Para Pembunuh Kutu

Hazairin R. Junep
Hazairin R. Junep

Hakuba Japan (Sasak.Org) Saya mendarat untuk kesekian kali di Tokyo dan langsung mencari telpon warna hijau, dengan 100 Yen telpon rumah tersambung,  sekedar mengucap salam. Air minum botol kecil harganya 100 yen, setelah minum saya naik mobil travel ke Nagano untuk mengunjungi Kuil Besar yang merupakan pusat ziarah terbesar di negeri sakura itu. Rupanya saya harus menungu penumpang lain yang searah. Perjalanan itu memakan waktu 4 jam menembus lembah dengan terowongan yang banyak sekali. Ongkosnya 10.000 Yen.

Saya belajar banyak pada bangsa Jepang sejak kecil ketika dibimbing Kak Win (drs H. Muhir Junep) belajar bahasa Jepang lewat NHK di tahun 1970an, saya sampai menghafal dialog dialog dasar dan ketika melihat gambar kartu pos dan iklan Olympiade musim dingin Sapporo, dalam hati saya bertekad untuk datang ke tempat itu.

Tahun ini saya tidak ke Sapporo tetapi ke Hakuba yang merupakan tempat Olympiade musim dingin 1998. Saya pergi ke tempat Ski Jumping, resort tempat tinggal kami adalah sebuah villa atau pension yang dikelola pasangan Jepang -Australia. Tamunya datang khususnya dari benua Kanguru dan Bangsa Kulit putih lain Ada satu orang turis yang bisa sedikit bahasa Indonesia.

Letak villa itu 800 meter dari permukaan laut dan tempat jumping itu masih lebih tinggi lagi. Saya kedinginan diterpa salju tebal saat turun ke lembah untuk mencari super market lalu salah naik kereta ke arah berlawanan, saya turun di stasiun ke dua dan harus menunggu 4 jam dalam kebekuan untuk dapat kereta kembali sebab bus dan taksi tidak ada. Sayapun menunggu dengan berjalan ke atas lereng gunung yang lain dan menemukan tempat berski lagi. Saya menunggu restoran buka hampir dua jam, lalu memesan makanan yang tidak pakai babi. Susahnya menemukan pilihan karena dimanapun ada babi dan babi. “Enak sih” kata para pemakan babi.

Pilihan jatuh lagi ke sea food, mie atau nasi. Nasi di Jepang adalah nasi yang sama yang kami makan sejak kecil hingga 1977, setelah itu padi hasil rekayasa yang rasanya keras dan asin mulai merambah hingga kini. Yang bikin teknologi itu orang Jepang, mereka juga bikin vitsin tapi padi keras dan tidak enak itu dan vitsin diharamkan oleh mereka. Mereka tetap makan nasi paling enak sedangkan kita makan makanan yang seharusnya untuk babi!. Kalau saya pikir pikir toh akhirnya mereka makan juga itu beras setelah lewat babi. Tapi kita kan bukan babi!.

Oleh sebab itu saya mencatat baik baik suatu perkara yang sangat dahsyat dari watak orang Jepun itu. Mereka tidak memberi izin kepada Yahudi tinggal di negeri itu Mereka cinta ilmu dan pengetahuan Mereka sangat serius dan disiplin. Mereka bekerja keras. Mereka super pemalu dan santun. Mereka siap mati untuk bangsa dan negara (ingat kami kaze dan relawan yang siap mati di reaktor nuklir yang bocor di Fukushima akibat tsunami itu). Mereka tidak menghukum anak sampai usia 8 tahun. Dalam tiupan angin dingin, curahan salju dan derasnya hujan mereka bekerja terus, saat matahari musim panas memanggang mereka bekerja terus dan belajar terus. Saya baru sadar bahwa antara si Yahudi dan si Nippon itu punya kesamaan tidak hanya dalam hal kecerdasan tetapi lihatlah huruf huruf yang mereka pakai ada kemiripan juga,

Saya berangkat ke Jepang untuk pekerjaan ringan saja Kali ini saya harus menyembuhkan seorang klien dari madat rokok. Saya ini sekolah saja gak becus dari SD sampai PT saya belum pernah mengerti apa yang dibicarakan guru guru yang banyak sekali bicara seolah mereka tahu semua apa yang dibicarakan. Kadang saya memerlukan waktu sangat banyak untuk mengerti, itu lumayan sih, ada kalanya saya mengerti 5 tahun kemudian atau malah 40 tahun kemudian. Orang yang bicara sudah jadi mummy, saya baru ngerti.

