Profil TGH Zainuddin Abdul Madjid, Pahlawan Nasional (Tulisan 3, Habis)

Dikarenakan sebagian besar dan seluruh waktu dan kehidupan beliau di manfaatkan dan dipergunakan untuk mengajar dan terus mengajar dan berdakwah keliling untuk membina umat dalam upaya menanamkan Iman dan Taqwa, sehingga dengan kegiatannya yang padat dan terusberkesinambungan sehingga membuat beliau tidak memiliki cukup banyak waktu untuk menulis dan mengarang. Dan bahkanbeliau tidak pernah putus semangat untukmenghabiskan waktunya berjuang demi kepentingan umat, sebagaimana ucapan dan ikrar beliau sendiri “Aku wakafkan diriku untuk ummat”.

Sekalipun dalam keadaan yang sangat sibuk seperti itu, beliau masih menyempatkan dirinya untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya tersebut. Bagi beliau mengarang dan tulis menulis bukanlah suatu tugas dan pekerjaan yang sulit, karena hal ini merupakan kemampuan dasar yang di anugrahkan Allah SWT kepada beliau, bakat dan kemampuannya inilah yang terus dibawa sehingga tumbuh dan berkembang semenjak beliau bersekolah di Madrasah al-Shaulatiyah Makkah, sehingga tidak mengherankan apabila beliau mendapatkan banyak pujian dari guru-guru beliau. Diantara karya tulis dan karangan-karangan beliau adalah:

a. Dalam Bahasa Arab

1) Risalah Tauhid dalam bentuk soal jawab (Ilmu Tauhid)

2) Sullamul Hija Syarah Safinatun Naja (Ilmu Fiqh)

3) Nahdlatul Zainiyah dalam bentuk nadzam (Ilmu Faraidl)

4) At Tuhfatul Ampenaniyah Syarah Nahdlatuz Zainiyah (Ilmu Faraidl)

5) Al Fawakihul Ampenaniyah dalam bentuksoal jawab (Ilmu Faraidl)

6) Mi’rajush Shiibyan Ila Sama’i Ilmi Bayan(Ilmu Balaghah)

7) An Nafahat ‘Alat Taqriratis Saniyah (Ilmu Mushtalah Hadits)

8) Nailul Anfal (Ilmu Tajwid)

Related:Biografi TGKH. Zainuddin Abdul Madjid
9) Nizib Nahdlatul Wathan (Da’a dan Wirid)

10) Hizib Nahdlatul Banat (Do’a dan Wirid kaum wanita)

11) Shalawat Nahdlatain (Shalawat Iftitah dan Khatimah)

12) Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan (WiridHarian)

13) Ikhtisar Hizib Nahdlatul Wathan (Wirid Harian)

14) Shalawat Nahdlatul Wathan (Shalawat Iftita)

15) Shalawat Miftahi Babi Rahmatillah (Wirid dan Do’a)

16) Shalawat Mab’utsi Rahmatan Lil ‘Alamin (Wirid dan Do’a)

17) Dan lain-lainnya.

b. Dalam Bahasa Indonesia dan Sasak

1). Batu Nompal (Ilmu Tajwid)

2). Anak Nunggal Taqrirat Batu Ngompal (Ilmu Tajwid)

3). Wasiat Renungan Masa I dan II (Nasihat dan petunjuk perjuangan untuk warga Nahdlatul wathan)

c. Nasyid/Lahu Perjuangan dan Dakwah dalam Bahasa Arab, Indonesia dan Sasak

1). Ta’sis NWDI (Anti ya Pancor biladi)

2). Imamunasy Syafi’i

3). Ya Fata Sasak

4). Ahlan bi wafdizzairin

5). Tanawwarr

6). Mars Nahdlatul Wathani

7). Bersatulah Haluan

8). Nahdlatain

9). Pau gama’

10). Dan lain-lain.

Dengan banyaknya karya yang telah beliau terbitkan mencerminkan ketinggian ilmu yang dimilikinya, sehingga oleh guru-gurunya TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid mendapat pujian dan kepercayaan yang besar. Di antaranya, ia pernah diberi kesempatan untuk memberikan kata pengantar dari gurunya Maulana Syaikh Hasan Muhammad al-Mahsyat.

Dalam kata pengantar yang beliau tulis untuk kitab Baqi’ah al-Mustarsyidin karya Maulana Syaikh Hasan Muhammad al-Mahsyat sambil mengutip hadist Nabi Saw mengatakan: “Janganlah kamu mempelajari ilmu syariat dari seseorang kecuali dari orang yang baik riwayat hidupnya dan hatinya dan kamu sekalian telah menyelidiki atas keamanahannya”.

Dari Maulana Syaikh Hasan Muhammad al-Mahsyat inilah, beliau pernah mendapatkan risalah/ijazah dengan seluruh isi kitabnya, “al-Irsyad bi al-Dzikr ba’da Ma’alim al-Ijazah wa al-Asnaf”. Dari sinilah, beliau menukil sebagian ucapan gurunya tentang kehidupan pribadinya yang mantap, tetapi tetap menganggap dirinya adalah orang yang hina dan fakir dalam pengetahuan agama.

