Ruang Publik dan Corona Efek

Oleh. Mashud Sasaki

Aktifitas masyarakat dalam kehidupan sehari-hari sebelum ujian Covid-19 berjalan dengan normal tanpa ada batasan sana sini. Salah satu yang menarik dari pengamatan penulis adalah pengalaman mendampingi istri mengurus perpanjangan SIM di Colombo Surabaya tadi pagi sampai siang.


“Aktifitas layanan SIM di Colombo saat Covid-19 begini sangat berbeda” seperti yang disampaikan salah seorang petugas tadi siang saat ngobrol2 di lapangan area Colombo. Kebetulan layanan pengurusan SIM sempat ditutup karena Covid-19. Akibat penutupan layanan beberapa waktu lalu, tadi siang jumlah masyarakat yang mengurus SIM membludak.

Ada dua hal menarik dan menjadi perhatian kita semua, kaitannya dengan layanan publik, antara lain :
Pertama, Antrian panjang dan joki SIM. Dari pengamatan dan pengalaman tadi siang masyarakat terpaksa antri panjang bahkan hampir 1 km demi memperoleh layanan yang diharapkan. Sebagian warga mengambil sikap memanfaatkan jasa Joki SIM agar tidak ikut antri panjang.


Hasil interaksi dengan beberapa joki/jasa SIM di area Colombo, di sela2 ngantri proses jadinya SIM, mereka bercerita panjang lebar tentang pekerjaan yang mereka geluti. Salah satu hal menarik yang disampaikan adalah tentang varian nominal jasa yg harus dibayar masyarakat yg meminta dibantu. Juga varian sikap teman2 jasa/joki SIM yg bersaing memperoleh klien karena sempat ditutup sblmnya akibat pengaruh Covid-19 sehingga ada oknum jasa SIM yg mengarah pd sikap “penipuan” dan sejenisnya.

Akhirnya penulis sempat memberikan masukan kepada komunitas jasa/joki SIM agar lebih profesional dan tidak merugikan masyarakat.
Kedua, Antrian panjang dan kebijakan karcis. Melihat antrian panjam hingga hampir 1 km dengan berbagai keluhan masyarakat memancing penulis berinisiatip bertemu pimpinan satlantas Colombo utk memberikan masukan agar mekanisme antriannya bukan dg antrian orang tapi antrian karcis (maksudnya adalah setiap orang yg antri diberikan no.urut antrian dan menunggu di area Colombo, jd tinggal menunggu panggilan sesuai urutan).

Alhamdulillah niat ini tersampaikan walaupun hanya bs bertemu korlap nya Bu Sami (anggota polwan) kbtln belum sempat tanya pangkatnya. Setelah sharing dangan bu Sami, sy dengar dari istri ptgs memberikan dispensasi kepada para perawat, pendidik, dan anggota TNI dg layanan khusus tanpa antri (alhamdulillah, dlm hati saya).


Dua fenomena cerita tersebut merupakan cermin dari problematika umat yang ada di ruang publik. Dalam tulisan saya sebelumnya bila dikaitkan dengan dua cerita tersebut berhubungan dengan poin ke-4 solusi keummatan yaitu aktif berdakwah (menyampaikan amar ma’ruf) sesuai kemampuan.


Sahabat semua, semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab.

Surabaya, 14 April 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here