NENEK MOYANGKU SEORANG PELAUT

NENEK MOYANGKU SEORANG PELAUT
Oleh. Mansur
 
[Sasak.Org] Lagu yang sangat populer bahkan mungkin merupakan lagu wajib bagi anak TK. Sebenarnya saya tidak tahu untuk siapa lagu ini diciptakan, dan lebih tidak tahu lagi mengapa tidak ada lagu Nenek Moyangku Seorang Petani, Pedagang. Tanpa bermaksud memposisikan suatu profesi, tulisan ini hanyalah sebagai tambahan renungan buat menambah ruang  pendekatan dalam membelajarkan diri kita terlebih kepada anak-anak kita. Mengapa demikian ?
 
PELAUT : Masyarakat yang Beruntung. Pelaut terbiasa dengan spekulasi tanpa perencanaan yang “njelimet” dan panjang apalagi analisis SWAT, tinggal siapkan jala, lihat cuaca, berangkat sore dan besok pagi pulang dengan sekeranjang ikan segar. Dijual ke pasar lalu pergi minum ke warung kopi, atau berbelanja semaunya . Nanti kalau kantong terasa kurang berangkat lagi. Tidak pernah seorang pelaut memberi makan ikan dilaut apalagi menebar benihnya, tidak perlu rasanya mereka memelihara laut agar ikannya banyak, tiba-tiba saja mereka panen. Kalaupun lagi sial mungkin hasil tangkapannya sedikit, tetapi mereka tidak merasa rugi, karena tidak banyak modal, waktu dan tenaga yang telah dikorbankan. “Besok kita pasti dapat banyak” katanya. Bukan berpikir apalagi berbuat bagaimana prosesnya supaya mendapatkan hasil yang banyak dan kontinu, tetapi mereka labih berharap kepada keberuntungan semata.

 
PETANI : Masyarakat yang Bekerja. Petani tidak mengenal spekulasi, semua harus diperhitungkan, dana, waktu , lahan, cuaca, pasar dan sekelompok masalah lainya, dari mulai benih sampai pemasaran. Bahkan analisis SWAT saja tidak cukup, bahkan walaupun petani sudah merencanakan segala sesuatunya dengan matang, merekapun masih berharap adanya keberuntungan. Tanpa itu semua maka tidak mungkin bisa panen dengan hasil yang baik. Artinya petani harus merencanakan dengan baik, memelihara dengan baik, dan panen sesuai waktunya, barulah akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Dan semua itu berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Tidak jarang dalam tahap perencanaan saja mereka sudah menemukan masalah, seringkali pada tahap pemeliharaan petani gagal karena kekurangan pupuk ataupun ganngguan hama. Bahkan jika panennya bagus tetapi waktunya tidak tepat juga berakibat fatal, harga tidak sesuai. Pendek kata petani harus bekerja dengan sebaik-baiknya untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan usahanya tanpa berharap lebih apalagi keberuntungan.  
 
KITA : Beruntung atau Bekerja. Mari kita merenung sebentar, betapapun posisi dan keadaan kita saat ini, kita merasa berhasil  atau kalah, kaya atau miskin, baik atau buruk, susah atau senang, atau kita sendiri tidak tahu keadaan kita? Baiklah, mungkin lebih mudah dan obyektif kalau kita melihat orang lain. Bandingkan orang yang menurut kita sudah berhasil dengan orang yang belum berhasil. Cobalah kita mundur sejenak dan mengakui bahwa sepanjang jalan yang telah kita lalui, kita telah berpikir pola petani atau sekedar bertindak gaya pelaut?  Lebih jauh lagi apakah kita berada dalam pranata masyarkat petani ataukah sekedar gerombolan pelaut?
SUDAHLAH : Tidak ada gunanya kita mengungkit masa lalu, tidak layak kalau kita menyalahkan garis keturunan kita. Kenyataan dimasyarakat adalah banyak pelaut yang berpola petani sehingga mereka berhasil dengan baik, sebaliknya tidak sedikit petani yang bergaya pelaut sehingga mereka tetap miskin.  Semuanya berpulang kepada kita sendiri, apakah kita tetap dengan cara pikir dan pola tindak yang sekarang kita jalani, ataukah kita berubah dengan mengambil sisi baik dari keduanya. Paling tidak marilah kita didik anak suku dan bangsa kita dengan pola pikir petani, yang akan mendapatkan hasil sesuai jerih payahnya yang panjang dan berliku, dan hanya berharap keberuntungan dari kekuatan do’a kepada Tuhan. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here