Menggagas Visi Baru, NTB Sebagai Leader Ekonomi Syariah Regional

Oleh: Muhammad Idris *)

Sejak beberapa tahun terakhir ekonomi syariah di Indonesia tengah menjadi topik hangat yang tak pernah sepi dibicarakan. Semenjak dikeluarkannya Undang-Undang No.10 tahun 2008, ekonomi syariah di tanah air semakin menggeliat. Industri keuangan syariah saat ini bukan hanya berkembang pada sistem perbankan saja, melainkan sudah mulai berkembang ke berbagai sektor, seperti sektor asuransi, multifinance, bahkan microfinance.

Meskipun market share perbankan syariah di Indonesia baru kisaran 4-5% namun geliatnya sudah sangat dirasakan oleh masyarakat demikian pula dengan kontribusinya terhadap perekonomian nasional sudah dinilai cukup signifikan. Di masa mendatang industri keuangan syariah di Indonesia diperkirakan akan terus tumbuh dan berkembang, selain dikarenakan faktor nature, yakni sistem non-ribawi, disisi lain potensi umat Islam di Indonesia merupakan salah satu faktor strategis bahwa ekonomi islam akan berkembang pesat di tanah air.

Para ahli meyakini bahwa Indonesia kelak akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi baru di dunia. Bahkan, Indonesia juga diperkirakan sebagai salah satu leader bagi industri keuangan syariah internasional. Sebagaimana yang dikatakan oleh mantan perdana menteri Malaysia, Mahatir Muhammad, bahwa ASEAN akan menjadi leader bagi industri keuangan syariah di dunia.

Hal ini tentu menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia untuk terus berbenah dan mempersiapkan diri agar mampu tampil sebagai leading bagi industri keuangan syariah di dunia. Hal ini berarti pula bahwa setiap daerah di Indonesia harus mempersiapkan diri sebaik mungkin agar dapat mendorong suksesnya visi tersebut. Terlebih setelah kebijakan otonomi daerah yang ‘menantang’ setiap daerah untuk tampil secara mandiri dan maju menghadapi era persaingan global.

Lantas bagaimana dengan Nusa Tenggara Barat (NTB)? Daerah dengan populasi umat Islam yang besar ini kemudian didukung oleh potensi sumber daya alam yang sangat besar seharusnya mampu menampilkan diri sebagai salah satu leader ekonomi Islam di tanah air. Hal ini sangat rasional mengingat NTB merupakan salah satu sentra peradaban Islam di Indonesia. Jika kita meninjau secara historikal dan realitas saat ini, NTB dikenal sebagai daerah dengan seribu masjid, ratusan pesantren, basis ormas Islam yang besar dan mayoritas penduduknya adalah umat Islam.

Kedepan, NTB harus mampu menetapkan visi baru, yakni sebagai leading ekonomi syariah dalam scope regional. Langkah ini merupakan langkah progressive yang harus dilakukan jika ingin menjadikan NTB sebagai salah satu provinsi terdepan tanah air.

Untuk merealisasikan visi ini, tentunya diperlukan langkah-langkah strategis dan inovatif yang harus diperhatikan dan dipersiapkan sebaik mungkin. Beberapa langkah yang harus dilakukan, antara lain: Pertama, pemerintah daerah NTB harus menyiapkan kerangka kebijakan dan regulasi yang mendukung tumbuh kembang ekonomi syariah di kawasan NTB. Kedua, pemerintah NTB harus mempersiapkan infrastruktur yang memadai, baik infrastruktur fisik maupun kelembagaan yang nantinya mendorong geliat ekonomi syariah. Ketiga, NTB harus mempersiapkan Sumber Daya Insani (SDI) yang berkualitas, kompetitif, dan dinamis dalam rangka mencetak para ahli di bidang ekonomi syariah. Dengan memperhatikan dan mempersiapkan tiga pilar strategi tersebut diharapkan NTB mampu tampil sebagai leading bagi ekonomi syariah di kawasan regional.

Disamping itu, diperlukan juga dukungan dan sinergi semua pihak untuk merealisasikan visi baru NTB sebagai leading ekonomi syariah regional. Kita berharap kelak NTB akan menjadi provinsi yang maju dengan peradaban Islam modern yang dimotori oleh ekonomi syariah. Amin,

Wallahu’alam.

 *)  Mahasiswa STEI TAZKIA, Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here