Syaikh Muhammad al-Mahsyat pernah memberikan sanjungan kepada TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Berikut kutipannya: “Demi Allah saya kagum kepada Zainuddin, kagum pada kelebihannya atas orang lain pada kebesaran yang tinggi dan kecerdsannya yang tiada tertandingi, jasanya bersih ibarat permata menunjukkan kebersihan ayah bundanya dan karya-karya tulisnya indah lagi menawan penaka bunga-bungaan yang tumbuh di lereng pegunungan. Di lapangan ilmu ia dirikan ma’had, tetap dibanjiri thullab dab thalibat menuntut ilmu dan menggali kitab. Ia kobarkan semangat generasi muda menggapai mustawa dengan karyanya Mi’raj al-Sibyan ila Sama’i ‘Ilm al-Bayan. Semoga Alah memanjangkan usianya dan dengan perantarannya ia memajukan ilmu pengetahuan agama di Ampanan bumi Selaparang. Terkirimlah salam penghormatan harum semerbak bagaikan kasturi dari tanah Suci menuju “Rinjani” (Syaikh Muhammad Zainuddin Aabdul Majid dalam Mi’raj al-Sibyan ila Sama’i ‘Ilm al-Bayan).

Dengan demikian, TGKH Muhammad Zainuddin Adbul Majid selain dikenal sebagai ulama yang memiliki kepedulaian yang tinggi terhadap dunia pendidikan Islam, ia juga mampu menuliskan pikiran-pikirannya untuk memberikan warisan yang paling berharga bagi penerus-penerusnya.

Kiprah sosial-keagamaan Melihat kondisi masyarakat Lombok pada saat itu yang masih terbelenggu oleh kebodohan dan keterbelakangan, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid merasa tertantang untuk membenahi masyarakatnya yang masih dalam jajahan Belanda, Jepang, Hindu Bali (Anak Agung Karangasem) melalui pencerdasan agama. Kepulangannya dari Mekah pada tahun 1934 ketika terjadi peperangan antara Raja Syarif Husein dengan Raja Abdul Azizbin Abdurrahman sehingga ia kembali ke Lombok untuk membuka pengajian pemula untuk masyarakat dengan system halaqah.

Pondok Pesantren yang didirikan diberi nama Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan(membela tanah air) sesuai dengan obsesinya untuk membela tanah air dari kaum penjajah. Dengan berbekal ilmu yang dimiliki, beliau mampu tampil sebagai seorang ulama yang mempunyai kompetensi besar dalam membentuk kader ulama. jenjang pendidikan yang khusus untuk mencetak kader ulama diberi nama Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits.

Sebagai seorang Mujahid, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid berupaya melakukan inovasi untuk meningkatkan pengetahuan agama masyarakat. Itu sebabnya, beliau membuat rintisan dengan memperkenalkan system madrasah dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran agama di NTB, membuka lembaga pendidikan khusus bagi wanita, mengadakan Syafatul Qubra, meciptakan hizib tarekat Nahdaltul Wathan, membuka sekolah umum di samping sekolah agama, menyususn nazham berbahasa Arab bercampur bahasa Indonesia.

Related:Biografi TGH. Muhammad Djuaini Muchtar

Berikut ini kiprah sosial-keagamaan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid:

Pada tahun 1943 mendirikan Pesantren Al-Mujahidin

Pada tahun 1937 mendirikan Madrasah NWDI

Pada tahun 1943 mendirikan Madrasah NBDI

Pada tahun 1945 pelopor kemerdekaan RI untuk daerah Lombok

Pada tahun 1946 Pelopor PenggempuranNica di Selong Lombok Timur

Pada tahun 1947/1948 menjadi Amirul Hajji dari negara Indonesia Timur

Pada tahun 1948/1949 Anggota delegasi Negara Indonesia Timur ke Saudi Arabia

Pada tahun 1950 Konsultan NU Sunda Kecil

Pada tahun 1952 Ketua badan penasehat Masyumi Daerah Lombok

Pada tahun 1953 Mendirikan organisasiNahdlatul Wathan

Pada tahun 1953 Ketua Umum PBNW pertama

Pada tahun 1953 Merestui terbentuknnya NU dan PSII di Lombok

Pada tahun 1954 Merestui terbentuknya PERTI Cabang Lombok

Pada tahun 1955 Anggota Konstituante RI hasil Pemilu I 1955

Pada tahun 1964 Menjadi peserta KIAA(Konferensi Islam Asia Afrika) di Bandung

Pada tahun 1964 Mendirikan Akademi Paedagogik NW

Pada tahun 1965 Mendirikan Ma’had Darul Qur’an Wal Hadist Al Majidiah Asy Syafi’iyah Nadlatul Wathan

Pada tahun 1972/1982 Anggota MPR RIhasil Pemilu II dan III

Pada tahun 1971/1982 Penasehat Majelis Ulama’ Indonesia Pusat

Pada tahun 1974 Mendirikan Ma’had Lil Banat

Pada tahun 1975 Ketua Penasehat bidang Syara’ Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram

Pada tahun 1977 Menjadi Rektor Universitas Hamzan Wadi

Pada tahun 1977 Mendirikan Universitas Hamzan Wadi

Pada tahun 1977 Mendirikan Fakultas Tarbiyah Universitas Hamzan Wadi

Pada tahun 1978 Mendirikan STKIP Hamzan Wadi

Pada tahun 1978 Mendirikan Sekolah Ilmu Syari’ah Hamzan Wadi

Pada tahun 1982 Mendirikan Yayasan Pendidikan Hamzan Wadi

Pada tahun 1987 Mendirikan Universitas Nahdlatul Nathan di Mataram

Pada tahun 1987 Mendirikan Sekolah Ilmu Hukum Hamzan Wadi

Pada tahun 1990 Mendirikan Sekolah Ilmu Da’wah Hamzan Wadi

Pada tahun 1994 Mendirikan Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) putra putri

Pada tahun 1996 Mendirikan Institut Agama Islam Hamzan Wadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here