NO (Nahdhatul Oelama) !

NO (Nahdhatul Oelama)
(Catatan Kunjungan ke Qomarul Huda Bagu)
Oleh Zulkipli
Zulkipli, SE, MMTokoh-tokoh NU di Lombok sangat terkenal di zamanya. Mereka merintis pesantren, mengisi pengajian ke desa-desa pelosok saat itu. Biasanya dimana mereka mengajar, maka disanalah kelak menjadi sumber santrinya. Allahuyarham TGH Fasihal Praya, mengisi pengajian ke berbagai pelosok di Lombok Selatan. Seperi Selong Belanak, dan sekitarnya. Beliau dijuluki bintang Lombok oleh para ulama NU se Indonesia. Merintis pendirian Pondok Pesantren Manhalul Maarif Praya. Kini, rintisan beliau kurang diseriusi oleh anak-anaknya, terbukti dengan belum adanya perkembangan berarti.
Di kota Mataram saat itu, dulu yang mengisi pengajian ke berbagai kampung adalah Allahuyarham TGH Abhar yang kini dilanjutkan oleh anaknya TGH Mustiadi Abhar. Merintis Pondok Pesantren Darul Falah Pagutan dan Abhariyah di Labuapi.
Angkatan lebih tua dari mereka, para ulama NU dikenal seperti TGH Rois Sekarbela dan TGH Lopan.
Ulama NU yang memiliki banyak murid yang saat ini banyak merintis Pesantren adalah Allahuyarham TGH Shaleh Hambali, para murid beliau bertebaran merintis pesantren di Pulau Lombok. Salah satunya adalah TGH Badaruddin Bagu yang kini pesantrennya telah berkembang pesat dan selalu menjadi tujuan “ulama” dan “politisi”. Bagu kini menjadi ikon NU NTB setelah berkurangnya pamor Bengkel dan Manhal Praya.
Satu lagi ikon NU, Pesantren Al Mansyuriyah Bonder Lombok Tengah. Sama seperti Bagu, berkembang pesat dan menjadi tujuan kunjungan para pembesar negeri ini.
Ada juga Allhuyarham TGH Ibrahim Kediri, perintis Pondok Pesantren Al Ishlahudiny Kediri, Allahuyarham TGH Abdul Karim, Pendiri Pondok Pesantren Nurul Hakim, Allahuyarham TGH Hafiz, Pendiri Pondok Pesantren Selaparang Kediri, dan banyak lagi para Tuan Guru yang telah mencetak bangunan sejarah tempat ummat Islam di bina.
Tetapi, tetua NU yang jauh lebih besar pengaruhnya adalah Allahuyarham TGH Zainuddin Abd Majid Pancor. Sebelum memisahkan diri dari NU dengan membentuk NW, beliaulah gurunya para tuan guru di Lombok termasuk Sumbawa. Tidak terhitung abituren NW yang merintis pendirian Pesantren di Pulau Lombok bahkan di berbagai wilayah di Indonesia khususnya yang berbasis transmigran asal Lombok.
Mereka semua, para pendakwah, penyeru kebaikan, terlepas dari kelebihan dan kekurangan mereka, telah tampak hasil dari dakwah mereka. Lalu, kapan lagi akan muncul para tuan guru seperti mereka? Di tengah kondisi para tuan guru lebih tertarik menyandingkan Politik dengan Pesantren. Di tengah kondisi sedikitnya anak yang mau masuk pesantren, di tengah kondisi berkurangnya minat orang tua mendorong anaknya ke pesantren. Mudah-mudahan, akan muncul para tuan guru yang masih senang “blusukan” mengajar ke desa-desa seperti dulu. Tidak hanya senang berdakwah di masjid-masjid megah beramplop tebal. Kata teman saya di Batu Jangkih Lombok Selatan, “kapan tuan guru datang mengajar ke sini?” Entahlah teman, nanti kita minta Lalu Nofian Hadi jadi Tuan Guru, saya yang antarkan sebulan sekali ke sini. Heheheheee
Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here