Putri Mandalika, Simbol Kebijaksanaan Seorang Pemimpin

[Sasak.Org] Tahun ini, tradisi bau nayale (menangkap nyale) kembali digelar di Tanah Selaparang. Sebuah tradisi yang memiliki akar budaya yang kuat bagi sebagian besar masyarakat sasak yang tinggal di pulau Lombok. Sebuah ritual tahunan yang bisa mendatangkan banyak orang dari segenap penjuru untuk berkumpul bersama.

Tradisi ini bermula dari sebuah legenda rakyat tentang Putri Sarah Wulan, seorang putri kerajaan Tunjung Beru di wialyah pesisir pantai Lombok tengah.

Alkisah, putri Sarah wulan adalah seorang putri raja yang konon cantik jelita. Kecantikannya tersohor ke seantero tanah Lombok, hingga banyak pangeran kerajaan lain yang ingin mempersuntingnya sebagi permaisuri. Putri Mandalika bingung untuk memilih salah satu di antaranya. Untuk menghindari kekecewaan para pelamar, akhirnya semua ia sanggupi.

Tentu saja semua pangeran tidak terima jika harus berbagi istri dengan pangeran lainnya. Maka genderang perang pun ingin segera ditabuh. Para pangeran ingin bersaing untuk memperebutkan sang putri yang cantik jelita ini lewat jalur peperangan. Siapa yang menang, ialah yang dapat. Sang putri bingung, niat awalnya yang tidak ingin menyakiti hati para pelamar ternyata berbuah tidak menyenangkan. Peperangan sudah hampir terjadi di antara rakyat Lombok sendiri.

Sarah Wulan, tidak mau pertumpahan darah sesama rakyat sasak terjadi. Akhirnya sang putri mengundang mereka untuk datang di satu pagi untuk mengumumkan siapa pangeran yang akan dia terima. Demi mendengar janji sang putri, pagi-pagi buta, telah banyak sekali rakyat datang untuk menyaksikan pilihan tersebut. Sembari berharap, merekalah yang akan dipilih.

Namun apa yang terjadi? Sungguh di luar dugaan,  putri bukannya memilih, melainkan meceburkan diri ke laut. Suasana mendadak kacau, orang-orang berlarian ingin mnyelamatkan sang putri. Namun mereka hanya menemukan sejenis cacing laut bermunculan dari arah tenggelamnya putri cantik itu. Cacing itu belakangan dinamakan Nyale, dan diyakini sebagai jelmaan sang putri yang kemudian diberi nama putri Mandalika. Binatang kecil Nayele menjadi konsumsi sekaligus pupuk yang bermanfaat bagi banyak masyarakat.

Putri madalika hidup di hati masayarakat Lombok sebagai seorang pahlawan yang mencegah pertumpahan darah dan perang saudara. Pilihan putri Mandalika menceburkan diri ke laut tentulah bukan sebuah pilihan yang konyol, karena ia adalah seorang yang memegang kunci perdamaian saat itu. Mau tidak mau, pilihan menceburkan diri adalah pilihan yang paling bijak. Karena memilih salah satu, berarti mengadu rakyat dalm sebuah perang yang konyol.

Dongeng ini terus berkembang turun temurun dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Lombok. Menjadi sebuah legenda yang syarat makna untuk bekal menjalani kehidupan. Bekal kebajikan, terutama bagi seorang pemimpin.

Legenda ini tentu saja mirip dengan banyak legenda seperti Roro Jonggarng, atau Sangkuriang dan beberapa dongeng nusantara lainnya. Menjadi kisah tauladan untuk banyak generasi setelahnya. Tentu saja kepastian dongeng ini tidak bisa dipertanggungjawabkan secara pasti dalam kajian ilmu sejarah, karena hanya merupakan dongeng rakyat, atau legenda turun temurun yang diceritakan dari mulut-ke mulut. Namun, terlepas dari segala tafsiran akan keabsahan dongeng ini, kisah ini layak diapresiasi dan dijadikan pegangan.

Purti Mandalika adalah simbol kedewasaan berpikir seorang pemimpin. Seorang tokoh kuci untuk sebuah hal yang menyangkut hidup banyak orang. Betapa sulit pilihan yang diberikan padanya, namun kearifan dan kecintaannya pada rakyatnya telah membuka pikirannya dan memberi jalan keluar yang tak disangka-sangka.

Sungguh jarang, seorang pemimpin yang berkorban jiwa raga bagi masyarakatnya. Padahal, secara eksplisit, cerita ini muncul bukan sebagai jawaban atas kebingungan orang Lombok untuk menjelaskan fenomena munculnya Nyale yang tergolong langka. Bahkan, di seluruh dunia, hanya Lomboklah yang memiliki tradisi seperti ini. Namun, legenda ini hanya ingin memberi pelajaran berarti akan pentingnya tindakan cerdas dan pengorbanan seorang pemimpin untuk rakyatnya.

Legenda ini setidaknya harus bisa menjadi sebuah ingatan kuat di kepala masayarakat Indonesia umumnya dan Lombok khususnya. Karena seorang pemimpin seharusnya bisa mengambil keputusan tepat di waktu yang terjepit.

“Aku tidak bisa memilih salah satu di antara kalian… maka biarkan aku memilih seluruh rakyatku!”

Dalam bayangan imajiner di kepala saya, begitu kira-kira ucapan Putri Sarah Wulan, sebelum ia menceburkan diri ke laut dan musnah ditelan samudra.

 

Yogyakarta, 16 Februari 2009

 

Irwan Bajang – KS Regional Jogjakarta

1 COMMENT

  1. sy blm pcaya dgn crita ini krn dr mulut ke mulut, setau sy suku sasak yg bermartabat sejak dulu sangat kuat prinsip agamanya krn itu tdk mudah buat bunuh diri, hati2 mendongeng dgn hal2 yg merendahkan harga seorg putri sasak..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here