Meskipun demikian saya tidak kekurang akal sih, anak saya masing masing adalah psikolog profesional, Ahli komunikasi dan ahli IT. Mereka itu yang membuka tabir rahasia yang seumur umur saya tidak mengerti. Saya suka berselisih pendapat dengan guru tapi tidak mau mengatakannya namun saya simpan sampai beberapa waktu lalu ketika Hassan menerangkan hal hal spele tapi dibuat sangat rumit oleh para guru saya dahulu. Itu tidak usah dibahasa panjang dah.

Jadi ketika saya menghadapi klien yang sebenarnya jauh dan jauh lebih cerdas dari saya maka saya ingat ingat pembicaraan dengan anak anak. Juga saya ingat ingat apa yang saya dapat dari ayah dan ibu serta kakak dan adik saya. Oh jangan kira anak kecil itu tidak bisa jadi maha guru. Mereka itu punya otak dan hati yang sama dengan kita yang sudah bangkotan, hanya kita merasa lebih tua maka seolah kita lebih, lebih dan lebih, padahal kelebihan berat badan dan kelebihan dosa doang.

Saya tidak melarang klien saya merokok, sehari 2 kotak berarti 20/40 batang rokok ditelannya. Jika 1 batang rokok dapat membunuh 10.000 sel tubuh kita maka tolong dihitung berapa sel yang koit, pelot alias dedes dalam sehari.

Klien saya malah protes karena saya tidak melarangnya, loh Anda kan sudah gede, sudah sarjana, sudah profesional, masak sih tidak ngerti kalau merokok itu membunuh kutu. Berhubung anda bukan kutu, jangan khawatirlah!. Begitu saya bilang. Diapun marah dengan ungkapan saya yang polos ala Sasak itu. Jadi Anda menganggap saya kutu ya?. Bukan, saya kan bilang rokok dapat membunuh kutu bukan Anda. Kalau tersinggung, saya akan pulang sekarang. Dia bilang, « maaf, terus bagaimana dong?».

Jika Anda memang suka merekok merokoklah. Kawan saya merokok sehat sehat saja, saat saya tanya kepadanya, apakah engkau tidak sakit dengan merokok begitu?. Kawan saya itu menjawab bahwa jika dia sakit maka dia tidak bisa merokok, artinya jika dia kedapatan merokok maka dia dalam keadaan sehat wal afiat!.

Sebenarnya klien saya itu tidak yakin bisa berhenti merokok karena gemetaran kalau tidak menghisap batang jahannam itu. Saya ceritakan bahwa berhenti merokok itu sama sulitnya dengan memulai merokok. Betul tidak?. Betuuuul jawabnya. Waduh kayak kiyai di TV yang dikit dikit bilang betuuuul?. Betuuul!. Sampai hari ke 14 pada sore hari sekitar jam 21.00 waktu Tokyo, klien saya gelisah karena hanya ada sebatang rokok yang tersisa di kotaknya. Dia bertanya, apakah saya merokok sekarang atau besok pagi?. Saya bilang terserah Anda. Dia gelisah seperti anak kecil yang tengah berpuasa menunggu bedug magrib.

Lama lama dia bergerak seperti kodok yang menangkap nyamuk, dengan sigap dikeluarkannya rokok itu lalu dinyalakan korek gas dan sebatang rokok terakhir disundutnya. Dia menghisap dalam dalam seolah itu adalah rokok terakhir ataukah dia akan mati ataukah tidak ada lagi orang menjual rokok, terserah nanti saja yang penting di mengisap rokoknya dalam dalam.

“Selamat pagi” sapa saya di restoran saat sarapan. Makan pagi hanya ada telur, sop jagung, roti 4 macam, pergedel dan tentu saja salad, jus, susu plus teh dan kopi. Biasanya klien saya bangun tidur merokok, kali ini dia langsung sarapan, dan biasanya setelah sarapan ada yang gatal dan mau disundut, kali ini tidak. Setelah sarapan saya ajak dia jalan jalan disepanjang daerah wisata yang penuh dengan mesin penjual minuman dan rokok. Di dekat mesin yang menjual rokok biasanya ada bak sampah yang bagian atasnya dipakai untuk asbak.

