. Pada saat saya datang pertama kali usia saya adalah 20 tahun 6 bulan. kami mirip sekali, sampai petugas imigrasi memandangi kami dan berkata kalian sama ya?. Saya jawab “yes, sir sebagai versi terbaru dia lebih canggih!”. Dia telah dapat pergi sendirian sebelumnya dengan naik kereta di Kuala Lumpur. Dia cepat menanggapi hal baru. Sedangkan saya sering jadi olokan karena meskipun cangih peralatan yang saya pakai tapi tidak dapat memfungsikannya dengan baik. Beda yang menyolok lagi adalah bahwa pada usia sebelia itu, dia akan mencapai kesarjanaan dalam satu tahun ini. Sementara saya pada usia yang sama baru tamat SMA!. Selain itu saya hanya sekolah di dasan sedangkan dia sekolah di universitas terbaik di negeri sendiri. Generasi muda harus,mesti dan wajiblah lebih baik dari pendahulunya.

Malam ini saya dikontak oleh penyiar Radio Suara Vietnam dan kami akan bertemu besok pagi di pasar perangko satu satunya di dunia yag diadakan didepan rumah seorang penduduk tiap hari minggu dalam cuaca apapun. Saya tiba di bandara Hanoi tadi siang dengan suhu 13 derajad. Saya dan Hassan hanya berjaket tipis, ternyata dingin sekali dan lebih lebih malam hari. Kami membeli baju hangat dan beruntungkah dia dapat baju yang bagus dan murah. Sedangkan saya yang berukuran XL eropah harus membuang duit di butik khusus. Dari rumah hanya bawa baju wol sejenis kaos berkerah panjang tapi tidak cukup, untung ada topi untuk musim salju, lumayan memberi perlindungan saat menyeberang jalan.

Bulan lalu saya di Saigon atau Ho Chi Minh City dan sekarang di Hanoi, ibu kota Vietnam. Rakyat Vietnam di utara juga ramah dan penolong. Ada seorang staf hotel bekas pekerja di Malaysia yang cakap berbahasa Melayu, dia sangat penolong dan terus memonitor kami jangan sampai sesat dan ditipu orang. Namanya Le Kong, saya tersenyum karena Lekong adalah kenari dan saya selalu makan kenari sebagai hobby. Ada satu hal kecil yang tidak pernah diperhitungkan orang, begitu kecilnya sehingga jadi sepele. Saya keliling ASEAN ini adalah karena selembar perangko bekas. Sebagai filatelis sejak SD kelas IV saya tidak pernah memperhitungkan bahwa perangko itu dapat menerbangkan saya ke banyak negara. Perangko yang saya kumpulkan waktu kecil sudah lenyap kecuali tersisa satu atau dua dari perangko pertama dari surat saya yang pertama yang berasal dari seorang bekas tentara USA yang mengenal betul wilayah Lombok dan Sumbawa dan satu surat dari Ecuador bertahun 1975. Perangko itu tentu tak bernilai dari segi uang tapi kenagnnya dalam.

Saya melihat kakak dan adik saya berhasil dalam hidupnya disebabkan oleh hobby, ada yang hobby dalam keradioan, otomotif, komputer, olah raga dan saya sendiri suka perangko, uag dan koresponden. Prinsipnya adalah bahwa Allah menciptakan kita berbeda beda untuk saling mengenal. Tidak hanya dalam watak, warna, kultur, tradisi tetapi juga berbeda minat dan cita cita. Saya sering merasa sendiri dengan hobby yang tak ada satu tetanggapun mempedulikannya. Bahkan manajer travel agent yang kadang mennyewa saya tak melirik dengan sebelah matapun koleksi uang dan perangko yang saya tunjukkan. Dia terus berapi api dengan bualan proyeknya yang akan miliaran rupiah tapi dia tidak peduli dengan selembar perangko atau uang logam yang mungkin berharga satu miliar kontan tanpa cicil mecicil!. Ya, tahun lalu satu uang logam USA 1 cent laku seharga satu juta dolar USA!. Sekarang saya sedang ditugaskan memburu selembar uang bekas yang kalau dapat akan diganjar dengan harga 1.500 dolar USA perlembar, padahal usianya baru sekitar 20 tahun saja, Saya telah membongkar pasar di Singapura dan Kual Lumpur serta Saigon, Bangkok, Phuket dan Pattya tapi tidak ada. Belum rezeki tapi jangan khawatir. Rezeki itu mencari toeannya tetapi sang toean harus tahoe diri, dimana si rezeki akan menenmuinya.

Bukan perangko semata yang terpenting tetapi menemukan orang yang tepat dan kepiawaian menjelaskan akan makna sesuatu tanpa menipu dan tanpa bumbu penyedap yang bikin tidak sedap. Bagaimana mencari, menghubungkan dan menyatukan orang orang berbeda yang berserakan diberbagai belahan dunia ini memerlukan ketekunan, keteguhan, kejujuran, kesetiaan, keterpercayaan dan keyakinan. Hobby bukanlah sekedar untuk iseng iseng, tetapi jalan untuk membangun kekuatan diri yang berkarakter dan berbeda tetapi bermanfaat dan menyenangkan.

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here