Pepatah Pepatah Sasak

 

Hazairin R. JunepKetaatan dan ketundukan anak bangsa Sasak pada orang tua dan guru sudah lama menguap bersama masuknya gaya hidup baru dengan datangnya teknologi cepat dan kodian. Waktu di sekolah dan kuliah banyak teman berkata bahwa wajahku itu kodian sebab mudah dikenal dan kayaknya ada dimana mana. Tapi jangan pernah mengatakan bahwa pakaian orang yang sedang dikenakan adalah kodian, akan timbul rasa tersinggung luar biasa. Kalau aku dibilang berwajah kodian tentu harus mafhum bahwa mereka sedang bergurau padahal gurauannya sangat merendahkan Allah yang menciptakanku seindah kehendakNYA. Itu adalah contoh sebuah pepatah yang sesuai namanya bermaksud untuk mematahkan lawan bicara. Tapi penempatannya yang keliru.Namun melihat keadaan pepadu yang semuanya nongkrong di bough atau yang memenuhi jalan yang dituntun motornya dapatlah kita berkata bahwa gumi paer penuh dengan generasi kodian. Sama penampilan, gaya bicara, tidak kreatifnya, sampai motor menuntun mereka.Ya, seperti barang produk China yang membanjiri pasar Cakra adalah produksi massal murah meriah dengan mutu jangan ditanya. Pepatah tidak digunakan sembarang waktu dan apalagi tidak nyambung dengan konteks saat bicara.

Kemajuan teknologi bagi anak bangsa Sasak adalah virus yang makin memperparah penyakit kesukaannya tidak melakukan apa apa. Waktu teknologi masih disebut zaman kuda gigit besi artinya kuda diplebek untuk mengendalikan cikar atau dokar. Tangan tangan anak Bangsa Sasak harus dan kudu cekatan bagaimana membuat roda roda cikar yang peresisinya akurat. Boom cikar dan dokar harus lempang dan kuat. Membuat bajak harus seimbang sehingga dapat berdiri tegak kalau ditingal minum kopi agak sejenak di atas pundukan sawah. Tanah harus dicangkul dan pelepe wajib dilepa agar air tidak merembes dari bidang sawah. Teknologi sederhana itu menghidupkan tangan kaki dan badannya. Diantara waktu shalat adalah saat break untuk badan yang letih dan jiwa yang berharap. Malam hari ada lantunan syair gubahan Raja Ali Haji dalam bahasa Melayu klasik yang indah ditimpali sang juru terjemah yang lucu karena tiap kesalahan diulang tanpa terlihat kesalahannya.

Jangan salah faham, bukan aku menolak teknologi yang serba cepat dan instan. Tapi lihatlah keadaan bajang Sasak dewasa ini dengan kejujuran pepatah Sasak yang berkata:
” Pelisax lex bon batu. Lamun dex ku gitax dex ku sadu”. Itulah cara menghentikan orang yang gencar bercerita tentang sesuatu dan orang Sasak adalah manusia yang paling pagah oleh karenanya dia patahkan orang terlebih dahulu meskipun nanti dia malu sendiri karena terbukti orang itu benar. Yang penting tolak dahulu, soal belakangan malu tak apa apa. Itulah sebabnya banyak orang dasan kalau ada tetangga lewat mereka dengan mudah obral undangan : ” Nyelalox julux te mangan ” atau dalam bentuk hormat : Silax simpang medahar rumiyin”. Pasti semua menjawab : ” nggih sampun” atau “dendex”. Ingat, tolak duluan!

Yang lucu bin ajaib adalah bahwa diantara pepadu yang moncer dan sudah punya posisi bagus dalam karir tidak juga mengubah tabiat keinginan untuk merasa enak enak dan tidak melakukan apa apa. Image bahwa orang yang menjadi datu adalah orang enak tinggal tunjuk tunjuk dan dihormati orang rupanya bergelayut juga diotak mereka. Pendidikan modern di barat sekalipun tidak membuatnya sedikit bening menimbang bahwa manfaat jauh lebih utama daripada jabatan politis. Meskipun dengan alasan kalau jadi datu bisa berbuat lebih besar tapi tidak selamanya benar. Pemimpin tidak dipilh tapi dilahirkan. Sekarang kita telah memilih pemimpin yang salah karena yang berkuasa adalah uang. Pernah juga sekali waktu orang dipilih karena kasian dan yang celaka adalah kita memilih karena mengingat kakek buyutnya. Orang baheula bilang: jelong jelong milu mangan! artinya datang datang ikut makan. Nah, terimalah resiko, bukankah logis kita memilih untuk memberinya makan.

Ditahun tahun akhir penjajahan asing penduduk gumi paer sekitar 105 ribuan orang ada 11 ribuan orang Hindu di Lombok Barat dan Tengah kalau di Lotim pastilah bisa dihitung jari tangan. Tapi lihatlah buku catatan sejarah dengan teliti siapa yang memimpin anak Bangsa Sasak?. Masing masing membuat kubu dan pedaleman sendiri sendiri karena kalau diajak bersatu mereka tidak percaya bahwa semetonnya yang di wilayah lain itu adalah sesama Sasak. Tapi karena tidak pernah bertemu mereka bilang ” Pelisax lex bon batu” terus. Ketika mereka terpesona dengan pedande dan tokoh Bali yang pakaiannya rapi mereka mengira itulah yang pantas memimpin lalu mereka dengan rasa minder bilang: “Silax tiang ngiring”. Karena pada masa itu sebagian besar anak bangsa Sasak sangat terpuruk, pakaian compang camping tidak suka mandi dan tidur bersama anjing. Itu adalah akibat pertama dari perubahan kehidupan dari manusia hutan kepada manusia terjajah. Belum siap mental dan spiritualnya sudah harus berganti haluan hidup.

