Mengapa Mereka Lebih Maju?: Mengintip Model Pendidikan di Negeri Kanguru – Australia

Mengapa Mereka Lebih Maju?:  Mengintip Model Pendidikan di Negeri Kanguru – Australia

Oleh: Nurul Hilmiati

Saya selalu penasaran mengapa negeri-negeri tempat orang berambut pirang berhidung mancung seperti Australia ini bisa jauh lebih maju dibandingkan Indonesia, apalagi Lombok. Padahal kekayaan sumber daya alam mereka kalah jauh dibandingkan Indonesia. Lalu saya mencoba melakukan petualangan investigasi kecil mengamati model pendidikan mereka. Saya memilih mengamati aspek pendidikan karena menurut para ahli, tingkat kemajuan sebuah masyarakat selalu berkorelasi positive dengan tingkat pendidikan masyarakat tersebut.

Saya tidak akan membandingkan fasilitas yang dimiliki oleh sekolah-sekolah di Brisbane dibandingkan dengan sekolah-sekolah di Lombok, ataupun fasilitas penunjang mahasiswa di The University of Queensland dibandingkan  fasilitas yang ada di UNRAM. Selain karena tidak akan dapat dibandingkan, rasanya juga tidak adil membandingkan dua hal pada kondisi yang sangat berbeda. Namun yang ingin saya cermati adalah model dan budaya pendidikan disini. Ada beberapa hal menarik yang selalu membuat saya terkagum-kagum pada budaya belaja-mengajar di negeri kanguru ini, antara lain:

Budaya meletakkan teori pada konteks nya.
Sejak SD, anak sudah mulai diajarkan dimana penggunaan teori-teori yang mereka pelajari di kelas. Ketika belajar tentang keseimbangan ekosistem, anak-anak SD itu benar-benar diajak ke “hutan”, menyaksikan sendiri bagaimana individu dalam ekosistem itu saling menopang satu sama lain dan bila salah satu timpang makan ekosistem itu akan hancur. Walhasil, dimana-mana masih ada burung nuri bernyanyi, burung kakatua mematuk pohon, bebek dan ibis berenang bebas di danau, tanpa ada satu orang pun usil menangkap apalagi memanggang hewan-hewan liar itu. Saya membandingkan dengan kondisi kita di Lombok, burung nuri dan kakatua hanya ada dalam nyanyian anak TK tanpa mereka pernah punya kesempatan melihat wujudnya.

Budaya keberanian mengeluarkan pendapat dan menghargai pendapat orang lain
Bila ada tanya jawab dengan guru atau dosen, hampir semua murid unjuk jari untuk bertanya ataupun mengeluarkan pendapat. Pendapat yang bertentangan dengan guru/dosen pun dianggap hal biasa. Guru/dosen hanya bilang: mungkin jawaban anda pada konteks tertentu ada benarnya , tapi …..

Implikasi dari budaya ini ternyata luar biasa besar karena tidak ada yang merasa sangat bodoh ketika jawabannya langsung dimentahkan apalagi decemooh oleh seisi kelas. Siswa menjadi lebih aktif berfikir dan kritis. Coba kita bandingkan dengan kondisi sekolah atau universitas kita di Lombok, seringkali kalau akan ada acara tanya jawab tiba-tiba semua siswa sibuk membersihkan kukunya atau pura-pura sibuk membaca karena takut ditanya.

Budaya belajar kelompok dan diskusi
Budaya yang satu ini seringkali membuat saya kagum pada siswa disini. Setelah kuliah usai, pasti mereka berkelompok-kelompok duduk di bawah pohon membahas pelajaran yang baruu saja mereka dapatkan. Walaupun sama-sama menghadiri kelas, tapi mereka berusaha untuk saling menjelaskan lagi, mencoba melakukan simulasi dan diskusi kemungkinan-kemungkinan adanya penyimpangan dari teori yang mereka dapatkan dan berusaha mencari jawabannya.

Lalu bagaimana dengan siswa/mahasiswa kita di Lombok? Yang saya lihat kebanyakan kalau sudah selesai kuliah langsung  numpuk di kantin atau bergerombol di parkiran nemenin Satpam. Perpustakaan seringkali hanyalah ajang untuk ngerumpi. Jarang sekali saya lihat mahasiswa yang berkelompok untuk mendiskusikan pelajaran yang telah mereka dapatkan.

Budaya membaca dan tidak menyia-nyiakan waktu
Hampir tidak ada waktu yang terbuang bagi siswa/mahasiswa disini. Disela jam kuliah mereka diskusi atau belajar di perpustakaan. Kemana-mana orang membawa buku, bahkan saat menunggu bus pun mereka masih membaca. Akan sangat dianggap tidak sopan ketika menganggu orang yang sedang belajar. Di perpustakaan orang berbicara dengan berbisik-bisk bila sangat perlu demi menghormati mereka yang sedang membaca. Dalam seminggu untuk 1 SKS mereka dituntut belajar 5 jam, kalau mengambil maksimal 8 SKS berarti sehari harus belajar 8 jam, hal yang bagi saya sendiri masih sulit untuk dilakukan. 

Pernahkah kita perhatikan siswa/mahasiswa kita? Membaca buku mungkin hanya pada saat akan ujian saja, waktu seringkali habis hanya untuk jalan-jalan ke mall atau ke Jalan Udayana di Mataram. Kalau ada yang belajar di perpustakaan dianggap mahluk aneh. 

Dalam perjalanan pulang dari kampus, saya bergumam sendiri, pantas mereka bisa jauh lebih maju dibandingkan bangsa sasak. Tiba-tiba seseorang menyapa saya: “nurul, jangan lupa minggu depan giliran mu untuk presentasi rencana penelitian”. Deggggg, jantung saya langsung dag dig dug, presentasi artinya berbicara di depan umum, artinya akan ada tanya jawab, artinya…….Inilah hasil didikan anak bangsa sasak yang harus dirombak.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here