Pesona Sekotong dan Keserakahan Manusia

[Sasak.Org] Sekotong, salah satu wilayah di Lombok bagian barat daya yang pernah menjadi headline berita nasional karena berbagai peristiwa seperti tambang rakyat yang dianggap ilegal, misteri kematian para penambang sampai peristiwa berdarah antara rakyat sekotong dengan pasukan polisi dari Mapolres Lombok Barat. Lama tidak berkunjung ke Sekotong, Selasa (10/1), Saya dan salah seorang Dai dari Hidayatullah melakukan perjalanan ke kampung Selodong Sekotong untuk persiapan pendirian sekolah untuk daerah yang sepertinya sudah tidak peduli yang namanya Ibadah dan Sekolah. Jauhnya akses sekolah dan tidak adanya juru dakwah yang serius mengurus ummat di Sekotong.

pantai sekotong yang indah

Berangkat dari Lombok Tengah menggunakan sepeda motor Crypton, satu jam berikutnya sudah mulai masuk wilayah sekotong, melewati jalan yang sudah beraspal mulus, padahal beberapa bulan sebelumnya jalan di sini ditanami pisang akibat lambatnya jalan diaspal. Melewati jalan berkelong dan jurang yang tajam akhirnya kami sampai di Desa Kombang dekat teluk sepi yang terkenal indah. Di desa inilah salah satu madrasah ibtida’iyah dirintis oleh Ustadz Muhali yang kini telah berjalan dengan baik.

Dari desa kombang ini, kami berbelok menyusuri pantai teluk sepi yang sungguh sangat indah. Di dekat desa Kombang ini terdapat air tawar di tengah laut yang biasa dipakai minum oleh warga sekitar. Tujuan perjalanan kami ke selodong, sebuah desa yang berubah menjadi tujuan orang menggali emas. Di desa ini pula terdapat Kantor PT. Indotan Lobar Bangkit, Perusda yang menjadi musuh sebagian masyarakat sekotong yang berujung pada bentrok berdarah beberapa waktu lalu.

Perjalanan dari Kombang ke selodong ini ditempuh selama k.l. 1 jam. Melewati jalanan becek dengan medan jurang yang curam membelah bukit. Kondisi jalan yang sangat jelek seperti terobat dengan melihat pemandangan menakjubkan nan indah teluk sepi. Teluk yang airnya tenang ini memiliki garis pantai yang indah, pasir putih yang memukau dan lekukan pantai yang membuat mata terpesona. Sepertinya jika pemerintah serius, bisa jadi wilayah ini bisa mengalahkan senggigi. Sayang sekali, keindahan alam ini hanya bisa kami rekam menggunakan kamera HP. Sekotong yang mempesona, sepertinya kata-kata belum mampu mendeskripsikan keindahan alam ini.

jurang maling sekotong di pinggir pante indah

Saat berusaha bermotor dengan hati-hati akibat jalan yang licin, berbatu, bahkan sebagian jalannya seperti persawahan yang kaki bisa tertanam 20 cm. Banyak mobil yang harus berusaha berjam-jam untuk bisa melewati tanjakan yang berlumpur, tepatnya di jurang maling, konon jurang yang sangat curam ini dinamakan jurang maling karena pernah ada pembunuhan maling di tempat ini. Entah berapa jurang sudah kita lewati. Terlihat banyak motor lalu lalang dengan membawa karung batu emas yang siap digelondong, di setiap rumah hampir semuanya terlihat mesin gelondongan. Pencemaran lingkungan sepertinya semakin merata, mudahan tidak terjadi mutasi sel yang mengakibatkan cacat bagi orang-orang di wilayah ini. Beberapa terlihat masjid yang seperti tidak terurus, menurut warga sekitar, masjid hanya aktif di waktu magrib. Sepertinya sebagian masyarakat di Sekotong telah menjadikan emas sebagai Tuhan.

Tepat 1 jam kami menaiki motor, kami sampai di selodong. Dalam suasana hujan, kami bersilaturrahim dengan tokoh masyarakat setempat. Mereka menceritakan kondisi masyarakat sekitar yang sepertinya melupakan akhirat diperparah dengan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang tidak terurus. Kami teringat kalau tadi  melewati sebuah Puskesmas Pembantu yang tidak terurus. SD yang ada di desa ini hanya SD Filial (cabang). Itupun berada di puncak gunung. Muridnya ada datang melintasi lautan dan ada yang naik turun bukit, ruang belajar yang digabung akibat kurangnya ruang kelas, guru yang mengajar hanya sendirian, dan kondisi ruangan yang memperihatinkan. Padahal di sebelah SD Filial tersebut merupakan tambang yang dikelola oleh PT Indotan dan Rakyat.

Mobil yang berjuang untuk naik

Di samping tidak terurusnya pendidikan, ibadah bagi masyarakat disana menjadi sebuah hal yang langka. Tentu saja tidak semua seperti itu tetapi dari pengakuan tokoh masyarakat yang kami temui begitulah penilaiannya. Keberadaan Ust Muhali menjadi sangat diharapkan oleh masyarakat di wilayah tersebut. Ustadz yang pernah juga merintis pesantren Hidayatullah Sumbawa ini rencananya akan mendirikan sebuah SD Islam yang tidak lagi berstatus filial yang kemudian akan dilanjutkan dengan SMP Islam. SMP terdekat dari Selodong adalah SMPN 3 Sekotong yang terletak di Kombang, 1 jam dari desa ini.

Rendahnya pendidikan di wilayah ini sepertinya berbanding lurus dengan rumah-rumah yang rata-rata sudah bagus. Yang paling mengkhawatirkan kami adalah mengalir bebasnya limbah gelondongan yang tentunya bermuara ke laut dan harus mencemari sumur-sumur warga yang dipakai setiap hari. Ketika keserakahan menutupi akal sehat untuk menyelamatkan anak cucu.

Sebelum zuhr, kami pamit untuk pulang, dalam suasana hujan, kami tetap merasakan kehangatan dari tuan rumah yang menyediakan kami segelas kopi dan sengarek (nasi aking yang digoreng). Harapan jelas terpancar dari masyarakat yang peduli pada pendidikan di Selodong ini.

Kembali kami melintasi jalan licin dan curam, dalam suasana hujan di perjalanan kami berkata InsyaAllah kami akan kembali untuk meretas mimpi menjadi makhluk Allah yang bermanfaat bagi makhluk yang lain. Semoga pemerintah lombok barat tidak hanya mengeruk emasnya saja tetapi juga memperhatikan pendidikan dan dakwah di Sekotong. Tepat di tengah Hutan Sekotong, motor yang kami tunggangi bocor akibat kayu berduri. Akhirnya kami berjalan kaki sampai ketemu sebuah bengkel di desa sekotong.

Sekotong yang indah.

Sekotong yang indah.
Amaq nune,

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here