Pepatah yang mirip ada di China yang bunyinya:” Jika tak kulihat maka aku tak percaya”. Kalau orang China sudah berkata demikian maka dia akan nyunjut berangkat menembus gunung menyebrang samudra mencari apa yang didengar sampai ketemu itulah sebabnya banyak orang China di Islandia atau Ujung Alaska maupun di dekat Antartika. Sebaliknya orang Sasak kalau sudah bepelisax dia akan ngenjex pulang dan tidur pulas atau momot meco.

Sekarang manusia Sasak tidak lagi berpakaian compang camping dan badannya rajin dimandikan tapi pepatah tetap berlaku sama. Mereka memang parlente dalam penampilan tapi lihatlah spiritualnya dengan cermat, mereka masih dalam keadaan yang sama dengan orang nomaden, tidak sempat membersihkan jiwanya. Kalau ada satu dua anak bangsanya yang berprestasi, mereka bilang ” Pelisax lex bon batu” sehingga begitu banyak potensi bajang yang bermutu terserak dimana mana dan tidak didorong apalagi dioros oros agar mengisi jabatan jabatan di pemerintahan dan swasta. Potensi besar itu yang kalau dibukakan kran akan menjadi pemimpin yang amanah dan kuat komitmennya sebab mereka tahu apa yang terjadi.Jangan terus menutupi jalan mereka sehingga banyak yang jatuh harganya gara gara mencalonkan diri. Kita tidak boleh memilih orang yang mencalonkan diri dengan alasan apapun. Sayang kelompok lain yang senang memelihara pelisax lex bon batu itu mengerahkan tenaga sekuat mungkin agar jangan ada bebajang yang sampai datang mengganti pelisak lex bon batu menjadi pelisax yang ditanam diantara batu batu oleh tangan tangan orang yang sekarang terbiasa momot meco itu. Itulah sebabnya mengapa anak dasan jarang sekali mengapresiasi prestasi prestasi gemilang anak bangsanya.

Waktu mengaji di berugax kecil kami, ustad pernah berkata bahwa JIHAD yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu!. Kami anak kecil tidak tahu apa itu hawa nafsu tapi kami tetap mencatatnya, secara samar samar yang teringat adalah nafsu makan saat itu, karena jatah makan terlalu sedikit untuk kenyang dan terlalu banyak untuk mati. Setelah agak besaran dikit baru aku mengerti bahwa aku suka jengkel dan tersinggung oleh teman bermain. Rupanya aku punya bibit nafsu yang menimbulkan kejahatan atau setidaknya kesulitan bagi orang lain. Kata ustad bahwa nafsu dapat melahirkan berbagai sifat buruk seperti sombong; macam suka pamer itu, melak; semua mau dimakan sampai mobil dinas dipreteli atau maling harta tetangga, talo ate atau iri, gosipin orang, nafsu seks meledak ledak sampi mengawini santri ganti ganti atau berzina.

Melihat keadaan sekarang ini, aku tak dapat mengatakan pelisax lex bon batu. Sebab telah nyata bahwa masjid yang seribu dan ulama yang sama banyaknya dengan maling itu tidak becus mengangkat anak bangsa Sasak dari level terendahnya sebagai manusia. Mahasiswanya tidak suka membaca tapi cepat lulus. Pegawai tidak suka bekerja tapi minta gaji naik terus. Angka kemiskinan naik karena maling masuk di pemerintahan dan institusi lain dengan berseragam yang kita sebut koruptor. Kemerosotan nilai dan rendahnya produktifitas membuat SDM jeblok sehingga makin ramailah pengiriman budak perempuan ke negeri jiran. Perceraian meningkat tajam dan bahkan ada kecamatan dengan penduduk janda semua. Kyai dan pemimpin ramai ramai kawin lagi sayangnya bukan janda janda yang di nikahi untuk berjihad memberantas kemiskinan anak bangsa dengan mengayomi janda miskin dan anak terlantarnya tapi berebut milih yang muda dan bergelora namun akhirnya akan dicerai juga.

Oh Bangse Sasak, berembe bae side dende jangke ngene?. Jangan menuduh yang bukan bukan jangan pula menyerang dengan pelisaxmu sebab tidak akan lagi mempan. Pelisax (umbi kecipir) adalah makanan darurat dimusim kemarau, sudah tidak laku sebab anak Sasak sudah nongkrong di mall atau distro padahal itu warung yang mereknya kebarat baratan meskipun yang dijual ambon tunux! Bersyukurlah masih ada orang yang bersembunyi diantara sisa sisa pohon di bukit bukit yang telah disematkan hati oleh Rabbnya, yaitu hati singa yang dapat meloncat dari lembah hina ini. Ustad di berugax itu mengajarkan bahwa jihad yang terbesar itu ada di medan pertempuran tingkat bawah dan masih ada 6 tingkatan untuk mencapai lembah kesejatian dan ketiadaan yang mutlak. Nah pergilah berguru di berugax yang sekarang makin reot itu. Atau gerakkan tangan kaki dan badanmu agar mengalami apa yang disebut bekerja dan renungkan tiap langkahmu dalam hati yang
berharap. Jangan tunggu lagi, umurmu akan habis dan kelak akan menyesal dengan pepatah: Ya mex peta ye mex dait!

Wallahualambissawab
Demikian dan maaf

Yang ikhlas
Hazairin R. JUNEP

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here