Pangan dan kemerdekaan

Hazairin R. Junep

[Sasak.Org] Sebagai putra Sasak, saya telah bertualang hampir disemua wilayah gumi paer. Saya melihat masyarakat pedesaan sangat tergantung pada pemerintah. Itu sikap yang sangat keliru. Dengan bergantung pada pemerintah berarti kita telah kehilangan kemerdekaan yang sejati. Akibat dari ketergantungan itu masayarkat menjadi lemah dan membeo kepada pemerintah. Ketika terjadi kesulitan pemerintah tak sanggup mengatasi masalah dengan cepat sedangkan masyarakat sudah terlanjur bermental lemah maka terjadilah bencana kelaparan, penyakit, kemerosotan akhlak, keterpurukan ekonomi yang berkepanjangan. Contoh kecil saja adalah masalah pangan. Begitu lemahnya masyarakat dalam mengelola ketahanan pangannya dan kelihatannya memang para stakeholder senang dengan keadaan demikian. Kemandirian dibidang pangan sama sekali nol. Gumi paer kita sangat subur penuh dengan bahan pangan yang tumbuh ditanah basah, tanah kering bahkan di bukit dan ladang berpasir dan berbatu sekalipun ada banyak bahan pangan tersedia dan dapat dibudidayakan. Sungai sungai melimpah airnya tapi tidak dikelola dengan baik malah ditimbuni sampah, kotor dan mengering.

Lama kita berjuang menjadi swasembada dan pernah swadesi, memenuhi kebutuhan diri sendiri. Sudah sunnatullah manusia lahir itu merdeka dan mereka merdeka pula untuk berswadesi, swasembada dsb. Kita merdeka untuk memakai pakaian yang kita tenun sendiri tapi kita membuang alat tenun dan berdandan ala cowboy. Kita juga dengan angkuh menganggap jagung, ubi, talas, ganyong, sagu, ketela, gembili, uwi, gadung dan sebagainya dengan menyebutnya sebagai makanan pengganti. Pengganti bagaimana seh?. Atau kita anggap makanan sama dengan PJS, yang bukan pejabat sesungguhnya melainkan sementara?. Manusia yang tidak merdeka dapat dengan mudah didikte, kalau bukan nasi bukanlah makanan. Selain nasi namanya makanan pengganti. Hasilnya adalah tenaga pengganti, pikiran pengganti, ide ide pengganti, cita cita pengganti dan akhirnya manusia pengganti!.

Seharusnya kalau kita punya talas kita makan talas dan berbakti pada pengembangan dan budi daya talas. Dari talas ke talas akan melahirkan kreatifitas yang sama hebatnya dengan hasil pemakan gandum atau nasi. Demikian pula kalau kita punya gembili, jagung atau ubi seharunya kita makan ubi dan membesarkannya sebagai bagian dari peri kehiduoan normal kita. Orang Meksiko dan semua bangsa Amerika Tengah dan Indian dari zaman dahulu makannya jagung atau kentang. mereka bisa maju seperti bangsa lain.Tragisnya sekarang mie instanlah yang diangap makanan, padahal tak sebaik rasanya untuk kesehatan. Merdeka sesungguhnya sederhana saja, yaitu ketika kita bisa hidup dengan apa yang ada disekitar kita lalu berkreatifitas dan bekerja keras sebagai wujud kesyukuran kita akan hidup ini.

Salam dan maaf

Hazairin R. Junep

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here