Jason dan Andrew, Duo Bule Pembuat Kamus Bahasa Sasak

Karena pernah kesulitan memperoleh referensi untuk belajar bahasa Sasak, Jason Kelly (55) dan Andrew Friend (34) terdorong membuat kamus bahasa Sasak-Indonesia-Inggris. Mereka blusukan dari kampung ke kampung untuk mencatat kosakata.

Kompas menemui Jason bersama istrinya, Anne Kelly, di sebuah rumah di kawasan Midang, Gunung Sari, Lombok Barat, pertengahan September lalu.  Rumah itu tempat mereka sering berkumpul, selain di kantor Bale Kreatif, perusahaan yang dijalankan Jason bersama Andrew.

Jason yang berkebangsaan Australia menuturkan, ia pertama kali ke Lombok pada 1997 untuk bulan madu bersama Anne. Pengalaman itu membuatnya berdoa agar suatu saat kembali ke Lombok dan belajar bahasa Sasak.

Lima tahun kemudian, yakni 2002, keinginan Jason untuk kembali ke Lombok terwujud. Ia mendapat kesempatan mengikuti program pertukaran guru ke Lombok. ”Saat itu, sumber atau referensi untuk belajar bahasa Sasak sangat minim sekali. Jadi, saya belajar bahasa Sasak dengan tetangga di Gunung Sari sekaligus mulai menyusun kamus,” tutur Jason yang dalam penyusunan kamus dibantu istrinya, seorang ahli linguistik.

Sementara Andrew yang berkebangsaan Amerika mulai tinggal di Lombok sejak 2005. Ia saat itu tinggal di Ampenan, kawasan pesisir Mataram, dalam rangka belajar bahasa Indonesia. Pada saat yang sama, ia mulai belajar bahasa Sasak lewat interaksi dengan warga setempat.

Perjalanan Andrew di Lombok berlanjut karena pada 2007, ia diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Setelah wisuda pada 2011, ia menikah dan menetap di Selong Belanak, Lombok Tengah.

Saya bertemu dengan Jason. Ia kemudian meminta saya untuk membuat kamus bahasa Sasak Lauq dan mulai menyusunnya pada 2015.

”Saya bertemu dengan Jason. Ia kemudian meminta saya untuk membuat kamus bahasa Sasak Lauq dan mulai menyusunnya pada 2015,” kata Andrew.

Jason menulis kamus Sasak-Indonesia-Inggris dengan fokus pada bahasa Sasak yang digunakan di Kota Mataram. Sementara Andrew membuat kamus Sasak Lauq-Indonesia-Inggris. Lauq, yang berarti selatan, merujuk pada bahasa Sasak yang digunakan masyarakat di bagian selatan Lombok Tengah.

Penulisan kamus

Menurut Jason, ia menulis kamus pada 2002 atas saran dari seorang teman yang juga sedang mempelajari bahasa di kawasan Indonesia bagian timur. Menyusun kamus adalah cara yang tepat agar ia bisa mengulang bahasa Sasak yang sudah dipelajarinya.KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA

Jason Kelly dengan kamus yang disusunnya, Jumat (18/9/2020).

”Teman itu membuat program kamus. Jadi, semua yang saya pelajari dari tetangga saya saat itu saya masukkan ke program itu,” kata Jason.

Sayangnya, belum lama belajar bahasa Sasak, bom Bali pada 2002 membuat Jason harus pulang ke Australia. Ia di sana selama enam tahun. Program membuat kamus ikut terhenti.

Tetapi, enam tahun kemudian, yakni pada 2008, ia kembali ke Lombok dan menjadi sukarelawan di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) NTB. Bersamaan dengan itu, ia kembali belajar bahasa Sasak dan membuat kamus yang telah bertahun-tahun ditinggalkannya.

Baik Jason maupun Andrew mulai menyusun kamus dengan menyiapkan kosakata yang sering digunakan dalam bahasa Inggris.

”Saya kemudian mengundang dan membayar warga lokal untuk ke rumah. Lalu duduk dan berdiskusi bersama mereka. Daftar kosakata yang telah saya siapkan kemudian saya cocokkan dengan bahasa Sasak. Termasuk meminta contoh penggunaannya dalam kalimat,” kata Jason.

Andrew pun demikian. Selain di Selong Belanak tempatnya tinggal, ia juga membawa daftar kosakata untuk kamus ke sejumlah desa, kemudian bertemu dengan warga hingga tokoh masyarakat.

”Lamun ndek arak tegawek, tokol lek berugak, ngupi (kalau tidak ada yang dikerjakan, sambil duduk di gazebo, ngopi), saya duduk bersama tetangga dan mulai menulis di atas kertas,” kata Andrew dalam bahasa Sasak bercampur Indonesia.KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA

Andrew Friend dengan kamus karyanya, Jumat (18/9/2020).

Andrew menuturkan, ia juga kadang mengeluarkan uang sendiri. Salah satunya untuk membelikan pulsa bagi narasumber. ”Ada yang maunya pulsa saja. Tidak mau dibayar yang lain. Jadi enggak apa-apa, saya belikan,” kata Andrew.

Sebelum kamus tersebut terbit pada 2018, Jason bersama Andrew bahkan sempat berjalan kaki dari daerah Kuranji, Lombok Barat, hingga Tanjung Luar, Lombok Timur.

Kami membawa sejumlah daftar kosakata. Lalu, kami cek dengan masyarakat yang ditemui di jalan, di ladang, di toko, atau siapa saja yang mau.