Setiap kali ada mesin penjual rokok dia mengerling dan bernapas dalam tanpa berani berkata kata. Dia tahu watak saya yang hanya berkata satu kali, jika dilawan maka saya pulang. Saya kasihan juga melihatnya gugup, saya menatapnya dengan senyum, diapun bilang bahwa dia sangat ingin merokok. Saya menunjukkan bak sampah yang belum dibersihkan petugas. Saya bertanya apakah yang terjadi dengan kutu kutu yang hidup di bak sampah itu jika puntung rokok yang masih menyala dengan racunnya dimasukkan oleh para perokok itu?. Dia tidak menjawab.

Memasuki blok lain kami melihat seorang laki laki membawa kotak kotak bergambar kucing. Itu adalah petugas yang menangkap kucing liar. Klien saya bertanya untuk apa dia tangkap kucing liar?. Dengan sengaja saya bilang untuk disembelih dan dimakan. Klien saya adalah pecinta binatang maka dia bereaksi negatif sekali. Dia tidak setuju ada orang membunuh kucing dan tidak suka mendengar ada orang yang memakan daging kucing. Untung saya belum cerita tentang dongeng Pengantap yang memakan daging manusia di zaman halal lepang.

Saya katakan bahwa ada 500.000 orang mati karena rokok di negeri saya. Ada beribu ribu TKW terbang dengan sapu lidi karena suaminya menggunakan uang beras untuk membeli rokok. 1 kg beras harganya Rp.8.000 dan harga rokokpun segitu atau lebih mahal. Jadi si ayah tidak hanya mati kerena merokok dan yang terkena asap rokokpun ikut mati dan yang paling kasihan tentu si isteri yang mati distrika sebagai budak belian di negeri jiran. Klien saya tidak suka saya cerita begitu tapi tidak berani berkata apa apa. Baiklah jika cerita saya tadi tidak menarik. Oh ya harga rokok di mesin otomatis itu adalah 440 Yen atau 44.000 Rupiah kira kira.

Saya mencoba memberi gambaran tentang seorang perokok, bahwa perokok membawa api sepanas 700 derajad celcius ditangannya, berupa korek api lalu menghembuskan asap kemana mana, tidak fair sekali membuat orang lain menderita. Dan lebih tidak fair lagi puntung rokok yang disembunyikan di lobang lobang selokan air membuat mampet dan kebanjiran bukan?.

Berapa banyak bayi, balita dan anak anak menderita karena asap nikotin beracun dan menjadi korban gizi buruk sebab ayahnya tidak cukup laki laki untuk dapat menjaga keselamatan dan kesejahteraannya. Hanya orang lemah yang penuh ketergantungan pada benda remeh temeh yang disebut rokok!.

Orang beriman dilarang tergantung kepada apapun kecuali kepada Tuhan, jangankan tergantung pada rokok, pada manusiapun tidak boleh. Jika Anda tidak percaya Tuhan maka gantilah kata Tuhan menjadi Aku. Silahkan ucapakan denga jelas dan terang apa yang dilarang pada orang beriman. Klient saya berkata, dilarang bergantung kepada apapun kecuali kepada aku!.

Sudah 20 hari dia tidak merokok dan selama seminggu pertama setelah pisah dia terus menelpon dan berkata, saya gatal ingin merokok maka saya jawab dengan keras, katakan dengan terang agar Anda mengerti, saya tidak ingin merokok. Merokok dapat membunuh kutu, saya tidak boleh melakukannya. Terdengar dia tertawa setiap kali mengulangi mantra itu.

Saya bukan konsultan tetapi anak saya yang tertualah konsultan itu. Saya bukan ahli komunikasi tetapi anak saya yang kedualah akhlinya. Saya bukan ahli IT tetapi anak saya yang ketigalah si akhli itu. Ketiga anak itu memberi saya ilmu untuk dapat menghadapi rasa dingin membeku sampai ilmu membunuh kutu baik dengan mantra atau lewat program komputer canggih. Maka janganlah bergantung kepada apapun selain kepada Tuhan. Ketergantungan kepada yang lain menyebabkan kehancuran. Tidak percaya?. Berapa korban petani tembakau yang dikorbankan spekulan, korban kanker paru, gizi buruk. Belum lagi yang tergantung pada TG dan partai, mantranya kalau bukan doa jadi pengemis adalah yel yel bodong. Bukankah banyak orang yang mengadu dengan senjata doa kepada Tuhan tapi lupa bekerja dan belajar?. Bukankah hafalan yel bodong itu mengisap darah mereka dan jadi kere karena semua uang dikorup oleh orang yang kepadanya mereka bergantung?.

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf
Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here