”Kami membawa sejumlah daftar kosakata. Lalu, kami cek dengan masyarakat yang ditemui di jalan, di ladang, di toko, atau siapa saja yang mau. Selain menanyakan bahasa umum, kami juga menanyakan bahasa halus dari kosakata itu dalam bahasa Sasak,” kata Jason.

Riset itu untuk melihat gambaran secara umum kemiripan bahasa. Sekaligus mengecek apakah bahasa Sasak yang dipakai di Mataram atau Lombok Barat dimengerti juga oleh mereka yang tinggal Lombok Tengah hingga Lombok Timur. Harapannya, hal itu juga membuat kamus yang disusun lebih umum sehingga luas pemakaiannya.

Tidak mudah

Jason mengatakan, menulis kamus yang mereka lakukan memang bertujuan untuk membantu diri sendiri belajar bahasa Sasak. Selain itu, untuk membantu orang lain. Tidak hanya turis yang datang ke Lombok, tetapi juga siapa saja yang ingin belajar bahasa Sasak.

”Ini juga untuk membantu masyarakat Lombok lebih mengenal bahasa mereka,” kata Andrew.

Meski demikian, Jason dan Andrew mengakui, proses menyusun kamus itu tidak mudah dan butuh waktu panjang. Apalagi, kosakata yang harus mereka cari banyak. Untuk kamusnya, Jason memiliki 4.000 kosakata, sedangkan Andrew 1.000 kosakata.

”Saya juga mempelajari bahasa Sasak masyarakat Lombok Utara, tetapi tidak jadi saya masukkan ke dalam kamus karena kosakatanya sangat berbeda. Jika tetap dimasukkan, kamus saya bisa berisi 5.500 kosakata,” kata Jason.

Di tahap awal, mereka belajar tentang penggunaan vokal dalam bahasa Sasak. Menurut mereka, itu menjadi kendala nomor satu. Apalagi, penulisan dan pengucapan dalam bahasa Sasak bisa sangat jauh berbeda. Jason, misalnya, butuh sekitar delapan bulan untuk mempelajarinya.

”Saya juga kesulitan soal itu, apalagi saya bukan orang bahasa. Saya orang pertanian,” kata Andrew.

Mereka juga harus menyeleksi berbagai level kosakata karena bahasa Sasak juga mengenal tingkatan dari yang umum hingga paling halus. Termasuk memastikan tidak memasukkan kosakata yang bernada kasar, umpatan, dan sejenisnya.

Mereka tahu, saya sedang menyusun kamus. Jadi, ketika berkunjung ke satu desa, warga ramai berkumpul.

Meski demikian, keduanya mengaku terbantu dengan antusiasme warga Lombok selama proses itu. ”Mereka tahu, saya sedang menyusun kamus. Jadi, ketika berkunjung ke satu desa, warga ramai berkumpul. Bahkan, warga yang mau melintas ikut,” ucap Andrew.

Menurut Jason, kendala yang mereka hadapi, termasuk butuh waktu bertahun-tahun, tidak jadi masalah. Apalagi, mereka memang ingin membuat kamus yang lengkap.

Hal itu terbukti dengan kamus-kamus mereka yang buat memiliki pengucapan yang jelas (setiap kosakata ditandai apakah itu kata kerja, kata benda, bahasa halus, atau umum), menggunakan fonetik internasional, dipadukan dengan sistem mereka serta dilengkapi kalimat contoh dari penutur asli.

”Kadang-kadang ada teman guru kritik kalimat itu janggal. Tetapi, itu dari penutur asli, tidak berani kami ganti,” kata Jason.

Selain itu, meski harus merogoh kocek sendiri selama proses penyusunan hingga percetakan. Namun, mereka mengaku senang bisa menyelesaikan kamus yang telah mendapatkan International Standard Book Number (ISBN) itu. Kini, mereka berharap, siapa pun bisa memanfaatkan kamus-kamus tersebut.

Jumlah kamus yang dicetak juga terbatas. Kamus karya Jason yang dijual Rp 250.000 per eksemplar sudah dicetak sebanyak 300 eksemplar. Sementara kamus karya Andrew yang dijual Rp 250.000 per eksemplar sudah dicetak dua kali. Cetakan pertama sebanyak 150 eksemplar dan cetakan kedua 300 eksemplar.

Setelah kamus terbit, mereka coba mengakses toko buku di Lombok. Tetapi, sistemnya sangat rumit. Menjual di bandara juga sama sulitnya. ”Jadi, kami coba masukkan ke toko-toko teman, hotel, termasuk coffee shop,” kata Andrew.

Pilihan lain, kamus-kamus itu juga sudah dibuat dalam bentuk aplikasi berbasis Android dan bisa dibeli di Google Playstore dengan harga masing-masing Rp 40.000. Isinya juga sama dengan buku fisik.

Saat ditanya rencana selanjutnya, Jason dan Andrew mengatakan akan membuat seri kamus bahasa suku di NTB. Selain kamus bahasa Sasak khusus Lombok Utara, mereka juga berencana membuat kamus bahasa Mbojo (suku Bima) dan bahasa Samawa (suku Sumbawa).

Jason Kelly

Kelahiran: Australia, 1965

Istri: Anne Kelly

Pendidikan terakhir: S-1 Pendidikan Marrara Christian College

Andrew Friend

Kelahiran: Amerika Serikat, 1986

Istri: Julie Friend

Pendidikan terakhir: S-1 Teknologi Pertanian Universitas Mataram

Sumber : https://bebas.kompas.id/baca/bebas-akses/2020/11/19/jason-dan-andrew-duo-bule-pembuat-kamus-bahasa-sasak/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here